“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: GERBANG DESA DAN DARAH DI TANAH KENANGA
Waktu di dalam Dimensi Independen seolah-olah membeku dalam keabadian yang produktif. Rimba Dipa Johanson tidak langsung terburu-buru keluar dari rumah mewahnya meski rencana besar untuk menjual harta karun sudah tersusun rapi di kepalanya. Ia tahu betul, di dunia luar sana, mentari belum benar-benar menyapa pagi. Di dimensi ini, ia masih memiliki "kemewahan waktu" yang sangat melimpah berkat modifikasi sistem Aether yang ia lakukan sebelumnya.
Rimba kembali melangkah menuju altar batu hitam. Alih-alih beristirahat, ia justru memacu kapasitas otaknya ke tingkat yang lebih ekstrem. Empat jalur pikiran yang sudah ia kuasai kini ia paksa untuk membelah lagi. Sensasi di kepalanya terasa seperti ditarik-tarik, panas dan berdenyut, namun dengan keteguhan hati, ia berhasil melakukannya. Kini, Rimba memiliki delapan jalur pikiran mandiri.
Satu bagian pikirannya ia gunakan untuk mempelajari konsep Multi-Elemen—sebuah cabang ilmu tingkat tinggi yang ia temukan di pojok perpustakaan mental. Ia ingin tahu bagaimana Qi-nya tidak hanya menjadi tenaga kasar, tapi juga bisa memiliki sifat alam. Sementara itu, ia mencoba mencari pendalaman tingkat ketiga untuk Risalah Sembilan Tingkat Pengobatan Surgawi, namun ia harus menelan kekecewaan.
"Sepertinya Dantianku belum cukup dewasa untuk ilmu pengobatan tahap tiga," gumamnya pelan. Ia menyadari bahwa kultivasi bukan hanya soal teori, tapi soal kematangan wadah energi di dalam tubuhnya.
---
Setelah revolusi mental, Rimba kembali ke aula latihan. Kali ini, sistem Aether memberikan perubahan signifikan. Di bawah tekanan gravitasi yang kini melonjak drastis ke angka 125G, siluet di layar tidak lagi hanya diam. Sasaran-sasaran fisik berupa proyeksi energi mulai muncul, menuntut Rimba untuk menyerang titik-titik tertentu dengan akurasi mematikan.
"125 kali berat bumi..." Rimba berbisik dengan suara parau. Paru-parunya terasa seperti terjepit di antara dua lempengan baja. Setiap gerakan adalah siksaan. Namun, Rimba adalah tipe orang yang lebih baik hancur saat ini daripada mati konyol di tangan musuh nantinya.
Selama tiga bulan waktu dimensi, Rimba benar-benar jungkir balik. Ia menggabungkan latihan fisik berat itu dengan aplikasi langsung jurus Tinju Besi dan Jari Iblis. Pukulan Meteor dan Jari Penembus Zirah-nya kini tidak lagi hanya berupa gerakan teknis, melainkan sudah menyatu dengan aliran Qi yang deras. Hasilnya? Rimba menembus Tingkat Satu Puncak.
Pada tahap ini, ledakan tenaganya begitu kuat hingga setiap pukulan dan tendangannya mampu melontarkan gelombang Qi sejauh satu meter ke depan. Ia bisa menghancurkan sasaran tanpa menyentuhnya secara fisik.
---
Suasana tenang menyelimuti ruang makan saat Rimba dan Lara menikmati makanan terakhir sebelum Rimba pergi. Cesar, sang serigala hitam, nampak gelisah seolah merasakan bahwa tuannya akan segera pergi ke tempat yang tidak bisa ia jangkau.
"Ra, kalau aku ada di dunia luar, apa kita bisa berkomunikasi?" tanya Rimba tiba-tiba.
Lara menghentikan makannya, wajah cantiknya sedikit menunduk, menyembunyikan sinar matanya yang nampak sedih. "Tidak bisa, Rimba. Kecuali kamu masuk kembali ke dalam dimensi."
"Tidak adakah cara lain? Teknologi Aether atau semacamnya?" Rimba mengejar.
Lara terdiam lama, jarinya memainkan pinggiran piring porselen. "Tidak bisa... selama kita belum melakukan pertukaran darah," jawabnya lirih, nyaris seperti bisikan. Wajahnya merona merah hingga ke telinga, membuat Rimba tertegun.
Rimba adalah anak muda yang cerdas; ia mengerti bahwa 'pertukaran darah' dalam terminologi kultivasi sering kali melibatkan ikatan jiwa yang sangat sakral dan intim. Ia tidak ingin memaksakan hal itu sekarang.
"Nanti sajalah aku pikirkan caranya agar kita tetap bisa terhubung," ucap Rimba santai, mencoba mencairkan suasana. "Oh ya, aku berencana keluar hari ini. Cesar sama kamu dulu ya, Ra. Jangan rindu padaku terlalu berat."
Rimba menoleh pada Cesar yang sedang menjulurkan lidahnya. "Hey bocil... kamu aku tinggal sebentar ya. Jangan nakal sama Lara. Kalau aku selesai urusan, aku langsung balik."
Cesar mengeluarkan suara "eungg... eungg..." pendek, nampak enggan, namun akhirnya ia kembali merebahkan kepalanya di atas lantai, menatap Rimba dengan mata yang seolah mengerti tanggung jawab besar tuannya.
---
Sebelum keluar, Rimba masuk ke ruang kontrol Aether. Ia memberikan perintah pada superkomputer tersebut untuk mendesain sebuah mahakarya. Ia meminta Aether membuat gambar Lara yang anggun dan Cesar yang sudah tumbuh dewasa menjadi serigala perang yang gagah, dengan latar belakang Hutan Asura yang mistis.
Aether bekerja dengan kecepatan cahaya. Sebuah desain yang sangat realistis muncul di layar—gambar itu seolah hidup, helai rambut Lara nampak tertiup angin dan mata Cesar nampak berkilat tajam. Rimba meminta Aether menyesuaikan dimensi gambar itu dengan ukuran lengan kanannya, dari bahu hingga siku. Sesuatu di kepalanya merencanakan sebuah tato atau identitas rahasia. Dengan satu sentuhan, ia mengirim gambar itu ke email pribadinya di dunia nyata.
Setelah semuanya siap, Rimba mandi dan mengenakan "seragam" kebanggaannya: Celana jeans biru yang penuh sobekan di lutut, kaos oblong putih yang bersih namun sederhana, dilapisi kemeja flanel kotak-kotak merah-hitam. Sepasang sepatu desert army boots yang kuat melengkapi penampilannya.
"Cesar, Lara... aku berangkat dulu ya," pamit Rimba di depan mereka.
Ia menggenggam erat liontin giok di lehernya. "Keluar!"
Seketika, pemandangan rumah mewah menghilang. Berganti dengan suasana kamarnya yang sempit dan berdebu di rumah kakeknya. Bau kayu tua dan udara pagi menyapa indra penciumannya yang kini sangat tajam. Rimba menoleh ke jam dinding. Jam 8 Pagi.
Ia segera mengambil tas ransel sekolahnya yang sudah lusuh, memasukkan simpanan uang tunai yang tersisa di lemari, dan mematikan semua lampu. Ia melangkah keluar dengan langkah yang sangat ringan, seolah-olah gravitasi dunia nyata tidak lagi memiliki arti baginya.
---
"Hoy anak ganteng! Mau ke mana pagi-pagi begini?" sebuah sapaan ramah terdengar saat Rimba melintasi teras rumah Pak RT.
Rimba menoleh dan tersenyum lebar melihat Pak RT sedang asyik menyesap kopi panas. "Eh, Pak RT! Ini Pak, mau ke kota kabupaten dulu. Ada yang harus dibeli untuk persiapan kuliah."
"Jadi kuliah ke kota provinsi, kan?" tanya Pak RT lagi, nampak bangga melihat salah satu pemuda terbaik desanya akan menuntut ilmu tinggi.
"Jadi, Pak. Bulan depan mungkin sudah berangkat," jawab Rimba sopan.
"Ya sudah, hati-hati di sana. Ingat pesan bapak, di kota itu banyak razia orang ganteng, nanti kamu ketangkap!" Pak RT terkekeh keras, bercanda dengan gaya khas orang tua desa.
Rimba tertawa dan melakukan sikap hormat ala tentara dengan sangat tegap. "Siap, Pak! Akan saya ingat pesannya. Saya pamit ya, Pak."
"Iya, iya... hati-hati!"
Rimba melanjutkan langkahnya. Namun, saat mencapai tikungan sepi dekat hutan yang membatasi desa—tempat di mana ia pernah dirampok dan dihajar habis-habisan oleh tiga preman semalam—sosok-sosok itu kembali muncul.
Si Pendek dengan luka parut di wajahnya berdiri di tengah jalan, memainkan belati di tangannya dengan gaya sok jagoan. Dua rekannya yang berbadan lebih besar berdiri di kiri dan kanan.
"Wah, wah... ternyata nyawamu liat juga ya? Masih bisa jalan setelah kami 'permak' semalam?" si Pendek tersenyum menyebalkan, menampakkan giginya yang kuning. "Sekarang, berikan tasmu dan semua uangmu kalau tidak mau berakhir lebih buruk dari kemarin."
Rimba hanya diam. Tatapannya datar, namun panca indranya sudah mengunci setiap gerakan otot ketiga orang di depannya. Dalam pandangan Rimba, gerakan mereka nampak sangat lambat, seperti kura-kura yang mencoba berlari.
"Hey, kamu budeg ya?! Apa gendang telingamu pecah gara-gara pukulan kami semalam?!" teriak si Pendek kesal. Ia memberi kode pada kedua rekannya. "Cepat hajar dia lagi!"
Kedua preman besar itu merangsek maju. Mereka melayangkan tinju bertenaga ke arah wajah Rimba. Rimba tetap berdiri mematung hingga tinju itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidungnya. Tiba-tiba, Rimba merendahkan tubuhnya dengan kecepatan kilat. Kedua tinju itu hanya mengenai angin kosong di atas kepalanya.
Bugh! Bugh!
Dua pukulan pendek Rimba mendarat tepat di ulu hati kedua preman itu. Tidak ada teriakan keras, hanya lenguhan tertahan saat udara di paru-paru mereka seolah dipaksa keluar secara instan. Keduanya langsung tumbang di aspal, memegang perut dengan mata melotot.
Si Pendek menelan ludah. Ia belum sempat berkedip ketika tiba-tiba Rimba sudah berdiri tepat di depannya. Belati yang tadi ia pegang kini sudah berpindah tangan ke jari Rimba tanpa ia sadari kapan prosesnya terjadi.
"Kau bilang apa tadi?" bisik Rimba dingin.
Jlep!
Tanpa belas kasihan, Rimba menghunjamkan belati itu ke paha kiri si Pendek hingga menembus ke sisi lain.
"AAAARRGGHHH!" Si Pendek melolong kesakitan, jatuh terduduk sambil memegang kakinya yang bersimbah darah.
"Hari ini aku masih berbaik hati tidak mengirim kalian ke liang lahat," suara Rimba terdengar berat dan penuh wibawa. "Tapi camkan ini: Jika aku masih melihat kalian berkeliaran atau mengganggu orang di Desa Kenanga, saat itu juga ajal kalian akan menjemput."
"Ampun... ampun, Bang! Kami nggak berani lagi! Kami janji!" si Pendek menangis tersedu-sedu, nyalinya menciut hingga ke dasar bumi.
"Pergi dari sini! Jangan pernah injakkan kaki kalian lagi di desa ini!" hardik Rimba.
Kedua preman yang tadi tumbang segera bangkit dengan sisa tenaga, memapah dan menyeret pemimpin mereka yang tidak bisa berjalan. Darah mengucur deras di sepanjang jalan, dan belati itu sengaja ditinggalkan Rimba masih tertancap di paha si Pendek sebagai pengingat akan dosanya. Rimba menatap punggung mereka yang menghilang ke arah hutan dengan tatapan dingin, sebelum akhirnya ia berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju kota kabupaten.