Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantin
*
Pita meringis kesakitan. Kedua temannya langsung berseru "Lepaskan Pita!"
"Oke." Raya menghempaskannya hingga Pita terjatuh.
"Sialan, udah berani lo sama kita?!" Yura maju berniat menjambak rambut Raya.
Raya dengan sigap menahan tangannya lalu memelintir hingga sang empu kesakitan. Risa tidak tinggal diam, dia langsung melayangkan tangan untuk menampar Raya.
Plak!
Bukan Raya yang tertampar, tamparan mendarat tepat di pipi Yura karena Raya menariknya kedepan untuk tameng.
"Yak! Kenapa lo tampar gue Ha?!" Pekik Yura menahan sakit.
"Sorry Yur, gue mau nampar dia!" Tangan Risa kembali terangkat, kali ini Raya menahan dengan satu tangan lainnya.
Gerakan Risa dan Yura terkunci, mereka ingin menyerang Raya namun tidak bisa. Pita yang kini sudah berdiri ingin menolong temannya, dia maju.
Bugh!
Tanpa aba aba, Raya menendang Pita sebelum berhasil mendekatinya. Dia juga menendang kaki Risa dan Yura membuat mereka terduduk berlutut.
"Lepaskan! Akhh."
"Ini belum seberapa." Raya menyeringai, beralih menjambak rambut Yura Risa dan membenturkan satu sama lain.
"Arrgh." Teriak mereka kesakitan, benturan itu sangat keras hingga kepala mereka berdenyut hebat.
Tidak sampai disana, Raya menendang wajah Yura dengan lutut, sedangkan wajah Risa dengan ujung kaki yang bersepatu. Bisa di pastikan, pelipis mereka terluka dan berdarah.
Pita geram, dia maju lagi dan melayangkan tangan pada Raya. Tentu Raya tidak diam, dia menahan tangan itu dan berkata "Masih belum cukup?"
"Lo--... Akh."
Tidak berkata apapun lagi, Raya menampar keras pipi Pita berulang kali hingga bengkak. Mungkin tamparan itu terjadi sepuluh kali. Pita tidak bisa menghindar karena tangannya dicekal Raya. Terakhir, dia menendang hingga Pita jatuh menimpa kedua temannya.
"Arggh." Wajah mereka begitu memar, sepertinya Raya sengaja mengincar wajah mereka hingga babak belur.
"Mau lagi?" Raya menyeringai, mereka menelan salivanya sembari menggeleng cepat.
Mereka nenatap Raya penuh ketakutan, ini bukan Raya yang mudah di tindas seperti yang mereka kenal. Tidak hanya melindungi diri, Raya berani membully mereka sampai babak belur. Melihat kengerian Raya membuat mereka kapok seketikan.
"Sekali lagi kalian gangguin gue, bukan gue buat kalian masuk rumah sakit. Tapi gue kirim ke Neraka." Ucap Raya dingin, sorot mata tajam, nada penuh ancaman.
Mereka dibuat mematung tidak percaya, bahkan Raya dengan santainya pergi meninggalkan mereka tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Apa dia beneran si cupu?" Tanya Pita pada kedua temannya sambil menahan sakit.
Risa merintih lalu menjawab "Mungkin dia capek kita bully, makanya berani ngelawan."
Yura ikut menimpali "Dia sangat mengerikan, gayanya mirip Jessie kalo ngebully."
"Shuutt jangan samakan si cupu sama Jessie. Kalo Jessie dengar, bisa habis kita." Seru Pita tahu bagaimana kengerian Jessie.
"Benar, Jessie lebih menyeramkan daripada dia." Risa menambahkan, Yura pun mengangguk setuju.
Di kantin, Pipit bersantai memainkan handphone. Mejanya sudah ada dua mangkuk bakso yang ia pesan satunya untuk Raya, dia juga belum memakannya karena menunggu kedatangan sahabatnya.
"Kemana sih dia? Ke toilet lama banget." Gerutu Pipit melirik baksonya yang mungkin sudah dingin "Apa dia di bully lagi." Mendadak ia cemas memikirkan apa yang terjadi.
"Woii jangan ngelamun, entar kesambet." Nathan datang dan langsung duduk membawakan dua mangkuk bakso dan meletakkan di meja yang sama.
Pipit mendengus merasa di kagetkan "Gue tuh nungguin sepupu lo, dia ke toilet tapi lama banget."
"Toiletnya di arab mungkin." Nathan membalasnya santai.
"Gak usah cari ribut deh, gue tuh lagi males debat dan gue masih kesel sama lo karna ninggalin gue sama Raya tadi pagi." Cetus Pipit teringat Nathan mengejeknya saat mendorong motor pagi hari.
"Sorry deh, habisnya bestie lo itu mendadak jadi sumala, kan gue ngeri liatnya." Nathan bergidik membayangkan kegalakan Raya.
"Btw bestie gue itu sepupu lo, bisa bisanya lo ngatain dia sumala." Pipit memutar bola matanya malas, Nathan hanya menyengir menunjukkan deretan giginya. Pipit melihat dua mangkuk yang dibawa Nathan "Eh, ngapain lo disini? Mana bestie lo itu?"
"Satria lagi ada panggilan alam dan gue mau gabung meja lo sama Raya. Jadi gue disini deh." Nathan dengan santai menyendokkan bakso ke mulutnya.
Brak!
Seseorang datang menggebrak meja mereka dengan mengumpat "Sialan."
Pipit tersentak kaget, Nathan yang sedang makan langsung tersedak. Mulutnya terbuka, satu tangan memukul dadanya, nafas tercekat.
"Ya ampun Ray, lo ngagetin tau gak?" Pipit mengelus dadanya, tidak menyadari Nathan yang butuh pertolongan.
Raya enggan menanggapi, dia melirik Nathan sambil mengernyit. Pipit ikut meliriknya, seketika dia langsung panik.
"T-to..long aarggh." Berulang kali Nathan memukul dadanya sendiri.
Pipit menyadari itu, dia berdiri bersiap memukul Nathan dari belakang. "Lo tahan oke. Satu... Dua... Ti--..." Satu pukulan kencang menghentak punggung Nathan dan membuat baksonya meloncat keluar dari mulut hampir mengenai Raya jika telat menghindar.
"Are you kidding me?" Sentak Raya tidak terima saat bakso itu hampir mengenai dirinya.
Nathan terbatuk, tangannya cepat meraih minuman lalu meneguk hingga tandas. Mengambil nafas banyak dan beralih mendelik pada Raya "Lo yang hampir bunuh sepupu lo yang ganteng ini. Datang main gebrak meja, gak tau apa orang ganteng ini lagi makan. Gue kaget jadinya gue kesedak. Hampir aja gue punah dengan cara gak estetik. Apa kata dunia jika orang ganteng mati keselek bakso. Emang lo mau tanggung jawab kalo dunia ini kekurangan orang ganteng Ha?!"
Raya menatap datar, tanpa ekspresi, tanpa rasa bersalah, tanpa berniat minta maaf, dia hanya berkata "Oh."
Nathan menganga tidak percaya, Pipit yang sudah kembali duduk menahan tawa melihat kekesalan Nathan. Dia sudah meluapkan emosinya panjang kali lebar kali tinggi, tapi hanya Oh saja sebagai balasan dari Raya.
Pipit menatap Raya, melihat raut wajahnya yang kesal "Lo kenapa sih Ray? Perasaan tadi biasa aja, napa tiba tiba emosi habis dari toilet?"
"Hama." Raya menjawab singkat.
"Hama?" Pipit dan Nathan mengernyit bingung, mereka tidak mengerti. Namun detik berikutnya mereka sedikit paham jika pasti yang dimaksud itu pembully "Tapi lo gak papa kan? Kali ini siapa yang bully lo? Bilang sama gue, apa Beruang kutub itu lagi?" Pipit bertanya cemas.
Raya spontan mendelik, dia jelas tahu siapa Beruang kutub yang di maksud Pipit. Dalam hati menggerutu 'Lagi dan lagi dia manggil gue beruang kutub. Kalo aja gue gak lagi di tubuh si cupu, udah gue habisi lo.'
"Ray, jawab dong. Apa mereka yang bully lo atau yang lain?" Desak Pipit penasaran. Dia tidak terima sahabat sejatinya di bully.
"Bukan dia, tapi lainnya." Jawab Raya meski malas.
"Syukurlah bukan dia." Pipit merasa lega. Raya mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa dia merasa lega. Pipit melanjutkan ucapannya "Seenggaknya mungkin gue sedikit berani ngebalas kalo yang lain, tapi kalo Jessie... Gue cuma bisa merapal do'a semoga lo baik baik aja."
Bombastic side eyes Raya berikan untuk Pipit. Gadis itu sok berani, tapi kenyataannya tetap takut pada Jessie.
"Jadi siapa yang bully? Biar gue lawan mereka." Pipit kembali berseru, semangatnya menggebu. Meskipun saat membela terkadang dia kalah. Setidaknya ada sedikit perlawanan, tapi kalau melawan Jessie... Jangankan melawan, menatap saja sudah ngeri.
"Gak perlu. Mereka gak akan gangguin gue lagi." Raya ingin mengakhiri perbincangan ini, dia tipe orang yang malas berkata banyak jika tidak penting. Pipit hendak kembali membuka mulut, tapi Raya lebih dulu memotong "Gue laper."
Pipit menghela nafas "Yaudah makan gih, ini makanan lo." Dia menyodorkan semangkuk bakso untuk Raya.
Raya menerimanya, bakso lebih baik daripada tempe bacem. Jadi dia tidak protes sedikitpun, mulai menuangkan saus dan sambal sebanyak mungkin kedalam mangkuk.
Pipit dan Nathan bergidik "Ray, itu gak kebanyakan? Lo kan gak suka pedes."
"Sekarang suka." Balasnya dengan wajah datar.
"Pantes aja omongan lo jadi pedes, ternyata sekarang demen makan sambel." Celetuk Pipit, mendapat pelototan dari Raya. Pipit membalas dengan cengiran khasnya.
Raya memilih menghabiskan bakso itu daripada meladeni. Pipit melirik Nathan yang juga asik makan "Bestie lo lama banget, dia nyasar kah?"
Nathan menyadari jika Satria belum datang "Palingan dia lagi stalkerin gebetan."
"Gebetan? Emang dia suka sama seseorang?" Pekik Pipit, penasaran. Raya bodoamat, tidak minat ikut dalam percakapan.
...----------------...