Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.
"I-ibu?" batin Naraya. Matanya berkaca-kaca.
"Nggak, ini nggak mungkin!" Ia menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menyadarkan diri.
Naraya memalingkan wajahnya lantas menunduk. Ia mengambil masker dari saku celananya dan mengenakannya dengan cepat, berusaha menyembunyikan wajahnya.
Wanita itu melangkah masuk ke dalam kafe. Ia mendekati meja kasir lalu memesan, "Kopi latte satu dan sepotong red velvet cake."
Setelahnya ia lalu duduk di dekat jendela, menunggu pesanannya datang sambil menikmati pemandangan jalanan yang ramai.
Naraya menyiapkan cake ke dalam piring keras kecil setelah mendapatkan intruksi dari kasir. Sementara Abiyan menyiapkan kopi latte.
Pramusaji segera mengantarkan pesanan ke meja wanita tersebut.
Wanita itu tampak menikmati sarapannya dengan santai sambil sesekali mengetikkan sesuatu di ponsel mahalnya. Setelah selesai, ia berjalan mendekati Naraya yang sedang sibuk menata pastry di etalase.
"Maaf, Mbak," panggil wanita itu dengan suara lembut. "Saya mau pesan croissant dan eclair, masing-masing setengah lusin untuk dibawa pulang."
Naraya mendongak, berusaha bersikap profesional, meski dadanya berdebar kencang. "Baik, ada lagi yang mau ditambahkan?" tanyanya dengan bibir bergetar.
"Oh ya, tambahkan juga chocolate cake yang ukuran sedang. Ini semua kesukaan putra saya," jawab wanita itu sambil tersenyum.
Naraya mengangguk, lalu mulai menyiapkan pesanan wanita itu. Tangannya gemetar saat memasukkan pastry dan cake ke dalam kotak. "Putra?" batinnya. "Rupanya dia sangat bahagia dengan keluarganya."
Setelah selesai menyiapkan pesanan, Naraya menyerahkannya pada wanita itu. "Silakan bayar di kasir, Nyonya," ucapnya.
Wanita itu tersenyum pada Naraya. "Terima kasih ya, Mbak. Pasti putra saya suka pastry dan cake di sini. Tadi saya sudah coba dan rasanya enak" ujarnya memuji, lantas menuju kasir untuk membayar belanjaanya.
Naraya menyunggingkan senyum tipis dari balik markernya, menatap wanita itu dengan pandangan nanar.
Setelah wanita itu pergi, Naraya langsung berlari ke belakang, menuju ruang ganti karyawan. Ia menutup pintu dengan rapat, lalu bersandar di sana, air matanya mulai mengalir deras.
"Ibu..." bisiknya lirih, sambil terisak. "Apakah sedikitpun ibu tak pernah mengingatku? Kenapa... kenapa, Bu...?"
Naraya menangis pilu, sambil menutup mulutnya agar tak kedengaran dari luar. Ia ingin meluapkan semua kerinduan dan kesedihan yang selama ini dipendamnya. Pertemuan singkat dengan wanita itu, telah membangkitkan kembali kenangan pahit yang selama ini berusaha ia lupakan.
Sementara itu, Abiyan yang peka menyadari perubahan air muka Naraya segera menyusulnya dengan khawatir. Dia curiga ada sesuatu yang terjadi. Sampai di depan ruang ganti, dia tertegun mendengar isak tangis yang tertahan dari dalam. Abiyan mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, tidak ingin mengganggu privasi Naraya.
"Ra, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya lirih, suaranya sarat kekhawatiran.
Abiyan menempelkan telinganya ke pintu, mencoba mendengar jawaban Naraya. "Ra, kalau ada apa-apa, cerita sama aku, ya?" lanjutnya.
Di dalam, Naraya masih terisak. Mendengar suara Abiyan, tangisnya semakin pecah. Ia ingin sekali berbagi kesedihannya dengan Abiyan, tetapi ia merasa malu dan tidak ingin membebaninya dengan masalahnya.
"Pergi, Bi," jawab Naraya dengan suara serak. "Aku nggak apa-apa. Cuma... cuma lagi nggak enak badan aja." Ia berusaha meyakinkan Abiyan, meski suaranya terdengar tidak meyakinkan.
Abiyan tampak ragu apakah harus percaya atau tidak. Dia yakin Naraya sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi dia juga tidak ingin memaksa bila wanita itu belum siap untuk bercerita.
"Oke, aku pergi," jawab Abiyan akhirnya. "Tapi kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan untuk manggil aku ya, Ra. Aku akan selalu ada buat kamu."
Dia kemudian menjauh dari ruang ganti, meskipun sebenarnya hatinya masih dipenuhi dengan kekhawatiran terhadap Naraya.
.
.
.
Malam itu, usai makan malam, Abiyan tak bisa mengenyahkan Naraya dari pikirannya. Bayangan wajah Naraya yang sedih di kafe siang tadi, terus menghantuinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia ingin sekali tahu, ingin sekali bisa membantu meringankan beban Naraya. Apa mungkin... dirinya sudah jatuh cinta pada wanita itu? Entahlah, yang pasti, dia tak bisa lagi mengabaikan perasaannya.
"Loe mau ke mana, Bi?" tanya Aldo kepo.
Abiyan menggaruk-garuk kepalanya, salah tingkah. "Emmm... itu..." jawabnya gugup.
Matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan penuh selidik dari kedua sahabatnya.
"Cieee, kita tahu kok, loe mau ke mana. Kita cuma pura-pura nggak tahu aja. Ha-ha-ha-ha...!" Aldo dan Benny tertawa terbahak-bahak, menggoda sahabatnya yang sedang kasmaran.
Abiyan hanya bisa tersenyum kikuk, menanggapi gurauan Aldo dan Benny. Pipinya merona merah karena malu. Dia lalu bergegas keluar dari kamarnya, meninggalkan kedua sahabatnya yang masih tertawa cekikikan.
Tok
Tok
Tok
"Nay, ini aku, Abiyan. Kamu belum tidur, kan?" tanya Abiyan lembut.
Terdengar suara kunci pintu diputar dari dalam kamar. Perlahan pintu terbuka, Naraya melongokkan kepalanya, melihat siapa yang datang meski sebenarnya ia sudah tahu siapa orangnya. Ia membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Abiyan masuk. Keduanya duduk berhadapan tetapi agak berjauhan, menjaga jarak.
Abiyan yang merasa penasaran dengan kejadian tadi pagi di kafe langsung memberanikan diri untuk bertanya. "Maaf, Ra. Kalau boleh tahu, kenapa tadi kamu menangis? Apa yang membuatmu bersedih? Katakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu meringankan bebanmu," cecar Abiyan seraya menatap Naraya dengan tulus dan penuh perhatian, berharap wanita itu mau membuka diri padanya.
Sesaat Naraya menatap Abiyan. Sorot matanya tampak sedih dan berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan tangis yang sedari tadi ia tahan.
"Aku bertemu ibu... tepat di depanku, tapi dia tak mengenaliku," ucap Naraya lirih, suaranya bergetar.
Abiyan terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan Naraya. Dia bisa merasakan betapa hancurnya perasaan wanita itu.
"Dia... dia tak mengingatku, dia melupakanku..." Naraya menangis tersedu-sedu, airmatanya mengalir deras membasahi pipinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan kesedihan yang begitu mendalam.
Kira-kira apa yang akan dilakukan Abiyan?
.
Karena kemarin nggak up, hari ini double up, semoga kalian senang🤗
Jangan lupa like-nya ya
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....