Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua orang yang beradu
Guru besar San berbicara lembut seperti bagaimana seorang ibu mengajarkan anaknya membaca. Dengan itu kelembutan mengalir ketika pelajaran berlangsung. Beberapa murid mengangkat tangannya dengan sopan dan mengajukan pertanyaan yang tidak dimengertinya. Guru San akan menjawab seadanya dan ia bahkan berkata ragu-ragu jika itu memang tidak diketahuinya. Dengannya, semua muridnya semakin menghormatinya.
Sebagai guru besar dan seperti yang para murid-muridnya bayangkan, bahkan para peri pun kesulitan mengetahui seluruh isi dunia, bagaimana mungkin seorang guru fana seperti Guru agung San bisa tahu banyak? Namun barangkali seperti itu, karena kekurangannya membuat para murid terdiam dan mengajaknya berdiskusi.
Tidak ada lagi perdebatan dan orang-orang yang menyerang tuan putri kepala desa tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka tidak membencinya, hanya mengujinya. Apakah gadis itu benar-benar lemah dan mudah di hancurkan. Kemudian setelah melihat gestur dan bagaimana ia menjawab, itu telah membuat kesimpulan di masing-masing orang.
Meskipun serangan kata-kata itu tidak membuatnya terluka, tetapi ada kekuatan kata-kata yang dapat membuat kepercayaan di hati semua orang, dan dapat digunakan untuk menghancurkan dalam sekali serangan. Itulah mengapa seorang kaisar dan para peri sering di takuti. Mereka tidak hanya kuat, tapi juga memiliki banyak kepercayaan.
Sementara itu tuan putri Chi Yan duduk, berdiri tegap dan tidak menyadarkan kepalanya pada tangan di atas meja. Ia selalu tegap dan diam, mendengarkan setiap kata-kata yang keluar dari Guru San. Kedua tangannya di letakkan di pangkuannya dan tidak bergerak. Ia sepertinya tenggelam dalam dunianya sendiri.
Sementara gadis lain beberapa merasa bosan dan kaki mereka mulai kesemutan untuk berpindah posisi. Tetapi tidak sopan dilakukan ketika guru San berbicara. Karenanya beberapa menghela nafas dan menahannya dengan ekspresi yang cukup rumit di wajahnya. Beberapa juga menulis untuk menghilangkan rasa sakit.
Kebanyakkan putri-putri bangsawan ini hidup dalam kemewahan dan karenanya mereka seperti seorang putri yang harus di layani. Karenanya mereka sering tidak suka belajar seperti ini. Tapi mereka selalu mengerti mengapa harus belajar.
Ketika matahari telah bergerak ke atas dan awan-awan hujan telah pergi, guru San menghentikan pelajarannya dan semua murid menghela nafas lalu segera berdiri untuk berterima kasih.
Guru San merasa senang dan ada kebanggaan di wajahnya. Ia lalu memperhatikan Chi Yan kemudian memiliki beberapa pertanyaan dan berdiri, menutup pelajaran lalu segara pergi. Ia sepertinya mulai membayangkan aktivitas indah yang dapat dilakukannya setelah mengajar.
Para murid segera pergi. Beberapa mendengus tidak suka pada Chi Yan karena perdebatan tadi.
Dan Chi Yan sendiri memasukkan seluruh alat tulisnya dalam tas kecil anyaman bambu. Sebelum pergi ia mengusap meja dan merapikan lantai tempat duduknya. Ia yang paling akhir keluar dan sedikit melihat langit yang cerah. Kedua pupilnya terlihat sedikit malas.
Berjalan pelan kira-kira tiga puluh langkah, akhirnya ia berhenti di bawah pohon bunga persik.
Ini musim semi dan keindahan bunga-bunga itu selalu menarik, bahkan yang sudah berguguran.
Ia lalu diam sebentar dan tidak lama dengan tenang berkata, “Anak muda yang ada di atas, mengapa harus bersembunyi seperti itu?”
Ia lalu sedikit mendingan dan kedua tangannya memegang tas anyaman bambu di atas perutnya.
Ekspresinya terlihat tenang dan ketika melihat seseorang di atas, tidak ada keheranan dan kebingungan di wajahnya.
****
Chen Li sedikit terkejut namun segera ia melompat. Dan ketika mendarat di tanah langsung bertanya penasaran, “bagaimana kamu tahu?”
Mereka saling berhadapan antara tatapan dingin dan tenang seperti antara danau tanpa angin dan sebongkah gunung es yang memancarkan kedinginan.
Kedua saling menatap sebentar.
Dan Chi Yan berkata, “Tidak ada gerakan aneh yang bisa dilakukan oleh angin. Kamu setiap Minggu datang dan mendengarkan pembelajaran guru San. Aku selalu tahu hari kamu datang dan apa yang kamu lakukan. Bahkan, guru San tahu apa yang kamu lakukan juga. Namun hari ini beliau tidak menyadari kehadiranmu. Tetapi aku tidak bisa dengan mudah di tipu olehmu. Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli entah kamu datang atau tidak, tetapi karena kamu memiliki maksud lain kepadaku, aku tidak bisa diam dengan itu. Katakan apa tujuanmu? Bahkan jika kamu mengatakannya dengan jujur, aku masih tidak bisa melakukan apa-apa.”
Chen Li merasa tertarik lalu berkata samar-samar seperti menawarkan bantuan, “Aku tahu apa yang kamu alami.”
“Semua orang juga tahu itu. Aku rasa menjadi calon selir itu tidak buruk. Dan jika nanti gagal juga tidak buruk. Orang terpelajar seharusnya tahu bagaimana bentuk bulat dunia. Kamu ingin menawarkan bantuan untuk meredam kecurigaanku. Sayang sekali, aku suka mengamati sejak kecil dan telah membentuk kepribadianku.”
“Aku tidak menawarkan bantuan dan hanya ingin bertanya, apa kamu tidak menyesal jika nanti menjadi selir yang terikat dan seorang wanita yang dijadikan pelampiasan nafsu? Mungkin kamu akan baik-baik saja menjadi permaisuri dan selir yang di hargai. Tetapi bagiku tidak banyak gadis yang mau di jadikan mainan dan terikat seumur hidup. Kamu bukan orang yang suka romantis. Juga tidak mudah jatuh cinta. Kamu hanya seorang gadis yang menghargai ketenangan dan kebahagiaan hidup. Di istana, kamu tidak akan menemukan itu.”
Ada hening. Chen Li penasaran. Namun Chi Yan tidak seperti sedang berpikir dan seperti tahu apa yang dikatakan Chen Li. Ia lalu menjawab dua kata, “Aku tahu.”
Dengan itu ia pergi dan tidak berbalik lagi.
*****
Jalan desa jadi becek. Para gadis akan berjalan hati-hati, takut jika pakaian mereka kotor.
Namun karena matahari akhirnya muncul di siang harinya, segera rasa kesal itu berangsur-angsur mereda.
Ada banyak orang yang sibuk di jalanan. Beberapa di antara mereka berjalan, mendorong gerobak, bahkan ada juga para putri dan putra bangsawan yang diam di kereta kuda mereka, menyaksikan apa yang terjadi di luar.
Chen Li berjalan pulang, melihat kesibukan itu lalu melangkah ke gang sepi dan akhirnya tiba di pemukiman sepi di mana tempat tinggalnya berada.
Udaranya langsung lembab. Lumut-lumut tumbuh di antara tembok jalan. Daun-daun kering berjatuhan dan tertiup angin.
Ketika ia telah tiba dan sebentar lagi mencapai rumahnya, jauh di sana, di samping rumah Yun Xiao, seorang pria berjubah hitam diam dengan tatapan dingin dan rambut hitam panjang.
Tubuhnya tegak dan memegang pedang dalam dadanya. Ia berkata tenang, “Anggota pembunuh muda, nomor 20, seorang anak muda dengan julukan pedang absolut.”
Chen Li sedikit tersenyum. Sepertinya apa yang dilakukannya dengan cepat tercium. Ia lalu berkata ringan, “Apa benar-benar layak mengirim ahli pedang untuk menangkapku?”
Ia ingin menghibur namun pria itu hanya berkata ya, tidak tertarik dengan ucapan Chen Li
Dengan itu, angin berhembus di antara pakaian mereka dan menerbangkannya. Suasana menjadi dingin dan menegangkan.
Pria itu mengambil ancang-ancang lalu melesat ke depan. Qi di tubuhnya meledak dan angin kencang berhembus.
Ketika tiba di depan Chen Li, ia mengayunkan pedangnya. Tetapi di udara segara melepaskannya. Mundur dan mengayunkan kakinya, menyebabkan pedangnya berputar-putar ke depan dengan kecepatan tinggi dan membawa Qi hijau.
Chen Li menghentakkan kakinya. Segera tanah retak, pedang dengan sarung muncul dan berputar-putar untuk memblokirnya.
Dua suara pedang berdengung di saat bersamaan Chen Li dan pria itu mundur.
Pedang mereka yang beradu melesat kembali ke tangan masing-masing. Pria itu segera meletakkannya di depan dada dan menatap Chen Li dingin, sementara pemuda itu sedikit tersenyum dan melihat tangannya yang sedikit bergetar memegang pedang.
Mereka belum menarik pedangnya dan keduanya masih dalam sarung masing-masing. Tetapi segera daun-daun yang berserakan tercabik-cabik menjadi ribuan keping seperti terkena beberapa kali tebasan pedang yang sangat tajam.
Baik Chen Li ataupun Pria itu kemudian mengeluarkan Qi dari tubuhnya dan segera dua Qi warna kuning dan hitam saling beradu seperti dua dunia yang berbeda yang saling mendominasi.
Tatapan keduanya tajam dan dingin.
Pria itu mendengus dan Chen Li sedikit menggerakkan bibirnya.
Lalu pria itu berkata, “Membunuh atau di bunuh, keduanya memiliki perbedaan yang besar.”
“Siapa yang mengajarkanmu berkata aneh seperti itu?” tanya Chen Li. Ia menarik pedangnya dan suara mendesing muncul. Bilah pedang itu di ukur dengan gambar naga yang meraun dengan tiga kepala. Cahaya matahari siang bersinar dan membuatnya sangat berkilauan.
Pria itu menatap bilah pedang itu, berpikir sebentar lalu berkomentar, “Seperti namanya, pedang absolut.”
“Aku tidak suka berbohong atau mengada-ada. Karena itu...”
Suara pedang tiba-tiba bergema dan mendesing. Pedang Chen Li bergetar lalu ekspresinya menjadi serius. Kerutan-kerutannya di wajahnya mulai muncul membuatnya terlihat mengerikan. Energi kematian menyebar dan aura hitam menyelimuti segala arah.
Mata pria itu sedikit menyipit dan menggenggam pedangnya lebih erat.
Chen Li tiba-tiba mengayunkan pedangnya dan tubuhnya terdorong mundur.
Satu ayunan.
Dua ayunan.
Tiga ayunan.
Tiga bilah pedang melesat dan tiba-tiba berubah menjadi tiga naga hitam yang meraung melesat ke arah pria itu.
Sementara Pria itu mendengus. Mengambil ancang-ancang. Ia segera menarik pedangnya dan dalam bilah itu ada gambar pohon besar yang sepertinya di cetak lebih dalam sehingga dapat terlihat dengan mudah seolah-olah itu memang di sengaja.
Segera aura hijau menyebar dan pria itu mengayunkan pedangnya.
Ledakan besar!!