persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Tentang Kantin yang Terlalu Sempit
Senin selalu menjadi hari yang penuh penghakiman, tapi Senin kali ini rasanya seperti pengadilan terbuka. Saya berjalan menuju kantin dengan siku yang masih sedikit kaku, namun hati saya sudah mulai terbiasa dengan ritme baru. Di samping saya ada Bangka, yang sejak tadi tidak berhenti mengoceh tentang betapa "gentle" saya karena berani menabrak Arkan di lapangan basket kemarin.
"Lo tahu gak, Mi? Anak-anak kelas sebelah bilang lo itu pemberontak tanpa alasan. Tapi menurut gue, lo itu cuma cowok yang lagi bosen jadi baik," kata Bangka sambil menarik kursi kayu di pojok kantin.
Saya tidak menjawab. Mata saya tertuju pada meja tengah. Di sana, Arkan sedang duduk bersama tim madingnya. Ada Kayla juga. Di depan mereka berserakan kertas desain dan sebuah maket kecil. Mereka terlihat sangat sibuk, sangat penting, dan sangat... jauh.
"Bumi, mau pesen apa?" tanya Senja yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja kami. Dia membawa dua bungkus kerupuk putih, satu untuknya dan satu lagi dia letakkan di depan saya.
"Es teh manis saja, Senja. Yang gulanya banyak, biar pahitnya hari ini bisa sedikit tertutupi," jawab saya sambil tersenyum tipis.
Senja mengangguk dan berjalan menuju stan minuman. Saat itulah, Arkan berdiri. Dia membawa sebuah gulungan kertas besar dan berjalan lurus menuju meja kami. Kayla mengikuti di belakangnya dengan wajah yang tampak gelisah.
"Bumi, ini barang kamu yang tertinggal di ruang mading kemarin dulu. Saya rasa kamu tidak butuh ini lagi, kan?" Arkan meletakkan sebuah kotak sepatu tua di atas meja.
Saya membuka kotak itu. Isinya adalah kumpulan coretan tangan saya, potongan puisi yang belum selesai, dan sebuah miniatur kamera dari kardus yang pernah saya buatkan untuk Kayla saat dia ulang tahun ke-15. Barang-barang itu terlihat berdebu, seperti kenangan yang sengaja dibuang ke gudang.
"Kenapa kamu yang bawa ini, Kan? Ini barang saya dan Kayla," kata saya, suara saya mulai berat.
"Kayla sudah tidak punya ruang untuk barang-barang yang tidak fungsional, Bumi. Kami butuh ruang itu untuk menyimpan perlengkapan mading yang lebih berguna," Arkan bicara dengan nada yang sangat datar, seolah dia sedang membacakan laporan keuangan.
Saya menoleh ke arah Kayla. "Ini beneran mau kamu buang, Kay? Ini miniatur kamera yang kita bikin hujan-hujanan di teras rumah kamu, ingat?"
Kayla tidak berani menatap mata saya. "Bumi, itu kan cuma kardus. Lagian sekarang aku sudah punya kamera beneran pemberian Ayah. Buat apa simpan barang yang cuma menuh-menuhin tempat?"
Hati saya rasanya seperti disengat lebah di ribuan tempat sekaligus. Bukan karena miniatur kardus itu, tapi karena cara Kayla meremehkan sejarah kami hanya untuk menyenangkan hati Arkan.
Arkan tersenyum sinis. Dia kemudian mengambil miniatur kamera kardus itu dari kotak. "Lagian, kualitasnya juga buruk. Lemnya sudah lepas semua. Sama seperti hubungan kalian yang sudah kedaluwarsa."
Dengan gerakan yang seolah-olah tidak sengaja, Arkan melepaskan miniatur itu ke lantai. *Krak.* Miniatur itu terinjak oleh sepatunya yang mengkilap.
Kantin yang tadinya berisik mendadak sunyi. Bangka sudah berdiri, tangannya mengepal. Senja yang baru kembali membawa minuman, terpaku melihat miniatur itu hancur di bawah sepatu Arkan.
"Sengaja ya?" tanya saya, berdiri perlahan.
"Oh, sori. Saya tidak lihat. Lantainya terlalu kotor dengan barang tidak berguna," jawab Arkan, matanya menantang saya.
Saya tidak memukulnya. Saya hanya mengambil gelas es teh yang baru diletakkan Senja, lalu menyiramkan isinya tepat di atas sepatu mahal Arkan.
"Sori, Kan. Saya tidak lihat. Sepatumu terlalu mengkilap sampai menyilaukan mata saya," kata saya dengan nada yang sangat tenang.
Arkan berteriak marah, dia mendorong bahu saya. Kayla memekik ketakutan. Saat itulah, sebuah gelas di meja sebelah tersenggol dan jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Suaranya memekakkan telinga, persis seperti perasaan saya yang saat ini sedang berada di titik didih.
"Cukup, Arkan! Cukup, Bumi!" teriak Kayla sambil menangis.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa ada saatnya kita berhenti menjadi tempat berpijak yang sabar. Saat seseorang dengan sengaja menginjak sejarahmu, maka kamu punya hak untuk mengguncang dunianya.
saya yang berbalik pergi meninggalkan keramaian kantun, tidak peduli pada teriakan Arkan atau tangisan Kayla. Saya hanya ingin pergi ke tempat di mana debu-debu tidak akan diinjak oleh sepatu orang yang merasa dirinya paling berkuasa.