Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Pertemuan Nyata Laki-Laki Misterius
Hari mulai redup saat cahaya sore menyapu halaman istana, memantul di lantai marmer yang dingin dan memunculkan bayangan panjang dari pilar-pilar tinggi.
Arvella duduk di pangkuan Liora di taman istana, tangannya kecil menepuk kain saat matanya merah bersinar mengamati gerakan orang-orang di sekitarnya.
Bayi itu mencondongkan tubuh, matanya fokus pada seorang sosok laki-laki yang berdiri di ujung lorong taman—rambut hitam, mata biru, tubuh tegap, aura misterius yang langsung menarik perhatian Arvella.
Liora menunduk, menyadari tatapan bayi itu.
“Kau melihat sesuatu, Arvella?” bisiknya.
Bayi itu menggeliat, tangan kecilnya menunjuk ke arah laki-laki itu.
Liora menghela napas, “Sepertinya ia bukan tamu biasa…”
Sosok laki-laki itu melangkah lebih dekat, matanya menatap Arvella dengan rasa penasaran.
Bayi itu mencondongkan tubuh, merasakan energi asing tapi tidak berbahaya.
Liora menatapnya, sedikit waspada.
“Selamat sore… Yang Mulia,” ucap laki-laki itu dengan suara lembut namun tegas, membungkuk hormat pada Raja yang muncul dari lorong.
Raja mengangguk singkat, “Ini… Lord Kael, utusan kerajaan tetangga.”
Arvella mencondongkan tubuh, matanya menyala.
Ada sesuatu yang familiar dalam tatapan Kael—seolah dia sudah mengenal laki-laki ini dari ingatan masa lalu yang samar.
Bayangan Ksatria Anjing yang pernah dia lihat dalam penglihatan masa lalu muncul di pikirannya, dan bayi itu menepuk kain Liora, memberi isyarat: pertemuan ini penting.
Kael melangkah lebih dekat, menatap bayi itu dengan rasa ingin tahu.
“Kau… Arvella, bukan?” katanya lembut.
Bayi itu menggeliat, matanya menyala penuh perhatian.
Liora menatap Kael, kaget tapi penasaran.
“Bagaimana kau tahu namanya?” tanyanya pelan.
Kael tersenyum samar, “Kisah tentang Arvella sudah terdengar… meski aku belum pernah bertemu langsung.”
Raja tersenyum, “Baiklah… biarkan mereka mengenal satu sama lain. Arvella, ini Lord Kael.”
Arvella mencondongkan tubuh, tangan mungilnya menunjuk Kael, matanya merah bersinar.
Ia merasakan niat Kael: ingin membantu, bukan ancaman.
Namun bayi itu tetap waspada—pengalaman masa lalu mengajarkan bahwa niat bisa tersembunyi di balik senyuman.
Percakapan kecil berlangsung, Kael berbicara dengan lembut kepada Arvella, sementara bayi itu mencondongkan tubuh, menunjukkan reaksi dan rasa penasaran.
“Bayi yang cerdas… kau sudah melihat banyak hal, ya?” Kael bertanya, senyumnya tipis.
Arvella menggeliat, menepuk kain Liora, memberi tanda setuju.
Liora tersenyum, “Arvella memang istimewa… tapi ia masih bayi. Jangan terlalu membebani.”
Kael menatap Arvella, matanya biru bersinar lembut, seolah ada pengertian yang dalam.
Sementara itu, ketegangan muncul ketika salah satu pengawal kerajaan tetangga mulai memeriksa taman terlalu dekat dengan bunga langka istana.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke arah bunga yang hampir diinjak.
Liora segera menahan pengawal itu, menyelamatkan tanaman langka.
Kael menyaksikan ini dengan penuh kagum, tersenyum tipis.
“Bayi ini… mampu melihat hal-hal yang terlewatkan orang dewasa,” bisiknya.
Pertemuan itu berlanjut dengan interaksi ringan: Kael berbicara tentang latihan Ksatria Anjing, peperangan kecil yang pernah terjadi, dan tugas diplomatiknya.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, merasakan setiap energi yang hadir di taman.
Ada rasa penasaran yang tumbuh—seolah bayi itu ingin membantu Kael, namun juga ingin tetap menjaga dirinya dan orang di sekitarnya.
Ketika matahari mulai tenggelam, cahaya oranye menyapu halaman taman, menyorot wajah Arvella dan Kael.
Arvella mencondongkan tubuh, menatap Kael, matanya merah bersinar penuh perhatian.
Kael menunduk, matanya biru menatap bayi itu, seolah membaca sesuatu yang tersembunyi.
Ada koneksi tak terlihat—insting yang muncul dari ingatan masa lalu Arvella dan pengalaman Kael sebagai Ksatria Anjing.
Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari gerbang istana.
Beberapa pengawal berlari, memberi tanda bahwa sesuatu terjadi di luar.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke arah gerbang, memberi isyarat bahwa ancaman mungkin datang.
Kael menatap Arvella, menyadari pentingnya bayi ini—tidak hanya sebagai anak kerajaan, tetapi sebagai penghalau masalah yang belum tampak.
Raja menatap kedua sosok itu, tersenyum tipis.
“Kau berdua… tampaknya akan memiliki banyak hal untuk dilakukan bersama,” katanya lembut.
Arvella menggeliat, mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, memahami bahwa sosok ini akan menjadi bagian penting dari hidupnya.
Kael tersenyum lagi, menatap bayi itu, dan untuk pertama kalinya, ada rasa kepercayaan yang alami terbentuk.
Saat malam tiba, lampu taman menyala, memantul di kolam dan patung.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, menatap bayangan gelap di lorong taman.