NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: TANTANGAN DI BALIK BERINGIN

Angin sepoi-sepoi mempermainkan daun-daun tua pohon beringin yang tumbuh kokoh di tengah lapangan Universitas Buana Cakrawala. Rimba Dipa Johanson masih setia duduk bersandar pada akar besarnya, menikmati ketenangan yang jarang ia dapatkan. Cesar, sang serigala hitam yang kini telah tumbuh gagah, tampak tertidur pulas di sisi kaki tuannya, meskipun telinganya sesekali bergerak sensitif menangkap frekuensi suara di kejauhan.

Dari arah gedung Fakultas Teknik, enam orang mahasiswi berjalan ragu-ragu menuju ke arah pohon beringin. Rimba segera mengenali mereka; mereka adalah teman sekelasnya di jurusan IT. Wajah-wajah mereka tampak tegang, terutama saat melihat sosok Cesar yang besar dan terlihat mengintimidasi meskipun sedang tertidur.

"Permisi, Rimba... boleh kami bergabung di sini?" tanya salah seorang dari mereka dengan suara pelan.

Rimba mendongak, lalu menyunggingkan senyum ramah yang seketika mencairkan suasana. "Tentu saja. Silakan duduk. Di sini jauh lebih sejuk daripada di dalam kelas atau kantin."

Keenam mahasiswi itu duduk melingkar, menjaga jarak aman dari Cesar. Untuk membuat mereka lebih rileks, Rimba merogoh ranselnya dan mengeluarkan beberapa batang cokelat premium yang ia beli sebelumnya. "Ini, ambillah. Cokelat bagus untuk meningkatkan mood saat belajar."

Setelah suasana mencair, salah satu dari mereka, seorang gadis berkacamata, akhirnya mengutarakan maksud kedatangan mereka. "Rimba, sebenarnya kami ingin minta tolong. Soal tugas jam analog dari Pak Ramli tadi... jujur, kami masih blank. Kami belum paham logika algoritmanya. Karena kamu tadi langsung lulus dengan hasil sempurna, apa kamu keberatan mengajari kami sedikit?"

"Dengan senang hati," jawab Rimba tanpa ragu. Ia menutup laptopnya sejenak untuk berbicara dari hati ke hati. "Kunci dari pemrograman bukan hanya sekadar mengetik kode, tapi memahami alurnya. Kalian harus tahu dulu apa yang diminta oleh sistem, baru tentukan langkahnya. Ibarat memasak, kalian harus tahu bahan apa yang masuk duluan."

Diskusi itu pun mengalir dengan alami. Rimba menjelaskan konsep pengambilan data Real-Time dari sistem operasi dengan bahasa yang sederhana, jauh lebih mudah dimengerti daripada penjelasan teknis di buku teks. Sesekali mereka bersenda gurau. Teman-temannya terkejut; mereka mengira Rimba adalah sosok yang kaku, dingin, dan sombong karena kekuatannya. Namun di sini, di bawah beringin, mereka menemukan sisi Rimba yang hangat dan sangat sabar.

Salah satu dari mereka bahkan berlari ke kantin dan kembali membawa beberapa gelas jus dingin untuk dinikmati bersama. Dalam waktu kurang dari satu jam, keenam mahasiswi itu sudah mulai membuka laptop masing-masing dan mempraktikkan arahan Rimba.

"Wah, berhasil! Jarum detiknya bergerak!" seru salah satu gadis dengan mata berbinar.

Rimba tersenyum puas. "Bagus. Sekarang, tugas kalian adalah mengajarkan ini kepada teman-teman lain yang belum paham. Kebaikan dan ilmu itu harus disebar agar tidak berhenti di satu orang saja."

Mereka semua mengangguk mantap. Rasa kebersamaan mulai tumbuh kuat di antara mereka. Namun, di tengah tawa teman-temannya, indra tajam Rimba menangkap sesuatu. Menggunakan persepsi kultivatornya, ia menyadari ada sepasang mahasiswa di dekat kantin yang terus-menerus memperhatikan ke arahnya dengan tatapan yang tidak biasa. Rimba mencatat posisi mereka dalam kepalanya, namun tetap melanjutkan obrolan dengan santai.

Tak lama kemudian, Firman melintas di jalur tersebut. Ia sempat dicegat oleh sepasang mahasiswa tadi dan tampak berbicara serius selama beberapa saat sebelum akhirnya Firman meninggalkan mereka dan berjalan menuju ke arah beringin.

"Hai, Rim! Hai, semuanya!" sapa Firman sambil mengambil posisi duduk di dekat Rimba. Ia melirik teman-teman wanita Rimba dengan senyum jenaka. "Wah, baru hari pertama kuliah sudah dikelilingi bidadari-bidadari IT, ya?"

Teman-teman Rimba tertawa malu-malu. Sementara itu, Firman mendekatkan wajahnya ke arah Rimba, suaranya mengecil menjadi bisikan yang sangat serius. "Rim, soal kiriman kamu kemarin... kamu tidak salah ketik angka, kan?"

Rimba nyengir. "Oh, yang itu. Tidak, Fir. Memangnya kenapa?"

"Berapa banyak rokok yang bisa kubeli dengan uang lima miliar, Rim? Itu gila!" bisik Firman lagi dengan nada panik.

"Mungkin cukup untuk membeli satu gudang pabriknya sekalian," jawab Rimba sambil tertawa lepas.

"Jujur, aku takut sekali. Aku takut kamu salah ketik nol-nya kebanyakan. Memangnya malam itu kamu dapat berapa?" tanya Firman penasaran.

Rimba mengangkat jari telunjuknya.

"Satu miliar?" tebak Firman. Rimba menggeleng. "Lalu berapa?"

Rimba berbisik pelan tepat di telinga Firman. "Satu triliun."

Firman seketika mematung. Mulutnya menganga lebar, matanya hampir keluar dari kelopaknya. Meskipun Rimba sedikit berbohong (karena aslinya 1.500 triliun), angka satu triliun sudah cukup untuk membuat jantung Firman hampir berhenti berdetak. Jika Rimba mengatakan angka yang sebenarnya, Firman mungkin akan langsung pingsan di tempat.

"Syukurlah kalau begitu," ucap Firman setelah berhasil menguasai diri, meskipun suaranya masih agak bergetar. "Aku cuma takut kamu salah transfer dan besoknya kamu jatuh miskin sementara aku jadi kaya sendirian. Tapi kalau kamu punya sebanyak itu, aku jadi merasa lebih tenang."

"Santai saja, Bro. Kita teman, kan?" Rimba menepuk bahu Firman.

"Kalau begitu, besok-besok ajak aku lagi ya? Aku bersedia jadi pengawal pribadimu sampai subuh pun tidak masalah!" canda Firman yang disambut tawa oleh Rimba.

Mereka kemudian saling bertukar nomor ponsel, diikuti oleh keenam mahasiswi tadi yang juga ingin menyimpan kontak Rimba. Di tengah suasana riuh itu, Rimba tiba-tiba bertanya pada Firman, "Dua orang di dekat kantin yang tadi mengajakmu bicara, siapa mereka?"

Firman mencoba mengingat. "Oh, itu. Mereka bertanya soal kamu. Mereka penasaran dengan mahasiswa baru yang membanting panitia orientasi minggu lalu. Sepertinya mereka anggota BEM atau pengurus unit kegiatan mahasiswa."

"Hanya bertanya itu?"

"Iya. Aku sempat bercanda bilang kalau mungkin mereka mau menuntut balas. Tapi kalaupun benar, aku yakin kamu bisa membuat mereka KO dalam satu kedipan mata," ujar Firman penuh keyakinan.

"Dari mana kamu bisa seyakin itu?" tanya Rimba tersenyum.

"Hanya feeling saja. Orang yang bisa memukul melayang raksasa seperti D'Gorila tidak mungkin kalah oleh anak BEM," jawab Firman sekenanya.

Saat mereka sedang asyik bersenda gurau, dua orang yang diperhatikan Rimba tadi akhirnya melangkah mendekat. Mereka terdiri dari seorang pemuda berambut rapi dan seorang gadis cantik dengan wajah ketus yang memancarkan aura otoritas.

"Kamu yang bernama Rimba?" tanya si gadis tanpa basa-basi begitu sampai di hadapan mereka.

Rimba tetap duduk tenang. "Iya, saya sendiri."

"Kamu yang membanting panitia waktu masa orientasi kemarin?" lanjut gadis itu dengan nada bicara yang menantang.

"Benar. Ada masalah?" jawab Rimba santai.

Suasana di bawah pohon beringin mendadak berubah mencekam. Keenam mahasiswi IT tadi terdiam, tidak berani bersuara melihat ketegangan yang muncul tiba-tiba. Namun, Rimba justru merasa ada yang aneh. Meskipun suara gadis ini terdengar lantang dan penuh amarah, ia tidak merasakan getaran emosi kemarahan yang asli dari auranya. Cesar pun tetap tenang, bahkan tidak membuka matanya. Jika ada ancaman nyata, insting serigala itu pasti sudah bereaksi.

Gadis ini sedang berakting, batin Rimba geli.

"Kalau kamu benar-benar laki-laki dan bukan cuma jago mem-bully panitia yang tidak siap, aku menantangmu bertarung sekarang di Padepokan Pencak Silat kampus!" seru gadis itu ketus.

Rimba menatapnya dari bawah ke atas, lalu tersenyum tipis. "Kenapa saya harus menerima tantangan Kakak? Lagi pula, Kakak ini kan perempuan, dan saya tidak suka memukul perempuan. Jadi, saya tolak."

Wajah gadis itu memerah, entah karena malu atau marah karena diremehkan. "Jangan mengelak! Aku tidak mau senioritas di kampus ini tercoreng oleh tindakan anarkismu kemarin. Jika kamu punya nyali, buktikan di atas matras. Aku tunggu di padepokan sekarang!"

Tanpa menunggu jawaban, gadis itu langsung berbalik dan melangkah pergi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan ke tanah, diikuti oleh teman prianya.

Rimba hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku seniornya itu. Ia menatap Firman dan teman-teman kelasnya yang tampak khawatir.

"Wah, Rim, kamu ditantang oleh Kak Sheila," bisik salah satu mahasiswi. "Dia itu kapten tim pencak silat universitas."

Rimba berdiri perlahan, membersihkan debu di celananya. Ia menatap ke arah Padepokan Pencak Silat yang tak jauh dari sana. "Sepertinya sore ini akan sedikit berkeringat. Ayo, Fir, teman-teman... mari kita lihat seberapa hebat pencak silat kampus ini."

Cesar ikut bangkit, menguap lebar seolah bosan, dan mengikuti langkah Rimba yang berjalan santai menuju Padepokan. Di balik ketenangannya, Rimba merasa ini adalah kesempatan bagus untuk mengenal lebih jauh komunitas di kampusnya, sekaligus memberi pelajaran kecil tentang apa itu kekuatan yang sebenarnya.

1
D'ken Nicko
mantap poll
D'ken Nicko
apa cerita kurang mantap kalau mc tdk dari keluarga yg WAH,,? knp cerita super tdk dari org awam .ZERO TO HERO
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
semangat
D'ken Nicko
kren poll
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
uang receh ,5T...wkwkwk
D'ken Nicko
bacaan favorit nmr satu ,tapi setiap up buat kecewa karna serasa sangat pendek
D'ken Nicko
super mantaaap
D'ken Nicko
KAGOLLL
D'ken Nicko
waduh nanggung amat thor ,up lagi..
D'ken Nicko
kurang panjang thor, up doble
maldi Suryana
bagus
Davide David
lanjut thor abdet lagi episodnya👍💪💪💪💪
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!