Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *9
Ini hidupnya sekarang. Hidup yang jauh lebih menakutkan dari mimpi buruk yang datang saat dia terlelap. Tentu saja jauh berbeda, karena mimpi akan kembali seperti semula saat dia terbangun. Tapi hidup yang tengah ia jalani, tidak akan kembali ke posisi sebelumnya sama sekali.
Rin membaringkan tubuhnya tanpa melakukan kebiasaan yang biasa ia lakukan sebelum ia tidur. Seperti, mencuci muka, menyikat gigi, mengoleskan lotion ke kaki, leher dan tangan. Singkatnya, semua yang ia lakukan di kota, tidak ia lakukan malam ini di tempat baru yang dia tinggali.
Rin berbaring memunggungi Bayu. Tapi, sesaat kemudian, dia kembali memutar tubuh. Kali ini, dia melihat punggung Bayu dengan tatapan lekat.
Hati Rin berkata. 'Kenapa dia tidak menakutkan? Kenapa tidak bersikeras? Atau, kenapa dia tidak memusuhi aku. Kenapa harus bersikap bersahabat seperti ini? Aku tidak suka akan hal ini.'
Bukan Rin tidak menyukai sikap Bayu yang saat ini sedang dia lihat. Melainkan, dia tidak suka karena Bayu berbeda dari yang ia bayangkan. Pria desa, harusnya jangan bersikap bersahabat. Harusnya, menolak dirinya dengan keras agar dia tidak punya alasan untuk bertahan. Tapi Bayu malah tidak melakukan hal itu. Itu cukup membuat Rin merasa tidak nyaman.
*
Entah sejak kapan Rin terlelap, dia juga tidak tahu. Tapi rasanya, baru saja mata itu terpejam, bunyi asing malah sudah menganggu telinganya. Ketenangan malam langsung berubah seketika.
Jika di kota, dia bangun setelah fajar menyapa. Tapi di sini, fajar nya masih belum terlihat, riuh kokok ayam jantan malah sudah terdengar. Dan itu sangat menganggu telinga Rin yang masih sangat asing dengan bunyi hewan tersebut.
"Ya Tuhan. Bagaimana bisa seberisik ini?"
Rin membuka paksa matanya yang terasa masih sangat berat. Namun, saat mata itu berhasil melihat, apa yang ia lihat untuk pertama kalinya adalah tempat tidur Bayu yang kini sudah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Rin semakin melebarkan matanya.
"Ke mana dia pergi?"
Rin bangun dari baringnya.
"Apakah, dia sudah bangun jam segini? Tapi kan, ini masih subuh. Sangat subuh malah."
Tiba-tiba hidung Rin mencium aroma wangi masakan dari arah luar kamar. Entahlah. Rin sendiri tidak yakin akan apa yang tercium oleh hidungnya ini.
Dia langsung menyentuh perut dengan satu tangan. "Bau ini ... bikin perutku terasa semakin lapar."
"Tidak. Apakah hidung ku yang salah gara-gara aku tidak makan dengan baik sejak kemarin ya, makanya, tiba-tiba bisa mencium aroma masakan."
"Mm ... sebaiknya, ku pastikan saja. Lagipula, dia juga tidak ada di kamar ini sekarang."
Rin beranjak keluar kamar. Rumah sederhana ini memang tidak cukup besar, tapi dapurnya tidak bisa langsung di lihat saat keluar dari kamar. Rin pun harus berjalan beberapa langkah terlebih dahulu baru bisa sampai ke dapur.
Tepat di pintu penghubung antara dapur dan ruang tengah, Rin langsung bisa melihat Bayu yang sedang menyalakan api dengan kayu. Sungguh, itu hal langka bagi Rin. Karena di kota, mereka masak hanya dengan api dari tungku gas atau dengan listrik saja.
Rin berjalan pelan. "Apa ... yang kamu lakukan?"
Pria itu langsung menoleh sesaat. "Kamu sudah bangun? Ini masih pagi. Kenapa bangun sekarang?"
"Aku ... ah, tidak bisa tidur."
"Karena berisik?"
Rin mengangguk dengan enggan.
"Maaf, aku baru. Jadi kamu harus maklum." Rin berucap dengan nada lirih.
Pria itu kembali menoleh singkat. Sementara tangannya tetap sibuk dengan apa yang sedang ia kerjakan. "Yang harusnya minta maaf itu bukan kamu. Tapi aku. Karena kamu harus tinggal di tempat yang sama sekali tidak nyaman untukmu."
"Maafkan aku," ucap Bayu lagi. "Aku tidak bisa membuat hidupmu nyaman tinggal di rumah ku."
"Ha ... kenapa kamu yang jadinya minta maaf? Hah. Astaga. Kenapa pula harus jadi bahas soal maaf memaafkan. Lupakan saja. Tidak ada yang perlu di maafkan di sini."
"Mm ... ah, iya. Tadi kamu nanya aku lagi apa, bukan? Maaf. Lupa menjawab. Aku sedang menyalakan api dapur untuk memanaskan air."
"Memangnya bisa?" Reflek. Kata-kata itu meluncur dengan cepat dari bibir Rin. Kata-kata yang langsung dia sesali sesaat setelah bibirnya melontarkan kata-kata tersebut.
Sebaliknya, karena pertanyaan reflek yang Rin lontarkan, untuk pertama kalinya, Bayu tersenyum kecil. Yah, walau hanya senyum singkat saja, tapi senyum itu sungguh sangat indah.
"Tentu saja bisa." Bayu menjawab setelah senyum dia layangkan. "Inikan api, nona."
Namun, yang sedang diajak bicara malah terdiam gara-gara sibuk dengan kekaguman yang baru saja menyapa hati. Senyum itu, indah. Bahkan, cukup mampu untuk membuat Rin lupa ingatan dalam hitungan detik.
"Kamu, apa yang sedang kamu pikirkan? Masih tidak percaya kalau kayu ini bisa memanaskan air?"
"Ah, bu-- bukan. Bukan itu. Aku percaya. Iya. Percaya. Api, tentu saja bisa memanaskan air."
"Mm ... kita orang desa, gas tergolong mahal. Jadi, harus lebih berhemat jika ingin memasak menggunakan benda tersebut. Jadi, alternatifnya, kita harus gunakan kayu buat masak sebagian masakan. Kayu mudah untuk di dapatkan. Bahkan, tidak perlu mengeluarkan uang untuk membelinya. Tinggal ambil saja ranting atau dahan yang jatuh. Sudah bisa masak."
Penjelasan Bayu panjang lebar membuat Rin mendengarkan dengan serius. Iya. Apa yang Bayu katakan memang benar. Saat ini, Bayu masak dengan dapur menggunakan kayu. Bukan berarti, di rumah itu tidak ada dapur gasnya. Ada. Hanya saja, dia harus berhemat menggunakan benda tersebut. Karena di desa, gas termasuk benda yang sulit untuk didapatkan.
"Nah, sekarang sudah selesai. Oh iya. Kamu mau sarapan duluan? Sarapannya sudah aku siapkan. Ada di atas meja."
Rin mengikuti ke mana arah mata Bayu melihat. Di atas sana ada semangkuk sedang nasi goreng. Bau harum yang memaksa kakinya untuk beranjak dari tempat tidur tadinya.
"Kamu ... sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri?"
Pertanyaan Rin membuat Bayu yang sedang memindahkan air ke dalam dandang langsung menoleh. "Hm. Tentu saja. Karena, aku tinggal sendiri selama lebih dari satu tahun terakhir. Tepatnya, setelah nenek pergi, aku hidup sendiri."
Rin terdiam. Baru batinnya sadari kalau pertanyaan yang baru saja dia lontarkan adalah pertanyaan yang sama sekali tidak berbobot. Tentu saja pria itu bisa melakukan apa saja sendiri. Karena pria ini tinggal sendirian di rumah ini. Jika dia tidak melakukan segalanya sendiri, lalu siapa lagi yang akan melakukannya? Pembantu? Mana ada. Ini desa, bukan kota. Cara hidup di desa, tentu saja sangat jauh berbeda dari cara hidup orang kota, bukan?
*
Pagi menjelang siang, mama dan papa Rin akhirnya beranjak dari rumah tersebut. Mereka kembali ke kota dengan cepat. Maklum, seperti yang papa Rin katakan sebelumnya, ada banyak hal yang harus mereka urus sekarang.