NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 8

Di sekolah, Dira berdiri di belakang panggung aula. Seragamnya rapi, rambutnya diikat lebih serius dari biasanya.Hari ini ia terlihat tidak seperti biasanya–banyak bicara.

Sinta menyenggol lengannya. “Kok kamu diem banget? Biasanya paling ribut.”

Dira mendesah. “Nggak tahu. Aneh aja.”

“Aneh kenapa?”

Dira menatap ke depan tanpa fokus.

“Biasanya jam segini aku udah di kantor Kak Kenzo. Duduk di sofa, bikin ribut…”

“Terus?” tanya Sinta curiga.

Dira mengerutkan kening.

“Terus… ada yang nyebelin tapi kalau nggak ada malah aneh.”

Sinta langsung menyeringai. “Ohhh. Bos dingin itu?”

Dira refleks menepuk bahu temannya. “Sembarangan!”

Tapi pipinya memanas tipis.

Dia menghela napas.

“Aku cuma… kebiasaan aja mungkin.”

" maybe." balas sinta " sudah ayo semangat biar menang " menarik lengan dira menuju panggung

Tapi waktu dirinya naik ke panggung, pikirannya tetap melayang sebentar—ke gedung tinggi, koridor sunyi, dan seseorang yang selalu berdiri tenang sambil bilang, kamu berisik.

***

Sore itu, hujan turun lagi.

Elvan berdiri di dekat jendela besar kantornya. Tangannya memegang cangkir kopi hitam, tapi sudah dingin.

Ketukan kecil terdengar di pintu.

“Masuk,” ucapnya.

Kenzo masuk. “Saya pamit dulu, laporan sudah saya kirim.”

Elvan mengangguk. Lalu, tanpa melihat, bertanya,

“Dira… lombanya bagaimana?”

Kenzo tersenyum kecil. “Menang. Dia paling ribut di timnya.”

Sudut bibir Elvan terangkat tipis.

“Bagus.”

Kenzo memperhatikan sebentar.

“Dia mungkin besok ke sini lagi.”

Elvan terdiam satu detik lebih lama dari biasanya.

“Baik.”

Setelah Kenzo keluar, ruangan kembali sunyi.

Elvan baru sadar satu hal sederhana:

Ia sudah terbiasa dengan suara itu.

Dan kebiasaan yang terasa kecil… kadang justru yang paling sulit diabaikan.

***

Sore itu Dira datang lagi ke kantor pusat Bagaskara Group seperti biasa. Tasnya digendong satu bahu, rambut sedikit berantakan habis lomba debat.

Begitu pintu lift terbuka…

Elvan sudah berdiri di depan.

Biasanya Dira bakal langsung nyeletuk.

Hari ini… dia cuma diam dua detik terlalu lama.

“El—”

Dia berhenti.

“Om.”

Elvan menatapnya. “Lombanya menang?”

Dira kaget. “Kok tahu?”

“Kenzo bilang.”

“Oh.”

Hening.

Biasanya dia bakal bilang sesuatu konyol. Tapi hari itu, kata-katanya seperti antre dan nggak mau keluar duluan.

Elvan memecah sunyi.

“Kamu tidak ribut hari ini.”

Dira refleks membela diri. “Aku bisa kok nggak ribut.”

“Hmm.”

Itu cuma satu gumaman pendek. Tapi entah kenapa bikin Dira makin canggung.

Dan dari ujung lorong, Albian melihat semuanya. Ya tadi saat dira selesai lomba ia sengaja mengikuti dira pergi.

Dia bersandar di dinding, tangan di saku. Ekspresinya santai seperti biasa, tapi matanya mengamati.

Menilai.

***

Sore itu suasana kantor agak tegang. Ada kabar soal proyek besar yang tertunda karena dokumen legal belum lengkap.

Dira duduk di sofa, pura-pura main HP. Tapi telinganya menangkap percakapan beberapa staf.

“Kalau dokumen itu bocor, bisa jadi masalah besar.”

“Pak Elvan sudah marah tadi.”

Dira langsung menoleh. Marah?

Dia jarang melihat Elvan benar-benar kehilangan kendali.

Tak lama kemudian, Elvan keluar dari ruang rapat. Wajahnya lebih serius dari biasanya. Kenzo menyusul dengan ekspresi khawatir.

Tanpa sadar, Dira berdiri.

“Om … semuanya oke?”

Kenzo ingin menyuruhnya diam, tapi Elvan lebih dulu menjawab.

“Masalah pekerjaan. Tidak perlu kamu pikirkan.”

Tapi justru itu yang bikin Dira makin kepikiran.

Albian melangkah mendekat. “Masalah besar ya?”

Elvan menatapnya singkat. “Masih bisa ditangani.”

Albian menyeringai tipis. “Kalau butuh orang buat ngawasin arsip atau bantu digitalisasi, aku bisa.”

Kenzo menoleh. “Kamu?”

“Aku nggak cuma dingin doang,” jawab Albian santai.

Elvan memperhatikan beberapa detik.

“Besok datang. Kita lihat.”

Dira melongo. “Loh, dia direkrut? Aku nggak?”

Albian terkekeh. “Kamu bagian hiburan kantor.”

Dira mendengus. “Enak aja.”

Tapi di dalam hati, ada perasaan aneh.

Albian masuk ke dunia kantor Elvan dengan cara yang lebih… cocok. Lebih tenang. Lebih dewasa. Padahal albian juga masih sekolah sama seperti dirinya

Masih gadis SMA yang ribut di sofa.

***

Beberapa hari kemudian, Albian mulai sering terlihat di kantor membantu bagian arsip digital. Dia cepat belajar. Cara bicaranya tenang. Cocok dengan ritme kerja kantor.

Dira memperhatikan dari jauh.

Suatu sore, dia melihat Elvan dan Albian berdiskusi serius di depan layar laptop. Keduanya berdiri berdampingan. Atmosfernya selaras.

Dada Dira terasa sedikit tidak nyaman.

Kenzo menyadarinya. “Kamu kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kamu cemberut.”

Dira mengalihkan pandangannya. “Enggak.”

Kenzo tersenyum tipis. “Albian memang cocok di sini.”

“Iya. Bagus buat dia,” jawab Dira cepat.

Di sisi lain ruangan, Elvan tanpa sadar melirik ke arah sofa.

Kosong.

Dira sudah pindah duduk lebih jauh.

Entah kenapa, itu terasa lebih mengganggu daripada laporan yang belum selesai.

***

Sore itu di kantor Bagaskara Group suasana relatif tenang. Dira seperti biasa duduk di sofa ruang kerja Elvan, kakinya selonjor, tas SMA masih di sampingnya.

“El, aku lapar.”

“El?”

Elvan mengangkat alis.

Dira cepat membetulkan. “Om Elvan.”

Albian yang duduk di meja samping hanya melirik sebentar. Lalu tanpa suara, dia berdiri dan keluar ruangan.

Lima belas menit kemudian dia kembali.

Bukan dengan banyak bicara.

Tapi dengan sekotak roti dan minuman dingin yang ia letakkan di meja depan Dira.

“Buat kamu.”

Dira blink dua kali. “Loh?”

“Kamu tadi bilang lapar.”

Sesederhana itu.

Tidak ada nada menggoda. Tidak ada senyum lebar. Hanya suara datar khas Albian.

Dira tersenyum lebar. “Makasih, Bi!”

Elvan yang sejak tadi mengetik… berhenti.

Pelan.

Matanya berpindah dari layar laptop ke arah mereka.

“Sejak kapan kamu jadi kurir?” tanyanya dingin.

Albian duduk kembali. “Sejak ada yang kelaparan.”

Dira tertawa kecil. “Dia lebih peka dari pada—”

Kalimatnya terhenti saat melihat ekspresi Elvan.

Hening mendadak terasa lebih berat dari biasanya.

Tak lama kemudian, Dira langsung memakan makanan yang dibelikan albian .Tak lama selesai makan .Dia duduk di kursi dekat jendela, tertidur karena semalaman mengerjakan tugas. Dan latihan lomba siang tadi.

Albian yang pertama melihatnya.

Dia tidak membangunkan.

Hanya melepas jaketnya dan menyelimutkan ke bahu Dira pelan.

Tanpa suara.

Tanpa ingin diketahui.

Sayangnya… Elvan melihat semuanya dari balik pintu kaca ruangannya.

Tangannya yang memegang berkas sedikit mengencang.

“Dia bukan tanggung jawabmu,” suara Elvan terdengar tiba-tiba.

Albian menoleh tenang. “Aku tahu.”

“Jangan terlalu ikut campur.”

Albian berdiri tegak. “Aku tidak ikut campur. Aku hanya peduli.”

Kata itu.

Peduli.

Untuk pertama kalinya, ekspresi Elvan berubah.

“Peduli dalam kapasitas apa?” tanyanya lebih rendah.

Albian diam beberapa detik.

“Sebagai seseorang yang tidak ingin melihat dia sendirian.”

Kalimat itu sederhana. Tapi maknanya berat.

Dan Elvan… tidak punya jawaban cepat untuk itu.

Waktu berjalan dengan cepat .

Sore itu Dira bangun dan sadar ia memakai jaket Albian.

“Eh? Ini punya kamu?”

Albian mengangguk kecil.

Dira tersenyum hangat. “Kamu baik banget sih.”

Elvan yang mendengar dari meja kerjanya menutup laptopnya agak keras.

“Kalau sudah bangun, pulang.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Dira mengernyit. “Loh, aku ganggu ya om ?”

“Tidak.”

“Tapi mukanya om kayak kesel.”

Elvan berdiri. “Saya tidak punya alasan untuk kesal.”

Albian hanya mengamati. Dia tahu.

Rasa itu sudah muncul.

Dan itu bukan rasa biasa.

Saat Dira keluar ruangan bersama Kenzo, Albian berhenti sebentar di depan Elvan.

“Kalau kakak memang peduli, jangan cuma melarang,” katanya pelan.

Elvan menatapnya tajam. “Kamu menantang saya?”

Albian menggeleng. “Tidak. Aku hanya jujur.”

Setelah Albian pergi, ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya.

Elvan berdiri di dekat jendela, menatap ke bawah tempat mobil Kenzo parkir.

Dira tertawa di sana. Dengan Albian.

Dada Elvan terasa sesak.

Dan untuk pertama kalinya…

CEO dingin itu mengakui dalam hati—

Dia cemburu.

Bersambung.........

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!