Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 06 — Ancaman
“Kau kenapa, Chad? Kenapa memegangi tanganmu seperti itu?” tanya Jean dengan curiga.
Temannya yang lain pun menatap Chad dengan terheran-heran. Pasalnya, pergelangan tangan pria terlihat mengalami cedera parah, dua orang temannya langsung mendekatinya dan memeriksa tangan pria itu.
“Kau habis melakukan apa sampai tanganmu cedera?” tanya Isaac, sengaja menekan tangan Chad hingga pria itu menjerit.
“Sialan kau,” gerutu Chad, kesal.
“Isaac, kau jahil sekali. Seharusnya jangan seperti itu, tapi begini caranya.” Ernest justru memelintir tangan Chad hingga pria itu menjerit kesakitan.
Sementara Chad kesakitan, yang lainnya justru tertawa seolah apa yang dialami Chad hanyalah sebuah candaan belaka.
Benjamin yang paling tenang di antara mereka, menghampiri Chad. “Kau sepertinya cedera parah, pulanglah dan panggil dokter, kau harus mengembalikan tanganmu itu jika ingin ikut bersenang-senang bersama kami,” katanya seraya mendorong Chad keluar.
“Dasar payah!” ejek Isaac begitu Chad keluar dari sana. Ia melirik Jean yang melamun. “Kau kenapa, Jean? Apakah kepalamu juga ikut terbentur benda keras kemarin? Kau tampak bodoh seperti itu.”
“Jean berdecak, kalian tak percaya saat kukatakan yang sebenarnya. Lihat saja nanti, kalian pasti akan merasakan hal yang sama. Apa yang Chad alami, aku yakin sekali karena ulah Elijah,” katanya serius.
Tetapi, alih-alih percaya, mereka justru tertawa keras.
“Kepalamu sepertinya benar-benar terbentur sampai menjadi bodoh,” kata Ernest dengan nada mengejek.
“Sudahlah, kenapa kalian membahas gundik itu? Bagaimana dengan rencana besok? Kurasa kita harus membatalkannya karena dua teman kita terluka,” kata Benjamin, mengingatkan mereka pada acara rutin mereka.
Ernest dan Isaac langsung menatap Jean.
“Kau benar juga, Ben. Kita tidak mungkin mengadakan pesta itu tanpa Jean. Tidak akan seru jika tidak ada Jean dan Chad di sana.” Ernest berkata.
“Kasihan sekali kau, Jean. Kau pasti tidak akan bisa menggoda gadis-gadis lagi dengan kondisimu yang seperti itu,” timpal Isaac merasa kasihan.
Jean melengos, merasa terluka. “Kalian pergi sajalah, bersenang-senanglah tanpa aku. Tidak usah pedulikan keadaanku, aku baik-baik saja,” katanya ketus.
“Hei, lihat! Dia marah.”
“Ernest, sudahlah. Rencana besok kita batalkan saja. Kami pulang dulu, Jean. Jaga dirimu, kami akan kembali lagi besok,” kata Benjamin, menengahi sekaligus memutuskan. Di antara para teman-temannya, Benjamin yang terlihat lebih bijaksana dan bisa mengontrol keadaan.
Selepas kepergian teman-temannya, Jean duduk sendirian di sana, memeriksa ponselnya dengan tanpa minat. Ia kesal sekaligus marah jika teringat kejadian yang sudah menimpanya.
“Elijah sialan. Awas kau, aku pasti akan langsung mencabik-cabik dirimu begitu aku melihatmu!” racau Jean, geram.
Ia sama sekali tidak sadar dengan kehadiran Elizabeth di sana yang berdiri menatapnya sambil tersenyum tipis.
“Kau ingin mencabik-cabik diriku, Tuan? Bagaimana caranya?” tanya Elizabeth, berjalan mendekat.
Jean terkejut. “K-kau! Sedang apa kau di sini? Sana, pergi! Pergi dari hadapanku, sialan!” seru Jean sambil melemparkan bantal tepat ke hadapan Elizabeth.
“Ups, tidak kena.” Elizabeth menangkap bantal itu dengan mudah, lalu merobeknya dan mengeluarkan isinya. Bulu-bulu halus langsung berterbangan begitu Elizabeth mengeluarkan isinya dan melemparkannya ke atas.
“Kau ingin mencabik-cabik diriku?” tanyanya dingin. “Aku penasaran, bagaimana caramu melakukannya? Apakah seperti aku mencabik-cabik bantal itu?”
Elizabeth berjalan semakin dekat, saat ia sudah berada di tepi tempat tidur, ia duduk dengan anggun, namun tatapan matanya menunjukkan kengerian.
“Ja-jangan. Pergi, pergilah sana. Jangan ganggu aku!” kata Jean dengan gemetar. Pria itu bahkan tampak pucat karena ketakutan. “Si-siapa kau sebenarnya? K-kau pasti bukan Elijah. Elijah tidak akan berani menatapku begitu!”
Elizabeth tersenyum, tetapi kemudian langsung mengubah mimik wajahnya jadi terlihat sedih. “Ini menyedihkan sekali, Tuan. Apakah setelah menyetubuhiku berkali-kali, kau jadi lupa ingatan? Aku adalah Elijah. Akulah gundikmu, pelayanmu dan juga iblis yang akan mencabut nyawamu,” katanya berbisik di akhir kalimat.
Jean terbelalak, antara terkejut dan tak percaya. “Apa yang kau katakan? Jangan asal bicara! Kau belum tahu siapa aku, Elijah. Aku bisa membuatmu hancur dalam sekejap!” kata Jean mengancam balik.
Alih-alih takut, Elizabeth justru tertawa tipis. “Kau lucu sekali, Tuan. Kau juga belum tahu aku siapa, kan? Biar aku beritahu.” Ia lalu berdiri dan mengeluarkan pisau kecil miliknya yang tampak berkilau saat terkena cahaya.
“Siapa yang bisa menghancurkan siapa, itu hanya tergantung pada situasi, bukan? Jika aku mau, aku bisa langsung membunuhmu seperti ini.” Dalam satu gerakan yang gesit, Elizabeth mengarahkan pisau kecil itu tepat ke arah leher Jean.
Tubuh pria itu langsung menegang, tak berani bergerak. Napasnya terasa tercekat di kerongkongan, ujung matanya melirik tangan Elijah yang memegang pisau kecil itu.
“Bagaimana, Tuan?” tanya Elizabeth. Ujung pisau itu menempel di sisi lehernya. Tepat di tempat denyut nadinya berdegup. “Jika aku menekannya sedikit lebih dalam lagi, Tuan. Kau tak akan bisa melihat hari esok,” katanya dengan lembut namun dingin.
Keringat dingin mulai menuruni pelipisnya. Ia bahkan hampir pingsan saking takutnya, apalagi saat merasa ujung pisau itu mengenai kulit lehernya.
Beruntung seseorang mengetuk pintu kamarnya. Elizabeth langsung berdiri dan menyembunyikan pisaunya kembali sementara Jean sudah terbaring lemah di tempat tidur.
“Elijah! Sedang apa kau di sini? Cepat kembali ke dapur!”
Elizabeth mengangguk singkat. “Baik, Bibi Lucy. Aku sudah memberi Tuan Jean obatnya,” katanya melapor lalu berjalan pergi dari sana dengan tersenyum tipis.
Lucy menatapnya dengan heran. “Elijah terlihat aneh, ada apa dengannya sekarang?”
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇