"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Surat dari Neraka
BAB 32: Surat dari Neraka
Malam di Jakarta kembali diguyur hujan, namun kali ini suasananya terasa lebih mencekam. Di dalam kamar VIP Rumah Sakit Adiguna, keheningan hanya dipecah oleh bunyi ritmis dari monitor jantung Arini. Rangga duduk di sofa kulit di sudut ruangan, tangannya memegang sebuah amplop cokelat kusam yang baru saja dikirimkan oleh seorang kurir misterius.
Di amplop itu tertulis nama pengirimnya: Sarah Adiguna.
Rangga ragu untuk membukanya. Baginya, setiap hal yang datang dari ibunya adalah racun. Namun, rasa penasaran yang dibumbui oleh firasat buruk akhirnya mengalahkan logikanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merobek segel amplop itu. Di dalamnya terdapat selembar kertas dengan tulisan tangan ibunya yang rapi namun tajam, disertai sebuah foto tua yang sudah memudar.
Rangga membaca baris pertama, dan seketika udara di paru-parunya seolah tersedot keluar.
"Rangga, putraku yang malang... Kamu pikir kamu sedang menebus dosa keluarga kita dengan mencintai putri dari pria itu? Kamu salah besar. Kamu tidak sedang menebus dosa, kamu sedang mencintai iblis yang sebenarnya."
Rangga terus membaca dengan jantung yang berdegup kencang. Surat itu mengungkapkan rahasia yang selama ini terkubur sedalam liang lahat. Ibunya mengklaim bahwa Ayah Rangga, Tuan Adiguna, tidak meninggal murni karena serangan jantung.
Dalam surat itu, Sarah menulis bahwa pada malam kematian ayahnya sepuluh tahun lalu, Ayah Arini sebenarnya datang ke rumah mereka setelah melarikan diri dari masa tahanan kota. Terjadi pertengkaran hebat. Ayah Arini menuduh Tuan Adiguna telah mencuri seluruh desain proyek bendungan yang menjadi cikal bakal kekayaan Grup Adiguna.
Yang membuat Rangga lemas adalah bagian di mana Sarah menulis: "Ayahmu jatuh pingsan karena stres, dan ayah Arini ada di sana. Dia tidak memanggil ambulans. Dia membiarkan ayahmu meregang nyawa di lantai ruang kerjanya sambil mencuri dokumen-dokumen penting itu. Dia bukan korban, Rangga. Dia adalah pembunuh pasif yang membiarkan ayahmu mati demi membalas dendam."
Di dalam amplop itu juga ada foto Ayah Arini yang tertangkap kamera keamanan tua di depan gerbang rumah mereka pada malam kejadian tersebut.
Rangga meremas kertas itu hingga hancur dalam genggamannya. Kepalanya terasa seperti akan pecah. Selama ini, motivasi utamanya melindungi Arini adalah rasa bersalah karena ia percaya keluarganya telah menghancurkan hidup Arini. Namun, jika surat ini benar, maka Arini adalah putri dari pria yang membiarkan ayahnya meninggal.
"Nggak mungkin... Ini pasti tipu muslihat Mama lagi," bisik Rangga pada dirinya sendiri. Ia menoleh ke arah Arini yang sedang tidur dengan wajah begitu polos.
Arini terbangun karena mendengar suara napas Rangga yang memburu. "Ga? Kamu kenapa? Kamu masih di situ?"
Rangga segera menyembunyikan surat itu di bawah bantal sofa. Ia menghapus keringat dingin di dahinya dan berjalan mendekati ranjang. "Iya, Rin. Aku di sini. Cuma... cuma sedikit pusing karena kurang tidur."
Arini meraba udara, mencari tangan Rangga. Saat menemukannya, ia meremas jari-jari Rangga dengan tenaganya yang masih sangat terbatas. "Suaramu aneh. Kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"
Ketajaman intuisi Arini selalu membuat Rangga terpana. Bahkan tanpa mata, Arini bisa membaca getaran di suaranya.
"Nggak ada apa-apa, Rin. Aku cuma kepikiran soal rapat besok," bohong Rangga. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena harus berbohong lagi. Namun, bagaimana ia bisa mengatakan pada wanita yang lumpuh dan buta ini bahwa ayahnya mungkin terlibat dalam kematian ayahnya sendiri?
"Istirahatlah, Ga. Kamu sudah terlalu banyak berkorban untukku. Aku tidak ingin melihatmu hancur hanya karena mengurusi aku," bisik Arini lembut.
Rangga mencium kening Arini, namun kali ini ada rasa pahit yang tertinggal di bibirnya. Sebuah benih keraguan telah ditanam oleh ibunya, dan Rangga tahu, benih itu akan tumbuh menjadi duri yang bisa merobek hubungan mereka.
Keesokan harinya, Rangga tidak pergi ke kantor. Ia pergi ke gudang arsip lama milik ayahnya yang tersimpan di ruang bawah tanah kediaman Adiguna. Ia harus mencari tahu kebenarannya. Ia tidak bisa mempercayai kata-kata ibunya begitu saja, tapi ia juga tidak bisa mengabaikannya.
Setelah berjam-jam menggeledah tumpukan debu dan kertas, ia menemukan sebuah buku harian kecil milik ayahnya. Di halaman terakhir, tertulis tanggal yang sama dengan malam kematiannya.
“Hari ini aku bertemu lagi dengannya. Dia sangat marah. Aku mencoba menjelaskan bahwa Sarah yang melakukan semuanya di luar kendaliku, tapi dia tidak percaya. Dia mengancam akan menghancurkan segalanya. Jantungku terasa sakit sekali...”
Catatan itu terhenti di sana. Tidak ada penyebutan eksplisit bahwa ayah Arini membiarkannya mati, tapi catatan itu membuktikan bahwa memang terjadi konfrontasi hebat malam itu.
Rangga terduduk di lantai gudang yang dingin. Ia merasa seperti sedang berdiri di atas jembatan gantung yang talinya mulai putus satu per satu.
"Apa yang harus aku lakukan?" rintihnya.
Jika ia terus mencintai Arini, apakah itu berarti ia mengkhianati arwah ayahnya? Namun, jika ia meninggalkan Arini, ia akan membunuh wanita itu secara perlahan karena Arini tidak punya siapa-siapa lagi selain dirinya dan ibunya yang juga sedang sakit.
Saat Rangga kembali ke rumah sakit, ia menemukan Dokter Bram sedang melakukan tes saraf baru pada kaki Arini.
"Rangga, lihat ini!" Dokter Bram tampak sangat antusias.
Ia menusukkan jarum kecil ke telapak kaki Arini, dan secara mengejutkan, kaki Arini tersentak kecil.
"Dia memiliki refleks somatik!" seru Bram. "Ini artinya jalur sarafnya tidak sepenuhnya mati. Dia mungkin tidak butuh operasi eksperimental yang menghapus memori itu. Jika kita melakukan stimulasi intensif selama enam bulan ke depan, ada peluang dia bisa berdiri lagi!"
Arini menangis bahagia. "Ga! Kamu dengar itu? Aku bisa sembuh! Aku bisa jalan lagi!"
Rangga mencoba tersenyum dan memeluk Arini, namun pikirannya masih tertuju pada surat di bawah bantal sofa. Di satu sisi, ia sangat bahagia dengan kemajuan Arini. Di sisi lain, ia merasa dihantui oleh bayangan ayahnya yang tergeletak di lantai sementara ayah Arini berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa.
"Iya, Rin. Itu berita yang luar biasa," ujar Rangga datar.
Arini menyadari perubahan nada suara suaminya. "Kamu tidak senang, Ga?"
"Tentu saja aku senang, Rin. Sangat senang," Rangga mencoba memperbaiki nada suaranya. "Aku hanya sedang berpikir tentang biaya dan persiapan fasilitas rehabilitasi yang terbaik untukmu."
Malam itu, saat Arini sudah tidur, Rangga memanggil Maya ke koridor rumah sakit.
"Maya, aku ingin kamu melakukan sesuatu. Tapi ini harus sangat rahasia. Jangan sampai ada tim investigasi lain yang tahu," ujar Rangga dengan wajah sangat serius.
"Apa itu, Pak?"
"Cari laporan otopsi asli ayahku sepuluh tahun lalu. Dan cari tahu keberadaan saksi-saksi kunci, terutama mantan sopir rumah kita yang bekerja di malam itu. Aku butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruang kerja ayahku sebelum dia dinyatakan meninggal."
Maya mengangguk. "Baik, Pak. Tapi... ada apa sebenarnya?"
"Lakukan saja, Maya. Dan pastikan Ibu Sarah tidak tahu bahwa aku sedang menyelidiki hal ini. Dia sedang mencoba memainkan psikologiku dari dalam penjara."
Setelah Maya pergi, Rangga kembali ke kamar. Ia melihat Ibu Sarahwati sedang menyisir rambut Arini yang panjang. Wanita tua itu menatap Rangga dengan tatapan penuh syukur.
"Tuan Rangga, terima kasih karena tidak pernah menyerah pada anak saya. Saya tahu keluarga saya sudah banyak menyusahkan keluarga Tuan di masa lalu..."
Rangga tertegun mendengar kata-kata itu. "Apa maksud Ibu dengan 'menyusahkan'?"
Ibu Sarahwati menunduk, matanya berkaca-kaca. "Suami saya... dia pria yang baik, tapi amarahnya sering kali membutakannya. Setelah dia bangkrut karena ulah Ibu Sarah, dia menjadi orang yang sangat pahit. Dia sering bilang bahwa dia ingin melihat Tuan Adiguna menderita sama seperti dia menderita. Saya selalu takut dia akan melakukan hal bodoh."
Pernyataan itu seperti petir di siang bolong bagi Rangga. Jadi, benar bahwa ayah Arini memiliki niat dendam yang nyata terhadap ayahnya?
Ketegangan mulai merambat ke dalam hubungan mereka. Rangga yang biasanya sangat lembut, kini sering kali melamun dan menjawab pertanyaan Arini dengan singkat. Arini yang buta namun peka, mulai merasa ada jarak yang tercipta.
"Ga, kalau kamu lelah merawatku... kamu boleh pergi sebentar. Pulanglah ke rumahmu, tidur di ranjang yang nyaman. Jangan terus-menerus di sini," ujar Arini suatu sore saat mereka sedang berada di taman rumah sakit.
"Aku nggak apa-apa, Rin," jawab Rangga sambil menatap lurus ke depan, tidak melihat ke arah Arini.
"Kamu bohong. Aku bisa merasakannya dari tanganmu. Tanganmu tidak lagi sehangat biasanya saat memegangku. Ada sesuatu yang mengganggumu. Apakah ini soal perusahaan? Atau soal wanita lain?" suara Arini mulai bergetar.
Rangga mendesah panjang. Ia berjongkok di depan kursi roda Arini. "Rin, jangan pernah berpikir soal wanita lain. Kamu adalah satu-satunya istriku. Aku cuma... aku cuma sedang menghadapi hantu masa lalu yang tiba-tiba muncul."
"Hantu apa, Ga? Ceritakan padaku. Kita sudah berjanji tidak ada rahasia lagi."
Rangga menatap mata kosong Arini. Ia ingin sekali menumpahkan semuanya. Ia ingin bertanya apakah Arini tahu apa yang dilakukan ayahnya malam itu. Namun, ia melihat betapa rapuhnya kondisi Arini saat ini. Jika ia menceritakan kecurigaannya, Arini pasti akan hancur karena rasa bersalah yang bukan miliknya.
"Hanya masalah audit lama, Rin. Nggak penting. Kamu fokus saja pada latihan kakimu, oke?" Rangga mencium tangan Arini, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa cinta mereka lebih kuat daripada dendam masa lalu.
Di akhir bab ini, Maya kembali dengan sebuah amplop biru. Ia menyerahkannya pada Rangga di kantor rumah sakit.
"Pak, saya menemukan sopir itu. Dia sekarang tinggal di desa kecil di Jawa Barat. Dia bilang dia punya satu hal yang tidak pernah dia ceritakan pada polisi sepuluh tahun lalu karena dia diancam oleh Ibu Sarah."
Rangga membuka amplop itu dan membaca sebuah pernyataan tertulis singkat.
“Malam itu, saya melihat Tuan Adiguna terjatuh. Pria tamu itu (Ayah Arini) sebenarnya mencoba memberikan obat jantung, tapi Ibu Sarah masuk dan merebut obat itu, lalu mengusir pria itu keluar. Ibu Sarah membiarkan suaminya meninggal agar dia bisa menguasai warisan lebih cepat, lalu dia memfitnah tamu itu yang membiarkannya mati.”
Rangga terhenyak. Tangisnya pecah seketika.
Jadi, ibunyalah yang membunuh ayahnya secara pasif, dan ia memfitnah ayah Arini selama sepuluh tahun ini untuk menutupi dosanya sendiri. Dan sekarang, ibunya mencoba memfitnah ayah Arini sekali lagi melalui surat dari penjara untuk menghancurkan hubungan Rangga dan Arini.
"Mama... kamu benar-benar iblis," raung Rangga di tengah kesunyian ruangan itu.
Rangga segera berlari menuju kamar Arini. Ia ingin memeluk istrinya seerat mungkin. Ia ingin meminta maaf atas keraguan yang sempat mampir di hatinya. Namun, saat ia sampai di depan kamar, ia melihat pintu kamar terbuka lebar dan kursi roda Arini kosong.
Ibu Sarahwati menangis histeris di lantai. "Rangga! Arini dibawa pergi! Ada orang-orang berpakaian hitam yang mengaku sebagai petugas medis baru, mereka membawanya masuk ke ambulans tanpa plat nomor!"
Rangga terpaku. Ibunya belum selesai. Sarah tidak hanya ingin menghancurkan mental Rangga, ia ingin melenyapkan Arini secara fisik sebelum kebohongannya terbongkar total.
"KEJAR MEREKA!" teriak Rangga pada pengawalnya.
Perang ini belum berakhir. Dan kali ini, Rangga tidak akan membiarkan satu helai rambut pun dari Arini terluka. Ia akan mengejar ibunya sampai ke lubang jarum sekalipun.