NovelToon NovelToon
Akbar Muhammad Alfattah

Akbar Muhammad Alfattah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Tamat
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: camamutts_Sall29

Bayangin kalo kamu jadi Aku?

Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?

penasaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Bunda Syana menelpon)

Kemarin beberap minggu lalu, kedatangan Marissa dan putri memang sangat mengejutkan sekali untukku dan Hamdan, Apalagi Hamdan cukup terkesima melihat kedatangan Nathan sahabat lamanya.

Hingga percakapan Fattah pada Mas Hamdan membawa topik yang serius antar mereka.

****

 Sore itu, semburat jingga di ufuk barat seolah membawa beban yang sama beratnya dengan hatiku. Sudah seminggu ini, suasana rumah terasa berbeda. Kehadiran Mas Hamdan yang biasanya mengisi setiap sudut ruangan dengan tawa rendahnya, kini digantikan oleh hening yang panjang.

​Semua bermula ketika Abi Rehadi—sosok ayah kedua bagiku setelah kepergian ayah kandungku—memutuskan untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan pesantren kepada suamiku.

​"Mas Hamdan itu amanah, Riana," ucap Bunda Syana tempo hari, meyakinkanku sembari mengusap punggung tanganku.

 "Abi ingin menghabiskan masa tuanya dengan kesibukannya sendiri, mungkin lebih banyak berkebun atau sekadar membaca kitab tanpa beban administratif."

​Aku tidak keberatan. Sama sekali tidak.

 Apalagi Rasyid, putra kecil kami yang kini menginjak usia tiga tahun, sudah mulai pintar bicara dan bukan anak yang rewel. Namun, aku lupa satu hal: Rasyid adalah pengamat yang ulung.

​"Bunda..."

​Sebuah tarikan kecil di ujung gamisku membuyarkan lamunan. Aku menunduk, mendapati Rasyid berdiri dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca. Di tangannya, sebuah mobil-mobilan kayu tergeletak lesu.

​Aku berjongkok, menyamakan tinggiku dengannya. "Iya, Sayang? Kenapa, Nak?"

​"Ayah mana?" tanyanya lirih. Suaranya mencicit, khas anak kecil yang sedang menahan rindu.

​Aku tersenyum tipis, merapikan anak rambut yang menempel di dahi kecilnya. "Ayah sedang di pesantren, Sayang. Kan sekarang Ayah lagi bantu kakek jaga sekolah kakak-kakak di sana."

​"Tapi Ayah pulangnya malam terus," protesnya. Ia mengerucutkan bibir, tanda tidak puas dengan jawabanku. "Kenapa Ayah harus kerja sampai malam, Bunda? Kenapa Ayah harus capek-capek cari duit?"

​Aku menghela napas panjang, mencoba mencari kata-kata yang paling mudah dicerna oleh logika balitanya. "Kan untuk beli susu Rasyid, beli mainan, dan bantu orang lain juga. Ayah anak hebat harus kerja keras."

​Rasyid diam sejenak. Ia tampak berpikir keras, dahinya berkerut kecil. "Bunda..."

​"Iya?"

​"Kan ada Daddy," cetusnya tiba-tiba. Yang dimaksud 'Daddy' adalah Ayah Nathan (Suami mama kandungku--ayah sambung), kakek yang sangat memanjakannya. "Daddy kan punya uang banyak sekali. Banyak... sampai ke langit!" Ia merentangkan tangannya lebar-lebar ke udara.

​Aku terkekeh geli, namun ada rasa haru yang menyelip. "Lalu kalau Daddy punya uang banyak, kenapa sayang?"

​"Jadi Ayah nggak perlu repot, Bunda! Ayah di rumah saja main sama Rasyid. Suruh Ayah minta uang sama Daddy saja, kan Daddy sayang Ayah," lanjutnya dengan kepolosan yang luar biasa.

​Aku tertegun. Di mata Rasyid, dunia begitu sederhana. Jika ada seseorang yang kita sayangi memiliki kelebihan, mengapa kita harus bersusah payah? Ia belum mengerti tentang konsep harga diri, tanggung jawab, apalagi tentang amanah seorang lelaki.

​Aku meraih kedua tangan kecilnya, menggenggamnya hangat. "Rasyid sayang, dengerin Bunda ya. Daddy memang sayang sekali sama Ayah, sama Bunda, juga sama Rasyid. Tapi, Ayah itu laki-laki hebat. Ayah ingin kasih Rasyid makanan dari hasil keringat Ayah sendiri.

 Itu namanya tanggung jawab."

​"Tanggung... jawab?" Rasyid mengeja kata itu dengan susah payah.

​"Iya. Sama seperti Rasyid yang punya tanggung jawab beresin mainan sendiri setelah main. Ayah juga punya tugas dari Allah untuk jaga pesantren dan cari nafkah. Kalau Ayah cuma minta sama Daddy, nanti Ayah nggak jadi pahlawan lagi, dong?"

​Rasyid terdiam, menatap ke arah pintu depan yang masih tertutup rapat. "Tapi Rasyid kangen pahlawan Rasyid, Bunda."

​Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, suara deru motor terdengar di halaman. Rasyid langsung berjingkrak. "Ayah! Itu Ayah!"

​Pintu terbuka, menampakkan sosok Mas Hamdan yang tampak lelah namun langsung tersenyum lebar begitu melihat putra kecilnya berlari menyambut. Ia meletakkan tasnya di kursi, lalu berlutut memeluk Rasyid erat-erat.

​"Anak jagoan Ayah belum tidur?" tanya Mas Hamdan sembari menciumi pipi Rasyid.

​"Tadi Rasyid suruh Ayah minta uang Daddy saja biar Ayah nggak pulang malam!" lapor Rasyid polos, membuat Mas Hamdan mendongak menatapku dengan alis terangkat.

​Aku hanya bisa mengangkat bahu sambil tersenyum simpul. "Katanya, Ayah nggak perlu repot karena Daddy sudah kaya."

​Mas Hamdan tertawa renyah, tawa yang selalu berhasil menghangatkan rumah ini. Ia mengacak rambut Rasyid. "Wah, ide bagus itu. Tapi nanti kalau Ayah di rumah terus, siapa yang jagain santri-santri Abi? Siapa yang jagain amanah dari Daddy?"

​Rasyid tampak menimbang-nimbang.

 "Nanti... Rasyid bantu Ayah?"

​"Nah, itu baru anak Ayah!" Mas Hamdan bangkit berdiri sambil menggendong Rasyid di pundaknya.

​Aku memperhatikan mereka dengan rasa syukur yang membuncah. Meskipun Mas Hamdan harus mondar-mandir antara rumah dan pesantren, meskipun rindu seringkali menjadi tamu tak diundang, aku tahu kami sedang membangun pondasi yang kuat untuk masa depan Rasyid.

​"Mas mau mandi dulu atau langsung makan?" tanyaku saat mereka mendekat.

​"Mandi dulu sebentar, Dek. Tadi di pesantren sempat bantu-bantu Rehan juga beresin perpustakaan," jawabnya.

 "Oh iya, tadi Fattah dan Nisa titip salam. Katanya besok mereka mau mampir bareng Bunda Syana."

​Aku mengangguk. Keluarga besar ini—meskipun ada yang terikat darah seperti Rehan, dan ada yang karena ikatan kasih sayang seperti Abi dan Bunda—adalah segalanya bagiku. Kepergian ayah kandungku memang meninggalkan lubang, tapi Allah menutupnya dengan kehadiran orang-orang luar biasa ini.

​"Ya sudah, mandi sana. Rasyid, turun dulu, Ayahnya mau bersih-bersih," perintahku lembut.

​"Siap, Bunda Kapten!" seru Rasyid sambil memberi hormat dengan tangan kecilnya.

​Malam itu, di bawah lampu ruang tengah yang temaram, aku menyadari bahwa bahagia bukan berarti tanpa lelah.

 Bahagia adalah saat kita tahu untuk siapa kita berjuang, dan tahu ke mana kita harus pulang.

  Hari itu, Hamdan sedang memberikan taklim di hadapan para santriwan.

 Suasana terasa begitu bersahabat; angin berembus sepoi-sepoi di bawah langit yang sedikit mendung, seolah awan sedang malu menampakkan dirinya.

​Sementara itu di rumah, aku sedang sibuk menyapu halaman saat tiba-tiba Rasyid berlari ke arahku sambil menyodorkan ponsel.

​"Bunda ... ada yang telepon," ucapnya polos.

​"Terima kasih, Ganteng." Aku memuji putra kecilku itu sembari melempar senyuman hangat. Dengan langkah kecilnya, Rasyid rupanya cukup berani mengambilkan ponsel yang sempat tertinggal di kamar.

​Aku melirik layar. Nama ‘Bunda Syana’ terpampang di sana. Segera kuangkat panggilan itu dengan perasaan waswas.

 "Iya, Bun? Baik, aku ke sana sekarang."

​Sudah dua minggu ini Hamdan mengemban amanah untuk menjaga pondok, menggantikan peran Abi Rehadi yang sedang beristirahat.

​Saat Hamdan tengah khusyuk membagikan ilmu di dalam kelas, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang cukup keras dan terkesan kasar. Yohan, salah satu santri laki-laki, segera berdiri dan membukakan pintu. Di ambang pintu, berdirilah seorang santriwati bernama Mira dengan napas tersengal.

​"Enggak sopan!" tegur Yohan datar, menatap tajam ke arah Mira.

​"Cepat! Mana Abi Hamdan?" tanya Mira tanpa mempedulikan teguran itu.

​"Mau apa?!" Yohan balik bertanya, tidak terima dengan sikap tidak sabar sang santriwati.

​Tanpa membuang waktu, Mira menerobos masuk begitu saja. Bahunya sempat berbenturan dengan bahu Yohan, namun ia terus melangkah menuju meja guru.

​"Afwan, Abi. Bunda Syana meminta saya memanggil Abi. Ada hal mendesak karena Abi tidak mengangkat telepon sedari tadi," lapor Mira cepat.

​Hamdan menutup kitabnya, lalu bertanya dengan nada lembut namun tegas, "Ada apa, Mira?"

​"Abi Rehadi ... Abi diminta segera datang sekarang juga!" seru Mira, lalu ia segera berbalik dan berlari meninggalkan kelas santriwan tersebut.

​Di saat yang bersamaan, aku yang sudah berada di atas ojek daring segera menghubungi suamiku.

​"Mas Hamdan? Sudah di kamar Abi?" tanyaku langsung saat sambungan terhubung.

​"Aku baru saja keluar dari kelas santriwan. Ada apa, Sayang?" suara Hamdan terdengar bingung.

​"Aku sedang di jalan, Mas. Cepat ke sana ya! Bunda Syana baru saja menelepon, katanya Abi Rehadi jatuh sakit." Suaraku bergetar hebat. Air mataku tumpah begitu saja sepanjang perjalanan.

​"Abi sakit?" Hamdan tersentak. Tanpa menunggu jawaban lagi, ia mempercepat langkahnya menuju kediaman utama dan segera mematikan sambungan telepon.

Detik-Detik di Kamar Abi

  ​Langkah kaki Hamdan menggema di sepanjang koridor pesantren yang mendadak terasa sunyi. Napasnya memburu, namun ia berusaha menata debar jantungnya yang kian tak keruan.

 Saat sampai di depan pintu jati kamar Abi Rehadi, ia mendapati pintu itu sudah terbuka lebar.

​"Assalamu’alaikum ...," bisik Hamdan lirih.

​Di dalam sana, Bunda Syana terduduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan suaminya yang nampak pucat. Beberapa santri senior berdiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk. Bau minyak kayu putih dan aroma obat-obatan menyeruak, menyesakkan dada Hamdan seketika.

​"Bunda?" Hamdan mendekat, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Bunda Syana menoleh. Matanya sembap, namun ia mencoba memberikan senyum tipis yang sarat akan beban. "Hamdan ... syukurlah kamu cepat sampai. Abi tadi tiba-tiba mengeluh sesak, lalu pingsan."

​Hamdan berlutut di samping ranjang.

 Dilihatnya sosok lelaki yang telah dianggapnya sebagai ayah kandung sekaligus guru besar itu terbaring lemah.

 Guratan di wajah Abi Rehadi tampak lebih dalam dari biasanya, seolah seluruh keletihan tahun-tahun panjang menjaga pondok tumpah dalam satu waktu.

​"Sudah panggil dokter, Bun?" tanya Hamdan sembari menyentuh dahi Abi yang terasa dingin.

​"Sudah, Nak. Sedang dalam perjalanan. Tapi Abi ... Abi tadi sempat sadar sebentar dan terus memanggil namamu," sahut Bunda Syana dengan suara yang mulai serak kembali.

​Tepat saat itu, deru mesin motor terdengar berhenti di depan gerbang.

 Aku turun dari ojek dengan tergesa, bahkan hampir saja tersandung ujung gamisku sendiri karena terburu-buru.

 Dengan air mata yang masih membekas di pipi, aku berlari menyusuri lorong menuju kamar Abi.

​Saat aku sampai di ambang pintu, pemandangan di depanku terasa begitu menyesakkan. Mas Hamdan sedang menggenggam tangan Abi, kepalanya menunduk dalam seolah sedang merapal doa-doa paling tulus yang ia punya.

​Aku melangkah pelan, mendekati Bunda Syana dan langsung memeluknya dari samping. Bahu wanita tangguh itu bergetar.

​"Sabar ya, Bun. Mas Hamdan sudah di sini. Abi pasti kuat," bisikku berusaha menguatkan, meski hatiku sendiri mencelos melihat kondisi Abi yang tak berdaya.

​Tiba-tiba, jemari Abi Rehadi bergerak sedikit. Kelopak matanya bergetar perlahan, mencoba terbuka di tengah sisa tenaganya. Semua orang di ruangan itu menahan napas, menanti kata-kata yang mungkin akan terucap dari lisan sang guru.

 

TBC.

1
LEECHAGYN
sama2🤭
Dania
kayak dah nikah tapi yg tau cuma sebelah pihak aja ,cuma perasaan ku aja yak .
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!