Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Setelah memantapkan niatnya, Kevin ingin segera meninggalkan tempat itu. Ia tidak berniat menoleh ke belakang, tidak ingin memberi ruang bagi luka yang baru saja terbuka. Namun baru saja langkah kakinya menginjak halaman kafe, sebuah suara yang empat tahun terakhir tidak pernah ia dengar kembali menyentuh gendang telinganya.
“Kevin.”
Satu kata itu cukup untuk membuat bahunya menegang.
Langkah Kevin terhenti. Bukan karena rindu, melainkan karena ingatan lama yang bangkit tanpa permisi, datang dengan cara paling menjengkelkan. Ia menarik napas singkat sebelum akhirnya menoleh perlahan.
Vano baru saja turun dari mobil bermerek ternama. Setelan mahal membungkus tubuhnya dengan rapi, terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. Senyum di wajah pria itu bukan senyum ramah, melainkan senyum orang yang merasa sedang berada di atas angin.
Pandangan mereka bertemu.
Dulu, mereka dua sahabat yang nyaris tak terpisahkan. Saling percaya, saling menutup punggung, hingga taruhan kotor itu muncul dan mengubah segalanya. Lima puluh persen saham yang seharusnya menjadi milik Kevin justru berakhir di tangan Iren. Sejak saat itu, tidak ada lagi persahabatan. Yang tersisa hanyalah dua pria dengan kepentingan masing-masing.
“Lama tidak bertemu,” kata Vano ringan, seolah masa lalu hanyalah cerita remeh.
Kevin menyunggingkan senyum tipis, datar, tanpa emosi. “Kalau tujuannya hanya basa basi, sebaiknya kita akhiri di sini.”
Vano terkekeh pelan. “Masih setajam dulu. Aku kira empat tahun pernikahan bisa melunakkanmu.”
Rahang Kevin mengeras. Ia tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin, seolah kata-kata itu tak cukup penting untuk ditanggapi.
“Bagaimana rasanya?” lanjut Vano, suaranya merendah, penuh sindiran. “Menjadi suami yang sah, tapi tidak pernah benar-benar dimiliki. Dan berakhir bukan siapa-siapa.”
“Apa itu penting?” jawab Kevin singkat.
“Tidak,” sahut Vano cepat. “Karena faktanya kamu sekarang hanya seorang pecundang.”
Ucapan itu jatuh tanpa nada tinggi, justru terlalu santai, seolah Vano sedang menyimpulkan sesuatu yang menurutnya sudah jelas.
Kevin terdiam beberapa detik. Ia menurunkan pandangan, bukan karena kalah, melainkan sedang menimbang. Jemarinya merogoh saku celana, mengambil korek api. Kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia berhadapan dengan masalah atau musuh.
Ia memutar korek itu di antara jari-jarinya sebelum akhirnya berbicara. “Kalau itu yang membuatmu datang ke sini, kamu buang-buang waktu.”
Vano mengangkat alis. “Kamu menyangkal?”
Kevin menggeleng pelan. “Aku tidak peduli.”
Jawaban itu membuat Vano tertawa kecil. “Empat tahun menikah, meninggalkan segalanya, lalu sekarang kamu bilang tidak peduli?”
Kevin mengangkat wajahnya. Kali ini tanpa senyum. Tatapannya lurus, keras, dan tenang.
“Ada bedanya antara peduli dan bertahan terlalu lama,” katanya singkat.
Vano menyipitkan mata, berusaha membaca sesuatu di wajah Kevin. Namun yang ia temukan hanya ketenangan yang tidak ia pahami, ketenangan orang yang sudah berhenti berharap.
“Jangan sok kuat,” ujar Vano. “Kita berdua tahu kamu kalah telak.”
Kevin melangkah satu langkah mendekat. Jarak mereka kini cukup dekat untuk membuat senyum Vano memudar. Korek api di tangan Kevin menyala, apinya kecil namun stabil. Ia mengangkatnya setinggi dada Vano, lalu meniupnya perlahan hingga padam. Asap tipis mengepul di antara mereka.
“Kamu tahu,” ucap Kevin pelan, jemarinya mematikan api itu, “ada yang bilang sebelum api membakar hidup-hidup, seseorang harus tahu kapan waktu yang tepat untuk mematikannya.”
Sisa asap kecil ditiupkannya ke wajah Vano. Membuat lelaki itu terdiam dengan pikirannya. Tak lama ia melihat Kevin melangkah mundur, memasukkan kembali korek itu ke saku dan berkata dengan nada tenang.
“Kalau tidak ada lagi yang perlu kamu pastikan,” lanjutnya, “menyingkirlah. Aku tidak tertarik mengulang masa lalu.”
"Sialan! Sampai dititik ini pun kamu masih sombong Kevin. Lihat saja, akan aku buat Iren kembali padaku dan meninggalkanmu!" ujar Vano sambil menatap punggung Kevin yang perlahan menjauh.
***
Tepat tengah malam, Iren baru saja kembali. Begitu lampu dinyalakan, ia langsung melepaskan barang bawaannya dan meletakkannya sembarangan. Malam ini adalah empat tahun pernikahannya dengan Kevin. Tentu saja lelaki itu sudah mengatur semuanya, membuat ibunya pergi dari rumah dan memberinya tiket jalan-jalan agar mereka bisa menghabiskan waktu berdua.
Di perjalanan, Iren sempat membayangkan Kevin akan menyiapkan kejutan seperti tahun-tahun sebelumnya. Makan malam sederhana atau ucapan cinta yang selalu diulang dengan cara yang sama. Namun saat pandangannya menyapu seluruh sudut rumah, ia tidak menemukan apa pun.
"Apa dia mulai mencoba cara baru untuk ngasih kejutan?” pikir Iren sambil celingukan, mencari sosok lelaki yang selama empat tahun ini tinggal satu atap dengannya.
Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terdengar. Kevin keluar dengan rambut masih basah, handuk kecil melingkar di lehernya.
“Kamu tengah malam mandi? Kalau masuk angin bagaimana?” tanya Iren dengan nada cemas.
Iya, selama ini Iren memang selalu menunjukkan perhatian pada Kevin. Perhatian yang membuat lelaki itu memilih menahan diri, menghormati setiap batas, dan menunggu dengan sabar agar suatu hari wanita itu siap menjadi istri seutuhnya. Namun kini Kevin sadar, wanita yang dulu ia anggap seperti malaikat di hatinya, ternyata tak berbeda jauh dengan iblis betina.
Kevin berdiri beberapa langkah dari Iren. Tatapannya singgah sesaat, lalu berpaling, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan tergesa.
“Kamu capek?” tanya Kevin dengan nada datar.
Iren menoleh, sedikit heran. “Lumayan. Kenapa?”
Kevin melangkah mendekat perlahan-lahan, tapi tidak ragu. Jarak di antara mereka menyempit dengan cara yang membuat Iren sadar, ini bukan kebiasaan Kevin selama ini.
“Empat tahun,” ucapnya pelan. “Harusnya malam ini kita tidak bicara soal capek.”
Nada itu membuat Iren gelisah, karena nada itu tidak lembut seperti biasanya, bukan pula memohon. Terlalu tenang, dan justru karena itu terasa asing.
“Kamu aneh,” katanya, mencoba tersenyum. “Biasanya kamu tidak—”
“Biasanya aku menunggu,” potong Kevin.
Ia berhenti tepat di hadapan Iren. Tidak langsung menyentuhnya, tapi cukup dekat untuk membuat napas mereka saling terasa.
“Malam ini aku tidak ingin menunggu,” lanjutnya rendah. “Kamu istriku, Ren.”
Iren menelan ludah. “Kevin, jangan mulai lagi. Kamu tahu aku belum siap.”
Kevin tersenyum tipis. Bukan senyum berharap, melainkan senyum seorang pria yang baru saja mengambil keputusan.
“Aku tidak minta janji,” katanya. “Aku cuma ingin kamu melihatku. Bukan sebagai suami yang kamu simpan di rumah. Tapi sebagai pria.”
Tangannya terangkat lalu berhenti di udara, seolah memberi pilihan yang sejak awal tidak pernah benar-benar ada.
“Hanya malam ini,” ucapnya pelan. “Setelah itu, aku tidak akan meminta apa pun lagi.”
Iren menatap Kevin lama. Ada ragu, ada kebingungan, dan Kevin menangkap semuanya dengan jelas. Tak lama Iren menarik napas dalam, lalu melangkah mundur setapak. Wajahnya kembali dingin, datar seperti tembok yang selama ini selalu Kevin hadapi.
“Jangan,” katanya singkat. “Aku sudah bilang aku belum siap.”
Kevin tidak merasa terkejut dengan jawaban itu. Ia hanya menatapnya tanpa berkedip.
“Empat tahun,” ucapnya pelan. “Empat tahun aku dengar kalimat yang sama.”
“Aku tidak pernah memintamu menunggu,” jawab Iren, matanya berpaling.
Kevin terkekeh kecil tapi nadanya hambar, lalu melangkah maju lagi hingga jarak itu benar-benar lenyap.
“Tapi kamu juga tidak pernah menyuruhku pergi.”
Saat Iren hendak menjauh, tangan Kevin terangkat dan menahan pergelangan tangannya. Tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuat Iren terhenti.
“Lepaskan,” ucap Iren dingin.
Kevin tidak langsung menurut. Tatapannya mengeras, rahangnya mengunci.
“Kamu istriku,” katanya rendah. “Setidaknya akui itu malam ini.”
Iren menatapnya lurus, tanpa emosi. “Kalau harus dengan cara ini,” ujarnya pelan tapi tajam, “lebih baik jangan pernah.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan. Jari Kevin mengendur, pegangannya terlepas. Namun ia tidak mundur justru berdiri tepat di hadapan Iren, napasnya berat, matanya gelap oleh sesuatu yang belum pernah wanita itu lihat sebelumnya.