Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Cup!
Rani dan keluarga Ghiffari akhirnya berangkat, Adimas sendiri harus mempersiapkan banyak hal terlebih dahulu.
Rani dan keluarga Ghiffari sampai di malam hari, perjalanan lebih mudah dilalui karena mereka menaiki jet pribadi, dan kendaraan exclusive tentu saja, suasana masih ramai di pondok malam itu. Namun suasana nampak tidak kondusif karena seorang wanita, itu Ibu tiri Rani.
“Akhirnya, kamu pulang juga ya Rani!” Wanita itu berjingkrak menuju ke arah Rani yang baru keluar dari mobil.
“Eh, gak ada kapok-kapoknya nih nenek lampir!” Elyra memasang badan di depan Rani.
Wanita itu sontak mundur beberapa langkah saat melihat Elyra, gambaran nyata tentang bagaimana ganasnya Elyra membuatnya tak bisa berkata-kata lagi.
“Mau hajar temen gue lu hah! Sini!” Elyra menggulung lengan bajunya lagi, sama persis seperti apa yang dia lakukan dulu.
“Jangan mendekat!” Teriak Ibu tiri Rani lagi, Elyra menggelengkan kepalanya heran dan tertawa saat melihat wanita itu terjerembab akibat menginjak bajunya sendiri.
Rani tersenyum saat melihat Mamahnya keluar dari pesantren, nampak sembab wajahnya. Dan Ayahnya juga keluar dari rumah itu. Rani sejenak terdiam, mengapa ayahnya ada di sana?
“Assalamu’alaikum Mah, Pah.” Rani mencium dan memeluk Ibunya, namun saat Rani akan salam pada sang Ayah, pria itu justru menghela napas kasar dan tidak menerima uluran tangan Rani.
“Wa’alaikumussalam, Nak. Tolong bawa mereka ke aula dulu.” Pinta Ibunya Rani pada seorang santriwati, santriwati itu mengangguk dan mempersilakan para tamu itu mengikuti dirinya.
“Mamah! Apa kabar? Kangen aku yang cantik ini gak?” Elyra memeluk Ibunya Rani dan mengecup kedua pipi wanita itu.
“Alhamdulillah baik, bagaimana kondisi Neng Lyra sekarang?” Tanya Ibu Rani mencoba ramah, suaranya terdengar serak dan nada kesedihan tertera jelas di sana.
“Sayang, aku temenin Rani ya?” Pinta Elyra pada sang suami, Leon mengangguk mempersilakan.
“Lyra sih baik Mah, tapi sekarang lagi proses pembuatan anak kedua. Jadi aku gak akan salah saing sama pengantin baru, Mah.” Tawa Elyra, Ibu Rani terkekeh dan mengusap kepala dari gadis yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri itu.
“Kita bicara di dalam rumah dulu,” pinta Ibunya Rani, Ayah Rani nampak menatap Elyra tidak bersahabat.
“Apa kamu akan membicarakan ini di depan orang asing, Mira?” Tanya Ayah Rani, Ibunya Rani menghela napas dan mengangguk.
“Tidak apa-apa, terkadang orang asinglah yang lebih seperti keluarga.” Jawab Ibu Rani tenang, mereka masuk ke dalam rumah. Kakek Rani juga nampak baru keluar dari kamarnya dengan kedua mata sembab.
“Kakek, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Rani memeluk kakeknya, sang Kakek mengangguk dan sejenak mengusap setitik air matanya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Ning.” Sang Kakek mengecup puncak kepala Rani dengan lembut.
“Kalian bicaralah, aku akan menemui calon besan kita dulu. Neng Elyra, sehat Nak?” Kakek Rani mengusap puncak kepala Elyra, Elyra mengangguk.
“Sehat kok Kek, Kakek juga sehat-sehat ya.” Pinta Elyra, pria tua itu mengangguk dan memberi ruang pada mereka untuk berbicara.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Terdengar suara lirih dan berat dari luar rumah, Adimas ternyata menyusul lebih cepat. Seorang pria dengan rambut pirang sedikit beruban dan tubuh tegap berdiri di sana.
Semua orang terkejut melihat kedatangan pria itu, Elyra tersenyum lebar dan langsung berlari ke arah pria itu. Elyra memeluk pria itu dan tersenyum lebar setelahnya.
“Daddy, kok ke sini gak bilang dulu?” Itu adalah Ayah Leon, mertua Elyra. Namun bagi Elyra, Tuan Attahaya tak ada bedanya seperti Ayahnya yang tidak pernah memeluknya itu, namun Tuan Attahaya justru selalu memeluknya, memberi kasih sayang melimpah pada keluarganya, dan perhatian yang luar biasa.
“Hiks… hiks… hiks…” Tangis Ibunya Rani pecah seketika, tangis yang dia tahan sejak tadi kini sudah tak terbendung lagi.
“Masuk, dan berbicaralah. Aku tak akan menghalangi kalian.” Ucap Kakek Rani, dia melangkah keluar rumah dan memasuki aula tempat keluarga Adimas berada.
“Kek, aku gak diajak? Belum salam juga loh.” Adimas nyengir kuda, Kakek Rani tertawa hambar dan memeluk calon cucu menantunya itu.
“Baru kemarin pulang, bisa-bisa ikanku habis bila ada kamu di sini, Mas.” Ucap Kakek Rani, Adimas terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
“Hahah, nanti malam aku sama Isna habisin deh kalo udah ada ucapan begini, Kek.” Tawa Adimas, Isna adalah seorang santri yang sudah cukup lama mondok, dia juga salah satu pengurus pondok pesantren.
“Sudah aku duga, ikutlah bersama mereka. Kamu juga perlu tahu, Nak, dan biar Kakek yang berbicara dengan keluargamu.” Ucap Kakek Rani, Adimas menggelengkan kepalanya pelan.
“Kek, itu tidak benar. Yang menikah memang aku dan Rani, namun mau bagaimanapun Rani, dia akan tetap jadi istriku, dan untuk keluargaku juga demikian.” Adimas tersenyum berusaha menenangkan.
“Ayo sayang!” Adimas menarik tangan Rani, mengajaknya berlari hingga semua orang di sana kehilangan kesempatan untuk berbicara, karena sudah didahului oleh tindakan Adimas.
“Mas!” Rani berteriak saat tangannya ditarik dari sana, seolah Rani kehilangan setengah dari dirinya. Dia seolah kembali pada masa lalunya, bersama Adimas.
Mereka sampai di aula, putri kecil Elyra nampak sudah terlelap dalam pelukan Leon. Raisa dan Raina juga sudah tertidur dalam pelukan Ayah dan Ibunya.
“Ya ampun,” Rani tersenyum melihat semua anak kecil sudah tertidur.
“Ambilkan kasur dan letakkan di sana. Tolong siapkan juga kipas karena sepertinya akan panas, di dekat kasur.” Pinta Rani pada seorang santriwati yang berjaga dan ada juga beberapa santri yang membantu para pekerja keluarga Ghiffari yang mengeluarkan banyak barang bawaan.
Rani menunjuk bagian belakang penghalang yang biasanya digunakan sebagai skat antara santri dan santriwati saat mengaji. Santriwati itu mengangguk dan membawa sebuah kasur besar, seorang santriwati senior memberi isyarat pada Rani lewat matanya.
“Mas! Lepasin gak!” Gertak Rani, Adimas menggeleng cepat.
“Lepas!” Pinta Rani lagi, Adimas menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Rani menghela napas kasar dan hendak membanting tubuh Adimas, memberi pelajaran pada pria itu yang sudah kurang ajar padanya itu.
Adimas yang sudah terbiasa dengan bantingan itu langsung menahan tangan Rani, dan menarik leher belakang Rani.
Cup!
Satu kecupan mendarat di kening Rani, Rani langsung membelalakkan matanya. Tidak sampai satu detik kecupan itu, karena Rani langsung bersiap menghajar Adimas.
Adimas langsung berlari dengan kecepatan penuh dan duduk di samping Ibunya. Nyonya Aditya hanya terkekeh dan menjitak kepala putranya.
“Bun, pelintir telinganya Bun.” Rani memberi isyarat pada Ibunya Adimas, Nyonya Aditya terkekeh dan dia langsung menarik telinga putranya sendiri.
“Aw! Mommy stop! Sakit!” Teriak Adimas, semua orang tertawa melihat tingkah Adimas.
Adimas mengangguk pada Ayahnya, keduanya seolah saling memberi kode. Rani juga ikut masuk, bersama dengan Ibunya Rani. Dan akhirnya semuanya berkumpul di aula itu.
happy ending 👏👍
makasih thor, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
selamat menempuh hidup baru Adimas dan Rani, semoga SaMaWa dan cepat dikasih momongan 🤲
awas Adimas jangan nyosor dulu mentang² berdua doang, inget mau sholat ashar berjamaah 🤣
huaaaaaa nyesek bacanya 😭😭😭