NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 Tawakal

Tawakal bukan melepas ikhtiar, tetapi menenangkan hati setelah semua usaha diserahkan kepada Allah.

—Celine Chadia Cendana—

Malam telah sepenuhnya turun ketika mereka meninggalkan pantai.

Langit gelap membentang luas seperti kain beludru hitam yang dihiasi bintang-bintang kecil, berkelip lembut seperti lampu-lampu harapan yang tidak pernah benar-benar padam. Jalanan menuju kota tampak basah oleh embun laut, memantulkan cahaya lampu kendaraan seperti serpihan kaca yang ditaburkan di atas aspal.

Celine duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat. Bayangan lampu-lampu melintas di matanya, memanjang dan memendek seperti kenangan yang datang dan pergi tanpa permisi.

Hatinya masih penuh.

Namun bukan lagi penuh kebingungan seperti sebelumnya—melainkan penuh oleh sesuatu yang lebih tenang, lebih berat, dan lebih jujur.

Seperti bejana yang diisi air sampai hampir meluap, tetapi airnya kini jernih.

Reina meliriknya sekilas sambil menyetir.

“Kamu lebih tenang?” tanyanya pelan.

Celine mengangguk, meski matanya masih jauh.

“Sedikit.”

Ia menarik napas panjang.

“Tapi juga lebih takut.”

Reina tersenyum tipis.

“Takut karena sudah tahu harus pilih apa?”

Celine menoleh perlahan. Tatapannya lelah, tetapi tidak lagi kosong.

“Iya.”

Jawaban itu jatuh seperti daun kering—ringan, tetapi sarat makna.

Mereka kembali diam. Hanya suara mesin mobil dan desiran ban di atas jalan yang menemani, monoton tetapi menenangkan seperti detak jam yang setia.

Setelah beberapa menit, Celine berbicara lagi.

“Rei…”

“Hm?”

“Kalau aku pilih ini… hidupku bakal berubah total.”

Nada suaranya seperti seseorang yang berdiri di tepi tebing, memandang jurang yang dalam dan luas.

Reina mengangguk.

“Semua keputusan besar memang begitu.”

Celine menunduk, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan.

“Aku takut kehilangan versi hidup yang selama ini aku kenal.”

Reina tidak langsung menjawab. Ia tahu ketakutan terbesar manusia bukan perubahan itu sendiri, melainkan ketidakpastian setelahnya.

“Kamu tahu kupu-kupu?” tanyanya tiba-tiba.

Celine mengerutkan kening. “Apa hubungannya?”

“Kupu-kupu harus ‘mati’ dulu sebagai ulat sebelum bisa terbang,” kata Reina lembut.

“Kalau dia memilih tetap jadi ulat karena takut kehilangan bentuk lamanya… dia nggak akan pernah tahu rasanya punya sayap.”

Celine terdiam.

Perumpamaan itu sederhana, tetapi terasa seperti membuka pintu kecil di dalam hatinya.

“Aku nggak tahu aku sekuat itu atau nggak,” bisiknya.

Reina meliriknya lagi, kali ini dengan senyum hangat.

“Kamu nggak harus kuat sendirian.”

Mobil terus melaju, membawa mereka semakin jauh dari laut, semakin dekat ke kehidupan yang menunggu dengan segala konsekuensinya.

Ketika Celine tiba di apartemen, Aldivano sudah menunggu.

Lampu ruang tamu menyala hangat, kekuningan, menciptakan suasana tenang seperti pelukan yang diam-diam menenangkan. Aroma teh hangat samar tercium di udara, bercampur dengan wangi kayu dari furnitur—hangat dan familiar.

Aldivano berdiri dari sofa saat melihatnya masuk.

“Kamu udah pulang.”

Suaranya lembut, seperti biasa, tetapi ada kekhawatiran halus di baliknya.

Celine mengangguk pelan.

“Iya.”

Reina pamit setelah memastikan Celine baik-baik saja. Pintu tertutup, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang terasa lebih intim.

Aldivano menatap Celine beberapa detik, seolah membaca sesuatu yang tak terucap.

“Kamu habis nangis,” katanya pelan.

Bukan pertanyaan.

Celine tersenyum tipis, lelah.

“Sedikit.”

Ia melepas sepatu, lalu berjalan masuk perlahan. Tubuhnya terasa berat, seperti membawa ransel tak terlihat yang penuh batu.

Aldivano tidak mendesak. Ia hanya mengikuti dengan jarak yang cukup—tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk menangkap jika Celine runtuh.

“Kamu mau teh?” tanyanya.

Celine mengangguk.

“Iya… makasih.”

Ia duduk di sofa, memandang kosong ke meja di depannya. Tangan kirinya tanpa sadar menyentuh cincin di jari manis—gerakan kecil yang ia lakukan setiap kali gelisah.

Aldivano datang membawa dua cangkir. Uap hangat naik perlahan, melengkung di udara seperti doa yang tak terlihat.

Ia duduk di seberang Celine, menyerahkan cangkir.

“Panaskan tanganmu dulu,” katanya.

Celine menggenggam cangkir itu. Hangatnya meresap ke telapak tangannya, lalu naik ke lengan, seolah mencoba menghangatkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kulit.

Mereka diam cukup lama.

Akhirnya, Celine berbicara.

“Aku sudah tahu harus pilih apa.”

Aldivano menatapnya, tenang.

“Dan?”

Celine menarik napas panjang, seperti seseorang yang hendak menyelam ke air yang dalam.

“Aku pilih yang lebih mendekatkan aku ke Allah.”

Suasana seketika terasa berbeda—lebih hening, lebih berat, tetapi juga lebih jernih.

Aldivano tidak tampak terkejut. Ia hanya mengangguk pelan.

“Alhamdulillah.”

Celine menggigit bibirnya.

“Tapi itu berarti… aku harus jauh.”

Ia menunduk, suaranya hampir hilang.

“Dari kamu.”

Kalimat itu seperti pecahan kaca kecil—tidak besar, tetapi cukup untuk melukai.

Aldivano menatapnya lama. Tidak ada protes. Tidak ada penolakan. Hanya keheningan yang matang.

“Kalau itu jalan yang membuatmu lebih dekat ke Allah…” katanya akhirnya,

“aku nggak akan menghalangi.”

Celine menatapnya cepat, matanya berkaca-kaca.

“Kamu nggak marah?”

Aldivano tersenyum tipis.

“Kenapa aku harus marah kalau kamu memilih kebaikan?”

Jawaban itu terasa seperti hujan lembut di tanah yang retak.

Air mata Celine jatuh tanpa bisa dicegah.

“Aku takut kamu kecewa…”

Aldivano menggeleng pelan.

“Aku lebih takut kamu menjauh dari Allah hanya demi tetap dekat denganku.”

Kalimat itu begitu tulus hingga terasa menyakitkan sekaligus indah.

Celine menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis pelan. Tangisnya tidak meledak—lebih seperti hujan gerimis yang terus turun tanpa suara.

“Aku nggak mau kehilangan kamu…”

Aldivano bangkit, lalu duduk di sampingnya.

Ia tidak langsung memeluk. Hanya menunggu sampai Celine sedikit tenang.

“Celine,” katanya lembut,

“kalau kita sama-sama mendekat ke Allah, kita nggak benar-benar jauh.”

Celine menurunkan tangannya, menatapnya dengan mata merah.

“Maksudnya?”

Aldivano menunjuk ke atas.

“Tujuan kita sama.”

Ia lalu menunjuk ke dadanya.

“Cuma jalannya yang mungkin berbeda sementara.”

Hati Celine bergetar, seperti senar yang dipetik perlahan.

“Allah yang mempertemukan kita,” lanjutnya,

“dan kalau Dia mau, Dia juga yang akan menjaga.”

Celine terdiam.

Di dalam dadanya, ketakutan masih ada. Kesedihan juga. Namun di antara semua itu, muncul sesuatu yang baru—

Kepercayaan.

Seperti benih kecil yang akhirnya menemukan tanah untuk tumbuh.

“Aku takut gagal,” bisiknya.

Aldivano tersenyum hangat.

“Kalau kamu jatuh, bangun lagi.”

“Kalau aku capek?”

“Istirahat. Bukan berhenti.”

“Kalau aku rindu?”

Tatapan Aldivano melembut.

“Doakan.”

Air mata Celine kembali jatuh, tetapi kali ini terasa lebih ringan—seperti air yang akhirnya menemukan jalan keluar.

Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Aldivano, pelan dan hati-hati.

Aldivano tetap diam, membiarkannya.

Di luar, malam semakin dalam. Kota mulai sepi, lampu-lampu tetap menyala seperti penjaga yang setia.

Di dalam apartemen itu, dua hati sedang belajar satu hal yang paling sulit dalam cinta—

Melepaskan tanpa berhenti mencintai.

Malam itu, sebelum tidur, Celine berdiri di dekat jendela.

Langit gelap, hanya beberapa bintang yang tampak. Angin malam masuk pelan melalui celah, menyentuh wajahnya seperti bisikan yang menenangkan.

Ia menangkupkan kedua tangan di dada.

“Ya Allah…” bisiknya,

“kalau ini jalan dari-Mu, tolong kuatkan aku.”

Air matanya jatuh satu per satu.

“Dan tolong jaga dia… meski aku nggak selalu di sampingnya.”

Ia menarik napas panjang.

Dadanya masih sakit, tetapi tidak lagi terasa kosong.

Seperti luka yang masih terbuka, tetapi sudah dibersihkan dan dibalut.

Celine menutup matanya.

Di dalam gelap, ia merasa sesuatu yang hangat—bukan dari luar, tetapi dari dalam.

Tawakal.

Bukan kepastian bahwa semuanya akan mudah,

tetapi keyakinan bahwa apa pun yang terjadi,

Allah tidak akan meninggalkannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak keputusan itu diambil…

Ia merasa siap melangkah.

Seperti seseorang yang berdiri di tepi lautan luas—tak tahu seberapa dalam airnya, tetapi percaya bahwa Tuhan yang menciptakan laut juga yang akan menjaga langkahnya.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!