Kisah cinta Xavier dan Aruna yang harus melewati banyak hal dalam rumah tangga mereka. Xavier adalah tipe suami posesif. sedangkan Aruna adalah istri cuek. sehingga beda sifat mereka kadang membuat mereka berselisih dan berseteru.
Namun hal itu tak membuat cinta keduanya luntur dan menghilang begitu saja. Malah hal itu membuat mereka menjadi semakin saling mencintai.
namun di balik kebahagiaan mereka ternyata ada orang yang ingin memisahkan keduanya. mampukan mereka melewati badai besar dalam rumah tangganya? dan siapakah orang itu....ikuti terus kisah cinta mereka berdua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xavier-Aruna 29
braaaak
Pintu ruangan kerja Danar di buka dengan sangat kencang, awalnya Danar akan marah. Akan tetapi setelah melihat siapa yang mendobrak pintu ruangannya dia akhirnya berdiri dan mendekati mereka berdua. Anastasia datang dalam keadaan menangis bahkan make up yang dia gunakan juga sudah luntur. Fondation di wajahnya sudah tak mau menempel dengan indah di pipinya.
"Papaaaaa ..." teriak Anastasia berhambur memeluk ayahnya
"Ada apa? Kenapa kamu menangis Ana?" tanya Danar bingung.
"Papa, aku nggak lolos seleksi! Bagaimana ini? Kenapa mereka jahat? Sepertinya mereka sengaja agar aku tak lolos seleksi ini!" ujar Anastasia.
"Lalu kamu Revano?" tanya Danar kepada anak lelakinya.
"Aku lolos, tapi hanya si terima menjadi staff di bagian administrasi. Kata mereka, kinerja aku tak sesuai dengan pekerjaan di bidang keuangan. Bahkan menjadi wakil manager saja tidak bisa. Pah, sepertinya Aruna sangat keterlaluan. Dia memang sengaja agar kita tidak bisa bekerja di perusahaan ini. Aku yakin dia sepertinya takut kalau kami akan menjadi saingannya! Ini tak bisa di biarkan Pah! Aku akan datangi dia ke ruangannya!" geram Revano.
"Aku juga akan ikut!" jawab Anastasia mengikuti langkah panjang kakanya keluar dari ruangan dan harapan menuju ruangan Aruna.
Braaaak
Pintu ruangan Aruna dibuka dengan begitu kencang, Aruna yang sedang makan dengan suaminya terlihat kaget dengan perlakuan tidak sopan dari mereka. Revano, Anastasia masuk dengan wajah penuh emosi dan napas memburu. Sedangkan di belakangnya ada Danar yang mengikuti mereka. Aruna dan Xavier saling pandang kemudian menyimpan sendok dan menyandarkan punggung di sofa.
"Apa kalian tak tahu sopan santun saat masuk ke dalam ruangan pemilik perusahaan?" tanya Xavier membuat Anastasia mencoba menetralkan ekspresinya saat melihat keberadaan suami Aruna di sana.
"Apa kamu tak memiliki perasaan Aruna? Kenapa kamu malah membuat aturan yang aneh untuk penerimaan karyawan di sini? Aku tahu kalau kamu sengaja membuat peraturan baru hanya untuk membuat kami tidak lolos dan tak mendapatkan jabatan di perusahaan ini kan? Kamu sengaja membuat aturan aneh itu saat tahu kamu akan bekerja di perusahaan kakek kami sendiri dengan papa kami memegang tiga puluh persen saham perusahaan! Bahkan Anastasia di nyatakan tak lolos! Kamu keterlaluan Aruna! Apa salah kami kepada kamu? Padahal kami ingin belajar mengelola perusahaan membantu papa dan juga kamu!" ujar Revano dengan penuh emosional.
"Apa yang salah? Semuanya sudah sesuai prosedur kan? Kalau kalian tidak lolos itu artinya kalian memang tidak layak untuk mendapatkan jabatan yang kalian incar. Apa kalian sebelumnya punya pengalaman kerja? Tidak kan? Dari sana saja sudah terlihat jelas kalau kemampuan kalian tertinggal jauh dengan orang lain! Bahkan mungkin dengan mereka yang hanya merebutkan jabatan staff administrasi dan jauh lebih baik mereka. Bukannya kalian mau belajar? Kalau memang mau belajar ya mulailah dari bawah dulu agar kalian mengerti. Kalau langsung ke jabatan atas yang ada kalian akan muntah setiap hari karena tak tahu apa yang kalian kerjakan! Dan apa akibatnya? Jelas akan berpengaruh pada perusahaanku! Aku mana mau kalau sampai perusahaan aku merugi apalagi sampai bangkrut kan?" jawab Aruna tenang, sedangkan Xavier dari tadi terlihat menahan kesal.
Namun Keduanya masih saja tak terima dengan ucapan Aruna dan protes dengan semua yang di lakukan Aruna dengan. perusahaannya sendiri. Aruna memanggil para penguji dan juga pihak HRD.
"Silahkan duduk Pak Danar,"pinta Ayana kepada pamannya yang sedari tadi diam dan seolah membiarkan kedua anaknya berbicara kasar kepada Aruna.
Pak Danar akhirnya duduk dengan rasa kesal di dalam hatinya. Sedangkan kedua anaknya masih saja melayangkan protes kepada Aruna.
"Apa kalian tak bisa berhenti bicara? orang yang banyak bicara biasanya otaknya kosong!" celetuk Xavier yang sudah sangat kesal dengan kelakuan mereka berdua.
"Apa kamu mengatasi kami otak kosong? Jangan sombong kamu Xavier! Kamu fikir kamu siapa? Kamu ..." Kesal Revano.
"Kalian bisa diam? Kalau tidak, salahkan keluar dari perusahaanku dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian lagi di sini!" emosi Aruna dengan tatapan yang sangat tajam ke arah mereka berdua.
Tatapan yang sangat berbeda dari Aruna, membuat mereka berdua terlihat sangat ketakutan. Tak mengira jika Aruna akan sangat menyeramkan seperti itu. Tak lama pintu ruangan di ketuk dan datang tiga orang masuk ke dalam ruangan Aruna. Salah satunya adalah Manager HRD dan yang dua orang adalah para penguji.
"Anda memanggil kami, Bu Aruna?" tanya Pak Ferdi.
"Iya Pak, silahkan duduk! Kalian pasti tahu siapa mereka kan?" tanya Aruna kepada Pak Ferdi dan dua orang lainnya.
"Iya Bu, mereka adalah dua orang di antara pelamar tadi. Dan salah satunya tidak lolos seleksi tahap awal," jawab Pak Ferdi membuat Pak Danar malu bukan main bahkan wajahnya susah sangat memerah karena mereka adalah anak-anaknya.
"Alasan tidak lolos? Dan salah satunya hanya bisa menjadi staff administrasi? Bisa anda jelaskan dengan secara detail kepada Pak Danar sebagai ayahnya, biar kedua anaknya paham alasan mereka seperti itu! Karena mereka menyalahkan saya dengan sistem yang katanya saya baru terapkan saat mereka ikut seleksi!" ujar Aruna menahan amarahnya.
Xavier sedari tadi menggenggam tangannya untuk meredam amarah dari Aruna.
"Sistem ini sudah di terapkan dari dua Minggu yang lalu. Pak Danar juga sudah tahu sistem yang baru ini. Karena kita sudah meeting sebelumnya, Jika anda lupa Pak Danar. Dan di sana sudah jelas aturannya, mungkin Pak Danar tak menyimak saat kita meeting dan membacanya dengan teliti," jelas Pak Ferdi membuat wajah Pak Danar semakin memerah, malu.
Karena memang dia tak pernah benar-benar fokus saat meeting, sehingga hanya sebagian informasi yang dia tangkap.
"Dan untuk alasan kedua anak Pak Danar tak bisa mendapatkan jabatan yang mereka inginkan adalah ini. Silahkan bisa di cek sendiri, ini adalah hasil pekerjaan dari Pak Revano, dan ini adalah hasil pekerjaan Bu Anastasia. Pak Danar bisa periksa sendiri. Semua ini tak ada rekayasa karena semua sudah by system. Sehinga semuanya tak bisa di ragukan lagi. Mereka masuk berdasarkan kode masing-masing dan hasilnya tak akan tertukar dengan yang lain," jelas salah satu penguji memberikan dua hasil kerja milik Revano dan jga Anastasia.
"Silahkan anda cek sendiri Pak Danar! apakah sudah sesuai dengan standar kita yang baru ataukah tidak?" ujar yang lainnya menyodorkan dua laptop ke hadapan Danar yang terlihat menegang.
Sedangkan kedua anaknya menelan ludah dengan kasar. Mereka tahu kalau semua pekerjaan mereka tak ada yang benar. Keduanya bekerja secara asal-asalan, sehingga membuat mereka menundukkan kepalanya malu. Mereka tak mengira jika Aruna akan memanggil para penguji dan memperlihatkan bobrok mereka yang nyatanya memang tak memiliki kemampuan apapaun.
"Astaga! Kemampuan seperti ini ingin jadi Manager? Di perusahaan aku jadi Office boy saja sudah beruntung! Sepertinya kamu telak bebenah di perusahaan Mahardika yang sudah bobrok ini, sayang! Karena banyak sekali yang bermain-main di dalamnya! Semuanya sangat merugikan! Lama kelamaan aku yakin perusahaan ini akan bangkrut. Apalagi di pegang oleh orang yang tidak tepat. Pantas saja Kakek Mahardika lebih percaya kamu mengelola perusahaan ini! karena nyatanya tak ada yang mampu untuk meneruskan perusahaan selain kamu!" ujar Xavier membuat tangan Revano mengepalkan dengan kuat.
hidup apa ada nya tp tenang n nyaman, tanpa tekanan ,,, semangat rexa
babang Xavier kau dmn, bantai habis tuh anggara family, krn mrk udh berani menghina menantu hananta
Xavier kasian rexa, d bantu ya