NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Bhagawad (II)

Najma dan Bhagawad di kampus pada hari Jumat.

“Najma!”

Seseorang memanggilku dengan lantang. Aku menahan untuk tidak berpaling ke belakang dan menyambut panggilannya. Dengan tegar aku terus melangkah menjauh dari kampus agar bisa pulang ke kosan.

“Sebentar.” Ujarnya lagi sambil menarik tanganku. Aku tak akan menatap matanya lagi, tak akan pernah.

“Najma,” Aga mengambil dua buku besar yang sedang kudekap dengan paksa. Ia pun mengambil tas selempang yang aku bawa di bahu kiriku.

“Apa sih?!” tanyaku gusar tanpa melihat matanya.

“Liat sini.”

“Nggak mau.”

“Najma…”

“Jangan pernah panggil namaku lagi, oke?!” akhirnya aku berani menatap matanya.

“Nggak bisa.”

“Kamu super egois, Aga.”

“Kamu suka sama aku, kan?”

Aku ingin sekali berlari dan menampar wajahnya sekeras yang aku bisa. Namun, aku merasa lemah karena begitu merindukan wajah yang selalu kuhindari beberapa hari ini.

“Jika perasaanku hanya menguntungkan kamu dan malah merugikan aku, menurutku itu nggak adil. Lagipula, apa kamu nggak kasihan sama si Rosie?”

“Aku kasihan makanya aku terus sama dia!”

Kalimatnya barusan mencengangkan diriku sehingga aku tak tahu bahwa itu adalah suatu fakta atau hanya kalimat bualan. Aku tak tahu definisi pacaran lama atas dasar kasihan. Buatku, jika memang ia tak tahan dengan kekasihnya kenapa tidak putus saja? Apa yang menyebabkan Aga berada dalam suatu hubungan yang rumit? Mengapa ia membuat semua persoalan cintanya terasa super drama dan aku harus ikut terjun menjadi kameonya?

“Terus mau kamu apa?”

Pertanyaan macam apa itu, Najma?

“Aku pengen kita seperti biasanya.”

“Aku nggak bisa jadi invisible girlfriend buat kamu. Kamu harus pilih salah satu.”

Aku mengambil kembali buku-bukuku dari tangannya dan menjinjing tasku lalu berjalan pulang.

“Besok, Najma. Kamu dan aku aja, nggak ada orang lain. Kamu bisa pegang kata-kataku.”

Aku hanya memandangnya nanar. Semua omong kosong yang ia janjikan, aku tak tahan untuk segera mendapatkan jawabannya.

Aku, Najma, seorang gadis biasa berumur 21 tahun. Memiliki impian untuk bekerja keliling Indonesia dan hasilnya bisa kubelikan tiket-tiket ke tempat asing yang tak pernah kupijaki. Cita-citaku bisa melihat matahari terbit dan terbenam di belahan bumi yang lain. Terlebih jika boleh, ingin sekali rasanya merasakan nikmat Tuhan tersebut dengan orang yang begitu kusukai. Ia akan membangunkanku dengan semangat untuk melihat terbitnya matahari dan tak lelah membopongku untuk terus naik menuju puncak dan memperoleh pemandangan terbaik. Ketika matahari muncul menghangatkan sinarnya kepada kami, tawa bahagia kami berdua menyatu dan aku akan memeluknya untuk berterima kasih karena bisa berada di sisiku di saat-saat terbaik dalam hidupku.

Aku sempat merasa Aga adalah orangnya. Jika saja memang itu yang terjadi suatu hari, betapa bahagianya aku bisa menikmati momen terindah dengan orang yang begitu aku sukai. Namun, kenyataannya berbalik arah. Di saat seperti ini, aku merasa begitu sendirian. Masa-masa menuju kelulusan adalah yang terburuk. Semua begitu sibuk hingga aku tak memiliki waktu hanya untuk bermain bersama teman-temanku hingga aku merasa lebih baik.

Aku begitu membenci Aga karena aku begitu menyukainya. Aku begitu membenci diriku karena aku membiarkannya memilih hal yang sudah kusadari sebelumnya. Mana mungkin aku menang melawan pacarnya yang sudah empat tahun mengisi hari-harinya.

Najma, kamu perempuan terbodoh di muka bumi. Kamu tahu itu, kan?

**

Najma dan Dua Sahabatnya di Jakarta.

Aku sudah tak tahan dengan kehidupan suram beberapa minggu terakhir. Maka kuputuskan untuk pulang ke rumah dan menghubungi kedua sahabatku untuk berbagi segala kegundahan dan kesepian yang kurasakan sebelumnya. Aku tahu bahwa aku tak akan mendapatkan solusi cepat guna meredakan patah hatiku yang semakin dalam lubangnya, namun setidaknya bicara kepada dua orang ini membuatku sadar bahwa aku tidak sendirian.

“Lo nggak usah ketemu dia lagi, deh.”

Seperti yang kupikir sebelumnya, saran Magi adalah yang terstandar yang aku dapatkan.

“Susah, Gi. Gue kan satu kampus. Lagipula, sepinter apapun gue menghindar, dia pasti bisa nemuin gue.”

“Terus-terus?”

“Hari ini gue akan dapat kabar, katanya. Dia bilang dia akan milih gue ketimbang pacarnya.”

“Najma, lo nggak merasa bersalah udah merusak hubungan orang lain?”

Aku hanya melotot pada Iman. Walaupun ia benar, tapi kalimat tersebut sungguh sakit didengar dan aku hanya bisa bersikap seperti itu sebagai antisipasi penyerangan selanjutnya.

“Gue nggak pernah berniat merusak hubungan orang. Gue bilang gue nggak akan mau ketemu sama dia lagi karena gue tahu dia punya pacar. Gue lari sejauh yang gue bisa. Gue pergi dan menghilang agar dia tahu gue nggak bisa kerja sama dengan dia untuk menciptakan hubungan semacam ini. Iman, my dearest bestfriend, gue nggak pernah jatuh cinta sebelumnya, jadi bisakah lo sedikit mengerti betapa gue tahu maksud lo tapi hati gue tetap memilih dia?”

Iman hanya menatapku yang begitu menggebu. Terlihat kemudian tatapannya mengasihaniku. Mataku berkaca-kaca sehingga aku hanya bisa menutup seluruh wajahku dengan kedua tangan di meja. Aku begitu menyedihkan.

Sesaat kemudian ponselku berbunyi pertanda ada beberapa pesan yang masuk, begitu banyak hingga bunyinya menggerilya dan Iman langsung mengambil ponselku yang tergeletak di meja untuk melihatnya lebih jelas.

“Najma.”

“Siapa?”

“Jawaban yang lo nantikan.”

Aku mengangkat kepalaku dan melihat notif di ponselku yang menggunung. Kubuka pesan itu dan kubaca baik-baik.

“Heh, jalang! Lo siapa sih berani ngerebut pacar gue?! Lo punya apa untuk dapetin cowok gue, HAH? Walaupun lo sekarang jauh dari gue tapi lo harus tau kalo gue bisa nyariin lo dan bikin lo kapok udah bikin gue kayak gini! BITCH!”

Darahku naik ke kepala dan aku tak tahu bahwa apa yang terjadi padaku saat ini adalah nyata adanya. Aku menatap Magi dan Iman secara bergantian dan secara tak sadar air mataku mengalir bergantian pula.

Satu pesan kembali muncul.

“Gue kasih tahu sama lo, mending lo cabut dan jangan pernah berpikir untuk bisa ngerebut Aga dari gue. Kenapa? Karena dia sama gue hubungannya udah jauh. Mau gue jelasin sejauh apa?”

Lalu telepon datang berdering. Nomor tak kukenal, tapi aku tahu persis dari siapa.

Tak aku angkat sampai kapanpun. Aku tak tega mengoloknya balik.

Lima menit berlalu dan aku hanya membaca pesan-pesan itu, hingga muncul pesan-pesan berikutnya.

“Lo nyuekin gue?? Lo ngerasa teror gue nggak penting?? Baik, kalo itu mau lo. Besok siap-siap aja kalau lo gue bikin malu sehingga lo sadar sama perbuatan lo!”

“Aga nggak worth-it, Najma.”

“Kenapa?” tanyaku lirih pada Iman.

“Liat aja ceweknya memperlakukan lo seperti ini. Seorang cowok bisa dilihat karakter aslinya dari pacar yang dia pilih. Lo jauh lebih baik dari ini, Najma. Gue sahabat lo, jadi gue tahu.” Ujar Iman tenang.

“Najma, cewek kayak gini nggak berhak dapat perhatian lo. Lo tau apa yang harus lo kerjakan? Fokus sama skripsi lo dan pergi ke tempat yang lo pengen datengin ketika lo udah lulus sidang. Lo pernah bilang kan sama kita kalau lo pengen pergi ke sana?”

Aku memeluk Magi. Berterima kasih kepadanya atas kalimatnya barusan yang mengingatkanku tentang target yang pernah aku buat ketika aku akan lulus nanti.

Ya, aku akan pergi ke Bali. Aku ingin mengunjungi satu tempat yang begitu aku idamkan sejak masuk waktu perkuliahan. Aku selalu berandai menjadikannya suatu bucketlist agar perjuanganku lulus kuliah menjadi sangat berharga.

Jika saja aku dan Aga bertemu dalam kondisi normal di mana ia tak punya pacar, kami bisa menyusun banyak rencana menyenangkan untuk bepergian bersama. Meresapi keberadaan alam di sekitar kami dan mempertanyakan hal-hal yang kami tahu bahwa jawabannya sangat sulit dimengerti.

Betapa indahnya jika Aga hanya untukku seorang.

**

Najma di pulau Bali.

Beberapa bulan setelah perjuanganku mengerjakan skripsi, akhirnya aku berhasil mendapatkan nilai A plus untuk topik dan presentasi yang sudah kusiapkan enam bulan lamanya. Tidak terasa bahwa enam bulan itu pula aku telah mengenal Aga.

Aku memandang laut yang begitu luas di depan mataku. Siang panas terik tidak menggoyahkan keinginanku untuk menikmati waktu kesendirian yang sudah kudambakan sejak bertahun-tahun lalu. Aku merasa begitu tenang walaupun perasaan patah hatiku tak kunjung hilang. Perasaan yang begitu menyakitkan ini lebih besar porsinya daripada rasa senang karena aku sudah lulus dan akan menjadi sarjana dua bulan ke depan.

Aga, lelaki itu begitu memutar balikkan hidupku seperti ini.

Aku rasa waktu relaksasi antara diriku dengan pantai telah usai dan kini waktunya aku kembali ke hotel tempatku menginap. Aku ingin mandi dan berganti baju untuk mencari makanan pinggir jalan di tempat yang cukup terkenal di area ini.

“Najma.”

Aku berhenti melangkah karena lantai hotel seperti tiba-tiba retak dan muncul jurang lava di depanku.

“Aga???”

Ia hanya tersenyum menatapku. Aku menyumpahi diriku sendiri agar tidak kembali jatuh ke jebakannya.

“Lo ngapain ada di sini?”

Entah kenapa kehadirannya membuatku begitu kelabakan.

Aga menghampiriku lalu berujar, “Aku nanya Magi, sahabat kamu. Kamu pernah cerita tentang dia sebelumnya kok.”

“Tapi, tahu darimana? KOK BISA???”

“Sosmed, Najma. Semua jadi mungkin.”

Aku tak tahu apa yang kini terjadi di hadapanku. Mataku seakan terbelalak hingga keluar dari tempatnya. Aku begitu kesal pada Aga, tetapi aku lebih kesal kepada Magi sekarang. Kenapa? Apa maksudnya semua ini???

“Kenapa kamu bisa ada di Bali? Kamu punya pacar yang seharusnya kamu urus, kan?”

Nadaku terdengar begitu gusar, seakan-akan semua keluar begitu saja atas perlakuan pacarnya yang begitu tidak adil kepadaku.

“Aku minta maaf, makanya aku kesini. Aku tahu dia keterlaluan. Nggak semestinya dia ngebuli kamu di sosmed seperti itu. Setelah kejadian itu, dia masuk UGD karena sakit. Dia nggak sekuat kamu, Najma. Dia pingsan pas aku mutusin dia.”

Aku sangat ingin tertawa mendengarnya. Tapi aku bukan pacarnya yang begitu jahat kepada perempuan lain. Aku harus bersikap seakan simpati pada wanita yang sudah membuliku di sosial media waktu itu. Untuk lebih lengkapnya, akan aku ceritakan kemudian.

“Gue mau mandi dulu.” Aku terlalu lelah untuk bereaksi atas kalimat-kalimatnya barusan. Aku pun seperti kehilangan kendali untuk menghadapi Aga saat ini.

“Aku tunggu di sini.”

Aku memilih terus berjalan menuju lantai dua dan masuk ke kamarku secepat mungkin. Lalu aku bergegas menelpon Magi agar aku bisa menemukan jawaban mengapa Magi memberitahunya tentang liburanku di sini.

“MAGI!”

“Hai, Nas. Pasti Aga udah sampai, ya? Hehe.”

“Apa maksud lo mengirimkan dia ke sini? Lo bilang gue harus fokus dan nggak mikirin dia! Ngapain lo ngasih tau gue di sini, WOY?!”

“Sabar-sabar.”

Aku ingin sekali memasukkan tanganku ke dalam ponsel ini untuk menjambak rambut pendek Magi hingga lepas semua dari kepalanya. Magi rasa ia tak menyadari akibat mengirimkan Aga ke sini bisa menjadi sangat fatal di kemudian hari.

“Aga datang ke Jakarta, Nas. Dia nyariin lo dan malah nemu gue di Facebook.”

“Tapi kenapa lo kasih tau dia kalau gue di sini, Gi?”

“Karena dia bilang dia mau nyelesein semuanya. See? Gue pengen lo berakhir sama dia.”

“Jangan salahin gue kalau ternyata akhirnya nggak seperti yang lo bayangkan, Gi.”

“Sebenernya gue malah pengen kepergian dia ke Bali hanya untuk ketemu sama lo diketahui sama pacarnya yang kayak monyet itu, biar dia tahu kalau pacarnya brengsek dan memilih pergi ke Bali, BALI MEN, untuk ketemu cintanya yang lain. Biar dia tahu bahwa Aga nggak se-worth it itu untuk dipertahankan. Ngerti lo, Nas?”

Aku menjauhkan ponselku beberapa centimeter dari telingaku, merasa bahwa Magi benar-benar berkata di samping telingaku persis sehingga aku jadi tuli.

“Dan sebagai sesama perempuan, gue tahu rasanya jatuh cinta sama seseorang, meskipun itu nggak pantas untuk dipertahankan. At least, lo akan punya kenangan sama Aga berdua tanpa gangguan apapun. Jadi, untuk hari ini aja, jangan pikirin apapun. Buat di sana sebagai tempat khayalan lo. Dari SMP lo kan selalu bilang akan pergi ke tempat favorit lo bersama orang yang lo sukai. Jadi, walau cuma sebentar, gue harap salah satu impian masa kecil lo akan jadi kenyataan.”

“Magi. Lo nyebelin tau, nggak?!” sahutku sambil menghapus air mataku diam-diam.

“Lagipula, Aga cakep juga ya? Haha.”

KLIK. Kututup telpon tak berguna ini. Magi memang kadang tidak pernah bisa diajak melankolis.

**

Najma dan Aga di tepi Pantai Kuta.

“Apa yang pengen kamu selesaikan, Aga?”

“Aku putusin dia, Najma. Tapi dia sakit. Aku…”

“Kamu mengharapkan apa dari aku, Aga?”

“Aku suka banget sama kamu.”

“Sayang, jangan anggap kata ‘I love you’ bisa menyelesaikan masalah begitu saja, karena pada kenyataannya itu malah membuat hidup kita semakin rumit, kan?”

Aga hanya diam menunduk, memainkan pasir yang berada di bawah lututnya.

“Kita nggak akan pernah bisa sama-sama, Aga. Sekarang dia udah tahu aku ada dan dia nggak pernah tinggal diam untuk menjauhkan kamu dari aku. Jadi, tolong jauh dari aku dan hiduplah seperti pasangan yang lain. Aku juga mau punya pacar yang baik di mana dia cuma cinta sama aku, cuma mikirin aku, dan cuma megang tanganku. Jelas kan, kalau orang itu bukan kamu?”

“Aku nggak akan pernah biarin dia ganggu kamu lagi. Aku nggak akan pernah biarin kamu dibuli lagi.”

“Tapi kamu nggak jamin aku bakalan nggak sedih lagi, kan?”

Aga menatapku nanar dan matanya berkaca-kaca. Ia memegang kedua tanganku dan menggenggamnya hingga aku tak berkutik, “Kamu bisa memperlakukan aku seperti yang kamu mau. Aku cuma pengen sama kamu walaupun sebentar karena ini berarti banget buat aku.”

“By the way, dia tahu kamu ke sini karena aku?”

“Nggak. Nggak ada yang tahu. Aku nggak akan pernah ngasih tahu siapapun supaya nggak ada yang ganggu kamu.”

“Kok gitu?”

“Najma,”

“Oke, fine. Mari kita nikmati sunset sore ini bersama-sama. Mari kita lupakan tentang situasi kita sehingga kita bisa menikmati kebersamaan yang fana ini.”

Aga hanya memandangku sambil tersenyum meminta ampunan.

“I like you and you like me back, but then it wasn’t that simple. Kamu ngerti kenapa, kan?”

“Maafin aku, ya.”

Aku sadar betul bahwa apa yang aku lakukan tidaklah benar. Mencintai pria yang jelas tidak menjadikanku prioritas dan masih memiliki seseorang yang begitu mengandalkannya, aku tahu aku tidak bisa begini selamanya. Tapa apa dayaku, aku begitu menyukainya jauh sebelum aku mengetahui latar belakangnya. Aku menyukainya hingga ke tingkat apatis bahwa aku tidak akan mendengarkan siapapun tentang hubungan kami berdua. Aku memilih untuk bersikap egois walau hanya delapan jam saja. Aku akan memikirkan perasaanku walau hanya diberi kesempatan secuil untuk jatuh cinta dan mencurahkannya.

Aku tahu aku begitu mencintainya karena aku tahu akan kehilangannya di esok hari dan seterusnya.

**

Najma di kesendiriannya kini

Begitulah, aku dan Aga memiliki kisah yang begitu dramatis sehingga mungkin layak menjadi serial film pendek televisi yang bisa saja meraih rating tinggi. Ya, kamu tak pernah percaya bahwa aku memiliki kisah bak roman picisan yang begitu menyebalkan. Diriku sendiri pun tak percaya akan memiliki suatu kisah cinta yang harus melibatkan cinta segitiga dan berakhir menderita.

Jelas saja bila dibandingkan kekasihnya itu, aku jauh lebih baik darinya. Hidupku jauh lebih beruntung karena aku selalu tahu apa yang kumau dan selalu kuusahakan diluar batas kemampuanku. Bahkan mungkin aku tak segan untuk mengorbankan waktu tidur dan bermainku jika aku begitu ingin mengejar sesuatu. Hal tersebut menggambarkan betapa mandirinya aku dan begitu gigih mengejar cita-citaku. Dibanding perempuan itu, aku memiliki keluarga yang mendukungku memilih apapun yang aku mau. Jika ada pria yang memilihku, aku tak perlu merasa bersalah kepada keluargaku jika aku menolaknya. Aku sadar bahwa orang tuaku tak akan kenapa-napa. Mereka adalah orang tua paling demokratis yang pernah aku temui dan mereka selalu mendukungku seratus persen atas segala perbuatan yang aku lakukan di dalam masa mudaku, karena mereka tahu bahwa aku perempuan yang bertanggung jawab terhadap hidupku. Aku juga memiliki ratusan teman-teman baik yang selalu membuatku tertawa. Beruntungnya aku memiliki berbagai grup pertemanan yang membantuku menjadi dewasa dan memperlihatkan bahwa masalah dunia tidak hanya tentang cinta. Mereka mengajarkanku bahwa masa muda memang ekstrim namun menyenangkan untuk dilalui dengan sabar dan penuh rasa penasaran. Jadi, jika aku memiliki prinsip bodoh seperti perempuan itu, mungkin ia sudah kalah karena menyerangku duluan dan aku akan membalasnya hingga titik darah penghabisan. Mudah bagiku membuatnya mati saat itu juga karena teman-temanku yang begitu hebat siap membantuku hingga mampu mengatur strategi balas dendam. Tapi aku bukanlah dia, lebih banyak urusan penting yang harus aku selesaikan demi masa depanku yang cemerlang.

Terlebih, karena aku tak mau Aga terluka lebih dari seharusnya.

Perempuan itu pernah mengatakan bahwa ia juga adalah wanita mandiri karena berani bepergian dan pulang sendiri ke tempat yang jauh atas nama pekerjaan. Mendengar kalimat tersebut aku ingin sekali menoyor kepalanya, menyadarkan betapa bodohnya definisi yang ia buat tentang perilaku mandiri yang ia yakini.

Buatku, mandiri tidak sekadar bepergian sendiri. Menjadi mandiri lebih kompleks dari itu. Perempuan mandiri adalah seseorang yang berani mengambil keputusan atas keyakinannya sendiri dan berani melindungi orang-orang yang ia sayangi dengan setiap sikap yang ia ambil sehingga ia tak akan mempermalukan keluarganya atau siapa saja yang mengenalnya. Menjadi mandiri adalah bertanggung jawab terhadap setiap tindakan karena sadar bahwa segala yang ia tuai berasal dari apa yang ia tanam.

Jika Aga tidak meninggalkannya karena ia memiliki penyakit atau apapun itu, aku tak peduli. Mungkin Aga hanya ingin mencari alasan telak agar aku bisa memahami kondisi yang ia alami. Nyatanya, aku tak pernah ingin memahaminya karena ia jelas tidak pernah memahamiku.

Aku tahu Aga menyimpan sesuatu yang tak akan pernah ia beritahu sampai kapanpun juga. Kadangkala aku meragukan apakah ia benar-benar menyukaiku atau hanya sekadar bosan tentang kekasihnya yang penyakitan itu?

Aku begitu jahat, ya?

Tapi aku tak peduli. Mengataiku jalang dan menyebarkan fotoku untuk diolok-olok oleh semua teman-temannya adalah perbuatan paling jahat yang pernah aku alami. Sebegitu kesepiannya hingga ia butuh pasukan yang tidak begitu dekat dengannya untuk menyerangku.

Luar biasa.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!