Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Jadi Perempuan Kok Murah!
Kepastian yang dikabarkan Vito adalah hari Minggu untuk mengajak Kenzie jalan-jalan. Kenzie dan teman-temannya menggunakan malam Sabtu untuk pergi menonton, karena kebetulan untuk malam ini mereka bisa meluangkan waktu.
Para gadis itu memilih mall yang besar, jaraknya lebih jauh dari kontrakan Kenzie. Sesekali mereka ingin menikmati akhir pekan disini.
"Jam berapa sih filmnya mulai?" tanya Dinda.
"Jam 8, sekarang masih jam 7." jawab Neneng.
"Tungguin aja di sini, lagipula satu jam itu bentar aja rasanya." timpal Qilla.
Mereka pun duduk di kursi panjang itu.
Saat tengah mengedarkan pandangannya, bola mata Kenzie berhenti pada suatu objek.
"Bukannya itu pacar Kenzo?" bathin Kenzie masih mencoba untuk mengingat-ingat.
"Aku mau ke toilet dulu, kebelet banget! pucuk banget," ujar Kenzie berbohong.
"Iya-iya, buruan sana mumpung filmnya belum mulai!"
"Jangan pada pindah tempat biar nggak susah nyarinya," pinta Kenzie.
"IYAAA!" jawab gadis-gadis itu.
Setelah izin dari teman-temannya, Kenzie langsung mengikuti dua orang yang sudah membuatnya salah fokus.
Kenzie memastikan bahwa penglihatannya tidak salah, ia benar-benar pernah bertemu gadis itu.
"Sama siapa itu? mesra banget? tapiii, diakan pacarnya Kenzo?" gumam Kenzie.
"Apa bersaudara?" imbuhnya masih ingin berpikir positif karena ia melihat Kenzo begitu mencintai kekasihnya.
Gadis cantik itu bersama seorang pria dengan wajah bule. Berjalan menuju eskalator dengan berpelukan mesra dan ciri khasnya berpakaian seksi. Jika bersaudara, kedekatan itu seperti tidak mencerminkan bahwa mereka saudara, karena lebih seperti sepasang kekasih atau suami-istri.
"Aku sudah dapat!"
Kenzie tidak mengikutinya terlalu jauh karena takut ketahuan, ia langsung kembali bersama teman-temannya setelah merekamnya.
"Ampasnya juga ikut keluar kah, Ken? lama betul." ledek Rianty.
"Iya nih, kalian mau?" balas Kenzie.
"Ih Kenzie, jorok!" protes Neneng.
Kenzie langsung menutup mulutnya karena tidak ingin tertawa bersuara di tempat umum. Ia sendiri pun geli membayangkan sebuah ampas yang dimaksudkan.
Meskipun pulang kerja baru sore hari, tetapi karena membayangkan besok hari libur rasa lelahnya sudah tidak terasa.
Penonton malam ini sangat ramai, terlihat tidak ada kursi yang kosong. Film yang akan ditonton memang sedang ditunggu-tunggu oleh penikmat film.
Sebelum film diputar, tidak lupa Kenzie mengabadikannya dalam foto untuk dikirimkan ke Vito.
"Eh eh! bod*h banget aku malah ngirim ke si songong!"
"Kenapa Ken?" tanya teman disebelahnya.
"Eh, hehe, nggak papa. Mau ngirim ke kak Vito malah ngirim ke kakakku," jawab Kenzie lagi-lagi berbohong.
"Ooo, kirain ada apa,"
Kenzie langsung menutup mulutnya atas kesalahan yang ia lakukan. Bukannya mengirim ke Vito, Kenzie justru mengirimkannya kepada Kenzo. Saat akan dihapus, Kenzo sudah terlanjur melihatnya.
"Aduh! ini manusia megang hpnya 25 jam kah?" bathin Kenzie.
"Dia lagi nonton film," gumam Kenzo saat menerima foto itu.
Disaat Kenzie dan teman-temannya sedang menonton, Kenzo masih sibuk mencatat barang-barang yang datang malam ini untuk stok di bengkelnya.
(Jangan pulang larut malam!)
Kenzo langsung mengirim balasan pesan itu.
(SIAP BOS)
Kenzie tidak ingin percakapannya ini diketahui oleh teman-temannya sehingga ia mengetik tanpa menatap layar, untung saja jari-jarinya sudah sangat lihai.
"Bas bos bas bos!" gerutu Kenzo setelah membaca balasan Kenzie.
(Maaf bos, sebenarnya itu salah kirim🙏)
Setelah menggerutu, Kenzo semakin dibuat kesal saat ada pesan susulan.
Kenzo langsung meninju kardus yang ada didepannya.
"Oh, maksudnya mau manas-manasi gue!"
"Dasar kelakuan cewek!"
"Kenapa lu?"
Kenzo langsung terkejut dengan suara itu, gara-gara Kenzie, ia sampai lupa dengan pekerjaannya.
"Nggak papa, Bang." jawab Kenzo.
Kenzo merupakan cucu tunggal dari keluarga ayahnya, Zaky. Zaky juga merupakan anak tunggal, orangtuanya memiliki aset begitu banyak. Sejak Kenzo masih dalam kandungan, kakeknya sudah memberikan warisan di perkampungan berupa kebun yang luas.
Kenzo tidak merintis usahanya, ia berawal dengan modal yang diberikan keluarga, termasuk toko sparepart yang sudah lama berdiri. Namun, Kenzo tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diterimanya dan hasilnya sudah terbukti sampai saat ini, ia menggunakan keuangan itu dengan sangat baik. Untuk kehidupan pribadi, ia tetap seperti anak muda pada umumnya yang hidup diperkotaan. Orangtuanya tidak mempermasalahkan selagi masih tau batasan.
"Oke, Bang, thank you!" ucap Kenzo setelah semua barang sudah masuk ke gudang.
Barang yang datang pada malam hari sehingga para pekerjanya sudah kembali ke rumah masing-masing.
"Sudah berapa hari gue nggak ketemu si tengil?" gumam Kenzo lagi-lagi teringat Kenzie.
Sedetik kemudian Kenzo menyapu wajahnya agar tidak peduli pada aktivitas Kenzie.
"Terserah dia mau ngapain! mau kemana aja juga terserah! ngapain juga gue peduli!" omel Kenzo pada dirinya sendiri.
Stok barang yang datang besok pagi akan diantar ke cabang lainnya, namun, sekarang Kenzo ingin bersenang-senang bersama teman-temannya.
Kehidupan Kenzo memang lebih bebas, ia masih suka mengunjungi tempat hiburan malam, apalagi saat rasa pusingnya sudah tidak biasa, dan akhir-akhir ini ia merasa Gita semakin membatasi komunikasi mereka. Tapi, ia tidak menjadikan hal itu sebagai aktivitas yang rutin.
"Sorry nunggu lama," ucap Kenzo pada teman-temannya.
"Aman," jawab mereka.
Tempat hiburan malam sudah pasti tidak jauh-jauh dari alkohol dan asap. Meja mereka pun sudah penuh. Kenzo juga mulai meneguk satu gelas, ia menghadap ke arah disc jockey yang sedang memainkan musiknya.
"Ayo ke sana!"
Kenzo mengiyakan ajakan temannya itu untuk berdiri dan berjoget menikmati musik yang begitu memekikkan telinga bagi yang tidak biasa. Di sekelilingnya banyak sekali perempuan-perempuan berpakaian seksi yang berlenggak-lenggok mengikuti irama musik, bahkan dengan sengaja menyenggol Kenzo agar dilirik.
Semakin malam semakin asik, itulah yang dirasakan pecinta hiburan malam. Tidak terlihat mana yang benar-benar pasangan atau pasangan ilegal.
Sayup-sayup bola mata Kenzo melihat kekasih dari istrinya tengah berjoget sembari berciuman di tengah pengunjung bar itu.
"Pacarnya si tengil?" bathin Kenzo yang pasti tidak terdengar oleh siapapun.
Kenzo membisikkan sesuatu kepada temannya dan langsung mendapat anggukan.
"Dasar b3go si tengil! terlalu cupu!"
Disaat sedang menatap dua orang itu, tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendekati Kenzo dan mengajaknya berkenalan.
"Jangan ngelamun, ganteng. Yuk sama gue." goda perempuan itu.
Kenzo menahan tangan perempuan itu agar tidak terlalu liar, "Sorry!" ucapnya.
"Suka sekali dengan cowok-cowok yang cool seperti kamu,"
Perempuan itu masih tidak menyerah, ia tetap berusaha menggoda Kenzo. Ketika tangan kanannya ditahan oleh Kenzo, tangan kirinya langsung meraba paha Kenzo.
"EH! KURANG AJAR LU!"
Kenzo dibuat terkejut dengan kelakuan perempuan tak dikenalnya itu, ia langsung pergi. Namun, perempuan itu belum menyerah dan justru mengejar Kenzo yang hendak ke toilet.
"Urusi dia!"
Kenzo langsung memanggil security karena sangat tidak nyaman pada perempuan yang sudah sangat mabok itu.
"Jadi perempuan kok murah!" gerutu Kenzo.
"Eh!"
Kenzo langsung teringat sikap Gita, namun, ia menepis anggapan bahwa kekasihnya itu termasuk perempuan murah, karena menggoda untuk kekasihnya sendiri. Apalagi ia meresponnya juga dengan penolakan jika rayuannya sudah berlebihan.
Perempuan itu terus berteriak, namun, Kenzo tidak peduli karena ia sudah mengganggu kenyamanannya.
"Sudah gue kirim,"
"Ok, thanks!" balas Kenzo setelah memeriksanya.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍