Alana adalah jaksa muda yang cerdas, karirnya menanjak drastis, berkacamata tebal, kaku, dan berpenampilan tidak menarik untuk menyembunyikan kecantikannya karena ia memiliki trauma di masa lalu terkait dengan kecantikan. Suatu ketika Alana menerima banyak sekali ancaman dan setelah itu, teman kantornya mengajaknya ke perusahaan besar yang menyediakan jasa bodyguard. Alana terpaksa mendatangi perusahaan besar itu meskipun ia tahu pemiliknya adalah pria yang selalu ia hindari, Archie Cwvendish. Archie adalah kakak tirinya Arthur dan Arthur adalah mantan pacarnya Alana. Archie juga dulunya tutornya Alana dan Archie diam-diam jatuh cinta pada Alana tapi Archie memilih mundur saat Arthur mengatakan bahwa Arthur mencintai Aluna. Apa yang akan terjadi saat Alana nekat menemui Archie dan meminta Archie menjadi bodyguard-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hah?!
Archie melirik Alana dan membatin, nggak, keluargaku tidak pernah menyalahkan kamu bahkan Arthur pun tidak. Arthur masih menunggu kamu dan masih sangat mencintai kamu, Na. Aku benci kenyataan itu. Kenyataan bahwa Arthur masih menunggu dan masih mencintai kamu.
"Eh?" Alana menoleh ke Archie untuk menyemburkan, "Kenapa jendelanya kamu buka?"
"Biar kamu nggak muntah. Katanya bau campuran parfum di badan aku membuat kamu pengen muntah" Jawab Archie acuh tak acuh.
Alana sontak mengerucutkan bibirnya lalu berkata, "Air hujan mengenai mataku kalau jendelanya dibuka"
Archie kembali memencet tombol dan jendela di sebelahnya Alana naik lalu menutup rapat. "Oke, kalau begitu aku lepas saja kaosku" Archie menaikkan kaosnya dengan tangan kiri dan tangan kanannya memegang setir mobil.
"Eh?" Alana sontak membeku saat badan atletisnya Archie terpampang di matanya.
Archie melempar kaos yang sudah lolos dari kepalanya ke jok belakang lalu berucap, "Tolong ambilkan kaos bersih yang masih terlipat. Kaos warna biru muda"
"Hah?!" Alana mengerjap kaget. Dia malas mengalihkan pandangannya ke tempat lain karena badan atletisnya Archie sudah menghipnotis kesadarannya.
"Alana Wilde tolong ambilkan kaos warna biru muda di jok belakang.
Alana kembali mengerjap kaget, "Hah?!"
Karena tidak kunjung mendapatkan kaos bersihnya, Archie meminggirkan mobil dengan cepat lalu melepas sabuk pengaman agar dia bisa memutar badannya ke jok belakang untuk mengambil baju bersihnya.
Saat bibir Alana tanpa sengaja menyentuh bahu kanan Archie, barulah kesadarannya kembali dan ia mendorong bahu Archie sambil menyemburkan, "Hei bahu kamu mengenai bibirku"
Archie hanya diam tapi ia mengumpat di dalam hatinya, shiiiitttt! Iya aku tahu dan bibir kamu yang nempel terus menggesek lembut di kulit bahuku membuat jantung dan juniorku tantrum. Dengan cepat Archie memakai kaos warna birunya sambil menunduk ke juniornya lalu berkata di dalam hatinya, jangan tantrum boy! Nanti kalau Alana lihat kamu menggeliat maka bisa berabe. Tenang ya Boy, tenang!
Alana melotot dan bersedekap lalu berkata dengan nada ketus, "Bisa nggak jangan buka baju di depan perawan, hah?!"
Archie sontak menoleh ke Alana dengan ekspresi kaget. "Ka-kamu masih perawan? Kamu dan Arthur? Tidak pernah?" Archie menutup mulutnya yang terbuka lebar.
Alana menepuk keras bahu Archie sambil mendengus sebal lalu berkata, "Memangnya apa yang ada di pikiran kamu selama ini, hah?! Aku dan Arthur pacaran waktu kami masih belasan tahun. Dasar otak kotor, tzk!"
"Eh! Siapa yang otak kotor. Aku dan Arthur cowok normal. Aku kenal Arthur, makanya aku nanya, masak kalian belum pernah......."
"Nggak pernah!" Pekik Alana sambil buang muka ke jendela mobil.
Saat Archie menghidupkan mesin mobil, Alana mendengus kesal.
"Kamu pikir aku ini perempuan macam apa? Macam pacar kamu tadi?" Gumam Alana tanpa mengeluarkan suara.
"Apa yang kamu gumamkan?"
"Nggak ada" Pekik Alana tanpa menoleh ke Archie.
Klik! Alana mendengar suara seatbelt terkunci. Lalu suara Archie yang terkekeh geli.
Alana menoleh kesal, "Perasaan nggak ada yang lucu"
Archie sontak tertawa ngakak dan Alana kembali memalingkan wajahnya ke jendela mobil dengan dengusan kesal.
"Beneran nggak pernah? Sumpah?" Tanya Archie di sela sisa gelak tawanya sambil menjalankan mobil.
Alana hanya mendengus kesal dan memilih untuk diam membisu.
Ingatan Alana melayang ke masa lalu. Ia teringat kembali rasa bahagianya kala Arthur menembak dirinya. Oke, dia sebenarnya naksir Archie, tapi menurutnya Archie terlalu tua untuknya jadi saat Arthur yang hanya berjarak dua tahun lebih tua darinya menyatakan cinta, Alana langsung menerimanya tanpa drama. Lalu, usia remaja, lima belas tahun mendadak penuh warna. Dia selalu menghabiskan waktu bersama Arthur. Berangkat sekolah bersama Arthur memakai mobil papanya Arthur dan sopir keluarganya Arthur yang mengantar mereka, pas jam istirahat Arthur selalu ke kelasnya dan mengajak makan di kantin bersama, pulang sekolah bersama, belajar pun bersama. Tutor belajar mereka adalah Archie. Archie kala itu berumur 22 tahun dan sudah pengajuan skripsi jadi Archie memiliki kelonggaran waktu untuk mendampingi Arthur dan Alana belajar.
Alana tersenyum getir saat ingatannya mendarat di momen dirinya meminta putus. Kala itu Alana hampir dinodai oleh papa tirinya dan dia berhasil melarikan diri ke rumah bibinya. Mamanya meminta bercerai dan satu bulan setelah perceraian, mamanya menikah lagi saat papanya Alana ketahuan memiliki istri kedua. Alana mendadak memiliki papa tiri, saudara angkat yakni anak laki-laki yang dibawa masuk oleh papa tirinya ke rumah mamanya, lalu ia memiliki adik tiri yakni anak kandung papanya yang selama ini papa sembunyikan. Setelah Alana tidur di rumah bibinya selama tiga hari, bibinya memutuskan untuk membawa Alana ke rumah papanya yang kala itu papanya sudah tinggal di Jerman. Sebelum ia pergi ke Jerman, ia meminta putus tanpa memberikan alasan ke Arthur. Umur tujuh belas kala itu bukanlah sweet seventeen tapi mimpi buruk bagi Alana. Ia terpaksa berpisah dengan mamanya dan terpaksa berpisah dengan Arthur.
"Kafenya tutup"
Suara Archie membuyarkan lamunannya Alana. Alana menoleh ke Archie, "Lalu kita ke mana? Aku lapar belum makan"
"Kamu bisa masak?"
"Tidak bisa. Aku tidak pernah masak. Papa menyuruhku belajar terus dan tidak mengijinkan aku menyentuh pekerjaan rumah apalagi masak"
"Kalau begitu kita ke rumahku"
"Hah?!" Mata Alana membeliak kaget.