NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. MERINDUHKAN KELUARGA MAHENDRA YANG DULU.

Semburat cahaya pagi yang menembus jendela kaca besar itu membangunkan Keyla dari tidurnya yang sangat dalam. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah dinginnya AC, melainkan sebuah kehangatan yang melingkari pinggangnya. Sesuatu yang kokoh, stabil, dan beraroma maskulin—perpaduan antara wangi kopi, kayu cendana, dan sisa kelelahan.

Keyla mengerjapkan mata. Ia menyadari dirinya tidak berada di ranjang utama, melainkan masih di sofa ruang multimedia. Namun, ia tidak sendiri. Dipta berada di sana, tertidur di sampingnya dengan posisi menyamping, memeluknya dengan satu lengan besar yang posesif namun kali ini terasa... protektif.

Keyla tertegun. Ia menahan napas, takut gerakan sekecil apa pun akan menghancurkan keheningan yang rapuh ini. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Dipta dalam keadaan "telanjang" dari segala kekuasaan dan arogansinya. Dalam tidurnya, wajah Dipta tidak tampak seperti monster yang mengerikan. Garis-garis tegas di dahinya merileks, dan napasnya yang teratur terasa hangat di puncak kepala Keyla.

Ingatannya kembali pada cerita Mbak Siti semalam. Tentang pengkhianatan ayahnya, tentang ibunya yang hancur, dan tentang bagaimana pria ini terpaksa tumbuh menjadi dinding baja untuk melindungi dirinya sendiri.

Apakah ini alasanmu begitu takut kehilangan kendali, Dipta? batin Keyla. Ia menatap tangan Dipta yang melingkari perutnya. Tangan yang sama yang pernah menyeretnya, namun kini tangan itu hanya diam, memberikan kehangatan yang jujur tanpa paksaan.

Keyla tidak segera melepaskan diri. Untuk sesaat—hanya sesaat—ia membiarkan dirinya merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang "suami" yang menjaganya dalam tidur.

Sebuah erangan rendah keluar dari bibir Dipta. Kelopak matanya bergerak, dan perlahan, iris matanya yang tajam mulai terbuka. Begitu pandangan mereka bertemu, Dipta tidak langsung memasang topeng dinginnya. Ia menatap Keyla dengan pandangan yang dalam, sedikit sayu karena sisa kantuk.

"Kau sudah bangun?" suara Dipta serak, khas suara pria yang baru bangun tidur, terdengar jauh lebih seksi dan manusiawi.

"Kenapa kau tidak memindahkanku ke kamar?" tanya Keyla lirih. Suaranya tidak ketus seperti biasanya.

Dipta tidak menjawab. Ia justru mempererat pelukannya sebentar, membenamkan wajahnya di ceruk leher Keyla, menghirup aroma rambut gadis itu dalam-dalam. "Kau tidur sangat nyenyak. Aku tidak ingin merusaknya."

Keyla merasakan jantungnya berdegup kencang. Kelembutan ini jauh lebih berbahaya daripada kemarahan Dipta. Kemarahan bisa dilawan, tapi kelembutan seperti ini... bisa meruntuhkan benteng pertahanan yang ia bangun susah payah.

"Siti bilang kau menonton film bersamanya," ujar Dipta sambil perlahan melepaskan pelukannya dan duduk bersandar di sofa, namun matanya tetap tertuju pada Keyla.

"Iya. Dia orang yang sangat baik. Dia banyak bercerita tentang... masa kecilmu," Keyla memberanikan diri menatap mata Dipta.

Rahang Dipta mengeras sedikit, namun ia tidak meledak. "Siti memang terlalu banyak bicara. Harusnya aku memotong gajinya."

"Jangan," cegah Keyla cepat. "Dia hanya merindukan masa-masa saat kau masih sering tertawa, Dipta. Dia merindukan keluarga Mahendra yang dulu."

Dipta terdiam. Ia membuang muka, menatap layar televisi yang sudah mati. "Keluarga itu sudah mati sejak lama, Keyla. Yang tersisa hanyalah puing-puing yang harus kupastikan tidak akan runtuh lagi. Itulah kenapa aku butuh kepatuhan. Itulah kenapa aku butuh kau tetap di sini."

"Tapi kau tidak bisa memaksa seseorang untuk tinggal hanya dengan rantai, Dipta," ujar Keyla berani. Ia menyentuh lengan kemeja Dipta yang sudah kusut. "Kau membangun kerajaan ini, tapi kau sendirian di dalamnya."

Dipta menoleh kembali, menatap tangan Keyla yang menyentuh lengannya. Ia menangkap tangan itu, menggenggamnya erat, bukan untuk menyakiti, tapi seolah mencari pegangan.

"Maka jadilah orang yang tidak membuatku harus menggunakan rantai itu," bisik Dipta. "Jangan pernah berbohong padaku, jangan pernah dekat dengan pria lain, dan aku akan memberimu dunia yang kau impikan."

Keyla terdiam. Di balik kata-kata itu, ia mendengar ketakutan seorang anak kecil yang pernah ditinggalkan. Namun, ia juga ingat pria berambut putih yang ia temui di kampus kemarin—ayah Dipta. Ada kemiripan yang luar biasa di antara mereka, namun Dipta tampaknya sangat membenci ayahnya sendiri.

**

Dipta tiba-tiba berdiri, kembali menjadi pria otoriter yang dikenal dunia. Ia merapikan rambutnya dan membenahi kemejanya. "Mandilah. Sopir akan mengantarmu ke kampus tiga puluh menit lagi. Dan hari ini, aku sendiri yang akan menjemputmu. Kita akan pergi ke butik untuk mencoba gaun."

"Gaun untuk apa lagi?" tanya Keyla, kembali ke realitasnya.

"Ada acara gala bisnis Mahendra Group minggu depan. Kau akan diperkenalkan secara resmi sebagai istriku di depan relasi bisnisku. Termasuk orang-orang dari masa laluku," ujar Dipta, matanya berkilat penuh tekad.

Keyla terpaku. Diperkenalkan secara resmi berarti dunianya akan benar-benar tertutup. Ia akan dikenal sebagai Nyonya Mahendra oleh seluruh dunia, dan tidak akan ada jalan kembali.

"Apakah aku punya pilihan?" tanya Keyla parau.

Dipta berjalan mendekat, mencium kening Keyla dengan lembut namun penuh klaim. "Kau tahu jawabannya, Sayang. Bersiaplah."

Dipta melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Keyla yang duduk sendirian di sofa. Rasa hangat di punggungnya tadi mulai menghilang, digantikan oleh hawa dingin yang familiar. Keyla menyadari, meskipun ada sisi manusiawi dalam diri Dipta, pria itu tetaplah seorang kolektor yang ingin memamerkan berlian terbaiknya kepada dunia.

***

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!