Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Di Atas Meja Kaca
Hujan belum berhenti ketika Aruna dan Calvin tiba di apartemen Calvin. Bukan tempat yang sering mereka gunakan untuk bekerja, tapi malam itu kantor terasa terlalu terbuka. Terlalu banyak mata.
Begitu pintu tertutup, dunia luar seperti teredam. Hanya suara hujan di balkon dan dengung pelan pendingin ruangan.
Aruna melepas blazer-nya, meletakkannya di sandaran kursi. Calvin langsung menyalakan laptop di meja kaca ruang makan. Cahaya layar memantul di permukaannya, menciptakan bayangan biru pucat di wajah mereka. Flashdisk itu tergeletak di tengah meja. Kecil. Biasa. Seperti rahasia yang pura-pura tidak berbahaya.
“Kita tidak bisa sambungkan ke jaringan utama,” kata Calvin.
“Aku tahu.”
Ia mengambil laptop cadangan. Offline. Terpisah dari sistem kantor. Tangannya tenang saat mencolokkan flashdisk itu. Tapi ada denyut halus di pergelangan yang tidak bisa ia abaikan.
Layar menyala.
Folder demi folder muncul.
Nama. Tanggal. Percakapan terenkripsi yang sudah dibuka.
Aruna membaca satu per satu. Email dengan nada formal tapi menyimpan perintah tersembunyi. Persetujuan yang disamarkan dalam istilah teknis. Transfer dana yang dibungkus proyek ekspansi fiktif.
Dan di sana.
Nama itu.
Bukan sekadar petinggi perusahaan.
Pemegang saham mayoritas.
Orang yang selama ini berdiri di atas semua struktur—tak tersentuh, tak terlihat.
Ruangan terasa lebih sempit. Calvin bersandar perlahan. “Kalau ini asli, kita tidak lagi bicara soal internal.”
“Kita bicara soal jaringan,” Aruna membetulkan.
Ia membuka salah satu file audio. Suara berat seorang pria terdengar samar, seperti direkam dari jarak jauh.
“… pastikan jejaknya bersih. Saya tidak mau nama saya muncul.”
Aruna menghentikan rekaman. Jantungnya berdetak lebih keras, tapi wajahnya tetap datar.
“Itu dia,” katanya pelan.
Calvin menatapnya. “Kamu sadar artinya?”
Aruna tersenyum tipis, bukan karena senang “Artinya kita sudah menyentuh akar.”
Pagi datang tanpa belas kasihan. Berita tentang Hendra sudah bergeser dari halaman utama, tapi percakapan internal justru makin panas. Rumor bergerak lebih cepat dari fakta. Beberapa direksi mulai menjaga jarak. Beberapa lainnya mendekat, mencoba membaca arah angin.
Aruna masuk ke ruangannya dengan langkah pasti.
Belum lima menit, sekretarisnya masuk dengan wajah tegang.
“Bu… ada panggilan dari kantor pusat grup.” Aruna berhenti.
Kantor pusat grup. Itu berarti lingkaran yang lebih besar.
“Sambungkan.”
Layar di dinding menyala. Wajah pria berusia lima puluhan muncul. Rapi. Tenang. Mata yang terlalu tajam untuk sekadar pengamat.
“Kamu bergerak cepat,” katanya tanpa basa-basi.
“Saya bergerak sesuai data,” jawab Aruna.
Ia tidak menunduk. Tidak juga tersenyum.
“Kamu sadar apa yang kamu buka bisa berdampak luas.”
“Kalau sistemnya bersih, tidak akan ada yang terdampak.”
Pria itu mengamati wajahnya. Lama. “Kamu masih muda,” katanya pelan. “Jangan sampai idealisme menghancurkan masa depanmu.”
Aruna merasakan udara di paru-parunya mengeras.
“Integritas bukan idealisme,” jawabnya tenang. “Itu standar.”
Hening beberapa detik.
“Berhenti di Hendra,” pria itu berkata akhirnya. “Kita bisa atur narasinya.”
Di balik meja, tangan Aruna mengepal perlahan.
“Tidak.”
Satu kata. Bersih. Tanpa getar.
Wajah di layar tidak berubah, tapi sorot matanya menggelap. “Kamu pikir kamu kebal?”
Aruna menatap lurus. “Saya pikir saya bertanggung jawab.”
Layar mati.
Ruangan terasa hening setelahnya. Tapi bukan hening yang kosong. Lebih seperti sebelum badai besar memecah langit.
...****************...
Siang hari, Calvin masuk tanpa mengetuk.
“Kamu sudah dengar?” tanyanya.
Aruna mengangguk kecil. “Sudah.”
Calvin mendekat, suaranya rendah. “Tekanan akan datang. Media. Investor. Bahkan mungkin ancaman personal.”
Aruna berdiri, berjalan mendekati jendela. Kota di bawah tampak biasa saja. Kendaraan tetap bergerak. Orang-orang tetap berjalan.
“Kita sudah sampai sejauh ini,” katanya pelan. “Aku tidak akan berhenti karena takut.”
Calvin berdiri di sampingnya. Jarak mereka hanya beberapa senti. Cukup dekat untuk merasakan hangat tubuh, tapi tidak menyentuh.
“Aku tidak takut,” katanya. “Aku hanya ingin kamu tetap aman.”
Aruna menoleh. Tatapan mereka bertemu.
“Kalau kita mundur sekarang,” katanya lembut tapi tegas, “semua yang kita lakukan jadi sia-sia.”
Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya bukan keras, tapi kokoh seperti fondasi yang tak bisa digeser.
Calvin mengangguk pelan.
“Baik. Kita siapkan langkah berikutnya.”
Sore itu, Aruna memanggil tim legal dan audit independen. Di ruang rapat kecil, udara terasa berat oleh kesadaran bahwa apa yang akan mereka lakukan bisa mengubah arah perusahaan.
“Kita serahkan data ini langsung ke regulator,” kata Aruna.
Beberapa wajah saling pandang. “Itu berarti publik,” salah satu pengacara berkata hati-hati.
“Itu berarti bersih,” jawab Aruna.
Calvin menyambung, “Dan kita lakukan sebelum mereka sempat mengatur cerita.”
Keputusan itu menggantung beberapa detik, lalu satu per satu kepala mengangguk. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada dramatisasi. Hanya kesadaran bahwa mereka sedang menarik garis.
Malam turun lagi. Aruna berdiri sendirian di ruangannya setelah semua orang pulang. Lampu kota menyala seperti lautan kecil di kejauhan.
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia angkat.
“Berani sekali,” suara pria terdengar di seberang.
Tenang. Terlalu tenang.
“Saya tidak sembunyi,” jawab Aruna.
“Kamu pikir kamu pahlawan?”
“Saya pikir saya tidak ingin hidup dalam kebohongan.”
Tawa pendek terdengar. “Kamu tidak tahu siapa saja yang berdiri di belakang saya.”
Aruna menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
“Mungkin tidak,” katanya pelan. “Tapi satu per satu akan terlihat.”
Sunyi.
Lalu sambungan terputus.
Beberapa detik Aruna tetap memegang ponsel di telinganya. Jantungnya berdetak keras, tapi bukan karena takut. Karena sadar. Ini bukan lagi sekadar kasus korupsi. Ini perang kekuasaan.
Pintu ruangannya terbuka pelan. Calvin masuk, wajahnya serius. “Kita baru dapat kabar,” katanya. “Ada upaya untuk membekukan akses sistem kita malam ini.”
Aruna menatapnya. “Sudah kuduga.”
Calvin mendekat. “Tim IT siap. Tapi ini serangan langsung.”
Aruna menarik napas panjang. Aroma kopi yang sudah dingin masih tertinggal di meja. “Kalau mereka mau main kotor,” katanya pelan, “kita main terang.”
Calvin tersenyum tipis. “Aku suka cara kamu berpikir.”
Aruna berjalan kembali ke meja, menyalakan laptopnya. “Besok pagi,” katanya, “data ini sudah ada di tangan regulator.”
Ia menatap layar yang memantulkan cahaya putih ke wajahnya. Di balik lelah, ada api kecil yang tidak padam. “Dan setelah itu,” lanjutnya, “tidak ada jalan kembali.”
Calvin berdiri di sampingnya. “Memang tidak pernah ada.”
Di luar, angin malam bertiup lebih kencang. Tirai bergerak pelan, seperti napas panjang sebelum lompatan besar. Aruna mengetik email terakhir malam itu.
Attach file.
Send.
Dan saat ikon kecil itu berubah menjadi tanda terkirim, ia tahu satu hal: Besok pagi, meja kaca tempat mereka berdiri selama ini akan retak.
Bukan karena mereka. Tapi karena kebenaran akhirnya diletakkan di atasnya.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/