Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayyan dan Ide Gilanya
#7
Setelah pembicaraan itu, Mbah Nuning menyendiri di ruang kerjanya.
Harapannya melambung tinggi ketika menikahkan Dio dengan anak dari mantan sopir pribadinya, yaitu almarhum bapaknya Lilis. Dari pak Sumartono, Mbah Nuning mengenal Lilis, sepintas ia tahu bagaimana Lilis, gadis itu pekerja keras, berbanding terbalik dengan Dio yang pemalas, dan hobinya menghamburkan uang.
Setidaknya, bila menikah dengan Lilis, ada penyeimbang dalam hidup Dio, ada harapan bagi pabrik rotinya untuk terus bertahan hingga beberapa generasi berikutnya. Tapi ternyata, Dio tak bisa membedakan mana calon berlian dan mana batu kali yang jika dipoles sekalipun, tak akan pernah bisa berubah menjadi apapun.
Wanita tua itu, menghembuskan nafas berat, 25 tahun yang lalu, ketika almarhum suami Mbah Nuning meninggal, pabrik mengalami gonjang-ganjing, hingga nyaris gulung tikar. Namun, atas kebaikan seseorang yang bersedia menitipkan modal pada Mbah Nuning, serta percaya pada kesungguhan wanita itu. Akhirnya pabrik bisa kembali bergerak maju dan terus berinovasi seperti saat ini.
Bagaimana bila nanti si pemilik modal datang dan meminta keuntungan dari modal yang dulu pernah ia tanamkan? Apakah anak cucunya sudah siap untuk itu? Sementara Mbah Nuning tak pernah memberitahukan hal itu pada Dio dan papanya.
Ditambah lagi, Fatma, menantunya, yang ternyata silau dengan kekayaan. Hingga menolak memiliki menantu gadis desa yang hanya tamatan SMA. Padahal Lilis adalah seorang pekerja keras, dan tak suka bermalas-malasan. Sementara Monica, mungkin mencuci piring makannya sendiri saja tidak pernah.
“Haruskah aku menghubungi Gusman sekarang? Sebagai jaga-jaga bila usiaku tak akan panjang.”
•••
“Kenapa kamu?” tanya Nanang dengan wajah menyeringai, menahan geli.
“Pake nanya lagi, pura-pura, hah?!” pekik Rayyan yang semakin membuat Lilis heran, anehnya Nanang justru semakin cekikikan.
“Tuh, kan, emang sengaja kamu, awas, ya?”
Akhirnya Lilis menyadari ketakutan Rayyan, wanita itu mengambil botol air mineral milik Rayyan kemudian dengan tangan kosong membuang binatang imut berbulu dan berwarna hijau.
Rayyan tercengang, ia menelan ludahnya kasar, bagaimana mungkin wanita bertubuh kurus dan kecil itu bisa menyingkirkan ulat bulu dengan tangan kosong. Sementara dirinya melihat saja sudah merinding sekujur badan.
“Tuh, Lilis saja berani, masa kamu yang badannya lebih gede malah ketakutan,” ejek Nanang.
Diam-diam Lilis tertawa melihat tingkah lucu Rayyan. “Tuh, kamu diketawain Lilis.”
“Heh, kamu jangan ketawa, ya? Orang berjualan makanan itu, harus bisa menjaga kebersihan.”
“Warungku bersih,” balas Lilis, sambil menatap ke sekeliling warung kecilnya.
“Tapi ada ulat bulu, itu namanya belum higienis.”
“Tapi kan, nempelnya di luar kemasan.”
“Tapi, kan, mungkin akan ada pembeli lain yang memiliki phobia seperti ku.”
“Sepertinya belum pernah ada,” jawab Lilis. “Baru teman Mas Nanang saja yang begini.”
Alih-alih minta maaf, Lilis seperti ikut meledek Rayyan.
“Haish! Kamu penjual paling menyebalkan.”
“Kalau tak suka, silahkan beli di tempat lain,” usir Lilis.
Rayyan pun mulai menurunkan satu kakinya, “Di sandalmu, ada ulat!” jerit Nanang, hingga Rayyan kembali mengangkat kakinya dan berdiri lagi di atas kursi.
Tapi ternyata, “Aku hanya bergurau, ternyata ini daun cabai,” cetus Nanang santai. Sementara Rayyan celingukan di bawah, barangkali masih ada si makhluk mungil berwarna hijau berbulu.
Entah itu menurun, atau hanya sugesti saja, tapi ketakutan Rayyan pada ulat bulu, sama seperti papanya, Tuan Gusman. Setiap kali melihat ulat bulu ia jadi merinding dan lari sejauh-jauhnya.
“Jadi tidak, minumnya?”
“Hausku jadi hilang,” gerutu Rayyan cemberut.
Nanang pun menukar botol minuman Rayyan dengan yang baru, tapi sebelum memberikannya pada Rayyan ia meminta tolong pada Lilis, untuk mencucinya bila perlu di sabun hingga bersih. Agar Rayyan tak was-was ketika menyentuh botol tersebut.
“Nih, sudah dicuci bersih dengan sabun, aman.”
Rayyan menerimanya tanpa banyak bicara, mereka duduk di kursi panjang depan warung, menatap hamparan peternakan kambing yang berada di seberang warung Lilis.
“Itu peternakan?”
Nanang menatap lurus ke arah yang ditunjuk oleh jari telunjuk Rayyan. “Iya, tapi sedikit terbengkalai, karena Pak Kepala Desa tak bisa maksimal mengurusnya.”
“Kalau tak. Bisa mengurus, kenapa bikin peternakan?”
“Beberapa bulan lalu, ada yang mengurus, tapi tak lama setelah menikah, pria yang mengurusnya meninggal dalam tidurnya.”
Rayyan mengerutkan kedua alisnya, sedikit aneh, tapi, ya, sudahlah, namanya juga takdir hidup dan mati, semua sudah diatur Sang Maha Pencipta. “Jadi, sekarang?”
Rayyan berdiri dan berjalan menghampiri peternakan berukuran 2 hektar sawah tersebut. Insting pebisnis seperti memanggil Rayyan untuk datang dan mengambil alih peternakan tersebut.
Nanang mengekor di belakang Rayyan, “Pak Kades, kemari sehari dua kali untuk menempatkan pakan, dan juga minum untuk mereka. Ya begitulah, tetap tidak optimal.”
Rayyan melihat ke seluruh penjuru peternakan, tanah yang becek dan kotor. Meskipun wajar, karena tempat ini adalah peternakan.
Tapi yang terlihat di depan Rayyan bukanlah sebuah peternakan yang wajar, melainkan peternakan yang tidak terurus. Kambing yang tersisa 10 ekor itu terlihat kurus kering, serta kulit mereka juga kotor, karena tak ada kandang bersih untuk mereka istirahat.
“Nang, bagaimana kalau aku beli peternakan ini?”
“Buat apa?” tanya Nanang heran. “Kamu di sini cuma beberapa hari, paling lama sebulan. Jadi ngapain beli lahan peternakan?”
Orang kaya memang cara berpikirnya terlalu aneh, itulah Rayyan, padahal beberapa saat lalu, ia masih terobsesi dengan rasa cabai. Kini obsesinya berganti menjadi peternak.
“Untuk menanam cabai.”
“Duh, Ray, udah deh, mending kamu fokus sama pabrik sambalmu saja, daripada repot-repot bertanam cabai.” Siapapun pasti akan mengatakan kalimat seperti yang Nanang ucapkan. Apalagi membeli lahan di desa pasti tak akan produktif, dan nilai ekonomisnya kurang bagi orang kota seperti Rayyan.
“Justru lahan ini akan jadi lahan percontohan rasa cabai yang aku inginkan. Bahasa kerennya laboratorium cabe.”
“Laboratorium gundulmu,” keluh Nanang, “kalau kamu mau begitu, sekalian saja kau buat rumah kaca, jadi cabai-cabaimu nanti bisa terhindar hama.”
“Ide bagus, masuk keranjang. Nanti malam, aku akan telepon Mas Burhan, minta tolong kirim uang.”
Masalah yang dianggap Rayyan sepele, masih jadi beban pikiran bagi Nanang. hingga pria itu kembali bertanya agar Rayyan tak menyesal di kemudian hari. “Oke lah, aku paham dengan itu. Tapi, kamu kan, tak akan tinggal lama di desa ini. Apa yang akan kamu lakukan pada lahan dan kambing-kambing ini bila kamu kembali ke kota?”
“Kan ada kamu dan Ibumu yang bisa aku percayai,” cetus Rayyan tanpa beban. “Lagi pula, jika aku punya peternakan, aku tak akan cepat pulang. Melainkan terus jadi benalu di rumahmu dan ibumu.”
“Ya, Tuhan, Ray. Makin berat saja beban hidupku.”
“Ah, begini saja, jika aku kembali ke kota suatu saat nanti, aku akan memberikan lahan ini untukmu. Syaratnya cukup tanami lahan ini dengan pohon cabe. Bagaimana?”
“Orang kaya dari kota memang tak waras,” keluh Nanang, yang di balas seringai oleh Rayyan.
“Aku akan jadi peternak kambing, dan petani cabai,” gumam Rayyan bangga.
•••
“Begitu, Juragan. Anakku di jamin ayu tenan. Hanya kurang dipoles sedikit saja wajahnya.”
Bu Saodah mulai mempromosikan Lilis, agar rencananya terlaksana. Memang kekurangan Lilis hanyalah di penampilan, kurang sedap dilihat, karena gadis itu tak pernah memikirkan untuk berdandan.
Andai ia bisa leluasa berdandan layaknya wanita seusianya, tentu Lilis sudah jadi kembang desa. Sayangnya ia harus jadi tulang punggung bagi Bu Saodah dan Arimbi.
Pria yang akrab dipanggil Juragan Sastro itu nampak mengusap dagunya, sambil memikirkan ucapan Bu Saodah.
“Aku harus minta izin pada ketiga istriku. Biar mereka yang memutuskan.”
Manyun lah Bibir Bu Saodah, karena ia berharap mendapat jawaban segera, sudah kebelet hidup enak, tanpa perlu kerja. “Harus, ya, Juragan?”
“Tentu saja, aku pria terhormat!” Juragan Sastro menegaskan. “Bukan pria yang bergonta ganti pasangan demi kesenangan. Semua ada tanggung jawabnya di akhirat nanti.”
“I-iya, Juragan.” Bu Saodah kicep, tak berani lagi membantah.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭