"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Amukan sang Iblis yang Terjaga
Pagi di Mansion Mahendra biasanya dimulai dengan aroma kopi espresso yang tajam dan keheningan yang elegan. Namun, pagi ini, keheningan itu terasa mencekam. Di halaman depan, sebuah truk boks berwarna putih dengan logo toko bunga "Everbloom" berhenti tepat di depan gerbang utama.
Tiga pria berseragam pengantar bunga turun, membawa buket mawar merah raksasa yang tingginya hampir menutupi wajah mereka.
"Kiriman untuk Nona Clarissa Wijaya," ucap salah satu pria kepada penjaga gerbang melalui interkom.
Penjaga gerbang, yang mengira itu adalah kiriman romantis dari Devan untuk merayu tunangannya yang sedang "mogok," membuka gerbang tanpa rasa curiga. Ia tidak tahu bahwa di balik rimbunnya kelopak mawar itu, moncong senapan mesin ringan telah terpasang dengan peredam suara.
Phut! Phut!
Dua penjaga gerbang tumbang tanpa suara. Operasi "Mawar Berduri" resmi dimulai.
Di dalam kamar utama, Clarissa baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit rambutnya. Ia mendapati Devan masih berbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan kening berkerut.
"Masih sakit kepalamu?" tanya Clarissa sambil mengoleskan losion ke tangannya.
Devan menoleh, matanya yang tajam menyusuri bahu Clarissa yang terbuka. "Hanya sedikit. Tapi melihatmu dengan handuk seperti itu jauh lebih baik daripada obat mana pun."
"Berhenti menggodaku, Tuan Amesia," Clarissa mencibir, namun jantungnya berdebar. Tiba-tiba, telinganya yang tajam menangkap suara aneh dari arah balkon. Suara gesekan logam yang sangat halus.
Insting petarungnya berteriak.
"Devan, tiarap!" teriak Clarissa sambil menerjang ke arah ranjang.
PRANGG!
Kaca balkon hancur berkeping-keping saat sebuah granat asap dilemparkan masuk. Asap kelabu pekat segera memenuhi ruangan dalam hitungan detik.
"Clarissa!" Devan langsung menarik Clarissa ke dalam dekapannya, berguling jatuh dari ranjang untuk mencari perlindungan di balik sofa kulit yang tebal.
Tiga pria berpakaian taktis hitam melompat masuk dari balkon. Mereka tidak berbicara; mereka langsung melepaskan tembakan ke arah tempat tidur yang sudah kosong.
"Siapa mereka?!" geram Devan. Matanya berkilat marah. Amnesianya mungkin belum sembuh, tapi naluri predatornya telah bangkit sepenuhnya.
"Anak buah Handoko! Mereka mengincar data biometrik yang ada di server kamar ini!" Clarissa meraba bawah sofa dan menemukan sebuah pistol yang diam-diam ia sembunyikan di sana semalam. "Bisa kau bertarung dengan kondisi bahu seperti itu?"
Devan menyeringai liar—sebuah seringai yang membuat Clarissa teringat pada Devan yang dulu. "Jangan meremehkanku, Sayang. Bahkan dengan satu tangan pun, aku bisa mengirim mereka ke neraka."
Pertarungan jarak dekat meledak di dalam kamar yang luas itu. Devan bergerak seperti bayangan. Meskipun bahunya masih diperban, ia menggunakan kekuatan kakinya untuk melumpuhkan satu lawan dengan tendangan memutar yang mematahkan tulang rusuk.
Clarissa tidak tinggal diam. Ia menggunakan kelincahan raga Lestari untuk meluncur di bawah kaki lawan lainnya, menusukkan pena perak ke saraf leher pria itu hingga ia lumpuh seketika.
"Bagus, Ratu!" seru Devan di tengah kemelut.
Namun, pemimpin penyusup yang bertubuh raksasa berhasil meraih leher Clarissa dari belakang. Ia mencekik Clarissa dengan lengan betonnya. "Berikan kodenya, atau aku patahkan lehernya sekarang juga!"
"Clarissa!" Devan membeku. Melihat Clarissa dalam bahaya membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat.
Kilasan memori meledak di otak Devan seperti kembang api.
Bayangan Clarissa yang jatuh di jurang...
Suara Clarissa yang memanggil namanya di dalam lift yang jatuh...
Janji yang ia ucapkan di bawah salju Alpen...
"Lepaskan... TANGANMU... DARI... WANITAKU!" raung Devan.
Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan suara iblis yang benar-benar terbangun. Devan menerjang maju tanpa mempedulikan moncong pistol yang diarahkan padanya. Ia merebut pistol lawan dengan tangan kosong, memutar pergelangan tangan pria itu hingga terdengar bunyi krak yang memilukan, dan menghantamkan kepala pria raksasa itu ke dinding marmer hingga retak.
Devan menarik Clarissa ke dalam pelukannya, napasnya memburu. Matanya yang tadi asing kini menatap Clarissa dengan intensitas yang sangat dalam.
"Sayang... kau tidak apa-apa?" bisik Devan.
Clarissa tertegun. Panggilan itu... cara Devan menatapnya... "Devan? Kau... kau ingat?"
Devan meringis sambil memegangi kepalanya yang masih terasa mau pecah. "Hanya kepingan... tapi aku ingat rasa takut ini. Aku ingat bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu."
Namun, drama belum berakhir. Salah satu penyusup yang masih sadar menarik sebuah pemantik granat di sabuknya. "Jika kami gagal, maka kalian semua mati!"
"TIDAK!" Clarissa melihat granat itu menggelinding ke arah Devan.
Tanpa berpikir panjang, Clarissa mendorong Devan menjauh dan mencoba menendang granat itu keluar balkon. Namun, granat itu meledak tepat saat berada di pinggiran pintu.
BOOOMM!
Guncangan itu melempar tubuh Clarissa ke arah pagar balkon. Bahunya menghantam pilar beton dengan keras, dan serpihan kaca menggores lengannya hingga darah segar mengucur deras.
"CLARISSA!"
Devan melihat darah itu. Dan seketika, sesuatu di dalam dirinya benar-benar pecah. Ingatannya kembali secara total dalam satu ledakan emosi yang dahsyat. Segala memori tentang cintanya, pengorbanannya, dan betapa berharganya Clarissa mengalir masuk seperti air bah.
Devan berdiri. Auranya berubah menjadi sangat dingin, lebih dingin dari salju Alpen. Ia berjalan perlahan menuju penyusup terakhir yang mencoba merangkak kabur.
"Kau... menyentuhnya," desis Devan. Ia mencengkeram kerah pria itu dan menghajarnya tanpa ampun. Pukulan demi pukulan mendarat, menghancurkan wajah lawan hingga tak berbentuk lagi. Devan sudah kehilangan kendali. Ia benar-benar menjadi iblis yang mengamuk.
"Devan... cukup... Devan!" Clarissa merintih, mencoba menahan luka di lengannya.
Mendengar suara lemas Clarissa, Devan baru berhenti. Ia melempar tubuh tak berdaya penyusup itu seperti sampah, lalu berlari ke arah Clarissa.
"Clarissa! Maafkan aku... aku ingat sekarang. Aku ingat semuanya!" Devan memangku kepala Clarissa, air mata jatuh di pipinya. "Aku bodoh, aku pria paling bodoh karena sempat melupakanmu."
Clarissa tersenyum pucat, meskipun wajahnya menahan sakit. "Baguslah kalau kau sudah ingat. Karena kalau tidak, aku benar-benar akan memecatmu sebagai tunanganku."
Devan tertawa di tengah tangisnya, ia mencium luka di lengan Clarissa dengan penuh penyesalan. "Aku akan membunuh siapa pun yang merencanakan ini. Handoko... aku akan menyeretnya keluar dari selnya jika perlu."
Satu jam kemudian, mansion sudah dipenuhi polisi dan tim medis Mahendra. Sekretaris Han tampak sibuk mengarahkan pembersihan, sementara Bram berdiri di sudut ruangan dengan wajah gelap.
"Tuan Handoko tidak beraksi sendirian," bisik Bram pada Devan yang sedang memeluk Clarissa yang lengannya sudah diperban. "Ada orang ketiga. Seseorang yang membiayai operasi 'Mawar Berduri' ini dari Singapura."
Devan menatap Bram dengan mata yang tajam. "Siapa?"
"Dokter yang merawatmu di rumah sakit. Dokter Adrian," jawab Bram.
Clarissa terkesiap. "Adrian? Dokter yang sempat mengobrol denganku itu?"
Devan mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Jadi buaya itu bukan hanya mengincarmu, tapi dia juga ingin melenyapkanku untuk mengambil alih teknologi biometrik Wijaya."
Devan berdiri, membetulkan tuxedo hitamnya yang kini ternoda darah. Ia menoleh ke arah Clarissa, memberikan tatapan posesif yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Sayang, istirahatlah di sini dengan penjagaan ketat. Aku punya satu dokter yang harus 'dioperasi' tanpa bius malam ini."
"Devan, jangan gegabah!" Clarissa menahan tangan Devan.
Devan mencium telapak tangan Clarissa. "Jangan khawatir, Ratu. Iblismu sudah kembali sepenuhnya. Dan kali ini, tidak akan ada yang bisa lolos dari perhitunganku."