NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebenaran yang Menyakitkan

Garis ketegangan yang sempat melunak di lantai dansa seketika membeku kembali. Max adalah ahli dalam membangun tembok pertahanan saat dirinya merasa terlalu rentan. Ciuman itu, yang bagi Guzzel adalah harapan, bagi Max justru merupakan pengingat betapa besarnya kendali wanita ini atas kewarasannya.

Setelah ciuman skandal itu, suasana Gala berubah menjadi medan perang dingin. Di sebuah ruang privat di hotel tersebut, dua penguasa bisnis New York—Mr. Vance dan Mr. Dante—berdiri dengan wajah kaku.

Mereka menuntut penjelasan atas tindakan impulsif anak-anak mereka yang bisa merusak citra perusahaan.

​"Apa maksud dari pertunjukan tadi, Maximilien?" suara Mr. Vance menggelegar, dingin dan berwibawa.

"Kau tahu kita sedang bersaing memperebutkan proyek pelabuhan dengan keluarga Dante, dan kau justru mencium putrinya di depan publik?"

​Max berdiri dengan tangan di saku celana, wajahnya kembali menjadi topeng batu yang tak terbaca. Di sampingnya, Guzzel berdiri dengan jantung berdebar, masih mengenakan jas tuksedo Max yang menutupi noda di gaunnya. Guzzel menanti kata-kata pembelaan, sebuah pengakuan cinta yang akan melegalkan hubungan mereka di depan orang tua mereka.

​Namun, Max justru tertawa sinis. Suaranya kering, tanpa emosi.

​"Tenanglah, Ayah," ujar Max sambil melirik Guzzel dengan tatapan yang sangat asing. "Jangan menganggapnya terlalu serius. Itu bukan ciuman cinta, apalagi tanda perdamaian antar keluarga."

​Guzzel menoleh cepat, napasnya tercekat.

"Max...?"

​Max melanjutkan tanpa sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. "Aku hanya penasaran. Selama ini aku membenci wanita, menjauhi sentuhan mereka. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya bersentuhan dengan wanita 'sempurna' pilihan Columbia ini.

Ternyata... rasanya biasa saja. Tidak ada yang istimewa."

​Kalimat itu menghantam Guzzel lebih keras daripada tamparan fisik. Kecewa? Tidak, itu lebih dari sekadar kecewa. Hati Guzzel terasa seperti diremas hingga hancur. Pria ini baru saja menjadikannya bahan eksperimen di depan orang tua mereka untuk menutupi kerapuhannya sendiri.

​"Max, kau keterlaluan!" Mr. Dante membentak, hendak maju membela putrinya, namun Guzzel menahan lengan ayahnya.

​Guzzel menatap Max dengan mata yang berkaca-kaca, namun dia menolak untuk menangis di depan pria yang baru saja menghancurkan martabatnya.

"Jadi itu alasanmu? Hanya rasa penasaran?"

​Max membalas tatapan Guzzel dengan sorot mata yang kejam, meski di dalam dadanya ia merasa sesak yang luar biasa. "Ya. Rasa penasaranku sudah terobati, Guzzalie. Sekarang, kau bisa melepaskan jasku. Aku tidak butuh drama lebih lanjut."

​Guzzel melepas jas hitam itu perlahan, membiarkannya jatuh ke lantai marmer dengan suara halus yang mematikan. Dia berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi, diikuti oleh ayahnya yang memberikan tatapan mematikan pada keluarga Vance.

​Malam itu, saat Guzzel duduk sendirian di kamarnya yang gelap, ingatannya terbang kembali ke masa tiga bulan yang lalu. Masa di mana mereka masih menjadi V dan Lia.

Masa di mana kata-kata adalah segalanya, dan kebohongan belum terungkap.

​Ia teringat satu malam, sekitar pukul dua pagi, saat mereka melakukan deep talk melalui aplikasi Veloce.

​V: Lia, aku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana rasanya bertemu denganmu nanti. Apakah kau akan membiarkanku menyentuh tanganmu?

​Lia: Tentu, V. Bukan hanya tanganmu. Aku ingin menyandarkan kepalaku di bahumu dan mendengarkan detak jantungmu.

​V: Kadang aku takut, Lia. Aku takut aku akan menjadi pria yang canggung. Tapi bersamamu, aku merasa aku bisa belajar segalanya. Aku membayangkan ciuman pertama kita... Aku ingin itu menjadi momen di mana waktu berhenti. Aku ingin ciuman itu menjadi janji bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu.

​Guzzel tersenyum perih mengingat bagaimana mereka membahas tentang ciuman sampai matahari terbit di ufuk New York.

​V: Lia, dengarkan aku. Setelah kita bertemu nanti, aku tidak ingin ada lagi rahasia. Aku ingin kita hidup bersama. Aku ingin membawamu keluar dari New York, ke sebuah pondok di pegunungan di mana hanya ada aku dan kau. Kita akan bangun setiap pagi dengan aroma kopi, dan aku akan mengecup keningmu sebagai istriku. Aku ingin menikahi mu, Lia. Aku ingin kau menjadi wanita terakhir yang aku lihat sebelum aku menutup mata selamanya.

​Obrolan itu berlangsung hingga subuh. Mereka merencanakan detail rumah impian mereka, warna dinding kamar bayi mereka kelak, hingga bagaimana mereka akan menua bersama. Saat itu, Max terdengar sangat tulus, sangat mendambakan kehadiran Lia sebagai separuh jiwanya.

​"Kau pembohong besar, Maximilien," bisik Guzzel dalam kegelapan, air matanya akhirnya luruh. "Kau menjanjikan pernikahan dan hidup bersama, tapi kenyataannya kau hanya menggunakan 'penasaran' sebagai tamengmu."

​Di sisi lain kota, Max sedang duduk di bar pribadinya, menatap jas tuksedo yang tadi dijatuhkan Guzzel. Kata-katanya di depan orang tua mereka terus terngiang-ngiang seperti kutukan. Dia tahu dia telah menghancurkan satu-satunya hal yang nyata dalam hidupnya.

​Dia mengatakan itu hanya karena dia takut. Dia takut ayahnya akan menggunakan kelemahannya, cintanya pada Guzzel untuk mengontrol hidupnya. Max memilih untuk menyakiti Guzzel daripada membiarkan dunia tahu bahwa "Si Pangeran Es" telah takluk sepenuhnya pada putri musuh bisnisnya.

​Max membuka aplikasi Veloce yang kini sunyi. Tidak ada lagi notifikasi dari Lia. Dia men-scroll ke atas, membaca kembali pesan-pesan tentang rencana pernikahan mereka yang mereka bicarakan sampai pagi itu.

​"Aku mencintaimu, Guzzel. Sumpah demi nyawaku, aku mencintaimu," bisik Max pada kehampaan. "Tapi aku tidak tahu cara mencintaimu tanpa menghancurkan kita berdua."

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Danesh.

​Danesh: Kau baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu, Max. Justine sedang menuju rumah Guzzel. Dia tidak akan melepaskan kesempatan ini saat Guzzel sedang hancur karena ucapanmu.

​Rahang Max mengeras. Dia menyambar kunci mobilnya. Jika dia tidak bisa memiliki Guzzel dengan cara yang lembut, maka dia akan merebutnya kembali dengan cara apa pun meskipun dia harus menjadi iblis yang dibenci Guzzel selamanya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading 🥰

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!