NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Munafik di Meja Makan

“Nguntit?" Fahri tertawa garing. "Nggak perlu, Bro. Lo terlalu terang-terangan. Hanya tuna netra yang gak bakal lihat.”

Keheningan menyelimuti mereka, udara terasa berat.

Dari arah kamar tamu terdengar suara langkah pelan. Tak lama kemudian Ayza berdiri di ambang pintu, masih dengan pakaian rumah. Tatapannya tertumpu pada tangan Reza yang masih menggenggam Fahri.

Ayza menatap Reza sebentar, lalu beralih ke Fahri. “Sudah malam,” katanya lembut. “Mending kalian istirahat.”

Reza melepaskan tangan Fahri.

Fahri menarik lengannya, lalu mengusapnya pelan. Matanya masih menantang, tapi napasnya tidak lagi stabil.

Ayza melangkah mendekat, lalu berhenti di tengah mereka. Bukan memisahkan, hanya… hadir, seolah menjadi jarak diantara kakak beradik itu.

“Besok pagi,” lanjut Ayza pelan, “kalau mau bicara, bicara baik-baik. Sekarang tidur.”

Reza menatap Ayza. Ada sesuatu di matanya, marah, malu, dan sesuatu yang lebih gelap.

“Kamu jangan ikut campur,” katanya dingin.

Ayza mengangguk kecil. “Aku tahu.”

Ia berbalik lebih dulu, berjalan menuju kamar tanpa menoleh lagi.

Fahri menatap punggung Ayza, lalu kembali ke Reza. “Lihat?” gumamnya. “Dia bahkan nggak perlu ribut buat bikin lo kelihatan salah.”

Reza tidak menjawab.

Fahri yang melangkah pergi lebih dulu meninggalkan Reza. Sedangkan Reza tetap berdiri di ruang tamu yang terang sendirian, dengan bayangannya sendiri menempel di dinding.

***

Pagi itu mereka sarapan dalam diam. Reza diam karena tahu, sekali saja ia terpancing oleh Ayza, ia akan kalah. Dan kalah di depan Fahri adalah hal yang paling tak bisa ia terima.

Fahri diam karena kecewa. Tatapannya sinis setiap kali melirik Reza, seolah melihat orang asing yang kehilangan wibawa.

Ayza hanya memerhatikan mereka berdua dalam diam. Ketegangan itu terasa jelas, tebal di udara.

"Apa yang terjadi semalam?" batinnya.

Tapi ia tahu satu hal, keduanya pulang larut dengan wajah yang sama-sama keras dan sempat bersitegang di ruang tamu.

Reza akhirnya membuka suara. “Pendaftaran kuliahmu gimana?”

Fahri mendengus. “Apa urusannya sama lo?”

“Aku kakakmu,” jawab Reza datar.

Fahri menatapnya tajam. “Kalau lo tahu jadi kakak, harusnya lo tahu gimana jaga perilaku. Kasih contoh yang bener. Jangan jadi orang munafik.”

Reza menegang. “Kau—”

“Apa?” Fahri memotong. “Tersinggung?” senyumnya sinis.

Reza melotot. “Kamu benar-benar nggak punya sopan santun.”

Fahri tertawa pendek. “Mungkin. Tapi gue tahu batas. Nggak kayak lo. Sopan di luar, tapi nggak tahu diri.”

Ayza menghela napas panjang. “Kalian habiskan dulu makanannya,” katanya tenang. “Meja makan bukan tempat ribut.”

Fahri menoleh padanya. “Gue mungkin nggak suka sama lo. Tapi gue tahu batas. Dan jujur aja, kalau gue cewek, gue ogah nikah sama orang kayak kakak gue.”

BRAK!

Reza menggebrak meja. Sendok beradu, berdenting pelan. Ayza dan Fahri berjengit, pundak mereka terangkat ke atas, refleks.

“Kamu keterlaluan,” kata Reza dingin. “Aku yang bertanggung jawab atas kamu. Aku kepala keluarga di rumah ini.”

Fahri berdiri, tatapannya tak gentar. “Gue nurut kalau lo bener. Kalau lo salah, ngapain gue nurut?”

“Cukup,” potong Reza. “Kalau kanu ngelawan terus, uang bulananmu bisa aku potong.”

Fahri tertawa hambar. “Coba aja kalau lo berani. Gue bakal lapor ayah dan bunda soal kelakuan lo.”

"Kau..." Reza tak melanjutkan kalimatnya.

Ia tahu, jika Fahri benar-benar mengadu pada orang mereka, maka ini tak akan baik untuknya. Bencana.

Fahri tersenyum sinis, lalu berbalik melangkah pergi, pintu kamarnya ditutup keras.

Reza mengambil tasnya tanpa menoleh, wajahnya suram saat keluar rumah.

Ayza membereskan meja makan perlahan. Piring-piring itu bersih, tapi suasana rumah terasa retak.

Ia berhenti sejenak, menatap kursi kosong mereka berdua.

“Apalagi yang sebenarnya kalian sembunyikan?” gumamnya pelan.

Tak lama kemudian Fahri keluar dari kamarnya. Kaus hitam melekat di tubuhnya, dipadu celana jeans gelap. Ia berjalan tanpa menoleh sambil memakai jaket levisnya, membuka pintu, lalu menutupnya agak keras.

Beberapa detik kemudian suara motor meraung keras, kasar, digeber tanpa jeda. Bunyi knalpot memantul di dinding rumah sebelum suaranya menjauh dan menghilang di ujung jalan.

Sinar mentari pagi memancar ke wajah Fahri saat motornya melaju kencang. Bangunan dan pohon di pinggir jalan berkelebat seperti pagar panjang.

Di kepalanya, potongan ingatan itu kembali menghantam. Kakaknya, lelaki yang selalu bicara soal tanggung jawab malah memeluk perempuan lain di depan umum. Terlalu dekat dan intim. Padahal kalimat akad sudah terucap dengan wanita yang kini berada di rumah mereka. Wanita yang kini mengurus rumah dan mereka.

“Munafik,” gumam Fahri, memutar gas lebih dalam.

Ia membelok ke arah danau di pinggir kota. Tempat yang biasanya sunyi, hanya ada pemancing dan cahaya mentari yang memantul di permukaan air. Fahri menghentikan motor, melepas helm, mengusap wajahnya kasar.

Tak lama kemudian, dua motor berhenti tak jauh darinya. Bagas dan Fikri turun hampir bersamaan.

“Suntuk amat muka lu,” kata Bagas, menyandarkan motornya. “Ada masalah?”

“Masalah pasti ada,” jawab Fahri singkat. Rahangnya mengeras. “Cuma kali ini gue bener-bener gedek.”

Fikri menepuk pundaknya pelan. “Cerita aja. Siapa tahu kami bisa bantu.”

Fahri menoleh, lalu menggeleng. “Thanks. Tapi ini masalah keluarga. Pribadi. Nggak enak kalau diceritain.”

Bagas mengangguk, paham. “Oke. Kita hargai privasi lo. Tapi kalau butuh apa-apa—”

“Kita selalu siap,” sambung Fikri cepat.

Fahri menarik napas dalam-dalam. “Iya. Makasih.”

Mereka terdiam, menatap danau yang tenang, kontras dengan isi kepala Fahri yang porak-poranda.

***

Di kantor, Reza menatap layar laptopnya tanpa benar-benar membaca apa pun. Pikirannya melayang ke kejadian semalam. Motor Fahri yang melesat liar, klakson truk gandeng yang meraung, jarak beberapa senti dari maut. Dan pertengkaran mereka semalam, lalu pagi tadi.

"Dasar bocah badung," umpat Reza dalam hati. "Tahu apa dia soal hidup? Kerjanya cuma bikin masalah. Bikin repot."

 

Saat makan siang, Reza duduk berhadapan dengan Zahra. Wanita itu meletakkan sendoknya ketika melihat wajah Reza.

“Kamu kenapa?” tanyanya pelan. “Kelihatan capek.”

“Nggak apa-apa,” jawab Reza cepat.

Zahra menyipitkan mata. “Aku udah lama kenal kamu, Rez. Gak mungkin ekspresimu kayak gini kalau kamu gak ada masalah.”

Reza menghela napas. “Fahri. Semalam dia balapan liar. Hampir nabrak truk gandeng.”

Zahra terdiam sejenak. “Namanya juga remaja. Nanti juga sadar sendiri.”

“Masalahnya,” Reza menatap meja, “sekarang dia tanggung jawabku. Kalau terjadi apa-apa sama dia, ayah dan bunda yang pertama kali bakal nyalahin aku.”

Zahra tak langsung menjawab. Ia hanya menatap Reza yang nampak terbebani dengan kenakalan adiknya.

Namun beberapa saat kemudian ia tersenyum. "Aku bisa bantu kamu."

Reza mengangkat wajahnya. "Bantu apa?"

 

...🔸🔸🔸...

...“Kecewa lebih berbahaya dari amarah. Ia membuat seseorang menekan gas tanpa peduli tujuan.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
phity
tentu sja zahra tdk akan mau merawatmu krn kerjaannya lbh penting drpd mo merawat orng sakit nanti tangan nya jd kasar kuku cantiknya jadi rusak...
asih
cantik Karna visual akan rapuh saat bertambahnya usia
LibraGirls
Oh my god gk sangup sampai ayza tau wlpn dia gk ada perasaan sm rezza tp dia udah bertangung jwb sebagai istri sirih nya reza
LibraGirls
Km percaya dia tertidur pules bisa² dia clubbing ma teman² nya dunia model begitu kenapa elo bego banget si za gk suruh org ngikutin si Zahra 😤
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!