Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Peri Malam
Di taman latihan terbuka. Area biasanya digunakan untuk praktik sihir alam tingkat dasar memanggil tunas, mempercepat pertumbuhan lumut, atau menstabilkan mana tanah. Siang itu, murid-murid berkumpul lebih banyak dari biasanya.
Lein berdiri di pinggir lingkaran latihan, berniat pergi.
Namun suara seseorang menghentikan langkahnya.
“Kalau hanya mengandalkan pujian dosen dan perhatian bangsawan,” kata Dorna lantang, “siapapun bisa terlihat berbakat.”
Beberapa murid menoleh. Bisikan muncul seperti percikan api.
Lein menutup mata sesaat.
Dia tidak punya waktu untuk ini.
“Kalau kau punya sesuatu untuk dibuktikan,” lanjut Dorna sambil melangkah maju, “kenapa tidak menunjukkannya di sini?”
Ia mengangkat tangannya.
Mana merah menyala mengalir deras.
“Dorna, cukup!” seru seseorang.
Ledakan mana kecil menghantam tanah di depan Lein. Tidak mematikan, namun cukup kuat untuk menjatuhkannya jika ia tidak bereaksi.
Raksha bergerak.
Bukan dengan sihir penghancur.
Melainkan penyeimbang.
Lein mengangkat telapak tangannya perlahan. Mana hitam-keunguan mengalir lembut, tenang, tidak melawan, dan tidak menekan.
“Hati Peri Malam” ucapnya.
Tanah di bawah kaki Lein bergetar halus.
Retakan kecil memancarkan cahaya lembut, dan dari sana bunga-bunga bermekaran. Kelopaknya gelap seperti langit malam, berkilau oleh cahaya samar. Rumput tumbuh cepat, sehat, berdenyut seirama dengan napas Lein.
Serangga kecil bermunculan, kupu-kupu bercahaya redup, kunang-kunang berwarna ungu pucat mengitari Lein dalam lingkaran hidup.
Mana Dorna terkejut tidak percaya.
Area latihan berubah menjadi taman malam yang sunyi dan indah.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada ancaman.
Namun semua orang merasakannya.
Ini bukan sihir kuat.
Ini sihir yang memahami kehidupan.
Keheningan menyelimuti taman!
“Cukup!”
Suara Grack menggema saat ia menerobos ke depan. Ia berdiri di antara Lein dan Dorna, ekspresinya keras.
“Ini latihan dasar, bukan duel ego,” katanya tajam.
Reyd menyusul, wajahnya tenang namun matanya dingin.
“Kau menyerangnya lebih dulu?” lanjut Reyd. “Itu pelanggaran etika Academy.”
Dorna mundur setengah langkah. Wajahnya pucat, dia dipermalukan didepan banyak orang.
“Aku hanya-
“Cukup,” potong instruktur yang akhirnya turun tangan. “Dorna, kau akan menerima sanksi ringan. Keluar dari area sekarang.”
Dorna menatap Lein dengan sorot mata tajam sebelum berlalu pergi.
Sihir Lein memudar perlahan. Bunga-bunga menutup kelopaknya, serangga cahaya menghilang satu per satu, tanah kembali seperti semula namun terasa lebih hangat dan hidup.
Lein menurunkan tangannya.
Dadanya terasa sesak, efek mana sihir yang sedikit terkuras.
Grack menoleh padanya. “Kamu baik-baik saja, Lein?”
Lein mengangguk. “Ya, Aku baik baik saja”
Reyd menatap bekas tanah itu. “Sihirmu aneh,” katanya jujur. “Tidak agresif. Tapi sulit diabaikan.”
Lein tersenyum kecil dipuji seorang pangeran itu.
Hati Peri Malam bukan untuk bertarung.
Itu adalah teknik lama, sihir yang dulu ia gunakan untuk menstabilkan wilayah terkutuk, bukan menghancurkan dalam pertarungan. Lemah dalam skala kekuatan, namun indah dari dalam dalam makna.
Instruktur menatap Lein lama.
“Roselein,” katanya akhirnya. “Sihirmu tidak besar, tapi kendalimu luar biasa.”
Lein menunduk sopan, menghormatinya.
Untuk saat ini ia masih berdiri dan tersembunyi.
Bahkan dalam tubuh yang rapuh,
jiwanya masih mampu
membuat dunia kembali hidup.
Waktu berikutnya.
Jam senggang di Academy Magica jarang benar-benar sepi.
Namun hari itu, langit cerah dan jadwal kelas dilonggarkan. Banyak murid memilih beristirahat di asrama atau menghabiskan waktu di ibu kota. Reyd-lah yang mengusulkan sesuatu yang berbeda.
“Ayo berburu ringan, Lein dan juga kau Grack.” katanya santai. “Santai saja, bukan makhluk berbahaya. Hanya binatang hutan di luar batas formasi kota”
Grack mengangguk. “Hutan bagian timur cukup aman. Masih dalam pengawasan Academy”
Lein ragu sejenak, lalu mengangguk kecil.
Sedikit udara luar tidak akan membunuhnya.
Mereka berjalan meninggalkan menara Academy, melewati gerbang samping yang jarang digunakan murid biasa. Formasi pelindung memudar perlahan di belakang mereka, digantikan aroma tanah dan dedaunan segar.
“Lein,” kata Grack sambil berjalan di depan, “Sihirmu waktu itu, kamu belajar dari mana?”
Lein menatap punggungnya. “Dari buku lama.”
Dia tidak sepenuhnya bohong.
Reyd terkekeh kecil. “Lein, jawabanmu seperti seorang gadis penyihir yang tenang.”
Mereka tertawa ringan bersama.
Hutan timur berbeda dengan Vallheart. Cahaya menembus kanopi, burung-burung bernyanyi pelan, dan aliran mana terasa alami.
Grack menyiapkan perangkap sederhana, sementara Reyd mengamati sekitar dengan sihir penguat indera. Lein berdiri agak menjauh, mengamati sekitar.
Ia merasakan jejak langkah.
“Kelinci rusa,” katanya pelan. “Dua ekor baru lewat”
Grack menoleh kaget. “Kamu bisa merasakannya?”
Lein mengangguk ringan. “Tanaman yang memberi tahuku.”
Tak lama, seekor binatang bertanduk kecil muncul dari balik semak. Reyd mengangkat busurnya, namun sebelum ia melepaskan anak panah, Lein mengangkat tangannya.
“Jangan,” katanya. “Biarkan saja dia hidup.”
Tanah di sekitar binatang itu berdenyut halus, rumput menutup jalurnya. Binatang itu berhenti sejenak, lalu berbalik arah, pergi tanpa panik.
Reyd menurunkan busurnya. “Kamu lebih suka tidak membunuh, Lein”
“Aku hanya tidak mau melihat melukai hewan yang unik saja,” jawab Lein.
Grack menatapnya lama. “Apa memang dilarang melukai hewan lucu didepan seorang gadis cantik.”
Mereka duduk di tepi sungai kecil, berbagi bekal sederhana. Tidak ada status pangeran. Tidak ada murid teladan. Hanya tiga penyihir muda yang menikmati keheningan.
“Academy itu menyesakkan,” kata Reyd tiba-tiba. “Semua orang ingin sesuatu dariku”
Lein mengangguk. “Aku mengerti, itu pasti melelahkan.”
Grack tersenyum kecil tapi hatinya sesak melihat mereka. “Kalian berdua aneh sekali.”
Matahari condong ke barat ketika mereka kembali. Sebelum memasuki kembali wilayah Academy, Lein berhenti sejenak dan menatap mereka berdua dengan ramah.
“Terima kasih, kalian mau mengajakku berkeliling hari ini,” katanya pelan.
Reyd mengangguk. “Kapan-kapan lagi, aku akan mengajakmu ke tempat yang indah.”
Grack mengangguk sambil tertawa kecil. “Kamu tidak perlu merasa sendirian, Lein."
"Aku akan selalu membantumu, tidak perlu merasa sungkan."
Lein menyimpan kata-kata itu dalam-dalam.
Teman.
Ia tidak berani menyebutnya demikian, namun untuk pertama kalinya sejak kutukan itu menimpanya, dunia terasa sedikit lebih ringan dari biasanya.