NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Bu Rina, Daffa, dan Laras saling bertukar pandang, senyum puas merekah di wajah mereka.

Mereka tak menyangka Lestari bisa begitu ramah dan hangat melayani Pak Yandris bahkan tertawa kecil pada beberapa candaan ringan pria paruh baya itu.

Mereka semakin berseri ketika tanpa pikir panjang, di hadapan mereka semua, Pak Yandris mengambil pulpen emas dari sakunya dan menandatangani dokumen kerja sama yang telah mereka bawa.

"Dengan ini, saya nyatakan resmi bekerja sama dengan perusahaan kalian. Saya suka cara kalian bekerja... dan tentu saja, saya sangat menyukai Lestari," ujar Pak Yandris sambil melirik gadis di sampingnya dengan pandangan kagum.

Tangan Bu Rina langsung mencengkram tangan Daffa di bawah meja, nyaris tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Laras juga ikut tersenyum meskipun senyumnya lebih canggung. Mungkin karena perasaan tidak nyaman yang muncul melihat adik iparnya duduk begitu dekat dengan pria seusia ayah mereka.

Namun suasana mendadak berubah saat Lestari memiringkan kepalanya sedikit, menatap Pak Yandris dengan ekspresi polos yang menyimpan maksud.

"Pak Yandris..." katanya dengan suara lembut namun jelas. "Kalau suatu hari saya... menolak menikah dengan Bapak, atau tak mau bertemu lagi... apa kerja sama ini akan Bapak batalkan?"

Suasana meja menjadi hening. Daffa menatap Lestari kaget. Bu Rina tampak ingin menghentikan ucapan gadis itu, tapi sudah terlambat. Kalimat itu telah meluncur dan sekarang bergema di antara mereka.

Pak Yandris meletakkan gelas wine-nya pelan di meja, menatap Lestari dengan mata menyipit.

"Tentu saja," jawabnya tegas. "Kerja sama ini terjadi karena kepercayaan. Dan kamu, Lestari... adalah bagian dari kepercayaan itu. Jika kamu menolak aku, maka kepercayaanku pun hilang. Dan kerja sama ini... akan berakhir."

Bu Rina menegang. Daffa memalingkan wajah, tak berani melihat reaksi Pak Yandris. Laras mencoba tersenyum, tapi ekspresinya penuh kepanikan.

Namun belum selesai, Lestari kembali bersuara.

"Bagaimana kalau... ada seseorang yang menyakiti saya, Pak? Apa yang akan Bapak lakukan?" Nadanya masih lembut, tapi matanya tajam, menusuk seseorang di meja itu, yakni Laras.

Pak Yandris tertawa pendek, lalu meraih tangan Lestari.

"Kalau ada yang menyakiti kamu," katanya, "maka aku yang akan menyakitinya kembali. Dua kali lipat. Tak ada yang boleh menyentuh milikku."

Laras langsung pucat. Napasnya terasa sesak. Ia tahu, kalimat itu tak sembarangan. Ia tahu benar siapa yang dulu paling sering memperlakukan Lestari semena-mena di rumah.

Sementara itu, Lestari hanya tersenyum manis. Bibirnya melengkung halus, dan di matanya tersirat kemenangan.

Lestari memejamkan matanya dan memegang pelipis, lalu menghela napas panjang. Wajahnya tampak sayu, seolah menahan sesuatu yang berat.

"Aduh... kepalaku..." lirihnya, pelan namun cukup terdengar oleh semua orang di meja.

Pak Yandris langsung menoleh panik. "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya khawatir, tangannya buru-buru meraih pundak Lestari. "Sakit di bagian mana?"

Lestari membuka matanya perlahan, menggeleng kecil sambil tersenyum lemah. "Nggak apa-apa, Pak... mungkin cuma kelelahan."

"Kelelahan? Kamu habis ngapain?" tanya Pak Yandris curiga.

Lestari menarik napas, lalu menunduk sambil berbisik, "Saya habis bekerja, Pak."

"Kerja?" suara Pak Yandris meninggi.

Bu Rina, Laras, dan Daffa serempak menegang.

"Iya..." Lestari menjawab sambil memijit kening. "Pekerjaan rumah. Bersih-bersih, mencuci, memasak..."

BRAK!

Pak Yandris mendadak membanting tangannya ke meja, membuat gelas di hadapannya bergetar. Matanya membelalak menatap ketiga anggota keluarga Hartawan di hadapannya dengan kemarahan yang tak terbendung.

"Siapa yang berani-beraninya menyuruh Lestari kerja rumah tangga?! Kalian pikir dia ini apa?!"

Laras memucat. Daffa menunduk. Bu Rina tampak panik mencoba menjelaskan, "Pak Yandris, ini hanya... hanya kebiasaan Lestari saja di rumah. Kami tidak pernah menyuruhnya."

Laras yang merasa terbakar harga dirinya langsung menimpali, "Dia sendiri yang mau! Dia yang bilang ingin tetap aktif. Kami cuma-"

"Tutup mulutmu!" bentak Pak Yandris, menuding langsung ke arah Laras. "Kalian bertiga pikir aku ini bodoh? Aku tahu cara kalian memperlakukan dia! Aku bisa membaca dari cara kalian duduk, bicara, bahkan dari mata kalian yang tak ikhlas!"

Suasana restoran tiba-tiba menjadi sunyi.

Beberapa tamu di meja lain mulai menoleh penasaran, tetapi tak ada yang berani mencampuri.

Melihat keadaan makin panas, Lestari cepat-cepat menyentuh tangan Pak Yandris dan menatapnya lembut.

"Pak, tolong jangan marah... Saya memang yang minta melakukan semua itu. Biar saya merasa punya tempat di rumah... Saya nggak ingin menyusahkan siapa-siapa."

Mendengar kata-kata itu, nada bicara Pak Yandris melunak. Ia menghela napas dan mengelus tangan Lestari dengan penuh perhatian.

"Kamu ini terlalu baik, Sayang. Mereka tidak pantas mendapat perhatian dan pengertian seperti itu darimu."

Lestari tersenyum kecil. "Saya cuma nggak mau memperkeruh suasana..."

Saat itu ponsel Pak Yandris berdering. Ia melihat layar sebentar, wajahnya berubah serius.

"Maaf, aku harus pergi dulu. Ada urusan penting yang harus segera diselesaikan," katanya sambil berdiri.

Dia menatap Lestari dan berkata, "Jaga dirimu, jangan terlalu capek. Kalau ada yang berani menyuruhmu kerja lagi... kasih tahu aku. Aku akan urus mereka."

Lestari mengangguk patuh. Pak Yandris lalu menatap tajam ke arah Bu Rina, Laras, dan Daffa, seolah memberikan peringatan terakhir, sebelum akhirnya meninggalkan meja itu.

Begitu kepergian Pak Yandris menghilang dari pandangan mereka, suasana meja berubah drastis.

"PUAS?!" bentak Laras penuh emosi. "Kamu pikir tadi lucu, ya? Kamu sengaja mancing Pak Yandris supaya dia makin percaya sama kamu?!"

Lestari menoleh perlahan, kali ini tidak lagi dengan ekspresi polos, tapi dengan tatapan dingin penuh kendali.

"Ssst..." Lestari mengangkat jari telunjuk ke bibir. "Jangan teriak-teriak, Kak Laras. Nanti orang-orang dengar, mereka pikir kamu ini kakak ipar yang suka menyiksa adik sendiri."

Laras menggertakkan giginya. "Kamu sudah kelewatan, Tari!"

Namun Lestari hanya tersenyum tenang.

"Kalau aku kamu anggap kelewatan..." katanya sambil membetulkan rambutnya dengan anggun. "... maka lebih baik kalian bersiap menghadapi yang lebih parah."

Bu Rina mendesah gusar. "Apa maksudmu, Lestari?"

Lestari menatap satu per satu wajah di hadapannya, kemudian dengan suara tenang namun menghujam, ia berkata:

"Sekarang aku adalah kunci kesuksesan kalian. Kalian ingin proyek dari keluarga Atmajaya? Ingin Pak Yandris jadi investor utama kalian? Maka bersikaplah manis padaku. Jangan pernah anggap aku remeh lagi... kalau tidak-" ia menoleh pada Laras, "-bukan cuma aku yang hancur, tapi kalian semua akan hancur."

Daffa terlihat ingin protes, tapi tak bisa berkata apa-apa. Bu Rina memalingkan wajah, merasa terkunci dalam situasi yang tak bisa mereka hindari. Dan Laras... hanya bisa menggertakkan giginya sambil menahan emosi yang membakar.

Lestari bangkit dari duduknya, merapikan tas tangan dan gaunnya dengan penuh keanggunan.

"Sudah malam. Aku mau pulang. Tolong jangan paksa aku naik mobil yang sama kalau sepanjang perjalanan cuma mau menggerutu."

Lalu ia melenggang pergi dari meja dengan kepala tegak dan langkah ringan seolah dialah ratu malam itu.

Laras menatap punggung Lestari yang menjauh dengan tatapan tajam penuh kebencian. Begitu Lestari menghilang dari pandangan mereka, ia mendengus keras.

"Sok hebat. Sok berkuasa. Baru juga bikin Pak Yandris terpesona sedikit udah kayak ratu aja lagaknya!" cemooh Laras dengan suara menyindir.

Daffa mengerutkan dahi. "Laras, jaga ucapanmu."

"Kenapa? Emang salah?" Laras berbalik, menatap Bu Rina dan Daffa dengan penuh emosi. "Dia pikir dia siapa? Baru jadi calon doang, udah berani ngatur-ngatur kita!"

Bu Rina menatap Laras dengan tajam. "Justru karena belum resmi itulah kita harus tetap menjaga hubungan ini. Kamu pikir Pak Yandris nggak akan tahu kalau kamu kasar sama Lestari? Kamu tahu sendiri betapa dia memuja Lestari sekarang."

Laras mendengus. "Hah, memuja katanya. Coba aja nanti kalau istri sahnya tahu! Lestari itu belum tahu aja medan permainannya sekeras apa. Kalau sampai nyonya Yandris tahu soal hubungan gelap ini, bisa habis dia!"

"Cukup, Laras!" kali ini giliran Daffa yang bicara lebih keras. "Kita ini lagi butuh Pak Yandris. Kalau kamu malah bikin masalah sama Lestari, bisa gagal semua rencana!"

"Tapi-"

"Udah!" potong Bu Rina tegas. "Kamu tetap ikut rencana awal. Sementara waktu, bersikap manis pada Lestari. Kalau perlu kamu puji-puji dia. Bikin dia merasa kita semua mendukungnya."

Laras menatap ibu mertuanya dengan tatapan tak percaya. "Ibu membenarkan sikap Tari?"

Bu Rina menarik napas panjang, nadanya mulai melemah tapi tegas. "Sikap Tari benar atau salah tidak usah di permasalahkan. Karena kita sudah tahu jawabannya. Sama seperti kamu yang mengambil posisi Raya dengan cara salah atau benar kita tidak mempermasalahkan."

Laras memalingkan wajah, kedua tangannya mengepal di pangkuan. "Kenapa pembicaraan Ibu semakin jauh? Aku dan Raya berbeda jangan di samakan. Pokoknya aku tetap nggak suka. Dia.."

"Ya, nggak suka nggak usah jadi masalah. Sekarang pikirkan ke depan. Beberapa bulan lagi kamu akan melahirkan. Kamu mau melahirkan di kolong jembatan?" Tanya Daffa seketika mendapatkan penolakkan dari Laras dengan tatapan tajam.

"Kalau nggak mau, ikuti saja permainan kita."

Laras menatap suaminya, masih dengan sisa-sisa emosi yang belum reda. Tapi kali ini dia tak membalas. Dalam hati, dia tahu tak ada pilihan lain. Sekuat apapun rasa muaknya terhadap Lestari, sekarang dialah kunci hidup-mati nasib keluarga mereka.

"Baiklah..." ucap Laras akhirnya, meski terasa berat di lidah.

Bu Rina mengangguk puas, meski di balik senyumnya ada bayang-bayang was-was. Ia tahu sifat Laras keras kepala, mudah tersulut, dan licik. Jika api di hati menantunya itu terus dipelihara, cepat atau lambat bisa membakar semuanya.

Dan sementara mereka tenggelam dalam intrik serta drama penuh kepura-puraan itu, tak satu pun dari mereka sadar... bahwa Lestari sudah punya rencana lain yang jauh lebih matang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!