"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: JULIAN YANG BERBAHAYA
Hujan mulai turun menyapu kota, mengubah kaca depan van menjadi kanvas buram yang membiaskan lampu-lampu jalanan. Di dalam ruang sempit itu, aroma tembakau, besi karat, dan kecemasan yang pekat terasa mencekik. Julian mengemudi dengan agresif, kedua tangannya mencengkeram kemudi seolah ia ingin menghancurkan lingkaran kulit itu.
Aku menyandarkan punggungku pada kursi yang berbau apak, mencoba menstabilkan napas. Di dalam kepalan tanganku, flash drive kunci enkripsi milik Senator Bram terasa panas, seolah-olah benda itu memiliki denyut nadi sendiri. Benda kecil ini adalah bukti mutlak, namun di tangan pria di sampingku, benda ini bisa berubah menjadi tiket kematian atau komoditas dagang.
"Berikan padaku, Zura. Sekarang." Suara Julian rendah, serak, dan penuh tuntutan yang tidak menerima bantahan.
"Namaku Valerie," koreksiku tanpa menoleh, suaraku sedingin es meski tubuhku masih gemetar akibat sisa adrenalin. "Dan kunci ini tidak akan berpindah tangan sampai aku tahu ke mana kau akan membawaku."
Julian tertawa, suara yang lebih mirip geraman binatang buas daripada ekspresi kegembiraan. Ia tiba-tiba membanting setir ke kanan, masuk ke sebuah area parkir terbengkalai di bawah kolong jembatan layang. Ban mobil menjerit saat ia menginjak rem dengan kasar, membuat tubuh ringkih Zura terlempar ke depan sebelum tertahan oleh sabuk pengaman.
Mesin dimatikan. Sunyi seketika, hanya menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari beton jembatan ke atap van.
Julian melepaskan sabuk pengamannya dan berbalik sepenuhnya ke arahku. Ruang yang sempit itu membuat kehadirannya terasa mengintimidasi. Ia adalah pria yang dibangun dari kekerasan dan kompromi moral; matanya yang cekung menyimpan bayangan ribuan dosa yang pernah ia tutupi demi gaji dari Klub 0,1%.
"Kau pikir kau masih punya otoritas untuk bernegosiasi?" Julian mendekat, satu tangannya mencengkeram sandaran kursiku, mengurungku dalam jarak yang sangat intim namun penuh ancaman. "Dengarkan aku baik-baik, 'Dokter'. Di luar sana, kau adalah target nomor satu. Adrian Vane, Walikota, dan bahkan dirimu sendiri yang sedang memakai baju mahal itu, semuanya ingin kepalamu berada di atas piring perak."
Ia merenggut daguku, memaksaku menatap matanya yang kemerahan. Ada obsesi gelap di sana. Sebagai psikolog, aku mengenali tatapan itu—itu bukan tatapan penyelamat, melainkan tatapan pemilik yang takut kehilangan barang berharganya.
"Kau adalah asetku," bisik Julian, napasnya yang berbau kopi pahit dan rokok menyentuh kulit wajahku. "Zura yang asli adalah budakku, dan kau—siapa pun kau yang ada di dalam sana—tidak akan pergi ke mana pun tanpa izin dariku."
"Ini yang kau sebut perlindungan, Julian?" aku menatapnya balik dengan ketajaman seorang interogator. "Kau tidak sedang melindungiku. Kau sedang mengamankan investasimu. Kau tahu bahwa dengan aku dan kunci ini, kau punya posisi tawar untuk keluar dari lingkaran kotor mereka. Kau hanya pengecut yang mencari tameng."
Tangan Julian berpindah ke leherku. Ia tidak mencekik, tapi jemarinya menekan pembuluh nadiku, membuatku bisa merasakan detak jantungku sendiri yang liar. Sentuhannya adalah racun; raga Zura meresponsnya dengan dorongan kimiawi yang menjijikkan—sebuah memori otot tentang ketergantungan dan afeksi yang menyimpang. Ini adalah hubungan toxic yang telah mendarah daging antara detektif korup dan informan pecandunya.
"Aku bisa menghancurkanmu dalam sekejap," geram Julian. "Aku bisa menyerahkanmu pada Adrian sekarang juga, dan dia akan memberiku kenaikan pangkat. Tapi aku menawarkanmu sesuatu yang lebih baik. Sebuah pelarian. Kita pergi dari sini, bawa kunci itu, dan kita peras mereka sampai kering di luar negeri. Kau bisa mendapatkan hidup baru, Valerie. Bukan sebagai dokter, tapi sebagai wanita kaya di bawah sayapku."
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman sinis yang tidak biasa terlihat di wajah Zura yang biasanya rapuh. "Hidup baru di bawah sayapmu? Itu hanya istilah lain dari penjara yang berbeda, Julian. Kau ingin aku menjadi Zura-mu selamanya—boneka yang bisa kau pakai dan kau kendalikan karena kau tahu rahasia terdalamku."
Julian menarik tubuhnya menjauh, memukul dasbor van dengan frustrasi hingga retak. "Sialan kau! Kau benar-benar merusak segalanya dengan otak forensikmu itu! Kenapa kau tidak bisa saja ketakutan seperti Zura yang biasanya? Kenapa kau harus membuat segalanya menjadi rumit?"
"Karena aku bukan dia," kataku sambil memperbaiki posisi dudukku, mencoba mengabaikan getaran di tanganku. "Dan kau membencinya karena kau tidak lagi punya kendali atas aku. Kau takut pada jiwa yang ada di dalam tubuh ini karena kau tidak bisa memprediksi langkahku."
Julian kembali menyalakan mesin. Wajahnya mengeras, topeng profesionalitasnya yang korup kembali terpasang. Ia tidak lagi menatapku dengan nafsu atau kemarahan, melainkan dengan kalkulasi dingin.
"Baiklah. Jika kau ingin bermain dengan caramu, silakan," kata Julian sambil memasukkan gigi mobil. "Tapi ketahuilah ini: Klub 0,1% sudah mulai melacak sinyal dari mikrofonmu yang tadi. Aku sudah mematikannya, tapi mereka tahu kita ada di area ini. Kau butuh tempat persembunyian yang tidak ada di peta mereka, dan hanya aku yang tahu tempat itu."
"Ke mana kita pergi?"
"Ke tempat di mana semuanya dimulai. Sebuah lubang tikus yang tidak akan berani didekati oleh polisi jujur maupun penjahat berkelas," Julian melirikku dengan senyum miring yang berbahaya. "Tapi jangan berharap ada tempat tidur empuk di sana. Dan Valerie? Jika kau mencoba lari dariku, aku sendiri yang akan memastikan kaki Zura ini tidak akan pernah bisa berjalan lagi."
Aku menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin, memperhatikan bayangan gedung-gedung tinggi yang seolah ikut mengejarku. Aku tahu Julian adalah bagian dari sistem yang ingin membunuhku. Dia adalah predator yang menawarkan tempat berteduh sementara badai berlangsung, hanya untuk memastikan dialah yang akan memakanku saat badai itu reda.
Hubungan ini adalah labirin beracun. Aku harus menggunakannya selama aku membutuhkannya, namun aku juga harus siap untuk menusuk punggungnya sebelum dia melakukan hal yang sama padaku. Di duniaku yang baru, moralitas adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli, dan satu-satunya cara untuk menang adalah dengan menjadi lebih berbahaya daripada pria yang memegang kemudi di sampingku.