Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Panggilan yang Tak Bisa Ditolak
Pagi di kantor pusat Wicaksana Corp. terasa lebih tegang dari biasanya. Bimo berdiri di depan meja besar di ruang direktur utama dengan jantung berdebar. Di seberangnya, Pak Rama Wicaksana sedang membaca beberapa laporan di tangannya. Pria itu tidak langsung berbicara. Itu justru yang membuat suasana terasa lebih mencekam.
Beberapa detik berlalu. Lalu Pak Rama menutup map di tangannya. “Kamu asistennya Langit.”
Bimo mengangguk cepat. “Iya, Pak.”
“Sudah berapa lama kamu bekerja dengannya?”
“Hampir empat tahun, Pak.”
Pak Rama menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kalau begitu kamu seharusnya tahu jadwal kerjanya.”
Bimo tidak menjawab. Ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
“Langit jarang terlihat di kantor akhir-akhir ini,” lanjut Pak Rama.
“Iya, Pak.”
“Kenapa?”
Bimo ragu sejenak. “Pak Langit masih bekerja, Pak. Hanya… lebih sering dari rumah.”
“Rumah?”
“Iya, Pak.”
Pak Rama menatapnya tajam. “Sejak kapan?”
“Sekitar… satu bulan terakhir.”
Pak Rama tidak mengatakan apa-apa. Namun tatapannya berubah sedikit.
Satu bulan.
Waktu yang sama sejak kematian Biru.
“Dia tidak memberi alasan?”
Bimo menelan ludah kecil. “Beliau hanya bilang sedang menyelesaikan sesuatu.”
Pak Rama mengetukkan jarinya pelan di atas meja. “Apa sesuatu itu?”
“Saya tidak tahu, Pak.”
Pak Rama menghela napas pendek. “Baik.”
Ia mengambil pulpen dari meja dan menaruhnya kembali dengan pelan. “Kamu temui dia.”
“Pak?”
“Bilang saya ingin bertemu.”
Bimo mengangguk. “Baik, Pak.”
Namun sebelum ia sempat berbalik, suara Pak Rama terdengar lagi. “Bimo.”
Bimo berhenti.
“Iya, Pak?”
“Kamu pastikan dia datang.”
Bimo menoleh sedikit. “Pak Langit kadang… sulit diatur kalau sedang memutuskan sesuatu.”
Tatapan Pak Rama berubah dingin. “Kalau dia tidak datang…”
Ia berhenti sejenak.
“Kamu yang tidak perlu datang ke kantor lagi.”
Bimo membeku. “Pak…?”
“Anggap saja itu bagian dari tanggung jawabmu sebagai asistennya.”
Bimo mengangguk pelan. “Baik, Pak.”
🌷🌷🌷🌷🌷
Mobil Bimo berhenti di depan rumah Langit. Beberapa minggu ini, ia seringkali bolak-balik ke rumah ini untuk mengantarkan dokumen. Selama itu Bimo tidak pernah benar-benar bertanya kenapa atasannya itu memilih WFH. Selama pekerjaan tetap berjalan, ia tidak merasa perlu ikut campur.
Namun pagi ini berbeda. Pak Rama sendiri yang memanggilnya. Dan nada suara pria itu jelas tidak main-main.
Bimo keluar dari mobil dan berjalan ke pintu depan. Ia menekan bel. Tidak lama kemudian pintu terbuka.
Ishani membukakan pintu. “Pak Bimo,” kata Ishani pelan.
“Pagi, Bu.”
Panggilan itu keluar otomatis. Ishani mengenakan dress rumah sederhana. Rambutnya diikat longgar, dan perutnya terlihat jelas semakin besar. Bimo menduga sebentar lagi Ishani akan melahirkan.
“Pak Bimo mau ketemu Kak Langit?” tanya Ishani.
“Iya.”
“Sebentar ya, saya panggilkan.” Ishani berbalik dan berjalan ke dalam rumah dengan langkah pelan.
Bimo berdiri di ruang tamu sambil menunggu. Beberapa detik kemudian Ishani kembali. “Pak Bimo duduk dulu saja.”
“Terima kasih.”
Bimo duduk di sofa. Ishani duduk di kursi di seberangnya. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam. Bimo sebenarnya tidak tahu harus berkata apa.
Namun keheningan itu terasa terlalu canggung.
“Apa kabar, Bu?” tanyanya akhirnya.
“Baik.”
“Kehamilannya juga sehat?”
Ishani mengangguk kecil. “Alhamdulillah.”
Bimo ikut mengangguk.
Namun pikirannya tidak berhenti bekerja. Ia masih ingat hari ketika Langit memperkenalkan wanita ini kepadanya.
Kalimat yang diucapkan Langit kala itu, calon istri dan anak, sampai sekarang masih terasa sedikit sulit ia cerna.
Bukan karena ia meragukan kata-kata Langit. Namun karena ia mengenal atasannya cukup lama. Langit bukan tipe pria yang dekat dengan perempuan. Tidak pernah terlihat membawa pasangan ke acara perusahaan. Tidak pernah membicarakan hubungan pribadi.
Bahkan beberapa rekan kerja pernah bercanda bahwa Pak Langit mungkin terlalu sibuk untuk jatuh cinta.
Namun sekarang…
Ia tinggal satu rumah dengan seorang wanita hamil. Dan wanita itu adalah calon istrinya.
Langit muncul dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. “Bimo.”
Bimo langsung berdiri. “Pak.”
Langit menatapnya sebentar. “Ada apa?”
Bimo menarik napas pelan. “Pak Rama ingin bertemu Bapak.”
Langit tidak terlihat terkejut. “Kapan?”
“Secepatnya.”
Langit menatapnya beberapa detik. “Kenapa?”
“Beliau tidak bilang.”
Langit terdiam.
Bimo akhirnya menambahkan dengan suara lebih pelan, “Pak… beliau bilang saya harus memastikan Bapak datang.”
Langit mengangkat alis sedikit. “Kalau tidak?”
Bimo tersenyum kecut. “Saya dipecat.”
Lalu menghela napas pelan. “Kamu mudah sekali diancam.”
Bimo mengangkat bahu. “Pak, saya cuma pegawai.”
Langit mengalihkan pandangannya ke Ishani. “Aku keluar sebentar.”
Ishani mengangguk kecil. “Hati-hati.”
Saat berjalan menuju mobil, Bimo masih tidak bisa menahan satu pikiran yang berputar di kepalanya. Selama bertahun-tahun bekerja dengan Langit, ia hampir tidak pernah melihat pria itu benar-benar tertarik pada seseorang.
Namun melihat cara Langit menoleh sebentar ke arah Ishani sebelum keluar rumah, Bimo mulai berpikir mungkin ia selama ini salah menilai. Mungkin saja Langit memang tidak pernah terlihat jatuh cinta sebelumnya.
Sampai sekarang.
🥀🥀🥀🥀🥀
Pak Rama menutup map di tangannya dengan pelan. “Kamu sulit sekali dicari.”
Langit duduk dengan tenang di kursi di depan meja besar itu. “Aku tidak menghilang.”
“Kelihatannya begitu.”
Langit tidak menanggapi.
Pak Rama menatapnya tajam. “Kamu jarang masuk kantor.”
“Aku masih bekerja.”
“Dari rumah?”
“Iya.”
“Sejak kapan kamu mulai membuat aturan sendiri?”
Langit menatap lurus ke arah ayahnya. “Aku hanya butuh waktu.”
“Untuk apa?”
Langit tidak menjawab.
Pak Rama menyandarkan punggungnya ke kursi. “Ada hubungannya dengan kematian Biru?”
Nama itu membuat rahang Langit sedikit menegang. “Tidak.”
Pak Rama memperhatikannya dengan tajam. “Kalau tidak, kenapa kamu tiba-tiba menghilang setelah dia meninggal?”
Langit menarik napas pendek. “Aku tidak menghilang,” ulangnya. “Aku hanya sedang menyelesaikan sesuatu.”
“Apa?”
“Masalah pribadi.”
Pak Rama mengerutkan kening. “Sejak kapan kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”
Langit tersenyum tipis. “Itu bukanlah hal baru,” ujarnya dengan nada sedikit ketus.
Pak Rama menatapnya lama. “Kamu bicara seperti orang yang menyimpan amarah.”
Langit tidak menjawab.
Pak Rama mengetukkan jarinya di meja.
“Kamu marah pada Ayah atas sesuatu?”
Langit menatapnya tanpa berkedip. “Ayah masih bertanya?” Ia mengeluarkan tawa dengan nada getir. “Bagaimana bisa seorang Ayah tidak hadir saat anaknya meninggal?”
Hening. Pak Rama tidak bergerak.
Langit melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. “Tidak saat pemakaman. Tidak saat tujuh hari. Tidak bahkan saat empat puluh harinya.”
Pak Rama akhirnya berkata, “Ayah sedang di luar negeri. Perusahaan–”
“Selalu perusahaan,” Langit memotong.
Pak Rama menatapnya tajam. “Kamu tahu itu tanggung jawabku.”
Langit tersenyum tipis lagi. “Ya. Aku tahu.”
Ia berdiri perlahan dari kursinya. “Karena sejak dulu itu selalu yang Ayah pilih.”
Pak Rama ikut berdiri. “Langit Raka Wicaksana.”
Namun Langit sudah meraih kunci mobilnya dari meja. “Aku akan menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan.”
Pak Rama berkata dengan suara lebih keras, “Jangan membuat masalah yang akan mempermalukan keluarga ini.”
Langit berhenti di dekat pintu.
Beberapa detik ia tidak bergerak. Lalu ia berkata tanpa menoleh, “Kalau Ayah benar-benar peduli pada keluarga…” Ia berhenti sejenak. “…seharusnya Ayah datang ketika keluarga Ayah dikuburkan.”
Langit membuka pintu dan keluar.
Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai… Pak Rama tidak punya jawaban.
Ia berdiri di depan jendela kantornya. Matanya menatap halaman parkir di bawah. Ia melihat mobil Langit keluar dari area gedung.
Tatapannya menyipit pelan. Selama puluhan tahun memimpin perusahaan ini, Pak Rama terbiasa membaca orang.
Termasuk anaknya sendiri.
Dan hari ini ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya pada Langit. Sesuatu yang disembunyikan.
Sesuatu yang cukup besar… sampai Langit memilih melawannya.
Pak Rama mengambil ponselnya. Ia menekan satu nomor. “Cari tahu beberapa minggu terakhir Langit sebenarnya sedang mengurus apa,” ujarnya setelah telepon tersambung.
Ia berhenti sejenak. Nada suaranya berubah lebih dingin. “Dan dengan siapa.”
Lalu panggilan itu ditutup.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!