Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Red Monarch
Anak buahku kerjanya cepat juga… batin Mirea, terdiam tanpa ekspresi.
“Mereka semua mati. Nggak tersisa,” ujar Aren akhirnya, suaranya rendah penuh pertimbangan. “Kayaknya mereka berurusan dengan orang yang salah di Stone At Black. Lalu berakhir dihabisi oleh anggota geng.”
Ruangan kembali sunyi.
“Berurusan dengan orang yang salah?” Noel mengulang pelan, wajahnya masih sulit menerima.
Lalu ia menoleh tiba-tiba.
“Dik Mire.”
Panggilan itu membuat Mirea refleks bangkit dari duduknya, sedikit terkejut.
“Ke depannya kita jangan pernah ke Stone At Black lagi, ya,” ujar Noel, suaranya terdengar gemetar, jelas masih terbayang kejadian tadi malam. “Tempat itu terlalu berbahaya.”
“Benar,” Aren ikut berdiri, wajahnya serius. “Anggota geng itu kejam, mereka tidak punya hati nurani. Jangan pernah berurusan dengan dunia seperti itu kecuali benar-benar terpaksa.”
Kata-kata itu terdengar seperti nasihat…
tapi di telinga Mirea, rasanya seperti pisau tipis yang menggores.
Jadi… di mata keluarga Rothwell, batinnya pelan,
aku juga akan dianggapku seperti itu kalau mereka tahu siapa aku sebenarnya?
Jari-jarinya tanpa sadar merapat, menggenggam ujung bajunya sendiri.
Aku nggak boleh buka identitas asliku, pikirnya.
Bukan sekarang. Bukan di hadapan mereka.
Ia menunduk sedikit, menyembunyikan sorot matanya yang tiba-tiba redup.
Kak Theo menghampiri.
“Sudah malam, Dik Mire. Kamu istirahat dulu,” ujarnya. “Besok masih harus menghadiri pesta pengakuan keluarga seharian.”
Aren dan Noel ikut mengangguk setuju.
“Baik, Kak Theo,” jawab Mirea lirih, lalu berbalik dan melangkah naik ke lantai dua.
Begitu sampai di kamarnya, Mirea langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia mematikan lampu utama, hingga ruangan hanya diterangi remang-remang cahaya lampu neon kecil di sudut langit-langit.
Suasana kamar menjadi sunyi.
Mirea berjalan menuju meja dan kursi yang berada di sudut kamar. Ia duduk, lalu membuka laptopnya. Jarinya bergerak cepat di atas keyboard, membuka aplikasi panggilan yang jarang ia gunakan.
Beberapa detik kemudian, layar menampilkan wajah seorang perempuan dengan rambut merah mencolok.
Di layar itu, perempuan tersebut tampak sedang duduk di depan meja, tangannya sibuk memilah-milah peluru satu per satu, lalu memasukkannya ke dalam pistol dengan gerakan yang tenang dan terlatih.
Ini aku perbaiki dan rapikan bahasanya saja, tetap dengan isi yang sama, tanpa menambah unsur baru:
RED MONARCH, ia adalah asisten sekaligus bos pembunuh nomor dua.
“Bicara,” suara Mirea terdengar dari seberang panggilan.
Sontak Red Monarch meletakkan pistol di atas meja, lalu memfokuskan pandangannya ke kamera laptop.
“Ruby Wolf, akhirnya kamu menelepon juga,” ujar Red Monarch.
“Gimana rasanya bertemu keluarga?” tanyanya.
“Lumayan,” jawab Mirea singkat.
“Keluarga Rothwell bilang besok akan mengadakan pesta pengakuan keluarga untukku.”
“Pesta pengakuan keluarga?” Red Monarch menyipitkan mata.
“Acara sebesar itu mana bisa dirayakan tanpa teman-teman geng kita?” katanya sambil tersenyum miring.
“Tunggu saja,” lanjutnya sambil menyilangkan tangan.
“Aku bakal ajak mereka meramaikan pesta.”
Mirea hanya tersenyum kecil.
“Kamu mau bikin keluarga Rothwell ketakutan?” tanyanya.
“Jangan datang,” ujarnya kemudian, suaranya datar tapi tegas.
Sontak Red Monarch terdiam. Wajahnya langsung berubah.
Sambungan telepon pun terputus.
Anak buah yang sejak tadi berdiri di belakang Red Monarch akhirnya memberanikan diri bertanya,
“Jadi… kita tetap datang ke pestanya Bos Ruby Wolf?”
Red terdiam sejenak, berpikir. Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
“Kalau cewek bilang nggak mau, biasanya justru artinya mau,” ujar Red santai.
“Datang,” katanya ketus.
Bukan cuma datang lalu pergi. Kita harus datang dengan gaya… dan bikin suasananya jadi benar-benar meriah,” lanjutnya sambil tersenyum penuh arti.