NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku benci pie apple

Clara mulai membaca esainya, tangan dan bibir yang awalnya gemetar perlahan menjadi tenang. Suaranya tidak terlalu keras, namun jelas dan stabil, memenuhi ruangan yang tiba-tiba hening. Ia larut dalam setiap kata yang dibacanya, seakan makna dari setiap kalimat itu adalah dirinya sendiri.

"Kadang kita lupa bahwa waktu tidak pernah benar-benar berhenti.

Ia tidak menunggu mereka yang sedang berduka, tidak melambat bagi yang terluka, dan tidak mempercepat diri demi mereka yang berharap semuanya segera selesai.

Ia hanya berjalan.

Kadang pelan seperti detik yang terasa berat saat menunggu kabar dari ruang perawatan. Kadang cepat seperti tahun-tahun yang berlalu tanpa kita sadari, meninggalkan jejak kenangan dan kehilangan.

Namun di balik ketidakpeduliannya, waktu selalu menyimpan satu hal yang sama yaitu kemungkinan.

Setiap detik adalah ruang kecil tempat harapan bisa tumbuh.

Setiap hari adalah kesempatan untuk memulai ulang, meski kemarin terasa seperti akhir dari segalanya.

Saya percaya bahwa kehidupan tidak hanya diukur dari seberapa lama kita bertahan, tetapi dari seberapa berani kita memulai kembali. Ada orang-orang yang harus belajar berjalan lagi setelah kehilangan. Ada yang harus belajar percaya lagi setelah dikhianati oleh keadaan. Dan ada yang harus belajar bernapas lagi setelah merasa dunia berhenti berputar.

Di situlah harapan bekerja.

Harapan bukanlah keyakinan bahwa segalanya akan baik-baik saja tanpa usaha. Harapan adalah keputusan untuk tetap melangkah meski kita belum tahu ujungnya di mana. Ia hadir dalam bentuk sederhana: seorang dokter yang tak lelah mencari terapi baru, seorang peneliti yang menghabiskan malam demi satu temuan kecil, seorang pasien yang memilih bangun dan mencoba lagi esok hari.

Ilmu pengetahuan dan kemajuan medis adalah bukti bahwa manusia tidak menyerah pada waktu. Kita mungkin tidak bisa memutar kembali detik yang telah hilang, tetapi kita bisa menciptakan detik-detik baru yang lebih baik.

Setiap obat yang ditemukan adalah bentuk perlawanan terhadap keputusasaan.

Setiap inovasi adalah pengakuan bahwa kehidupan layak diperjuangkan.

Dan yang paling penting, setiap kesempatan kedua adalah sebuah anugerah.

Ada saatnya seseorang merasa hidupnya telah selesai, ketika kehilangan terasa terlalu besar, ketika masa depan terlihat kosong, ketika harapan seperti sesuatu yang asing. Namun, justru di titik paling gelap itulah kehidupan sering kali mempersiapkan bab berikutnya.

Waktu mengajarkan kita satu hal yang sederhana namun begitu sulit diterima, bahwa tidak semua yang pergi berarti akhir, dan tidak semua yang hancur berarti tak bisa dibangun kembali.

Kehidupan baru tidak selalu berarti menjadi orang yang sama seperti dulu.

Kadang ia berarti menjadi versi yang lebih kuat, lebih sadar, dan lebih menghargai setiap napas yang masih diberikan.

Perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan dan farmasi bukan hanya memproduksi obat atau teknologi. Ia sesungguhnya menjaga kemungkinan. Kemungkinan seorang anak kembali tertawa. Kemungkinan seorang ibu melihat putranya tumbuh dewasa. Kemungkinan seseorang yang hampir menyerah memilih bertahan satu hari lagi.

Dan selama waktu masih berjalan, harapan akan selalu punya tempat untuk hidup.

Karena pada akhirnya, kehidupan bukan tentang menghindari kehilangan, melainkan tentang berani memulai kembali setelahnya."

Ruangan mendadak hening selama beberapa detik setelah Clara menurunkan kertasnya. Bukan karena mereka tidak memahami, tetapi karena kata-kata itu terasa terlalu dekat, terlalu nyata, seolah menyentuh sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikan di dalam dada masing-masing.

Beberapa tamu terlihat saling berpandangan, sebagian menegakkan punggungnya pelan, seakan baru saja ditampar oleh kebenaran yang lembut. Lalu tepuk tangan pecah, mula-mula pelan, kemudian membesar, hingga seluruh ruangan berdiri memberikan apresiasi.

Sorot kamera berkilat-kilat menangkap wajah Clara dari berbagai sudut, cahaya lampu membuat siluetnya tampak semakin tegas di atas panggung.

Anna tersenyum puas melihat respons yang melampaui ekspektasi, sementara Noel ikut bertepuk tangan dengan wajah datar tanpa emosi, seolah esai itu hanyalah bagian dari agenda bisnis biasa. Di sisi lain, Natan berdiri paling tulus, tepuk tangannya mantap dengan senyum bangga yang tak ia sembunyikan sedikit pun. Clara menunduk sopan, berusaha menahan gemuruh di dadanya, lalu melangkah turun dari panggung kembali ke meja.

Natan menatapnya lekat-lekat sebelum berkata pelan namun penuh keyakinan.

“Kamu sangat hebat, Clar.”

Terima kasih, Kak,” ucap Clara dengan senyum tipis yang nyaris tak sampai ke matanya.

MC kemudian menutup rangkaian acara dengan pengumuman hiburan dari penyanyi papan atas, lampu panggung berubah warna, musik mulai mengalun meriah, tepuk tangan kembali memenuhi ruangan. Namun Clara tidak benar-benar hadir di sana. Suara musik terasa jauh, seperti berasal dari lorong yang tertutup kabut.

Natan terus mencoba mengajaknya berbicara, menanyakan pendapatnya tentang acara, tentang penerbit, tentang masa depan, tetapi jawaban Clara hanya potongan-potongan singkat yang melayang tanpa makna.

Tak lama kemudian seorang pramusaji datang menyajikan makanan pembuka di meja mereka, mini apple pie tersusun rapi di atas piring putih, uap hangat tipis naik perlahan, aroma kayu manis menyelinap lembut namun kejam ke dalam indra Clara. Ia menatap piringnya dengan wajah yang mendadak pucat, jari-jarinya menegang di atas meja. Aroma itu terlalu akrab, terlalu hidup, terlalu penuh kenangan yang belum ia kubur dengan benar, menarik Clara mundur bertahun-tahun ke belakang.

“Wah, pie apa ini?” tanya Noel waktu itu, duduk bersila di bawah pohon mahoni sekolah, dasinya sudah dilepas, kemejanya sedikit kusut karena panas siang.

“Aku buatkan kamu apple pie,” jawab Clara dengan mata berbinar bangga.

Ia baru belajar membuatnya dengan oven tangkring peninggalan ibunya. Tangannya sempat melepuh, adonannya gagal dua kali, tapi pagi itu ia datang dengan kotak kecil berisi pie yang bentuknya belum sempurna namun dibuat dengan sepenuh hati.

Noel mengendus pelan seakan-akan tak rela untuk dimakan, sampai Clara mendecakkan lidah.

“Kalo cuma mau diendus, aku kasih ke anak-anak aja,” ancam Clara pura-pura kesal.

“Eh, eh, jangan dong,” Noel langsung gelagapan. “Mana boleh kue secantik ini dikasih ke orang lain.”

Clara terkekeh geli, pipinya mengembang. Noel akhirnya menggigit pelan, lalu terdiam beberapa detik. Clara menunggu dengan jantung berdebar.

“Gimana?” tanyanya cemas.

Noel menatapnya, senyum perlahan terbit. “Enak banget, Clar.”

Clara tersenyum lega.

“Nanti kita buka toko kue aja,” lanjut Noel ringan. “Kamu bikin pie, aku yang jual.”

Clara menggeleng cepat. “Gak mau. Aku mau jadi penulis. Jadi kalo kamu selingkuh, aku bisa abadikan kamu di tulisanku.”

Noel tertawa keras. “Ancaman lagi?”

“Iya. Terus aku jadikan buku. Biar orang-orang tahu Noel Baskara buaya darat.”

Noel mencubit pipinya gemas. “Mana bisa aku hidup tanpa kamu, Clara.”

"Jadi, sangat tidak mungkin aku selingkuh." Janji nya.

Sejak hari itu, Noel selalu minta dibuatkan apple pie. Setiap ulang tahun, setiap ia sedang lelah, setiap ia ingin dimanja.

Natan memperhatikan perubahan itu, rahangnya mengeras tipis, ia tahu suasana hati Clara tidak sedang baik-baik saja, dan rasa bersalah kembali menekan dadanya, ia yang membawanya ke sini, ia yang membuka pintu yang mungkin belum siap Clara buka lagi.

“Kamu tidak suka kue nya?” tanya Natan hati-hati.

Clara menggeleng pelan lalu mendongakkan kepalanya, memaksa sudut bibirnya naik.

“Suka kok” jawabnya singkat.

Aku suka karena dulu dia menyukainya, batinnya lirih.

Natan hanya mengangguk, tak berani menggali lebih dalam. Mereka makan dalam keheningan yang canggung. Clara memotong pie kecil itu perlahan, setiap gigitan terasa seperti menelan potongan kaca. Ia mengunyah dengan susah payah, menahan rasa mual yang mulai merayap dari perut ke tenggorokannya.

Setelah piringnya kosong, Clara menatap meja beberapa detik sebelum akhirnya bersuara pelan.

“Kak Natan, aku ke toilet sebentar.”

“Mau ditemani?” tanya Natan refleks.

Clara terkekeh kecil, tawa yang dipaksakan.

“Kak, aku ini perempuan dewasa, masa ke toilet saja ditemenin.”

Natan tersenyum tipis, tapi ia tahu tawa itu rapuh. Ia menatap punggung Clara yang menjauh dan bergumam pelan.

“Aku lebih lega melihat kamu menangis daripada harus tersenyum untuk menutupi rasa sakitmu.”

Clara berjalan cepat, hampir berlari, memasuki toilet wanita yang sepi dan dingin. Begitu pintu bilik tertutup dan kunci berbunyi klik, tubuhnya seolah kehilangan kekuatan.

Ia membungkuk dan muntah, bukan hanya makanan yang keluar, tetapi seluruh sesak yang ia tahan sejak melihat sosok itu berdiri di panggung. Air mata mengalir deras tanpa suara. Setelahnya ia terduduk di lantai keramik yang dingin, memeluk lututnya sendiri, pundaknya bergetar. Ia menangis tanpa suara, tangis yang hanya terdengar dalam dadanya sendiri. Sesak itu tidak pergi, justru membesar, menekan paru-parunya, membuat napasnya pendek-pendek.

Ia memukul pelan dadanya sendiri, seolah ingin menghentikan jantungnya yang berdegup terlalu keras.

“Aku mohon… hentikan,” bisiknya parau, entah pada ingatan, entah pada dirinya sendiri. Ia sudah berusaha. Ia sudah mencoba menata ulang hidupnya, menutup kotak kenangan itu, menguncinya rapat-rapat.

Ia tidak meminta dia kembali, ia hanya ingin tidak terasa lagi. Tapi kenapa satu tatapan dingin itu mampu meruntuhkan semua tembok yang ia bangun dengan susah payah? Kenapa rasanya seperti dihina, seperti dilupakan, seperti seluruh masa lalu mereka tak pernah ada?

Clara menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya kini pecah tanpa kendali. Ia ingin move on, ia ingin melangkah, ia ingin membuktikan bahwa hidupnya tidak berhenti pada satu nama. Tapi semakin ia memaksa melupakan, semakin jelas bayangan itu muncul. Hatinya tidak mau patuh pada logika. Rasa sakit itu hidup, bernapas, dan hari ini ia kembali dilahirkan.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!