Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Keras Kepala
🕊
Hari itu pagi cerah, tapi suasana rumah terasa tegang sejak awal. Alea, duduk di ruang tengah sambil menata catatan latihan matematika di meja, sementara adik-adik—Dika, Ara, dan Ayu—sibuk dengan rutinitas masing-masing. Ayu sedang membersihkan rumah, menarik napas dalam, terlihat serius dan tekun.
“Kaka Ayu, hati-hati, jangan sampai jatuh,” kataku pelan, menatap kakakku yang sedang memunguti beberapa barang yang terlihat sudah rusak. Ayu menoleh, menatapku dengan mata berbinar. “Santai, Alea. Aku cuma ingin membuang barang-barang yang sudah nggak kepakai lagi. Nanti rumah jadi rapi.”
Alea mengangguk, meski ada rasa cemas di hati. Aku tahu Sita tidak akan membiarkan Ayu bertindak seenaknya. Dan benar saja, tidak lama kemudian, Sita muncul dari dapur, ekspresinya tegang dan marah.
“Ayu! Apa-apaan ini? Kamu seenaknya membuang barang-barang? Barang-barang itu masih bisa dipakai, lho! Kenapa kamu tidak minta izin dulu?” Sita mengomel, suaranya meninggi.
Ayu menatap Sita, tidak gentar. “Tapi Bu, barang ini sudah rusak. Rumah jadi berantakan kalau dibiarkan begitu saja. Aku cuma ingin membantu.”
Sita menatap Ayu dengan mata menyala, nadanya semakin meninggi. “Bantu? Ini bukan cara membantu! Kamu cuma bertindak semena-mena! Papa pasti tidak akan setuju kalau tahu kamu begini!”
Alea menatap kedua wanita itu dengan hati berdebar. Aku tahu ini akan menjadi pertengkaran besar. Aku ingin ikut menenangkan, tapi juga takut ikut terseret emosi Sita.
Papa masuk dari ruang tengah, wajahnya merah, mendengar suara mereka bertengkar. “Ayu! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu berani melawan perintah ibu rumah tangga?! Kamu pikir kamu siapa?!” suaranya keras, penuh kemarahan.
Ayu menatap Papa dengan tatapan menantang, rahang mengeras. “Aku bukan melawan, Pa. Aku hanya ingin rumah rapi. Aku tidak mau rumah ini berantakan karena barang yang sudah tidak berguna.”
Sita menghela napas, menatap Ayu seolah menahan amarahnya yang sudah memuncak. “Lihat? Kamu ini keras kepala! Barang itu masih bisa dipakai, Ayu! Kau seenaknya!”
Alea merasakan udara di rumah menjadi berat, napas semua orang terasa sesak. Dika dan Chandrika berdiri di dekat pintu, saling menatap, ragu ingin ikut campur atau tetap diam. Aku melangkah pelan ke dekat Ayu, mencoba menenangkannya.
“Kaka Ayu… sabar dulu, ya. Nggak usah terlalu keras kepala. Kita bisa jelaskan pelan-pelan,” kataku pelan, tangan menepuk bahunya. Ayu menatapku, matanya masih menyala. “Aku tahu, Al… tapi aku nggak mau diam saja kalau rumah jadi berantakan. Aku harus bertindak.” Papa menghela napas panjang, nadanya meninggi. “Ayu! Kamu tahu konsekuensinya! Jangan membuat papa marah lebih lagi!”
Ayu menatap Papa lurus, berani. “Pa, aku bukan anak kecil. Aku bisa menentukan sendiri apa yang perlu dilakukan. Aku tidak akan tunduk pada kemarahan yang nggak adil!” Sita hampir tercekik mendengar kata-kata Ayu. “Kamu ini keras kepala! Tidak ada sopan santun! Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu padaku?!”
Alea menatap ketiga pihak itu, hati berdebar. Aku tahu situasi bisa menjadi kacau. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dan adik-adikku. Dika berbisik pelan, “Kaka… mereka berdua… aku takut.” Chandrika memeluk kakakku. “Aku nggak suka dengar mereka teriak-teriak…”
Alea menepuk kepala Chandrika, tersenyum tipis. “Sabar, Ara… sebentar lagi semuanya akan reda.”
Pertengkaran mereka semakin keras. Sita menuntut agar Ayu mundur dan mengakui kesalahan, sementara Ayu tetap kukuh dengan pendiriannya. Suara mereka terdengar sampai ke rumah Tante Gita yang bersebelahan. Anggun, anak bungsu Tante Gita, mengintip dari jendela rumahnya, matanya membesar.
“Mama… mama… lihat! Ka Ayu bertengkar sama ua!” bisik Anggun panik, menarik tangan ibunya. Tante Gita menatap ke arah rumah kami, ekspresinya campur aduk antara heran dan cemas. “Astaga… mereka bertengkar sampai begitu keras?” Anggun mengangguk, suara nya bergetar. “Iya, mama… Ka Ayu nggak mau tunduk sama ua, dan ibu tiri juga marah banget.”
Alea menatap ketiga saudaraku. Meskipun mereka ketakutan, ada ikatan yang semakin erat di antara kami—perasaan saling melindungi. Aku menepuk punggung Ayu pelan. “Kaka… tetap tenang, ya. Jangan biarkan kemarahan mereka membuatmu kehilangan kontrol.”
Ayu menghela napas panjang. “Iya, Al… aku cuma ingin rumah ini rapi. Tapi aku nggak akan mundur.” Dika menatap kakaknya, lalu menatapku. “Kaka… aku takut mereka makin marah kalau kita ikut campur.”
Alea mengangguk pelan. “Kita cukup di sini mendukung Kaka Ayu. Nggak usah ikut-ikutan emosi mereka.” Chandrika kecil menatapku dengan mata penuh khawatir. “Kaka… aku mau bantu Ka Ayu…” Alea tersenyum lembut. “Ara… kamu bisa duduk di sini, pegang tangan Kakak. Kita tetap bersama, ya.”
Sementara itu, pertengkaran Ayu dan Sita tidak reda. Papa terus memarahi Ayu, suaranya keras, hampir memecah keheningan di halaman. Ayu tetap tegak, rahangnya tegas, tidak mau menyerah. Sita menuding Ayu dengan jari gemetar. “Kamu ini anak keras kepala! Tidak tahu sopan santun! Aku nggak akan diam kalau kamu seenaknya seperti ini!”
Ayu menatap Sita lurus. “Aku menghormati Ibu, tapi aku juga punya pendapat. Aku nggak bisa diam saja melihat rumah ini berantakan.” Papa menarik napas panjang, wajahnya merah. “Ayu… aku bilang berhenti! Jangan menantangku terus!”
Ayu menunduk sebentar, menatap mataku, lalu kembali menatap Papa dengan tatapan berani. “Pa… aku nggak menantang. Aku cuma ingin rumah ini tertata, agar semua orang nyaman. Aku ingin bertanggung jawab, bukan dipaksa diam!”
Alea menahan napas, melihat Dika dan Chandrika menatap kakaknya dengan kagum dan takut sekaligus. Aku merasakan ikatan kami semakin kuat—meski sedang di tengah konflik, kami tetap saling mendukung satu sama lain.
Anggun, yang terus mengintip dari jendela Tante Gita, menatap ibunya. “Mama… mereka nggak berhenti-berhenti berteriak…” Tante Gita mengelus kepala anaknya. “Iya, Anggun… tapi lihat, Ka Alea tetap bersama saudara-saudaranya. Itu yang penting. Kita bisa bantu mereka dengan doa saja dari sini.”
Alea menepuk pundak Ayu pelan. “Kaka… kamu nggak sendiri. Kita ada di sini, mendukungmu. Tidak apa-apa berbeda pendapat, yang penting kita tetap saling jaga.” Ayu mengangguk, menenangkan dirinya sedikit. “Iya, Kaka Alea… terima kasih. Rasanya lebih ringan kalau ada kalian.”
Dika, masih sedikit takut, berkata pelan, “Aku juga… aku senang kita bisa bersama, walau mereka berdua marah.” Chandrika menatapku sambil tersenyum tipis. “Aku juga… aku nggak takut kalau ada Kaka dan Kaka Ayu.”
Alea tersenyum tipis, menarik napas panjang. Alea tahu pertengkaran ini tidak akan selesai dengan cepat, tapi aku merasakan ikatan kami semakin erat. Konflik, kemarahan, dan perbedaan pendapat bukan berarti kita terpecah. Justru, saling mendukung di saat sulit membuat hubungan kami lebih kuat.
Suara beradu pendapat itu terus terdengar hingga siang, Sita dan Papa tetap marah, tetapi kami di luar tetap bersatu. Duduk di sofa ruang tamu yang dibatasi, kami saling berbagi cerita, tertawa kecil sesekali, dan bahkan membantu Ayu menyusun barang-barang yang aman.
Alea menatap medali Olimpiade di meja belajar, tersenyum tipis. Dunia mungkin keras, rumah penuh ketegangan, tetapi di tengah semua itu, saudara-saudaranya tetap menjadi tempatku bertahan. Ayu yang keras kepala, Dika yang canggung, Chandrika yang kecil tapi penuh keberanian—mereka adalah ikatan yang tidak bisa dipecahkan oleh kemarahan atau konflik.
Dan malam itu, ketika suara beradu pendapat mulai mereda, aku menulis di jurnal: "Hari ini, kita melihat kerasnya dunia dewasa di rumah sendiri. Sita dan Papa marah, Ayu tidak mau menyerah. Tapi di luar semua itu, kita tetap bersama. Aku melihat saudara-saudaraku, dan hubungan kami semakin erat. Konflik boleh ada, kemarahan bisa muncul, tapi saling menguatkan adalah yang utama. Keluarga bukan soal sempurna, tapi tentang tetap bertahan bersama meski badai datang."
Alea menutup buku catatan, menatap keempat saudara yang duduk di sofa. Meskipun lelah, wajah mereka masih memancarkan kebersamaan dan kehangatan yang tidak bisa diganggu oleh siapa pun. Malam itu, Alea tidur dengan hati lebih ringan, percaya bahwa meski konflik terus muncul, kami akan selalu saling menguatkan.
☀️☀️