NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peluru dan Janji Berdarah

Bentley hitam itu membelah kegelapan jalan tol yang sepi dengan kecepatan di atas rata-rata. Di balik kemudi, asisten kepercayaan Maximilian fokus menatap aspal, sementara di kursi belakang, suasana terasa jauh lebih mencekam.

Cahaya lampu jalan yang melintas secara ritmis menerangi kabin mobil, memperlihatkan wajah Maximilian yang mengeras menahan nyeri, dan Rebecca yang gemetar hebat dengan kotak P3K di pangkuannya.

"Om, diamlah sebentar. Darahnya tidak mau berhenti," suara Rebecca bergetar. Tangannya yang memegang kapas berlumuran alkohol tampak sangat kontras dengan kulit pucatnya.

Maximilian bersandar pada jok kulit, kemeja hitamnya sengaja dibuka separuh untuk memperlihatkan luka di bahu kirinya. Peluru dari penyusup di penthouse tadi memang hanya menyerempet, namun meninggalkan robekan daging yang cukup dalam dan terus mengalirkan darah segar.

"Jangan cengeng, Rebecca. Hanya luka kecil," gumam Maximilian dingin. Matanya terpejam, namun rahangnya yang mengatup rapat mengkhianati rasa sakit yang ia rasakan.

"Luka kecil kata Om? Ini hampir mengenai tulang!" Rebecca membalas dengan nada sedikit meninggi, keberanian yang muncul karena rasa panik. Dengan hati-hati, ia membersihkan area sekitar luka. Setiap kali kapas itu menyentuh luka, Maximilian mendesis pelan, membuat Rebecca ikut meringis seolah ia sendiri yang merasakan perihnya.

Sambil melilitkan perban dengan tangan yang mulai stabil, Rebecca memberanikan diri menatap wajah pria di sampingnya. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat butiran keringat dingin di dahi Maximilian. "Kenapa Om tidak membiarkan dokter tadi saja yang mengobati ini?"

Maximilian membuka matanya, menatap Rebecca dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas. "Karena di jalanan ini, aku tidak bisa mempercayai siapa pun selain diriku sendiri—dan sekarang, kau."

Begitu perban terpasang rapi, Maximilian membenahi letak kemejanya. Ia meraih sebuah kotak kecil berbahan beludru dari laci tersembunyi di pintu mobil. "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Ini hadiah untukmu."

Rebecca mengerutkan kening. "Hadiah?"

Maximilian membuka kotak itu. Di dalamnya tergeletak sebuah pistol semi-otomatis berukuran kecil, berwarna perak mengkilap dengan ukiran elegan di gagangnya. "Glock 43. Dimodifikasi khusus. Ringan, tidak ada sentakan besar, dan mematikan. Ini untukmu."

Rebecca tersentak mundur hingga punggungnya menempel pada pintu mobil. Matanya terbelalak menatap benda logam dingin itu. "Om ... apa-apaan ini? Aku tidak bisa ... aku tidak mau memegang benda itu!"

"Pegang, Rebecca," perintah Maximilian, suaranya berubah menjadi bariton yang menuntut kepatuhan. "Duniaku bukan tempat untuk gadis yang hanya bisa menangis. Semalam kau hampir hancur karena kau tidak punya kekuatan. Ambil ini, atau kau akan mati di tangan orang berikutnya yang datang."

"Tapi aku tidak bisa membunuh orang, Om!" tangis Rebecca pecah. Tangannya menolak menyentuh pistol itu seolah benda itu adalah bara api yang akan membakar kulitnya.

"Aku tidak memintamu menjadi pembunuh. Aku memintamu bertahan hidup," Maximilian meraih tangan Rebecca secara paksa, meletakkan pistol dingin itu ke dalam telapak tangan gadis itu yang mungil.

Rebecca gemetar hebat. Berat pistol itu terasa seperti beban seluruh dunia di tangannya. Ia merasa mual melihat pantulan wajahnya yang ketakutan di permukaan perak senjata itu. Belum sempat ia memprotes lebih jauh, asisten di depan tiba-tiba berteriak.

"Tuan! Ada gangguan di depan!"

Ciiiittt!

Ban mobil berdecit keras saat asisten itu membanting setir ke kiri. Dari kegelapan hutan di pinggir jalan tol, tiga mobil SUV hitam tanpa plat nomor muncul secara tiba-tiba, mencoba menjepit Bentley mereka.

"Valenti?" tanya Maximilian tenang, tangannya sudah meraih senjata laras pendek dari balik jasnya.

"Bukan, Tuan! Logonya ... itu dari kelompok serigala utara. Mereka bukan aliansi Valenti!"

Maximilian menyeringai tipis. "Rupanya ada hyena lain yang ingin mencuri potongan daging di tengah kekacauan."

Duar! Duar! Duar!

Rentetan tembakan menghantam badan mobil. Untungnya, Bentley itu telah dilapisi baja antipeluru tingkat tinggi. Rebecca berteriak histeris, menjatuhkan pistol pemberian Max ke lantai mobil dan menutupi telinganya sambil meringkuk di bawah jok.

"Rebecca, ambil pistolnya!" teriak Maximilian di tengah suara bising peluru yang menghantam kaca.

"Tidak mau! Om, tolong!"

Maximilian tidak menghiraukan rengekan itu. Ia membuka sedikit jendela mobil—hanya celah kecil—dan mulai membalas tembakan. Gerakannya tenang, presisi, dan mematikan. Setiap peluru yang keluar dari senjatanya tampak menemukan sasarannya. Salah satu SUV penyerang kehilangan kendali setelah bannya meledak, terguling berkali-kali di aspal sebelum akhirnya meledak menjadi bola api yang besar.

Penyerang lainnya mencoba mendekat, mencoba menabrakkan mobil mereka ke sisi kiri Bentley. Maximilian menginstruksikan asistennya untuk mengerem mendadak. Mobil musuh meluncur melampaui mereka, dan pada saat itulah Maximilian menembaki tangki bahan bakar mobil tersebut dari jarak dekat.

BOOM!

Ledakan kedua menerangi malam yang gelap. Sisa-sisa logam beterbangan, namun tak satu pun yang berhasil menggores mobil Maximilian. Serangan itu berakhir secepat ia dimulai. Mobil-mobil penyerang itu hancur berantakan, sementara Maximilian duduk kembali ke kursinya, menarik napas dalam tanpa ada satu pun luka tambahan di tubuhnya. Bahkan kemejanya yang baru tidak terkena noda darah musuh.

Maximilian menoleh ke bawah, melihat Rebecca yang masih gemetar di lantai mobil. Ia memungut pistol perak yang terjatuh tadi dan menyodorkannya kembali tepat di depan wajah Rebecca.

"Lihat musuh-musuh itu, Rebecca," ucap Maximilian dingin, menunjuk ke arah kobaran api di belakang mereka melalui kaca belakang. "Mereka bahkan bukan orang-orang Valenti. Mereka hanyalah sampah yang ingin memanfaatkan keadaan. Jika kau tidak memegang senjata ini, kau hanya akan menjadi sampah yang mereka injak."

Rebecca mendongak, matanya sembab dan wajahnya basah oleh air mata. Ia melihat Maximilian yang tampak begitu tenang di tengah kematian yang baru saja ia ciptakan. Pria ini bukan manusia biasa; dia adalah badai yang berjalan.

"Kenapa ... kenapa duniamu begitu mengerikan, Om?" bisik Rebecca pasrah.

Maximilian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik Rebecca kembali ke jok, memaksa gadis itu duduk di sampingnya. Kali ini, ia memasukkan pistol itu ke dalam tas kecil milik Rebecca yang ada di kursi.

"Karena dunia yang indah hanyalah dongeng untuk anak-anak. Di sini, hanya ada pemangsa dan mangsa. Dan aku baru saja memutuskan bahwa kau tidak akan pernah menjadi mangsa lagi," Maximilian mengusap pipi Rebecca dengan punggung tangannya, sebuah sentuhan yang terasa sangat asing di tengah aroma mesiu yang masih tercium. "Sekarang, hapus air matamu. Kita hampir sampai."

Mobil terus melaju, meninggalkan kobaran api dan mayat-mayat yang tak dikenal di belakang. Rebecca hanya bisa terdiam, menatap tasnya di mana benda mematikan itu tersimpan. Ia menyadari satu hal: ia tidak hanya harus bersembunyi dari musuh Maximilian, tapi ia juga harus belajar hidup berdampingan dengan monster yang kini menjadi pelindungnya.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐡 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐜𝐨𝐧𝐠𝐨𝐫 𝐁𝐢𝐚𝐧𝐜𝐚 𝐥𝐠𝐬𝐧𝐠 𝐤𝐢𝐜𝐞𝐩 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐤𝐥𝐨 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐲𝐚𝐫 𝐥𝐨 𝐛𝐢𝐚𝐧 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐢𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐤 𝟏𝐛𝐚𝐛 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
EsKobok: waduh🤣
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐦𝐚𝐱😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐨𝐧𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐡𝐫 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐩 𝟑𝐛𝐚𝐛 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚/𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐭𝐩 𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐫𝐤𝐧𝐥, 𝐥𝐛𝐡 𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐲𝐠 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐪 𝐥𝐡𝐭 𝐝𝐢 𝐟𝐢𝐥𝐦𝟐 😘😘😘🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐫𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐭𝐡𝐨𝐫 🦾🦾😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐤𝐧 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧, 𝐦𝐚𝐱 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐦𝐢𝐰𝐢𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐐 𝐤𝐬𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐬𝐚𝐦𝐚𝟐 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐫𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐌𝐫𝐬 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬, 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐱𝐢𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐝𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐦𝐛𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐰𝐭 𝐤𝐭𝟐 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐫𝐧𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐲𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡😭😭😭

𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐩 𝐣𝐠, 𝐛𝐚𝐜𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐧𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 😁😁😁👍👍👍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐛𝐧𝐠𝐭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐣𝐞𝐥𝐚𝐬 😁😁😁
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚😁😁😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 👍👍👍 𝐢𝐧𝐢 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!