NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bridge - CH 5 : Operasi Tangkuban Perahu

"Black Forest. Tiga tingkat. Diameter bawah 30 senti. Harus jadi sebelum adzan Subuh."

Bara mengumumkan titah itu layaknya jenderal perang yang ngasih komando bunuh diri. Dia mengikat rambut gondrongnya makin kencang, menggulung lengan kemeja flanelnya sampai siku, lalu menunjuk Lintang dan Mang Ojak bergantian pake spatula.

"Lintang, lo mixer putih telur sampai kaku. Jangan ada kuningnya setetes pun atau gaji lo gue potong." "Mang Ojak, panasin oven tangkring. Abis itu lari ke Pasar Induk, cari ceri merah tangkai sama dark chocolate batang. Merek Colatta atau Tulip. Jangan beli yang curah, rasanya kayak lilin mainan!"

Lintang melongo, HP-nya hampir jatoh. "Mas! Gila ya? Ini jam 10 malem! Gue baru mau maskeran pake mugwort!"

"Masker lo tunda dulu. Duit lemburan malam ini bisa buat beli skincare setahun," potong Bara dingin. Dia udah masuk mode Avatar: mata tajem, gerakan cepet, kuping budeg sama keluhan.

Mendengar kata "Setahun", mata Lintang langsung ijo. Masker mugwort-nya dilempar ke tong sampah.

"SIAP, KOMANDAN! Mixer mana mixer?!"

Satu jam kemudian, dapur Bara's Kitchen resmi jadi kapal pecah.

Tepung terigu beterbangan di udara kayak efek visual film hantu. Suara mixer menderu-deru saingan sama suara knalpot motor racing di jalanan luar.

"TANG! ITU MENTEGA UDAH CAIR BELUM?!" teriak Bara sambil ngayak tepung cokelat.

"SABAR MAS! INI LAGI DI-TIM! KOMPORNYA KEGEDEAN APINYA!" balas Lintang nggak kalah ngegas. Pipi kanannya udah cemong kena cokelat bubuk, rambut pink-nya udah kayak sarang burung walet kena badai.

Bara beralih ke meja racik. Dia memecahkan 10 butir telur dengan satu tangan skill pamer yang cuma keluar pas lagi kepepet.

BRAKK!

Pintu dapur terbuka kasar. Mang Ojak masuk dengan napas ngos-ngosan, helm catoknya miring, di tangannya ada kresek hitam.

"Dapet, Den! Ceri merahnya sisa satu toples di toko Ko Acong! Untung Abah lari kenceng, saingan sama tukang martabak sebelah!" lapor Mang Ojak bangga.

"Bagus! Cuci, tirisin! Sekarang serut cokelatnya, Mang! Jangan sampe putus-putus serutannya, harus melingkar cantik!" perintah Bara tanpa nengok.

"Siap, Den! Demi cuan!" Mang Ojak langsung duduk di dingklik, nyerut cokelat batangan pake parutan keju dengan penuh perasaan.

Di pojokan, Lintang yang tangannya pegel megangin mixer tiba-tiba ngeluarin HP. Jiwa kontennya meronta.

"Guys..." Lintang ngomong ke kamera depan sambil manyun estetik. "Jam 11 malem, disiksa Bos Kikir. Muka gue udah kayak adonan donat gagal. Doain gue selamet, jangan lupa tap-tap layarnya..."

"HEH! KONTEN TERUS!" Bara melempar serbet bersih tepat ke muka Lintang. "Itu meringue-nya udah kaku belum? Kalau overmix nanti bantat, gue potong gaji lo beneran!"

"Udah, Mas! Udah stiff peak! Galak banget sih kayak juri MasterChef!" Lintang buru-buru matiin live-nya.

Bara mengambil alih mangkuk mixer. Dengan gerakan memutar yang halus (teknik folding), dia mencampur adonan cokelat pekat itu dengan putih telur. Pelan. Hati-hati. Nggak boleh ada udara yang kabur. Ini momen sakral.

"Loyang!" seru Bara.

Lintang sigap nyodorin tiga loyang bulat yang udah dioles mentega.

Bara menuang adonan. Kental, hitam, glossy. Baunya aja udah bikin diabetes.

"Masuk oven. Pasang timer 35 menit. Jangan ada yang buka pintu oven sebelum waktunya atau gue jadiin kalian topping kue."

Mereka bertiga serentak menghela napas lega saat pintu oven tertutup.

BIP.

Suasana hening seketika. Cuma ada suara desis gas dari oven dan suara napas mereka yang kayak abis lari maraton.

Bara merosot duduk di lantai dapur yang dingin. Lintang senderan di kulkas. Mang Ojak selonjoran di deket pintu.

"Gila..." gumam Lintang sambil ngapus cemong di pipinya. "Kita beneran bikin base cake Black Forest dalam 45 menit?"

Bara nyengir kuda. Keringet ngebasahin pelipisnya. "Demi bayaran tiga kali lipat, Tang. Manusia bisa ngelakuin hal mustahil."

"Mas," panggil Lintang pelan.

"Apa?"

"Kalau kuenya bantat gimana?"

Bara melempar pandangan maut. "Lo ngomong 'bantat' sekali lagi, gue jadiin lo adonan sus kering."

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!