NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Di Atas Meja Kaca

Hujan belum berhenti ketika Aruna dan Calvin tiba di apartemen Calvin. Bukan tempat yang sering mereka gunakan untuk bekerja, tapi malam itu kantor terasa terlalu terbuka. Terlalu banyak mata.

Begitu pintu tertutup, dunia luar seperti teredam. Hanya suara hujan di balkon dan dengung pelan pendingin ruangan.

Aruna melepas blazer-nya, meletakkannya di sandaran kursi. Calvin langsung menyalakan laptop di meja kaca ruang makan. Cahaya layar memantul di permukaannya, menciptakan bayangan biru pucat di wajah mereka. Flashdisk itu tergeletak di tengah meja. Kecil. Biasa. Seperti rahasia yang pura-pura tidak berbahaya.

“Kita tidak bisa sambungkan ke jaringan utama,” kata Calvin.

“Aku tahu.”

Ia mengambil laptop cadangan. Offline. Terpisah dari sistem kantor. Tangannya tenang saat mencolokkan flashdisk itu. Tapi ada denyut halus di pergelangan yang tidak bisa ia abaikan.

Layar menyala.

Folder demi folder muncul.

Nama. Tanggal. Percakapan terenkripsi yang sudah dibuka.

Aruna membaca satu per satu. Email dengan nada formal tapi menyimpan perintah tersembunyi. Persetujuan yang disamarkan dalam istilah teknis. Transfer dana yang dibungkus proyek ekspansi fiktif.

Dan di sana.

Nama itu.

Bukan sekadar petinggi perusahaan.

Pemegang saham mayoritas.

Orang yang selama ini berdiri di atas semua struktur—tak tersentuh, tak terlihat.

Ruangan terasa lebih sempit. Calvin bersandar perlahan. “Kalau ini asli, kita tidak lagi bicara soal internal.”

“Kita bicara soal jaringan,” Aruna membetulkan.

Ia membuka salah satu file audio. Suara berat seorang pria terdengar samar, seperti direkam dari jarak jauh.

“… pastikan jejaknya bersih. Saya tidak mau nama saya muncul.”

Aruna menghentikan rekaman. Jantungnya berdetak lebih keras, tapi wajahnya tetap datar.

“Itu dia,” katanya pelan.

Calvin menatapnya. “Kamu sadar artinya?”

Aruna tersenyum tipis, bukan karena senang “Artinya kita sudah menyentuh akar.”

Pagi datang tanpa belas kasihan. Berita tentang Hendra sudah bergeser dari halaman utama, tapi percakapan internal justru makin panas. Rumor bergerak lebih cepat dari fakta. Beberapa direksi mulai menjaga jarak. Beberapa lainnya mendekat, mencoba membaca arah angin.

Aruna masuk ke ruangannya dengan langkah pasti.

Belum lima menit, sekretarisnya masuk dengan wajah tegang.

“Bu… ada panggilan dari kantor pusat grup.” Aruna berhenti.

Kantor pusat grup. Itu berarti lingkaran yang lebih besar.

“Sambungkan.”

Layar di dinding menyala. Wajah pria berusia lima puluhan muncul. Rapi. Tenang. Mata yang terlalu tajam untuk sekadar pengamat.

“Kamu bergerak cepat,” katanya tanpa basa-basi.

“Saya bergerak sesuai data,” jawab Aruna.

Ia tidak menunduk. Tidak juga tersenyum.

“Kamu sadar apa yang kamu buka bisa berdampak luas.”

“Kalau sistemnya bersih, tidak akan ada yang terdampak.”

Pria itu mengamati wajahnya. Lama. “Kamu masih muda,” katanya pelan. “Jangan sampai idealisme menghancurkan masa depanmu.”

Aruna merasakan udara di paru-parunya mengeras.

“Integritas bukan idealisme,” jawabnya tenang. “Itu standar.”

Hening beberapa detik.

“Berhenti di Hendra,” pria itu berkata akhirnya. “Kita bisa atur narasinya.”

Di balik meja, tangan Aruna mengepal perlahan.

“Tidak.”

Satu kata. Bersih. Tanpa getar.

Wajah di layar tidak berubah, tapi sorot matanya menggelap. “Kamu pikir kamu kebal?”

Aruna menatap lurus. “Saya pikir saya bertanggung jawab.”

Layar mati.

Ruangan terasa hening setelahnya. Tapi bukan hening yang kosong. Lebih seperti sebelum badai besar memecah langit.

...****************...

Siang hari, Calvin masuk tanpa mengetuk.

“Kamu sudah dengar?” tanyanya.

Aruna mengangguk kecil. “Sudah.”

Calvin mendekat, suaranya rendah. “Tekanan akan datang. Media. Investor. Bahkan mungkin ancaman personal.”

Aruna berdiri, berjalan mendekati jendela. Kota di bawah tampak biasa saja. Kendaraan tetap bergerak. Orang-orang tetap berjalan.

“Kita sudah sampai sejauh ini,” katanya pelan. “Aku tidak akan berhenti karena takut.”

Calvin berdiri di sampingnya. Jarak mereka hanya beberapa senti. Cukup dekat untuk merasakan hangat tubuh, tapi tidak menyentuh.

“Aku tidak takut,” katanya. “Aku hanya ingin kamu tetap aman.”

Aruna menoleh. Tatapan mereka bertemu.

“Kalau kita mundur sekarang,” katanya lembut tapi tegas, “semua yang kita lakukan jadi sia-sia.”

Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya bukan keras, tapi kokoh seperti fondasi yang tak bisa digeser.

Calvin mengangguk pelan.

“Baik. Kita siapkan langkah berikutnya.”

Sore itu, Aruna memanggil tim legal dan audit independen. Di ruang rapat kecil, udara terasa berat oleh kesadaran bahwa apa yang akan mereka lakukan bisa mengubah arah perusahaan.

“Kita serahkan data ini langsung ke regulator,” kata Aruna.

Beberapa wajah saling pandang. “Itu berarti publik,” salah satu pengacara berkata hati-hati.

“Itu berarti bersih,” jawab Aruna.

Calvin menyambung, “Dan kita lakukan sebelum mereka sempat mengatur cerita.”

Keputusan itu menggantung beberapa detik, lalu satu per satu kepala mengangguk. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada dramatisasi. Hanya kesadaran bahwa mereka sedang menarik garis.

Malam turun lagi. Aruna berdiri sendirian di ruangannya setelah semua orang pulang. Lampu kota menyala seperti lautan kecil di kejauhan.

Ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Ia angkat.

“Berani sekali,” suara pria terdengar di seberang.

Tenang. Terlalu tenang.

“Saya tidak sembunyi,” jawab Aruna.

“Kamu pikir kamu pahlawan?”

“Saya pikir saya tidak ingin hidup dalam kebohongan.”

Tawa pendek terdengar. “Kamu tidak tahu siapa saja yang berdiri di belakang saya.”

Aruna menatap pantulan dirinya di kaca jendela.

“Mungkin tidak,” katanya pelan. “Tapi satu per satu akan terlihat.”

Sunyi.

Lalu sambungan terputus.

Beberapa detik Aruna tetap memegang ponsel di telinganya. Jantungnya berdetak keras, tapi bukan karena takut. Karena sadar. Ini bukan lagi sekadar kasus korupsi. Ini perang kekuasaan.

Pintu ruangannya terbuka pelan. Calvin masuk, wajahnya serius. “Kita baru dapat kabar,” katanya. “Ada upaya untuk membekukan akses sistem kita malam ini.”

Aruna menatapnya. “Sudah kuduga.”

Calvin mendekat. “Tim IT siap. Tapi ini serangan langsung.”

Aruna menarik napas panjang. Aroma kopi yang sudah dingin masih tertinggal di meja. “Kalau mereka mau main kotor,” katanya pelan, “kita main terang.”

Calvin tersenyum tipis. “Aku suka cara kamu berpikir.”

Aruna berjalan kembali ke meja, menyalakan laptopnya. “Besok pagi,” katanya, “data ini sudah ada di tangan regulator.”

Ia menatap layar yang memantulkan cahaya putih ke wajahnya. Di balik lelah, ada api kecil yang tidak padam. “Dan setelah itu,” lanjutnya, “tidak ada jalan kembali.”

Calvin berdiri di sampingnya. “Memang tidak pernah ada.”

Di luar, angin malam bertiup lebih kencang. Tirai bergerak pelan, seperti napas panjang sebelum lompatan besar. Aruna mengetik email terakhir malam itu.

Attach file.

Send.

Dan saat ikon kecil itu berubah menjadi tanda terkirim, ia tahu satu hal: Besok pagi, meja kaca tempat mereka berdiri selama ini akan retak.

Bukan karena mereka. Tapi karena kebenaran akhirnya diletakkan di atasnya.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!