Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 36: Benang Merah Sang Arsitek Takdir
Ketegangan di Grand Ballroom Valerius mencapai titik didih yang sanggup menghentikan napas siapa pun yang berada di sana. Ribuan kristal lampu gantung di langit-langit seolah membeku, memantulkan kilatan cahaya pada wajah-wajah yang terpaku. Adrian Salsabila, pria yang selama tujuh tahun dianggap sebagai hantu dalam catatan duka, berdiri dengan tenang di ambang pintu besar berlapis emas itu. Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang sangat rapi, rambutnya yang memutih di pelipis justru menambah kesan otoritas yang dingin.
Aruna merasa dunianya miring. Jemarinya yang memegang gaun sutra merahnya gemetar hebat. Jika bukan karena lengan kokoh Dante yang melingkari pinggangnya, mungkin Aruna sudah jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin.
"Ayah...?" Suara Aruna hanya berupa bisikan pecah. Nama itu terasa asing dan menyakitkan di lidahnya. Ayah yang ia tangisi, ayah yang fotonya ia elus setiap malam saat ia merasa kesepian di mansion Dante, kini berdiri di sana dengan tatapan yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Adrian melangkah maju. Setiap ketukan sepatunya di lantai aula terdengar seperti vonis mati. Marco dan tim keamanan Valerius sudah menyentuh senjata di balik jas mereka, namun Dante mengangkat satu tangannya—isyarat untuk menahan diri.
"Kau memiliki keberanian yang luar biasa untuk muncul di pestaku, Adrian," suara Dante rendah, seperti geraman pemangsa yang merasa wilayahnya diusik. Matanya yang abu-abu berkilat penuh kebencian yang sudah dipendam bertahun-tahun.
"Aku tidak datang sebagai musuh, Dante. Aku datang sebagai pemilik dari apa yang kau jaga selama ini," sahut Adrian, suaranya halus namun penuh racun. Ia berhenti tepat tiga meter di depan mereka. Matanya beralih ke Aruna, menatap putrinya dengan kehangatan artifisial. "Aruna, kau tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Merah benar-benar warna keberuntunganmu."
"Keberuntungan?" Aruna akhirnya meledak. Ia melepaskan diri dari dekapan Dante dan melangkah satu langkah ke depan. "Kau membiarkan aku menjual diriku! Kau membiarkan Ibu membusuk di rumah sakit selama tujuh tahun! Kau di mana saat aku menangis di koridor RS Medika memohon uang satu miliar untuk biaya operasi Ibu?! Kau di mana, Ayah?!"
Suara Aruna bergema di seluruh aula, membuat beberapa tamu undangan menunduk karena malu mendengar kepedihan yang begitu telanjang.
Adrian hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Aruna merasa mual. "Aku ada di sana, Aruna. Di balik layar monitor rumah sakit. Akulah yang mengirimkan perwakilan bank untuk menolak pinjamanmu, agar kau tidak punya pilihan selain menoleh pada Dante Valerius."
Dante tersentak. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Apa maksudmu, Adrian?"
"Dante, kau pikir kenapa ayahmu, mendiang kaisar Valerius, begitu terobsesi mencari perawat dengan kondisi biometrik spesifik untuk cucunya, Leonardo?" Adrian menatap berkeliling, seolah sedang memberikan kuliah umum. "Keluarga Valerius menderita kelainan genetik langka yang disebut Thalassa-X. Leonardo lahir prematur bukan karena kecelakaan, tapi karena tubuhnya menolak darah ibunya sendiri. Dia seharusnya mati dalam tiga hari."
Aruna menoleh pada Dante dengan tatapan tak percaya. Dante tetap diam, namun matanya menunjukkan bahwa ia mulai menyadari kepingan puzzle yang hilang.
"Satu-satunya penawar di dunia ini," lanjut Adrian, "adalah enzim yang disintesis di dalam kelenjar susu manusia yang telah dimodifikasi secara genetik sejak bayi. Aku memilihmu, Aruna. Sejak kau berusia lima tahun, setiap vitamin yang kuberikan padamu, setiap vaksin yang kusuntikkan, adalah persiapan untuk momen ini. Aku menciptakanmu untuk menjadi 'Obat Hidup' bagi pewaris Valerius."
Lutut Aruna benar-benar lemas sekarang. Ia merasakan kehampaan yang luar biasa. Jadi, semua penderitaannya, semua air matanya, bahkan kondisi hiperlaktasi yang ia anggap sebagai kutukan medis, adalah desain ayahnya sendiri? Dan Dante... apakah Dante tahu?
Aruna menatap Dante dengan mata berkaca-kaca. "Dante... kau tahu soal ini? Kau tahu bahwa aku adalah laboratorium berjalan yang ayahku ciptakan untuk anakmu?"
Dante menatap Aruna dengan kepedihan yang mendalam. "Aku tahu tentang enzim itu setelah setahun kau di mansion, Aruna. Tapi aku bersumpah, saat aku menemuimu di RS Medika, aku hanya pria yang putus asa mencari cara agar anakku tidak mati. Aku tidak tahu Adrian merencanakan semuanya."
"Cukup!" teriak Aruna. Ia tidak sanggup lagi mendengar suara mereka. Di tempat ini, dikelilingi oleh kemewahan dan orang-orang berpakaian mahal, Aruna merasa seperti barang pajangan yang tidak memiliki jiwa.
Ia berbalik dan berlari. Ia tidak peduli dengan gaun merahnya yang panjang, ia tidak peduli pada tatapan Bianca yang tersenyum penuh kemenangan di sudut ruangan. Aruna berlari menembus kerumunan, keluar menuju taman hotel yang luas dan gelap.
Angin malam yang dingin menerpa wajahnya yang basah oleh air mata. Ia terus berlari hingga kakinya yang mengenakan high heels terasa sakit, hingga ia sampai di tepi kolam air mancur yang sunyi. Di sana, ia terisak, meremas dadanya yang terasa sesak.
"Aruna!"
Suara Dante terdengar di belakangnya. Aruna berbalik, wajahnya penuh amarah dan luka. "Jangan mendekat! Kau dan Ayah... kalian sama saja! Kalian memperlakukanku seperti alat! Satu miliar itu bukan untuk menyelamatkan Ibu, itu adalah biaya sewa untuk tubuhku!"
Dante tidak berhenti. Ia terus melangkah hingga ia berada tepat di depan Aruna. Tanpa peringatan, ia menarik Aruna ke dalam pelukannya. Aruna memukul dada Dante, berontak dengan sisa kekuatannya, namun Dante memegangnya begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, dunia akan kiamat.
"Dengarkan aku, Aruna! Demi Tuhan, dengarkan aku!" Dante membentak pelan, memaksa Aruna menatap matanya. "Ya, awalnya itu adalah transaksi. Ya, Leonardo butuh enzim itu untuk bertahan hidup. Tapi perasaanku padamu... itu bukan bagian dari sains mana pun! Aku mencintaimu bukan karena apa yang ada di dalam darahmu, tapi karena bagaimana kau merawat Leonardo, bagaimana kau menatapku tanpa rasa takut saat semua orang gemetar. Aku mencintaimu karena kau adalah satu-satunya rumah yang kupunya!"
Aruna terdiam, napasnya tersengal-sengal di ceruk leher Dante.
"Adrian ingin menghancurkan kita agar dia bisa mengambil alih kendali atas kau dan Leonardo," bisik Dante, suaranya kini melunak. "Dia ingin menjadikan kalian subjek penelitiannya lagi. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan membakar seluruh dunia ini sebelum aku membiarkan dia menyentuhmu lagi."
Di kejauhan, lampu-lampu hotel masih gemerlap, namun di taman itu, hanya ada mereka berdua. Aruna merasakan kehangatan dari tubuh Dante meresap ke dalam jiwanya yang beku. Ia menyadari bahwa meski awal hubungan mereka adalah kebohongan besar yang dirancang ayahnya, perasaan yang mereka bangun selama tujuh tahun adalah nyata.
"Ayah tidak akan berhenti, Dante," bisik Aruna. "Dia sudah kembali."
"Aku tahu," Dante mengusap air mata di pipi Aruna dengan ibu jarinya. "Dan malam ini, permainan mafia yang kejam itu sudah berakhir. Sekarang, ini adalah perang untuk melindungi keluarga. Aku akan membawa Ibu Sari, Nadia, dan Leonardo ke tempat yang paling aman. Kita akan melawan Adrian dengan cara kita sendiri."
Dante menarik sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak kecil berbahan beludru biru tua. Di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian dengan potongan zamrud yang sangat langka.
"Aku tidak ingin ada kontrak lagi, Aruna. Aku tidak ingin ada utang satu miliar atau kewajiban biologis," Dante berlutut di depan Aruna di atas rumput yang basah. "Maukah kau menjadi istriku yang sah? Bukan sebagai 'Ibu Asuh', bukan sebagai penawar racun, tapi sebagai Aruna Valerius. Wanita yang memiliki jiwaku sepenuhnya."
Aruna menatap cincin itu, lalu menatap pria yang selama ini menjadi penjaga sekaligus penculiknya. Di mata Dante, ia tidak melihat lagi seorang bos mafia yang dingin. Ia melihat seorang pria yang sedang memohon untuk dicintai.
"Ya," bisik Aruna. "Aku mau."
Dante memasangkan cincin itu di jari manis Aruna, lalu berdiri dan menciumnya di bawah cahaya rembulan. Ciuman itu adalah janji baru. Jika Adrian Salsabila mengira ia bisa terus memainkan peran sebagai arsitek takdir, ia salah besar. Karena mulai malam ini, Aruna dan Dante akan menulis takdir mereka sendiri dengan tinta cinta dan keberanian.