Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru dan Janji Berdarah
Bentley hitam itu membelah kegelapan jalan tol yang sepi dengan kecepatan di atas rata-rata. Di balik kemudi, asisten kepercayaan Maximilian fokus menatap aspal, sementara di kursi belakang, suasana terasa jauh lebih mencekam.
Cahaya lampu jalan yang melintas secara ritmis menerangi kabin mobil, memperlihatkan wajah Maximilian yang mengeras menahan nyeri, dan Rebecca yang gemetar hebat dengan kotak P3K di pangkuannya.
"Om, diamlah sebentar. Darahnya tidak mau berhenti," suara Rebecca bergetar. Tangannya yang memegang kapas berlumuran alkohol tampak sangat kontras dengan kulit pucatnya.
Maximilian bersandar pada jok kulit, kemeja hitamnya sengaja dibuka separuh untuk memperlihatkan luka di bahu kirinya. Peluru dari penyusup di penthouse tadi memang hanya menyerempet, namun meninggalkan robekan daging yang cukup dalam dan terus mengalirkan darah segar.
"Jangan cengeng, Rebecca. Hanya luka kecil," gumam Maximilian dingin. Matanya terpejam, namun rahangnya yang mengatup rapat mengkhianati rasa sakit yang ia rasakan.
"Luka kecil kata Om? Ini hampir mengenai tulang!" Rebecca membalas dengan nada sedikit meninggi, keberanian yang muncul karena rasa panik. Dengan hati-hati, ia membersihkan area sekitar luka. Setiap kali kapas itu menyentuh luka, Maximilian mendesis pelan, membuat Rebecca ikut meringis seolah ia sendiri yang merasakan perihnya.
Sambil melilitkan perban dengan tangan yang mulai stabil, Rebecca memberanikan diri menatap wajah pria di sampingnya. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat butiran keringat dingin di dahi Maximilian. "Kenapa Om tidak membiarkan dokter tadi saja yang mengobati ini?"
Maximilian membuka matanya, menatap Rebecca dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas. "Karena di jalanan ini, aku tidak bisa mempercayai siapa pun selain diriku sendiri—dan sekarang, kau."
Begitu perban terpasang rapi, Maximilian membenahi letak kemejanya. Ia meraih sebuah kotak kecil berbahan beludru dari laci tersembunyi di pintu mobil. "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Ini hadiah untukmu."
Rebecca mengerutkan kening. "Hadiah?"
Maximilian membuka kotak itu. Di dalamnya tergeletak sebuah pistol semi-otomatis berukuran kecil, berwarna perak mengkilap dengan ukiran elegan di gagangnya. "Glock 43. Dimodifikasi khusus. Ringan, tidak ada sentakan besar, dan mematikan. Ini untukmu."
Rebecca tersentak mundur hingga punggungnya menempel pada pintu mobil. Matanya terbelalak menatap benda logam dingin itu. "Om ... apa-apaan ini? Aku tidak bisa ... aku tidak mau memegang benda itu!"
"Pegang, Rebecca," perintah Maximilian, suaranya berubah menjadi bariton yang menuntut kepatuhan. "Duniaku bukan tempat untuk gadis yang hanya bisa menangis. Semalam kau hampir hancur karena kau tidak punya kekuatan. Ambil ini, atau kau akan mati di tangan orang berikutnya yang datang."
"Tapi aku tidak bisa membunuh orang, Om!" tangis Rebecca pecah. Tangannya menolak menyentuh pistol itu seolah benda itu adalah bara api yang akan membakar kulitnya.
"Aku tidak memintamu menjadi pembunuh. Aku memintamu bertahan hidup," Maximilian meraih tangan Rebecca secara paksa, meletakkan pistol dingin itu ke dalam telapak tangan gadis itu yang mungil.
Rebecca gemetar hebat. Berat pistol itu terasa seperti beban seluruh dunia di tangannya. Ia merasa mual melihat pantulan wajahnya yang ketakutan di permukaan perak senjata itu. Belum sempat ia memprotes lebih jauh, asisten di depan tiba-tiba berteriak.
"Tuan! Ada gangguan di depan!"
Ciiiittt!
Ban mobil berdecit keras saat asisten itu membanting setir ke kiri. Dari kegelapan hutan di pinggir jalan tol, tiga mobil SUV hitam tanpa plat nomor muncul secara tiba-tiba, mencoba menjepit Bentley mereka.
"Valenti?" tanya Maximilian tenang, tangannya sudah meraih senjata laras pendek dari balik jasnya.
"Bukan, Tuan! Logonya ... itu dari kelompok serigala utara. Mereka bukan aliansi Valenti!"
Maximilian menyeringai tipis. "Rupanya ada hyena lain yang ingin mencuri potongan daging di tengah kekacauan."
Duar! Duar! Duar!
Rentetan tembakan menghantam badan mobil. Untungnya, Bentley itu telah dilapisi baja antipeluru tingkat tinggi. Rebecca berteriak histeris, menjatuhkan pistol pemberian Max ke lantai mobil dan menutupi telinganya sambil meringkuk di bawah jok.
"Rebecca, ambil pistolnya!" teriak Maximilian di tengah suara bising peluru yang menghantam kaca.
"Tidak mau! Om, tolong!"
Maximilian tidak menghiraukan rengekan itu. Ia membuka sedikit jendela mobil—hanya celah kecil—dan mulai membalas tembakan. Gerakannya tenang, presisi, dan mematikan. Setiap peluru yang keluar dari senjatanya tampak menemukan sasarannya. Salah satu SUV penyerang kehilangan kendali setelah bannya meledak, terguling berkali-kali di aspal sebelum akhirnya meledak menjadi bola api yang besar.
Penyerang lainnya mencoba mendekat, mencoba menabrakkan mobil mereka ke sisi kiri Bentley. Maximilian menginstruksikan asistennya untuk mengerem mendadak. Mobil musuh meluncur melampaui mereka, dan pada saat itulah Maximilian menembaki tangki bahan bakar mobil tersebut dari jarak dekat.
BOOM!
Ledakan kedua menerangi malam yang gelap. Sisa-sisa logam beterbangan, namun tak satu pun yang berhasil menggores mobil Maximilian. Serangan itu berakhir secepat ia dimulai. Mobil-mobil penyerang itu hancur berantakan, sementara Maximilian duduk kembali ke kursinya, menarik napas dalam tanpa ada satu pun luka tambahan di tubuhnya. Bahkan kemejanya yang baru tidak terkena noda darah musuh.
Maximilian menoleh ke bawah, melihat Rebecca yang masih gemetar di lantai mobil. Ia memungut pistol perak yang terjatuh tadi dan menyodorkannya kembali tepat di depan wajah Rebecca.
"Lihat musuh-musuh itu, Rebecca," ucap Maximilian dingin, menunjuk ke arah kobaran api di belakang mereka melalui kaca belakang. "Mereka bahkan bukan orang-orang Valenti. Mereka hanyalah sampah yang ingin memanfaatkan keadaan. Jika kau tidak memegang senjata ini, kau hanya akan menjadi sampah yang mereka injak."
Rebecca mendongak, matanya sembab dan wajahnya basah oleh air mata. Ia melihat Maximilian yang tampak begitu tenang di tengah kematian yang baru saja ia ciptakan. Pria ini bukan manusia biasa; dia adalah badai yang berjalan.
"Kenapa ... kenapa duniamu begitu mengerikan, Om?" bisik Rebecca pasrah.
Maximilian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik Rebecca kembali ke jok, memaksa gadis itu duduk di sampingnya. Kali ini, ia memasukkan pistol itu ke dalam tas kecil milik Rebecca yang ada di kursi.
"Karena dunia yang indah hanyalah dongeng untuk anak-anak. Di sini, hanya ada pemangsa dan mangsa. Dan aku baru saja memutuskan bahwa kau tidak akan pernah menjadi mangsa lagi," Maximilian mengusap pipi Rebecca dengan punggung tangannya, sebuah sentuhan yang terasa sangat asing di tengah aroma mesiu yang masih tercium. "Sekarang, hapus air matamu. Kita hampir sampai."
Mobil terus melaju, meninggalkan kobaran api dan mayat-mayat yang tak dikenal di belakang. Rebecca hanya bisa terdiam, menatap tasnya di mana benda mematikan itu tersimpan. Ia menyadari satu hal: ia tidak hanya harus bersembunyi dari musuh Maximilian, tapi ia juga harus belajar hidup berdampingan dengan monster yang kini menjadi pelindungnya.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣