Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU
Udara di dalam ruang kerja pribadi Vhirel terasa seberat timah. Heningnya begitu pekak, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang seolah ikut membeku, selepas Luna akhirnya berpamitan untuk kembali pulang ke kantornya.
Vhirel berkali-kali mencoba memecah kekakuan itu. Ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan ringan, mencoba memancing percikan antusiasme yang biasanya menyala di mata Dea. Namun, usahanya membentur dinding karang, Dea hanya menyahut dengan jawaban "ya" atau "tidak", pendek dan tajam, tanpa sedikit pun minat untuk memperpanjang nada bicara.
Sudah lima belas menit berlalu sejak wanita itu meninggalkan kantor, Dea masih bergeming. Ia duduk tegak di badan sofa, jemarinya bertautan erat di pangkuan. Kepulangannya tertunda bukan karena pekerjaannya di butik telah selesai, melainkan karena sebuah tuntutan bisu. Ia sengaja menetap di sana, seolah sedang menagih penjelasan atas adegan yang baru saja tertangkap oleh matanya.
Sejujurnya, Dea tidak butuh narasi tentang apa yang terjadi secara fisik—ia melihatnya dengan jelas. Yang ia tuntut adalah kejujuran tentang apa yang bergetar di hati Vhirel saat Luna memberikan perhatian singkat tadi.
Sejak itu, dalam diamnya, Dea mencibir dalam hati. Ia menertawakan betapa ironisnya sikap Luna yang seolah menunjukkan ketakutan akan kehilangan Vhirel.
Lebih dari itu. Dea sendiri jauh lebih gelap. Ia bukan hanya sekadar takut, ia merasa dunianya sedang bergeser dari porosnya. Gemuruh di dadanya jauh lebih riuh dibandingkan drama keberangkatan Luna tadi, namun ia memilih untuk memenjarakan semua itu dalam diam.
Vhirel hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan banyak makna. Terdengar embusan napas panjang yang terhela pelan, seolah ia baru saja melepaskan beban kesabaran yang menumpuk di pundaknya. Ia kemudian bergerak tenang—menggeser duduknya, berpindah posisi hingga kini ia berada tepat di samping Dea.
Di saat yang sama, tangan Vhirel terangkat. Dengan gerakan yang sangat alami namun penuh perhatian, ia membelai lembut helai rambut Dea dan merapikannya ke belakang telinga.
"Cemburu?" Celetuk Vhirel kemudian.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tenang namun tajam, langsung menusuk ke inti ketegangan yang sedari tadi menyelimuti mereka. Vhirel menatap Dea dengan binar jenaka yang sulit dibaca, seolah ia sedang menantang adiknya untuk mengakui apa yang berjam-jam wanita itu pendam rapat-rapat dalam hatinya.
Dea menggeleng pelan.
Ia tidak langsung menjawab, membiarkan keheningan menggantung sejenak seiring dengan tangannya yang masih merasakan hangat belaian Vhirel di rambutnya. Detik berikutnya, ia langsung menatap lurus ke dalam manik mata Vhirel.
"Jelas cemburu, Mas," gumam Dea dengan suara yang nyaris berbisik, namun terdengar sangat jelas di telinga Luna. "Siapa yang gak merasa kesal lihat kekasihnya di godain sama cewek lain!"
Vhirel hanya bisa terkekeh pelan, menarik napas dalam sembari menatap manik mata Dea yang masih menyala karena kesal. Alih-alih membela diri, ia justru mendekat, mengikis jarak hingga aroma parfumnya mengusik indra penciuman Dea.
"Galak banget," bisik Vhirel, tangannya terangkat mengacak rambut Dea dengan gemas. "Tapi aku suka kalau kamu lagi jujur kayak gini. Jadi makin kelihatan sayangnya, kan?"
Dea mendengus kesal. "Mas! Kamu yang senang... aku yang kesel! Luna itu emang bener-bener keterlaluan! Dia mau rebut ksmu dari aku dengan cara yang sopan dan elegan! Bahkan cara dia menatapmu seperti orang yang benar-benar tahu caranya menerima seseorang!" Cecarnya.
Detik berikutnya, Dea menunduk. "Tapi bagaimanapun... sekuat apapun aku mempertahankan kamu, dia yang akan menang. cepat atau lambat, aku hanya menunggu perpisahan kita yang..."
"Sayang," Vhirel menangkap kedua bahu Dea dan menuntun tubuh itu pelan tuk menghadap ia sepenuhnya. "Lihat aku..."
Dea mengangkat wajahnya perlahan.
"Apa ada kebohongan tentang perasaaan aku yang aku sembunyikan dari kamu, hmmm?" Tanya Vhirel lirih. "Apapun yang terjadi, aku akan memperjuangkan kamu. Kamu tahu? Orion itu... selain dia kuat dan berani, dia juga menyimpan ketulusan dan kesetiaan cintanya kepada sang putri. Dan aku mau.... jadi Orion satu-satunya yang cuma kamu miliki."
Ada binar yang sempat menyala di bola mata Dea, sebuah percikan harapan yang sulit dipadamkan. Namun, sedetik kemudian, binar itu meredup tertutup kabut tipis yang akhirnya menguap jatuh membasahi wajah. Bagi Dea, ucapan Vhirel terdengar seperti janji di atas pasir—indah, tapi rapuh diterjang ombak kenyataan. Apa yang mereka lakukan sekarang hanyalah permainan rasa, sebuah labirin tanpa pintu keluar yang sengaja mereka bangun demi bisa terus bersama.
Status 'kakak-adik' adalah jangkar mereka, sekaligus penjara yang memastikan mereka tak akan pernah bisa melampaui batas. Dea kemudian memalingkan wajah, tak sanggup berlama-lama membalas tatapan Vhirel. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi rongga dadanya yang sesak.
"Orion itu berakhir menjadi rasi bintang di langit yang tinggi, Mas," jawab Dea akhirnya, suaranya bergetar meski ia berusaha tegar. "Dia indah untuk dipandang, tapi terlalu jauh untuk digapai. Dan sang putri... dia tidak pernah benar-benar bisa memiliki bintang itu tanpa kehilangan dunianya."
Vhirel menarik napas panjang, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. Dea mungkin merasa menang dengan kata-kata "persaudaraan" itu, namun ia tidak tahu bahwa kartu di tangannya baru saja terbuka.
Baginya, kenyataan bahwa Dea adalah anak angkat bukan sekadar informasi silsilah, melainkan sebuah pembebasan. Dea boleh saja sibuk membangun narasi persaudaraan semu untuk menenangkan nuraninya sendiri, tapi ia sendiri sudah berhenti berlari. Kini, ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan pada Dea bahwa masa berakhir itu sebenarnya adalah garis dimulainya hubungan mereka.
Vhirel merengkuh kedua pipi Dea dengan hati-hati, seolah takut sentuhannya justru melukai. Ibu jarinya mengusap lembut air mata yang membasahi wajah itu, menelusuri jejak luka yang tak terucap. Tatapannya teduh—penuh penyesalan, sekaligus kepedulian yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Aku sayang kamu." lirihnya. "Gak ada seorang wanita manapun yang bisa menggantikan posisi kamu di hati aku. Sebab, kamu... adalah wanita yang aku cari selama ini."
Dea menatap lurus Vhirel, lekat hingga nyaris tak ada jarak di antara mereka. "Bagaimana bisa kamu mengatakan itu semua, Mas? Apa yang buat kamu yakin akan hal itu?"
Vhirel menelan saliva. Sebab darah yang mengalir di nadiku tidak pernah sama denganmu. Dan itu adalah celah terkecil yang akan kugunakan untuk memilikimu seutuhnya.
"Mas..."
Vhirel tak menjawab. Namun perlahan, tatapan lekat itu meyakinkannya hingga Dea bisa merasakan deru napas Vhirel yang memburu.
Drrrrrt....
Vhirel segera menarik dirinya dengan sentakan pelan, menjauhkan wajahnya dari Dea. Matanya yang tadi gelap oleh keinginan, kini perlahan kembali fokus, meski napasnya masih terasa berat dan tidak beraturan.
Vhirel segera beranjak dari sofa dan bergerak menuju meja kerja. Disana, ponselnya bergetar dan menyala. Begitu layar memperlihatkan sebuah panggilan masuk, ia segera menyambar benda tipis itu sambil menegakkan tubuhnya yang menjulang membelakangi Dea. "Halo? Kenapa?"
Dea tertegun. Suaranya tidak lagi rendah dan serak karena gairah. Kini, suaranya terdengar dingin, tajam, dan penuh otoritas.
"Lima menit lagi saya ke ruang meeting. Siapkan saja semuanya."
Dea segera membuang muka, pura-pura sibuk merapikan ujung roknya atau memperhatikan dekorasi ruangan. Ia tidak sanggup bertemu tatap dengan Vhirel yang baru saja bertransformasi dari pria penuh gairah menjadi sosok pemimpin yang dingin dalam hitungan detik.
Langkah kaki Vhirel terdengar mantap di atas lantai, mendekat dengan ritme yang tenang namun menekan. Setiap ketukan sepatunya seolah menghitung mundur keberanian Dea yang tersisa, hingga akhirnya lelaki itu duduk kembali disampingnya.
"Sayang," lirih Vhirel. "Aku harus kembali bekerja. Kamu pulang sekarang, ya. Aku juga gak mau Mama atau Papa khawatir cari kamu."
"Iya, Mas." Angguk Dea dengan nada bergetar. "Kebetulan, hari ini aku juga mau cek pembangunan butik aku. Jadi, aku punya alasan untuk itu."
Vhirel tersenyum lega. "Baguslah. Kamu hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa... kabari aku."
Dea mengangguk tanpa suara.
"Apalagi kalau lagi nyetir... jangan pikirkan soal ini apalagi wajah aku yang tampan." Celetuk Vhirel.
Dea tertegun sejenak, matanya mengerjap menatap wajah Vhirel yang kini dihiasi seringai jahil—sangat jauh dari kesan dingin saat menelepon tadi.
"Apaan sih, Mas? Sebel banget, deh!" sembur Dea spontan. Tawanya pecah, sebuah tawa yang bercampur dengan rasa lega karena tekanan emosional tadi sedikit mengendur.
Ia memukul pelan lengan Vhirel, berusaha menutupi rasa canggung yang masih tersisa di sela-sela tawanya. Luka dan keraguan yang sempat membayangi pikirannya tentang "persaudaraan semu" itu mendadak tergeser oleh kekonyolan pria di hadapannya.
"Aku emang tampan, kan sekarang...?" Sambung Vhirel sambil berusaha menghindar serangan Dea.
"Mas, kamu tuh nyebelin banget tahu!"
Vhirel tertawa kecil. Dan, dalam satu sentakan halus namun tak terbantahkan, Vhirel berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Dea, menguncinya di depan dada atau bahkan menyatukannya dalam satu genggaman tangannya yang besar.
Gerakan itu begitu cepat, hingga membuat Dea kehilangan kata-kata yang baru saja akan meluncur dari bibirnya.
Sungguh, jarak mereka kembali terkikis habis. Vhirel menunduk, menatap lekat ke dalam manik mata Dea dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. "Kamu gak perlu lagi takut kalau aku akan berpaling ke lain hati, ke wanita manapun... sebab, hanya kamu yang punya kuncinya, sayang. Hanya kamu yang bisa membuatku kehilangan kendali seperti ini."
Dea mematung. Napasnya tertahan di dada, terasa sesak bukan karena cengkeraman tangan Vhirel, melainkan karena kebenaran yang baru saja menghantamnya. Ia ingin membantah, ingin tertawa dan menyebut Vhirel gila, tapi lidahnya terasa kelu.
Mata Dea bergerak gelisah, menelusuri wajah Vhirel yang begitu dekat. Ia mencari celah kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang mengintimidasi. "Mas..." lirihnya.
Vhirel perlahan melonggarkan kuncian tangannya, namun ia tidak menjauh. Ia justru membawa jemari Dea ke bibirnya, memejamkan mata sejenak saat merasakan kulit halus wanita itu bersentuhan dengan bibirnya.
Sikapnya yang kembali tenang, lembut, dan penuh kasih sayang ini justru membuat Dea semakin sulit untuk membenci atau mendorong pria yang dihadapannya itu menjauh.
"Pulang dan beristirahatlah." Lirih Vhirel. "Biar aku yang memikirkan bagaimana cara menghadapi dunia untuk kita. kamu hanya cukup... jangan lari dariku, mengerti?"
Dea mengangguk. "Iya, Mas. Aku paham."
Vhirel tersenyum, ia lalu mengecup punggung jemari Dea, kali ini lebih lama seolah menegaskan bahwa ia akan tetap tinggal, apa pun yang menanti di depan.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,