Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 203
Kabin Pribadi Jenderal Feng – Bahtera Teratai Merah.
Malam di Lautan Bintang terasa lebih sunyi daripada di daratan. Di luar jendela kabin, nebula berwarna ungu dan biru berputar lambat, menciptakan pemandangan yang membius.
Namun, Shi Hao (Ranah: Dewa Sejati / True God) tidak sedang menikmati pemandangan.
Dia duduk di depan meja kayu, menatap benda di hadapannya dengan kening berkerut.
Peta Bintang Kuno.
Benda itu berbentuk cakram logam hitam selebar telapak tangan, penuh dengan ukiran rasi bintang yang rumit. Shi Hao sudah mencoba mengalirkan Qi Nirwana nya, mencoba menggunakan Indra Dewanya, bahkan mencoba membakarnya sedikit dengan api.
Cakram itu diam seperti batu mati.
"Benda sialan," umpat Shi Hao. "Nyonya Zhu bilang ini kunci menuju Pusat Semesta. Tapi kalau tidak bisa dibuka, ini cuma ganjalan pintu yang mahal."
Shi Hao tahu dia bisa membukanya paksa dengan kekuatan penuh Dewa Sejati nya. Tapi itu berisiko menghancurkan informasi di dalamnya. Peta ini dilindungi oleh segel tingkat Raja Dewa (God King) ke atas.
Krieeet.
Pintu kabin terbuka pelan.
Nana (Ranah: Fana / Tidak Ada Kultivasi) masuk membawa nampan berisi teh roh hangat dan kain pembersih. Dia mengenakan jubah pelayan baru yang bersih, tapi kalung bekas budak di lehernya masih menyisakan bekas luka samar.
"Maaf mengganggu, Tuan Feng," cicit Nana pelan. "Saya membawakan teh untuk menyegarkan pikiran Tuan."
Shi Hao menghela napas, menyandarkan punggungnya. "Masuklah, Nana. Teh terdengar enak."
Nana meletakkan nampan di meja samping. Dia melihat Shi Hao yang tampak frustrasi menatap cakram hitam itu. Dengan hati-hati, Nana mengambil kain pembersih dan mulai mengelap debu di sekitar meja tempat Shi Hao bekerja.
"Tuan tampak kesal dengan benda itu," kata Nana pelan, mencoba memberanikan diri bicara.
"Ini Peta Bintang," jawab Shi Hao. "Tapi terkunci. Sepertinya butuh 'kunci' khusus atau darah keturunan tertentu."
Nana mengangguk, tidak terlalu paham soal kultivasi tingkat tinggi. Dia terus mengelap meja.
Tanpa sengaja, ujung jari kelingking Nana yang masih memiliki sedikit luka gores akibat kawat sangkar di pasar budak kemarin menyentuh pinggiran cakram hitam itu.
Setetes darah merah segar, yang bercampur dengan Aura Bulan perak samar dari rasnya, merembes masuk ke dalam ukiran cakram.
TING.
Suara denting halus terdengar.
Shi Hao langsung waspada. "Nana, mundur!"
Namun terlambat.
Cakram hitam itu tiba-tiba berdengung. Ukiran rasi bintang di permukaannya menyala terang dengan warna Perak Kebiruan warna yang sama persis dengan mata kanan Nana.
WUUUUUNG!
Cakram itu melayang naik dari meja, berputar kencang, dan memproyeksikan hologram cahaya bintang yang memenuhi seluruh kabin.
Nana terpekik kaget, menjatuhkan kain lapnya. Tubuhnya tiba-tiba kaku.
Mata Nana (Kuning dan Biru) bersinar terang. Dia tidak lagi melihat kabin kapal. Tatapannya kosong, menembus ruang dan waktu.
"Nana?" Shi Hao hendak menyentuhnya, tapi sebuah tekanan aura Kaisar Dewa (God Emperor) memancar dari hologram itu, membuat Shi Hao mundur selangkah.
"Ini... Proyeksi Jiwa Kuno?" batin Shi Hao kaget.
Di tengah proyeksi cahaya itu, muncul sosok seorang pria tua berjubah bintang yang agung. Dia berdiri di atas seekor naga galaksi, memegang tongkat yang mengendalikan orbit planet.
Kaisar Bintang Utara (North Star Emperor). Ranah Kaisar Dewa (God Emperor) - Puncak Telah Jatuh 10.000 tahun lalu.
Sosok Kaisar itu berbicara, suaranya bergema langsung di dalam jiwa Shi Hao dan Nana.
"Salam, Pewarisku. Atau siapa pun yang menemukan peta ini."
"Jika peta ini aktif, berarti kau telah menemukan 'Kunci'-ku."
Sosok Kaisar itu menunjuk ke arah Nana yang sedang trans.
"Di masa kejayaanku, aku menjelajahi Lautan Kabut Hampa yang mematikan. Tidak ada kompas yang bekerja di sana. Tidak ada Indra Spiritual yang bisa menembusnya."
"Hanya satu makhluk yang bisa melihat jalan di tengah kekacauan itu."
"Ras Kucing Bulan (Moon Cat Race)."
Mata Shi Hao membelalak. Dia menatap Nana. Budak seharga 5 koin itu?
"Mereka bukan binatang buas biasa," lanjut sang Kaisar. "Leluhur mereka diberkati oleh Dewi Bulan Purba. Mata mereka adalah peta hidup. Darah mereka adalah kompas."
"Namun, karena kemampuan mereka yang terlalu berharga, mereka diburu. Untuk melindungi mereka, aku menyegel ingatan ras mereka dan menyebarkan mereka ke pinggiran galaksi."
"Wahai Pemegang Peta... jika kau ingin mencapai 'Makam Bintang'-ku di Pusat Semesta... lindungi Kucing ini. Gunakan darahnya untuk membuka jalan, dan matanya untuk melihat badai."
"Sebagai gantinya... bangkitkan kembali kemuliaan Ras Kucing Bulan."
Proyeksi itu berakhir. Cakram logam itu jatuh kembali ke meja, kini tidak lagi hitam, tapi berwarna perak mengkilap dengan rute peta yang jelas terukir di sana.
Nana tersentak bangun. Kakinya lemas, dia hampir jatuh kalau Shi Hao tidak menangkapnya dengan cepat.
"Tuan Feng..." Nana gemetar, memegangi kepalanya yang pusing. "A-Apa yang terjadi? Saya melihat... banyak bintang... saya melihat jalan yang bersinar..."
Shi Hao mendudukkan Nana di kursi. Dia menatap gadis kecil itu dengan pandangan yang benar-benar baru.
Selama ini, Ras Kucing Bulan dianggap sampah di sektor ini. Hewan peliharaan, budak seks, atau pekerja kasar.
Ternyata, mereka adalah Navigator Bintang (Star Navigators) legendaris yang dicari oleh seluruh Kekaisaran Besar. Pantas saja Nyonya Zhu sangat menginginkan peta ini, tapi bahkan dia tidak tahu bahwa kuncinya ada pada gadis budak ini.
"Nana," kata Shi Hao serius. "Kau tahu apa yang baru saja terjadi?"
Nana menggeleng takut. "Apakah Nana merusaknya? Nana minta maaf! Jangan pukul Nana!"
Shi Hao tertawa pelan, mengusap kepala Nana.
"Merusak? Tidak. Kau baru saja menyelamatkan kita semua dari tersesat selama seribu tahun."
Shi Hao mengambil peta itu.
"Ternyata kau bukan kucing sembarangan. Kau adalah keturunan Navigator Kekaisaran."
"Ingatan leluhurmu baru saja bangkit."
Shi Hao menatap mata Nana.
"Mulai sekarang, kau bukan lagi pelayan teh. Kau adalah Navigator Utama tim ini."
"Tapi... Tuan Feng, kita harus merahasiakan ini. Jika Kekaisaran Naga atau Sekte Dewa Kosmik tahu tentang darahmu... mereka akan mengirim armada perang untuk menangkapmu."
Nana memegang ujung jubah Shi Hao erat-erat. "Nana takut... Nana hanya ingin bersama Tuan Feng dan Nini."
"Dan kau akan tetap bersama kami," janji Shi Hao. "Siapapun yang ingin mengambil 'kompas'-ku, harus melangkahi mayatku dulu."
Tiba-tiba, formasi bahtera berbunyi nyaring.
WUUUNG! WUUUNG!
Suara Nyonya Zhu terdengar lewat transmisi Qi.
"Jenderal Feng! Segera ke anjungan! Kita memasuki wilayah Nebula Hantu! Radarku mati total! Kita buta arah!"
Shi Hao menyeringai. Waktunya pas sekali.
Dia menarik Nana berdiri.
"Ayo, Navigator Kecil. Waktunya bekerja. Tunjukkan pada mereka bahwa matamu lebih tajam daripada radar tercanggih sekalipun."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛