Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Istri yang Selalu Tersenyum
Pagi itu terasa berbeda, seperti ada hembusan angin baru yang menyusup pelan ke dalam rumah besar yang selama ini terasa dingin. Alya terbangun lebih lambat dari biasanya, pukul setengah enam, bukan lima lewat seperti kebiasaannya yang sudah mendarah daging. Matanya masih sembap, kepalanya berdenyut pelan, dan tubuhnya terasa berat setelah tangisan panjang semalam. Ia berbaring sejenak di tempat tidur king size yang luas, menatap langit-langit kamar sambil mengingat setiap kata yang terucap kemarin malam.
Reyhan tahu.
Reyhan tahu tentang Arka.
Dan ia… ingin jadi ayah.
Alya menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar tidak teratur. Enam tahun ia hidup dengan rahasia itu, menyimpannya rapat-rapat seperti harta karun yang rapuh. Dan sekarang rahasia itu terbuka. Entah itu akan menyelamatkan mereka atau justru menghancurkan segalanya. Ia tidak tahu harus merasa lega atau justru lebih cemas. Tapi satu hal yang ia yakini: mulai hari ini, hidup mereka tidak akan sama lagi.
Ia melirik Arka yang masih tidur nyenyak di sampingnya. Wajah anak kecil itu damai sekali, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur. Tidak tahu bahwa dunia kecilnya baru saja berubah selamanya. Mulai sekarang… dia punya ayah. Alya menyeka sisa air mata yang mengering di pipinya, lalu bangkit perlahan. Ia harus kuat. Untuk Arka. Untuk dirinya sendiri. Dengan langkah pelan, ia bergegas ke kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin, berharap itu bisa menyegarkan pikirannya yang masih kacau.
Pukul enam pagi, ketika Alya turun ke dapur, ia menemukan pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Reyhan masih mengenakan kaus tidur hitam polos dan celana training abu-abu, berdiri di depan kompor dengan wajah bingung. Sebuah spatula di tangan kanannya, dan wajan di depannya berisi telur orak-arik yang… gosong. Bau hangus langsung menyambut Alya begitu ia masuk.
Alya berhenti di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan mulut setengah terbuka. Reyhan Mahardika CEO perusahaan teknologi besar, pria yang selalu tampak sempurna dalam jas dan dasi sedang mencoba masak sarapan. Dan gagal total.
Reyhan menoleh, wajahnya… canggung. Sangat canggung. “Aku… coba masak sarapan,” katanya datar, tapi Alya bisa mendengar sedikit nada defensif di sana. “Tapi kayaknya gagal.”
Alya berjalan mendekat, melirik wajan itu. Telur orak-arik yang sudah menghitam di beberapa bagian, minyak yang terlalu banyak, dan bau gosong yang mulai menyebar ke seluruh dapur. Ia tidak bisa menahan senyumnya senyum pertama yang tulus sejak semalam. “Om… nggak pernah masak ya?”
Reyhan menatapnya sekilas, lalu kembali menatap wajan dengan ekspresi frustrasi. “Aku bisa bikin kopi. Itu aja.”
Alya tertawa pelan tawa yang terdengar asing di telinganya sendiri setelah sekian lama. Ia mengambil alih spatula dari tangan Reyhan dengan lembut. “Sini, biar aku yang beresin. Om duduk aja.”
“Tapi aku mau… belajar.”
Alya menoleh, menatap Reyhan dengan tatapan lembut. Ada keseriusan di wajah pria itu keseriusan yang membuatnya terlihat… rentan. Bukan lagi CEO dingin yang selalu mengendalikan segalanya. “Oke,” kata Alya pelan. “Aku ajarin. Tapi sekarang, Om duduk dulu. Nanti kita masak bareng-bareng lain kali.”
Reyhan mengangguk gerakan kecil yang penuh kepatuhan. Ia duduk di kursi meja makan, menatap Alya yang mulai membereskan wajan gosong dan menyiapkan bahan baru. Ada keheningan yang nyaman, berbeda dari keheningan canggung kemarin malam. Kali ini terasa hangat, seperti dua orang yang mulai belajar saling memahami.
“Alya,” panggil Reyhan tiba-tiba.
“Ya?”
“Terima kasih.”
Alya berhenti sejenak, menoleh. “Buat apa?”
“Buat… nggak nyerah. Buat bertahan selama ini sendirian. Buat jaga Arka dengan baik.”
Alya merasakan tenggorokannya menyesak. Ia mengangguk pelan, tidak percaya pada suaranya sendiri untuk menjawab. Lalu ia kembali memasak kali ini dengan hati yang sedikit lebih ringan. Aroma bawang goreng dan telur segar mulai menggantikan bau hangus tadi.
Pukul tujuh pagi, Arka turun dengan langkah gontai seperti biasa. Mata masih setengah terpejam, rambut acak-acakan, piyama astronotnya agak miring. Ia langsung berjalan ke kursi favoritnya, duduk dengan kepala hampir menyentuh meja.
“Pagi, sayang,” sapa Alya sambil meletakkan sepiring nasi goreng di depannya, lengkap dengan telur mata sapi dan irisan timun segar.
“Pagi, Mama…” gumam Arka dengan suara serak.
Reyhan duduk di seberang, menatap Arka dengan tatapan yang berbeda dari biasanya lebih lembut, lebih… penuh perhatian. “Pagi, Arka,” sapanya, suaranya sedikit lebih hangat.
Arka mengangkat wajah, menatap Reyhan dengan mata yang masih sembap. “Pagi, Om Reyhan.”
Hening sejenak.
Lalu Arka bertanya dengan polos, “Om kok di rumah? Biasanya Om udah berangkat jam segini.”
Reyhan melirik Alya sebentar mencari izin atau dukungan, entahlah lalu menjawab, “Hari ini aku meeting siang. Jadi bisa sarapan bareng kalian.”
“Oh.” Arka mengangguk, lalu mulai menyendok nasi gorengnya perlahan. “Bagus dong. Jarang-jarang Om bisa sarapan sama kita.”
Reyhan tersenyum tipis senyum yang nyaris tidak terlihat, tapi Alya melihatnya. Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang tegang dan formal. Kali ini ada kehangatan kecil yang mulai tumbuh di antara mereka.
Arka tiba-tiba menatap Reyhan dengan serius. “Om Reyhan.”
“Ya?”
“Om pernah baca tentang teori paralel universe?”
Alya hampir tersedak jus jeruknya. Pagi-pagi sudah ngomongin paralel universe.
Reyhan justru terlihat tertarik. “Pernah. Kenapa?”
“Aku lagi mikir… kalau ada paralel universe, berarti ada versi lain dari kita di dunia lain kan? Terus… apa mereka juga lagi sarapan bareng kayak kita?”
Reyhan terdiam sejenak, lalu tersenyum senyum yang lebih lebar dari biasanya. “Bisa jadi. Atau mungkin di universe lain, aku yang jadi anak dan kamu yang jadi ayah.”
Arka tertawa tawa lepas yang jarang sekali terdengar. “Wah, nggak kebayang! Aku jadi ayah Om? Pasti aneh banget!”
“Kenapa aneh?”
“Soalnya Om lebih pinter dari aku. Kalau aku jadi ayah Om, aku nggak bisa ngajarin Om apa-apa.”
Reyhan menatap Arka dengan tatapan yang dalam. “Kamu salah, Arka. Kamu… sudah ngajarin aku banyak hal.”
Arka menatapnya bingung. “Ngajarin apa?”
Reyhan terdiam, lalu menjawab dengan nada pelan, sangat pelan, “Ngajarin aku cara… peduli.”
Hening.
Alya merasakan dadanya sesak mendengar kata-kata itu. Ia menatap Reyhan pria yang selama ini ia anggap dingin dan tanpa emosi ternyata perlahan… mencair. Arka tersenyum lebar. “Om Reyhan baik ya, Ma.”
Alya mengangguk, senyum tipis di bibirnya. “Iya, sayang. Om Reyhan… baik.”
Reyhan menatap Alya. Mata mereka bertemu sekilas. Dan di sana, ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang belum bisa diberi nama, tapi nyata.
Pukul sembilan pagi, setelah Reyhan pergi untuk meeting, Alya dan Arka duduk di sofa ruang keluarga. Arka membaca buku tentang astronomi seperti biasa, sementara Alya melipat cucian sambil sesekali melirik anaknya.
“Arka,” panggil Alya pelan.
“Ya, Mama?”
“Kamu… suka Om Reyhan?”
Arka mengangkat wajah dari bukunya, menatap ibunya dengan tatapan polos. “Suka. Kenapa, Mama?”
“Nggak, cuma nanya aja.” Alya terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan hati-hati, “Kalau… kalau Om Reyhan jadi… lebih sering di rumah, lebih sering ngobrol sama kamu, kamu senang nggak?”
Arka berpikir sejenak. “Senang. Aku suka ngobrol sama Om. Dia ngerti apa yang aku omongin. Nggak kayak orang lain yang suka bilang aku aneh.”
Alya tersenyum miris. “Kamu nggak aneh, sayang. Kamu… istimewa.”
“Kata Mama iya. Tapi kata orang lain kan beda.”
Alya menarik Arka ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya. “Pendapat orang lain nggak penting, sayang. Yang penting… kamu bahagia.”
Arka mengangguk dalam pelukan ibunya. “Aku bahagia kok, Ma. Apalagi sekarang Om Reyhan jadi baik sama kita.”
Alya merasakan air matanya menggenang lagi, tapi kali ini bukan air mata sedih. Ini air mata lega, bahagia, dan harap. Mungkin… mungkin ini awal yang baru.
Pukul lima sore, untuk kedua kalinya dalam seminggu, Reyhan pulang lebih awal dari biasanya pukul lima sore, bukan sepuluh malam seperti kebiasaannya. Ia masuk dengan membawa kantong belanjaan besar dari toko mainan.
Alya yang sedang menyiapkan makan malam menoleh, terkejut. “Om… beli apa?”
Reyhan meletakkan kantong itu di meja ruang keluarga, wajahnya… canggung. Seperti anak kecil yang baru pertama kali memberi hadiah. “Aku… nggak tahu Arka suka mainan apa. Jadi aku beli yang menurutku cocok buat anak genius.”
Alya mendekat, mengintip isi kantong. Ada set robot rakitan, puzzle 3D rumit, buku ensiklopedia sains lanjutan, dan sebuah teleskop mini. Hati Alya mencelos. Reyhan… berusaha.
“Om… ini terlalu banyak.”
“Aku nggak tahu mana yang dia suka. Jadi aku beli semuanya.” Reyhan menatap Alya dengan tatapan serius. “Apa… apa aku salah?”
Alya menggeleng cepat, senyumnya melebar. “Nggak salah. Arka pasti senang. Dia suka semua yang berbau sains.”
Reyhan menghela napas lega. “Syukurlah. Aku takut salah pilih.”
Langkah kaki kecil terdengar dari tangga. Arka turun dengan mata berbinar melihat kantong belanjaan besar itu. “Itu apa, Om?”
Reyhan berlutut, menyamakan tinggi badannya dengan Arka, lalu berkata dengan nada canggung tapi tulus, “Ini… hadiah buat kamu.”
Mata Arka membulat. “Hadiah? Buat apa? Hari ini bukan ulang tahunku.”
“Nggak harus ada acara khusus buat kasih hadiah kan?” Reyhan tersenyum tipis. “Aku cuma… pengen lihat kamu senang.”
Arka menatap Reyhan lama tatapan yang terlalu dalam untuk anak seusianya. Lalu perlahan, ia melangkah maju dan memeluk Reyhan. Pelukan canggung yang jarang ia berikan pada siapapun selain ibunya.
Reyhan membeku, tidak tahu harus berbuat apa. Tapi perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu canggung, ragu-ragu, tapi tulus.
Alya berdiri di kejauhan dengan tangan menutupi mulutnya, air mata mengalir deras di pipinya. Ini adalah pelukan pertama antara ayah dan anak yang tidak tahu bahwa mereka adalah ayah dan anak. Dan entah kenapa… itu terasa seperti momen paling indah dalam hidup Alya.
Malam hari, Alya duduk di sofa ruang keluarga dengan secangkir teh hangat di tangan. Reyhan duduk di ujung sofa yang lain jarak mereka masih jauh, tapi tidak sejauh sebelumnya.
“Arka senang banget sama teleskopnya,” kata Alya sambil tersenyum. “Dia bilang mau liat bulan nanti malam.”
Reyhan tersenyum tipis. “Aku juga dulu suka liat bintang waktu kecil. Bikin aku merasa… nggak sendirian.”
Alya menatapnya dengan lembut. “Om… kesepian ya waktu kecil?”
Reyhan mengangguk pelan. “Sangat. Aku terlalu pintar buat teman sebaya, tapi terlalu muda buat teman yang lebih tua. Jadi aku… sendirian. Hanya ada buku, komputer, sama bintang.”
“Makanya Om… takut peduli sama orang?”
Reyhan terdiam lama. Lalu ia menjawab dengan jujur, “Iya. Karena setiap kali aku coba peduli, orang-orang… pergi. Atau anggep aku aneh. Jadi aku belajar buat nggak peduli. Lebih aman.”
Alya merasakan dadanya sesak. “Tapi… sekarang?”
Reyhan menatapnya tatapan yang penuh dengan emosi yang belum bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. “Sekarang… aku mau coba lagi. Buat Arka. Dan… buat kamu.”
Hening.
Lalu Reyhan bertanya dengan nada pelan, nyaris berbisik, “Alya… kamu masih benci sama aku?”
Alya menggeleng perlahan. “Aku nggak pernah benci kamu, Reyhan. Aku… sedih. Kecewa. Terluka. Tapi nggak pernah benci.”
“Kenapa?”
Alya tersenyum miris. “Karena… aku tahu kamu juga terluka. Dan orang yang terluka… sering menyakiti orang lain tanpa sengaja.”
Reyhan merasakan dadanya sesak. Tidak ada yang pernah bicara padanya seperti ini with pengertian, tanpa judgement.
“Terima kasih,” bisiknya.
“Buat apa?”
“Buat… nggak nyerah sama aku. Buat masih percaya aku bisa berubah.”
Alya menatapnya dengan senyum lembut senyum yang membuat hati Reyhan berdegup lebih cepat. “Aku percaya, Reyhan. Karena aku lihat… kamu berusaha.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak enam tahun, Reyhan merasa… ada harapan. Harapan untuk menjadi lebih baik. Harapan untuk menjadi ayah yang baik. Dan mungkin… harapan untuk jatuh cinta lagi.