Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29
Sore itu, setelah keluar dari perpustakaan, Ryn Moa berjalan menuju parkiran sambil menggendong tas berat. Tas itu bukan sekadar berat secara fisik, bahkan secara mental pun isinya terasa penuh. Catatan, teori, kutipan, dan pemikiran yang sejak tadi berputar di kepalanya masih belum sepenuhnya rapi. Otaknya lelah, tapi hatinya… entah kenapa justru terasa terlalu sadar. Langit mulai berubah warna. Biru terang siang perlahan melunak menjadi gradasi keemasan, sementara angin sore menyapu halaman kampus dengan lembut, membawa aroma dedaunan dan debu hangat. Mahasiswa satu per satu meninggalkan gedung, sebagian masih tertawa, sebagian terlihat kelelahan setelah seharian beraktivitas. Ada yang berjalan berkelompok sambil mengeluh soal tugas, ada yang sibuk menelepon, ada pula yang duduk di pinggir taman kampus hanya untuk menikmati senja sebentar sebelum pulang. Jam-jam seperti ini selalu terasa ambigu, antara akhir dan jeda, antara selesai dan belum benar-benar selesai. Ryn Moa melangkah pelan, bahunya sedikit condong ke depan karena berat tas yang ia gendong. Di dalamnya, buku-buku catatan dan referensi yang tadi terasa ringan kini seolah bertambah bobotnya. Namun langkahnya tidak sendirian. Ia menyadari keberadaan itu bahkan sebelum suara muncul, irama langkah yang sejalan dengannya, jarak yang pas, tidak terlalu dekat tapi juga tidak menjauh. Kehadiran yang tenang, seperti bayangan yang tidak mengganggu.
“Hati-hati,” ucap Namjoon sambil berjalan di sampingnya.
Nada bariton suaranya rendah dan stabil seperti biasa. Ia berjalan setengah langkah di belakang, cukup dekat untuk menjaga, cukup jauh untuk tidak terasa menekan. Kalimat itu sederhana dan tidak berlebihan. Tapi entah kenapa, Ryn Moa merasa ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Kali ini ia tidak tersandung atau juga hampir jatuh. Tapi perhatian kecil itu, membuatnya merasa diperhatikan. Ryn Moa mengerlingkan bola matanya ke arah pria jangkung itu.
“Kenapa kau ikut mengantarku?”
Nada suaranya setengah menggoda, setengah penasaran. Ia menoleh sedikit, menatap Namjoon dari sudut mata. Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya tidak akan lurus. Namjoon bukan tipe orang yang suka menjelaskan niatnya secara gamblang. Ia lebih sering membiarkan orang lain menyimpulkan sendiri.
“Aku hanya kebetulan lewat,” jawab Namjoon santai.
Ekspresinya terlalu tenang untuk dianggap jujur sepenuhnya. Tangannya masuk ke saku celana, langkahnya stabil, seolah memang tidak ada maksud apa pun. Ryn Moa mendengus kecil. Ia sudah mengenal ekspresi itu cukup baik sekarang, ekspresi yang berkata aku tidak bohong, tapi juga tidak sepenuhnya mengatakan semuanya.
“Namjoon,” Ryn Moa memelototinya “kau tadi duduk di sebelahku selama dua jam. Apa bagian itu juga ‘kebetulan’?”
Ia berhenti melangkah, membuat Namjoon refleks ikut berhenti. Matanya menatap tajam, tapi tidak benar-benar marah, lebih seperti menantang. Beberapa mahasiswa yang lewat sempat melirik mereka, mungkin mengira sedang melihat adegan debat ringan. Tapi ekspresi Ryn Moa tidak menyeramkan. Justru ada kilat kecil di matanya, kilat yang menandakan ia ingin jawaban jujur. Namjoon nyengir, lesung pipinya terlihat lagi. Ekspresi itu adalah senjata rahasianya. Senyum kecil yang membuat orang sulit tetap kesal, seolah ia tahu bahwa dunia tidak terlalu serius untuk ditanggapi dengan wajah datar sepanjang waktu.
“Ya… aku menikmati waktunya.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat. Justru karena kesederhanaannya, kalimat itu terasa lebih kuat dari gombalan mana pun. Kalimat itu tidak disertai nada menggoda. Tidak pula diucapkan dengan senyum lebar. Ia hanya berkata, jujur, seolah itu fakta sederhana yang tidak perlu dibesar-besarkan. Ryn Moa terdiam, Ia mencoba membuka mulut sedikit untuk berkata, tapi kemudian menutupnya lagi seolah kata yang ingin ia ucapkan menguap begitu saja dari pikirannya. Otaknya butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk memproses kalimat itu. Tidak ada skrip di kepalanya untuk situasi seperti ini. Tidak ada balasan siap pakai. Ada jeda yang singkat, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdebar tidak teratur. Ia menoleh ke depan lagi, melanjutkan langkahnya, berusaha mengatur napas. Dadanya terasa hangat, pipinya memanas. Kenapa laki-laki ini bisa berkata hal seperti itu dengan wajah setenang itu, sih?!
Setibanya di parkiran, angin sore membuat rambut Ryn Moa bergerak pelan… dan membuat Namjoon tanpa sadar memperhatikan gadis itu lebih lama dari seharusnya. Parkiran tidak terlalu penuh. Beberapa motor sudah menyala, beberapa mobil bersiap keluar. Suara mesin bercampur dengan obrolan singkat mahasiswa yang pamit satu sama lain. Namun di tengah semua itu, Namjoon seperti terjebak di satu titik. Beberapa helai rambut lepas dari ikatannya, menari mengikuti angin. Sinar matahari senja menyentuh profil wajah Ryn Moa, membuatnya terlihat lembut, nyaris seperti lukisan yang bergerak perlahan.Namjoon tidak berniat memperhatikan sedetail itu. Sungguh, Tapi matanya seperti tidak mau beralih. Ada sesuatu tentang momen sederhana itu, tidak dramatis, tidak megah, yang terasa sangat… cukup. Ia baru sadar dirinya terlalu lama diam ketika Ryn Moa berhenti di samping motornya dan menoleh. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan.
“Eh, hati-hati di jalan, ya.”
Nada suaranya sedikit lebih cepat dari biasanya, seperti berusaha menutupi sesuatu. Ryn Moa menangkap perubahan kecil itu. Ia tersenyum tipis, tidak berusaha menggoda dengan cara yang mencurigakan, lebih seperti senyum orang yang merasa diperhatikan dengan cara yang baik. Ryn Moa mengangguk.
“Iya. Terima kasih sudah menemani.”
Kata menemani diucapkannya pelan, seolah ia sendiri baru menyadari arti kata itu. Bukan sekadar mengantar atau sekadar kebetulan. Namjoon tersenyum kecil padanya.
“Kapan saja.”
Dan lagi, lesung pipinya muncul. Jika ada alarm bahaya untuk hal-hal yang bisa membuat jantung seseorang gagal berfungsi secara normal, lesung pipi Namjoon seharusnya sudah masuk daftar teratas. Ryn Moa hampir meleleh. Secara harfiah, ia merasa lututnya sedikit lemas. Secara mental, ia merasa otaknya sedang reboot tanpa izin. Ia buru-buru menaiki motornya, menunduk, menyembunyikan senyum yang tidak bisa ia kendalikan. Di dalam kepalanya, pikirannya berantakan, antara rasa nyaman, rasa bingung, dan perasaan yang tidak bisa ia beri nama.
Kenapa rasanya beda? Kenapa tidak membuat panik? Kenapa justru… tenang?
Mesin motor menyala. Ryn Moa memasang helm, lalu menoleh sebentar.
“Namjoon.”
“Hmm?”
“Pulang yang aman juga. Hati-hati dijalan”
“Iya.” Namjoon mengangguk kecil.
Ryn Moa lalu melaju keluar dari parkiran, bergabung dengan arus kendaraan yang meninggalkan kampus. Namun bahkan setelah ia tidak terlihat lagi, Namjoon masih berdiri di tempatnya lebih lama dari yang ia rencanakan. Ia menatap ke arah jalan keluar parkiran, lalu menghembuskan napas pelan.
“Apa yang sebenarnya aku lakukan…” gumamnya, hampir tak terdengar.
Ia tidak menyesal. Tidak juga merasa bersalah. Tapi ada kesadaran baru yang perlahan muncul, bahwa kedekatan ini tidak lagi sesederhana kebetulan atau kebersamaan tanpa makna. Di kejauhan, tanpa Namjoon sadari, ada sepasang mata lain yang juga memperhatikan parkiran itu. Taehyung berdiri agak jauh, setengah tersembunyi di balik deretan motor. Awalnya ia hanya lewat. Lalu berhenti. Lalu, lagi-lagi terjebak. Ia melihat Ryn Moa pergi, Ia melihat Namjoon berdiri diam. Dan untuk kesekian kalinya hari itu, dadanya terasa tidak nyaman.
“Kenapa semua orang tiba-tiba terlihat terlalu dekat?” gumamnya kesal.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Jungkook masuk.
Jungkook:
Kau di mana? Dari tadi nggak balik-balik.
Taehyung mengetik cepat.
Taehyung:
Di parkiran dan sedang berpikir.
Jungkook:
berpikir tentang apa?
Taehyung menatap layar, lalu menghapus pesan yang hampir ia kirim. Ia memasukkan ponsel ke saku dan menghela napas panjang.
“Gawat,” katanya pelan. “Beneran gawat.”
Langit sore semakin gelap, senja perlahan berubah menjadi malam. Dan di antara langkah pulang, ada senyum tertahan serta gumaman bingung, perasaan yang tidak direncanakan itu terus bergerak diam-diam, tapi tidak bisa dihentikan.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....