NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Ku

...****************...

Aku berangkat kerja lebih awal pagi itu.

Tanpa menjemputnya.

Tanpa pesan.

Tanpa kabar.

Ponselku bergetar saat aku sudah hampir sampai kantor.

> “Sayang… kamu udah jalan? kok aku nggak dijemput?”

Ku baca. Tidak ku balas.

Untuk pertama kalinya, aku menikmati diam ku sendiri.

Tiga puluh menit kemudian, Linda datang.

Ia masuk ruangan seperti biasa. Wajahnya santai. Rambutnya rapi. Seolah tidak ada apa-apa.

Dadaku kembali panas. Sejak kemarin sore aku menahan ini. Menahan gambar yang terus berputar di kepala.

Balkon.

Tawa.

Cium pipi.

Ciuman mesra.

Pintu kamar tertutup.

Mataku terasa perih. Kurang tidur atau terlalu marah, aku tak tahu.

Aku berdiri.

“Kamu.”

Suaraku datar. Terlalu datar.

Ia menoleh. “Kenapa?”

Aku melangkah mendekat. Tatapanku tajam, tanpa berkedip.

“Kamu sudah puas permainkan aku?!!”

Linda mengernyit. “Apa sih, Ka?”

“Jawab!!”

Nadaku meninggi. Tanganku mengepal di samping tubuh.

“Sayang, kamu kenapa sih?” tanyanya pelan, mencoba mendekat.

Aku menyeringai. Bukan senyum.

Itu senyum orang yang sedang menahan ledakan.

“Pura-pura?”

“Apa yang kamu omongin?”

“Kemarin sore,” suaraku turun, tapi justru lebih berbahaya, “siapa laki-laki yang datang ke rumah kamu?”

Wajahnya berubah sepersekian detik. Sangat cepat. Tapi aku melihatnya.

“Apa maksud kamu?” katanya mencoba tenang.

“Aku lihat semuanya.”

Sunyi.

“Mobil. Balkon. Kamu cium pipinya.Kamu berciuman ,Kamu masuk kamar sama dia.”

Ruang kerja terasa makin sempit.

Linda menghela napas panjang. Bukan panik.

Lebih ke… kesal.

“Oh. Jadi kamu menguntit aku?”

Pertanyaan itu seperti menyiram bensin ke api.

“JANGAN BALIKIN OMONGAN!” bentak ku.

“Itu temen aku,” jawabnya cepat. “Temen lama.”

“Temen lama sampai masuk kamar?”

“Itu urusan aku.”

Kalimat itu.

Itu urusan aku.

Dadaku seperti dihantam palu.

“Urusan kamu?” ulang ku pelan.

“Iya ini urusanku.. Aku ga pernah bilang sama kamu hubungan kita serius kan?"

Aku terdiam.

“Kamu kemarin nggak jemput aku. Kamu dingin. Kamu yang berubah duluan,” katanya lagi.

Ada benarnya.

Tapi bukan itu intinya.

“Kalau memang kamu nggak pernah serius,” suaraku kini lebih rendah, lebih berat, “kenapa kamu masih panggil aku sayang?”

Linda menatapku lurus.

“Karena aku nyaman. Tapi bukan berarti aku mau terikat.”

Nyaman.

Kata yang dulu membuatku merasa dipilih.

Kini terasa seperti jebakan.

Aku mundur selangkah.

Semua amarah tadi tiba-tiba berubah menjadi satu hal yang lebih sunyi.

Sadar.

Aku bukan satu-satunya. Dan mungkin memang tidak pernah jadi satu-satunya.

“Jadi?” tanyanya dingin. “Mau gimana sekarang?”

Pertanyaan yang sama. Nada yang sama seperti waktu ia menolak menikah.

Aku menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya, bukan marah yang mendominasi. Tapi kecewa yang benar-benar matang.

“Kita selesai, Lin.”

Ruangan terasa hening.

“Mulai hari ini… kamu bukan siapa-siapa lagi buat aku.”

“Oke. Nggak apa-apa,” Suaranya datar.

“Aku tahu kok ini akan terjadi. Kamu minta nikah tapi aku nggak bisa. Daripada kamu nungguin aku dan berharap lebih… lebih baik kita selesaikan hari ini.”

Aku tertawa kecil.

Tawa yang pahit.

.

“Kamu senang selesai dengan cara seperti ini?”

“Apa lagi yang kamu mau, Ka?”

“Kamu selingkuh,” kata ku tegas. “Aku lihat semuanya langsung. Kamu tahu nggak? apa perasaanku waktu itu?”

“Aku nggak pernah janji mau jadi istri kamu,” jawabnya tajam. “Kita pacaran, iya. Tapi kamu juga tahu dari awal aku nggak mau menikah.”

“Itu bukan alasan kamu bawa laki-laki lain ke kamar kamu!”

“Itu temen aku!” bentaknya pelan,

“Temen yang kamu cium?” suaraku bergetar. “Temen yang kamu ajak masuk kamar?”

Linda terdiam. Beberapa detik yang terasa panjang.

“Aku serius sama kamu,” kataku lebih pelan sekarang.

"Dan kamu main-main?”

“Itu sakit, Lin.”

Matanya melembut sedikit.

“Aku nggak pernah minta kamu serius sama aku, Ka,” ucapnya lirih. “Kamu yang memaksakan masa depan ke aku. Aku cuma jalanin hari ini.”

Aku menggeleng pelan.

“Hubungan itu bukan cuma hari ini.”

“Buat aku, iya.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi cukup untuk menghancurkan semua yang kupikir selama tujuh bulan.

Aku menarik napas panjang.

Linda menunduk.

“Aku nyaman sama kamu,” katanya pelan. “Tapi aku nggak mau hidup yang kamu mau.”

Aku tersenyum tipis. Akhirnya jelas.

“Aku butuh pasangan. Bukan tempat nyaman sementara.”

Sunyi.

Linda menatapku dengan mata yang mulai memerah.

“Aku udah bilang kan?” suaranya bergetar, tapi bukan karena takut.

“Aku terlanjur rusak. Jadi rusak sekalian!”

Kalimat itu seperti tamparan.

“Rusak?” ulangku pelan, tak percaya.

“Kamu bangga bilang begitu?”

“Kamu juga sama aja kayak laki-laki lain!” balasnya, kini lebih emosional.

“Sering menghilang. Sering menjauh. Datang cuma kalau kamu mau!”

Aku menggeleng keras.

“Aku menjauh karena kecewa!” suaraku meninggi.

“Kamu harusnya berubah! Kamu harusnya bersyukur aku bisa menerima kamu apa adanya!”

Dadaku naik turun.

“Tapi balasannya apa?” lanjutku dengan mata terbelalak tajam.

“Kamu malah selingkuh, Lin! Selingkuh!!”

Ruang live terasa makin sempit.

“Aku nggak selingkuh!” bentaknya.

“Aku lihat kamu ciuman!”

“Itu bukan hubungan!” jawabnya cepat. “Itu cuma—”

“Cuma apa? Pelarian? Hiburan?” potongku.

Linda menutup wajahnya sebentar, lalu menatapku lagi. Kali ini bukan marah, tapi seperti seseorang yang sudah lelah disalahkan.

“Kamu tahu nggak kenapa aku bilang aku rusak?” katanya pelan.

“Karena dari dulu semua orang selalu ingin aku berubah. Selalu ingin aku jadi versi yang mereka mau.”

“Aku nggak minta kamu jadi orang lain!” balasku.

“Aku cuma minta kamu setia!”

“Kamu minta aku jadi istri!” suaranya meninggi lagi.

“Kamu minta masa depan! Kamu minta aku berhenti jadi aku!”

“Aku minta komitmen!” kataku tegas.

“Kalau kamu nggak mau komitmen, jangan pakai kata sayang!”

Sunyi.

Kata itu menggantung lama.

Linda menelan ludah.

“Aku nggak pernah janji akan jadi perempuan baik-baik buat kamu,” ucapnya lirih.

“Aku cuma mau dicintai tanpa dituntut.”

Aku tertawa kecil, pahit.

“Cinta tanpa tanggung jawab itu egois, Lin.”

Matanya berkaca-kaca sekarang. Bukan karena kalah. Tapi karena akhirnya semuanya terbuka.

“Kamu tahu kenapa aku bilang aku rusak?” lanjutnya.

“Karena aku nggak percaya lagi sama pernikahan. Aku nggak percaya lagi sama janji. Semua janji ujungnya nyakitin.”

Aku terdiam sesaat.

“Dan kamu pikir dengan menyakiti aku duluan itu bikin kamu aman?” tanyaku pelan.

Linda tertawa kecil. Bukan karena lucu.

Tapi karena getir.

“Aku nggak percaya pernikahan,” katanya pelan, suaranya mulai serak.

“Buktinya orang tuaku bersama… tapi apa? Mereka saling berkhianat.”

Aku terdiam.

“Mereka tinggal satu rumah, tapi nggak pernah benar-benar bersama,” lanjutnya.

“Ayahku selingkuh. Ibuku pura-pura nggak tahu. Tiap malam mereka bertengkar. Tiap pagi mereka pura-pura baik-baik saja.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Terus untuk apa pernikahan itu?” tanyanya lirih.

“Buat apa janji seumur hidup kalau akhirnya cuma saling menyakiti?”

Ruang live terasa berbeda sekarang. Bukan lagi panas karena marah. Tapi berat karena luka.

“Kamu pikir aku nggak mau bahagia?” katanya lagi.

“Aku cuma nggak mau terjebak. Aku nggak mau bangun tiap pagi dan merasa salah pilih orang.”

Aku menarik napas panjang.

“Dan menurut kamu… dengan nggak percaya apa-apa, kamu jadi aman?” tanyaku pelan.

“Aku jadi nggak berharap,” jawabnya cepat.

“Kalau nggak berharap, nggak akan terlalu sakit.”

Aku menggeleng.

“Itu bukan melindungi diri, Lin. Itu lari.”

Ia menatapku tajam lagi.

“Kamu gampang ngomong. Kamu nggak tumbuh di rumah yang retak.”

Aku terdiam sesaat. Mungkin benar. Aku tidak hidup dalam keluarganya. Aku tidak melihat apa yang ia lihat.

“Tapi aku tumbuh dengan orang tua yang bertahan,” jawabku tenang.

“Mereka juga pasti punya masalah. Tapi mereka pilih tetap setia.”

“Itu keberuntungan,” potongnya.

“Itu pilihan,” balasku.

Sunyi.

Linda menyeka sudut matanya dengan cepat, seolah tak ingin terlihat rapuh.

“Aku takut,” katanya akhirnya, sangat pelan.

“Aku takut kalau aku menikah… aku yang bakal jadi ibuku. Dikhianati. Atau lebih parah… aku yang mengkhianati.”

Aku menatapnya lama.

“Dan kemarin?” tanyaku pelan.

“Kamu sudah mulai jadi apa yang kamu takuti.”

Kalimat itu membuatnya membeku.

Matanya turun. Nafasnya berat.

“Kamu bilang kamu rusak,” kataku lebih lembut.

“Tapi aku nggak pernah lihat kamu rusak. Aku cuma lihat perempuan yang takut.”

Air matanya akhirnya jatuh.

“Aku nggak tahu caranya percaya,” bisiknya.

Dan di situ… untuk pertama kalinya aku tidak melihatnya sebagai orang yang mengkhianati ku.

Aku melihatnya sebagai anak kecil yang tumbuh dengan ketakutan dan tak pernah benar-benar sembuh.

Napas kami sama-sama berat.

“Aku nggak menjauh tanpa alasan,” kataku lebih tenang sekarang.

“Aku kecewa waktu kamu nolak serius. Tapi aku tetap tinggal. Aku tetap pilih kamu.”

Suaraku melembut.

“Tapi yang kamu lakukan kemarin… itu bukan karena aku menjauh. Itu karena kamu memang nggak pernah mau milih aku.”

Linda menunduk.

Untuk pertama kalinya, ia tak membela diri.

Dan di momen itu aku sadar pertengkaran ini bukan soal siapa benar siapa salah.

Tapi soal dua orang yang sama-sama terluka…

dan memilih cara yang berbeda untuk bertahan.

“Aku nggak bisa terus begini,” kataku akhirnya.

“Aku nggak bisa mencintai orang yang takut memilih.”

Aku melangkah keluar dari ruang host itu tanpa menoleh lagi. Padahal satu jam lagi kami seharusnya live bersama. Tapi rasanya mustahil

bukan karena marah, melainkan karena dadaku terlalu penuh.

Langkah kakiku terasa berat, tapi aku tahu kalau aku diam… aku akan runtuh di sana.

Aku berhenti di depan pintu, menarik napas panjang, lalu menoleh sekali lagi.

“Kamu jaga diri baik-baik,” kataku akhirnya, suaraku lebih tenang dari yang kurasakan.

“Berubah ke arah yang lebih baik.”

Ia masih berdiri di tempatnya. Bahunya bergetar.

“Aku nggak bisa bimbing kamu lagi,” lanjut ku.

“Kecewaku sudah penuh. Karena aku melihatnya sendiri kemarin. Itu nggak kuat, Lin. Memori itu muter terus di kepalaku.”

Aku menatapnya tajam bukan karena benci,

tapi karena aku harus tegas agar tidak goyah.

“Kita selesai sampai di sini,” kataku pelan tapi pasti.

“Terima kasih untuk semuanya. Dan… maafin aku ya.”

Kata-kata itu seperti pisau yang memutus sesuatu yang sudah lama rapuh.

Linda menunduk. Tangisnya pecah bukan histeris, tapi sunyi dan dalam. Tangis orang yang akhirnya berani membuka lukanya. justru ketika orang yang mendengarnya memilih pergi.

Aku tidak mendekat. Aku tidak memeluknya.

Aku tahu, satu langkah saja ke arahnya, aku akan membatalkan semuanya.

Dan kali ini, aku tidak boleh.

Aku membuka pintu dan keluar. Suara tangisnya tertinggal di belakang, menjadi gema yang mungkin akan lama tinggal di kepalaku.

Di lorong itu, aku berdiri sendirian.

Dadaku sesak, mataku panas,

tapi anehnya ada satu hal yang terasa jelas.

Aku sedih.

Aku kecewa.

Aku terluka.

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

aku jujur pada diriku sendiri.

Dan mungkin,

itulah bentuk keberanian yang paling sulit.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!