"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Para Serigala
Fajar menyingsing di atas kediaman Arkananta dengan warna merah darah yang mengerikan, seolah alam sedang memberikan peringatan atas badai yang akan datang. Di dalam mansion utama, Alana tidak bisa memejamkan mata sedetik pun. Aroma rumah sakit dan keringat Elena masih seolah menempel di kulitnya meski ia telah mandi berkali-kali. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah bayi mungil itu—sosok rapuh yang kini menjadi pusat gravitasi dari seluruh kehancuran yang mungkin terjadi.
"Nyonya, Tuan Besar sudah menunggu di ruang makan untuk sarapan," suara Bi Inah terdengar dari balik pintu, terdengar sedikit gemetar.
Alana menarik napas panjang, merapikan gaun sutra berwarna emerald yang dipilihkan penata busana Arkan. Warna itu melambangkan kekuatan, namun di dalam hatinya, Alana merasa seperti domba yang berjalan masuk ke kandang singa. Ia harus menjadi Elena—Elena yang angkuh, Elena yang misterius, namun kini harus ditambah dengan peran baru: seorang wanita yang mendukung keputusan "suaminya" untuk mengadopsi anak.
Di ruang makan yang luasnya hampir menyerupai aula gereja, suasana terasa membeku. Sang Kakek, pimpinan tertinggi Arkananta Group, duduk di kepala meja dengan surat kabar fisik di tangannya. Di sebelah kanannya, Kevin duduk dengan seringai yang tidak hilang sejak semalam. Arkan berada di sisi kiri, wajahnya sedatar papan tulis, jemarinya sibuk memotong daging asap dengan presisi seorang ahli bedah.
"Duduklah, Elena," suara Kakek terdengar berat dan berwibawa, namun ada nada dingin yang menusuk tulang.
Alana duduk di samping Arkan. Ia bisa merasakan aura ketegangan yang memancar dari pria di sebelahnya.
"Aku mendengar ada keributan di paviliun semalam," Kakek memulai pembicaraan tanpa basa-basi, meletakkan surat kabarnya perlahan. Matanya yang tajam bak elang menatap Arkan, lalu beralih ke Alana. "Beberapa pengawal melapor melihat tim medis darurat. Arkan, kau tahu aku benci rahasia di dalam rumahku sendiri."
Kevin tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Bukan sekadar tim medis, Kek. Aku melihat inkubator dibawa masuk. Sepertinya ada 'hadiah' yang lahir di sana. Bukankah begitu, sepupuku yang terhormat?"
Arkan meletakkan garpunya. Bunyi denting logam pada piring porselen terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu. Ia menatap Kevin dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.
"Memang benar," jawab Arkan tenang, suaranya bergema dengan otoritas yang tak tergoyahkan. "Semalam adalah malam yang krusial. Seperti yang kalian ketahui, yayasan Arkananta sedang mencari wajah baru untuk program filantropi kita. Aku telah memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi laki-laki dari panti asuhan yang kita bina. Bayi itu lahir prematur dan membutuhkan perawatan intensif, jadi aku memutuskan untuk membawanya ke sini agar mendapatkan penanganan terbaik dari tim medis pribadi kita."
Kakek menyipitkan mata. "Adopsi? Tanpa persetujuanku?"
"Ini adalah langkah strategis, Kek," sela Alana, mencoba memperkuat narasi Arkan. Ia mengatur suaranya agar terdengar seperti Elena yang bosan namun cerdas. "Setelah rumor miring yang disebarkan kompetitor tentang ketidakharmonisan keluarga kita, kehadiran seorang ahli waris—meski adopsi—akan menstabilkan harga saham dan menunjukkan sisi humanis Arkananta Group. Aku sepenuhnya mendukung keputusan suamiku."
Kevin mendengus keras, hampir tersedak kopinya. "Adopsi? Dari panti asuhan? Kebetulan sekali bayi itu lahir saat 'istrimu' sedang tidak terlihat di publik selama beberapa hari, Arkan. Dan kenapa harus di paviliun? Kenapa tidak di rumah sakit umum jika memang itu anak panti?"
"Karena privasi adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang berkuasa, Kevin," balas Arkan dingin. "Dan jika kau lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada memata-matai paviliun dengan teropong, mungkin divisi propertimu tidak akan merugi bulan ini."
Wajah Kevin memerah karena marah. Ia hendak membalas, namun Kakek mengangkat tangan, menghentikan perdebatan.
"Cukup," tegas Sang Kakek. "Arkan, bawa bayi itu ke hadapanku besok pagi. Aku ingin melihat apakah dia layak menyandang nama Arkananta, meskipun hanya sebagai anak asuh. Dan Elena... pastikan kau menjalankan peranmu dengan benar. Jika dunia menganggap dia anakmu, maka kau harus bersikap seperti seorang ibu, bukan wanita sosialita yang hanya tahu cara menghabiskan uang."
Alana mengangguk patuh, meski perutnya terasa mual. Ia tahu ini hanyalah permulaan. Kakek belum sepenuhnya percaya, dan Kevin pasti akan mencari cara untuk melakukan tes DNA.
Rencana ke Jenewa
Setelah sarapan yang menyiksa itu, Arkan menarik Alana ke dalam ruang kerjanya. Ia mengunci pintu dan segera mengaktifkan alat pengacak sinyal.
"Kita tidak punya banyak waktu," kata Arkan cepat. "Kakek akan melakukan penyelidikan mandiri. Dia memiliki orang-orang di dinas kependudukan yang bisa melacak asal-usul bayi itu dalam hitungan hari. Kita harus segera berangkat ke Jenewa."
Alana menatap Arkan dengan cemas. "Bagaimana dengan bayi itu? Dia masih sangat lemah, Tuan. Dan Elena... dia belum sadar sepenuhnya."
"Tim medis akan menjaganya. Aku sudah memerintahkan untuk memperketat keamanan paviliun dengan sistem biometrik baru yang tidak bisa diakses bahkan oleh pengawal Kakek," Arkan berjalan menuju peta digital di dindingnya. "Di Jenewa, brankas itu berada di Banque de Private Genève. Hanya sidik jari dan kunci dari kotak musik itu yang bisa membukanya. Di dalamnya ada rekaman asli percakapan Kakek dengan kapten kapal malam itu, serta dokumen penghapusan identitas Adrian."
"Jika kita mendapatkan itu, apakah kita akan langsung menggunakannya?" tanya Alana.
Arkan terdiam sejenak. Matanya menatap ke arah jendela, ke arah paviliun yang tersembunyi. "Itu adalah bom nuklir, Alana. Jika aku meledakkannya, Arkananta Group akan hancur, namun Kakek akan masuk penjara. Aku harus menimbangnya dengan hati-hati. Aku ingin menyelamatkan warisan Adrian, bukan menghancurkannya."
Alana mendekat, menyentuh lengan Arkan. "Anda sedang mencoba menyelamatkan semua orang, Tuan. Tapi dalam perang ini, seseorang harus dikorbankan. Jangan biarkan orang itu adalah Anda sendiri."
Arkan menatap tangan Alana di lengannya, lalu beralih menatap matanya. Untuk sesaat, ketegangan bisnis itu lenyap, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih dalam dan berbahaya. "Aku tidak pernah merasa ingin menyelamatkan diriku sendiri sampai aku bertemu denganmu, Alana."
Kata-kata itu menggantung di udara, menciptakan getaran yang membuat jantung Alana berdegup kencang. Sebelum ia sempat membalas, ponsel Arkan berdering. Sebuah pesan masuk dari informan di Swiss.
“Pihak ketiga telah mencoba mengakses akun nomor Adrian di Jenewa. Mereka menggunakan surat kuasa palsu atas nama Kevin Arkananta.”
Arkan mengeraskan rahangnya. "Kevin bergerak lebih cepat dari yang kuduga. Kita berangkat malam ini dengan pesawat pribadi."
Labirin Kejahatan Kevin
Sementara itu, di sebuah bar remang-remang di pusat kota, Kevin sedang bertemu dengan seorang pria bertato yang memegang beberapa lembar foto hasil jepretan semalam.
"Kau yakin itu dia?" tanya Kevin sambil menyodorkan amplop tebal berisi uang.
"Yakin, Tuan. Wanita yang keluar dari paviliun dengan noda darah di bajunya itu... dia bukan Elena Arkananta yang asli. Saya sudah mengikuti Elena yang asli selama bertahun-tahun sebelum dia 'sakit'. Cara jalannya, cara dia menoleh, semuanya berbeda. Gadis ini terlalu... manusiawi."
Kevin menyeringai jahat. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto Alana saat masih bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe kecil—foto yang ia dapatkan dari riset mendalamnya terhadap latar belakang semua karyawan Arkananta yang pernah menghilang secara misterius dari daftar penggajian.
"Alana..." gumam Kevin. "Jadi kau adalah bidak yang dipilih Arkan untuk menggantikan sepupuku yang gila itu? Menarik. Sangat menarik."
Ia kemudian menelepon seseorang. "Halo, sampaikan pada dewan komisaris. Aku punya bukti kuat bahwa Arkananta Group saat ini dipimpin oleh seorang pria yang memalsukan identitas istrinya demi menutupi skandal pembunuhan saudara kembarnya. Siapkan rapat darurat saat Arkan berada di Swiss."
Kevin tahu Arkan akan pergi ke Jenewa. Ia sengaja membiarkan informasi "akses brankas" itu bocor agar Arkan meninggalkan markasnya. Saat Arkan berada di atas awan, Kevin akan meruntuhkan seluruh fondasi yang dibangun Arkan di Jakarta.
Keberangkatan yang Sunyi
Malam harinya, di bawah rintik hujan yang tak kunjung henti, Alana berdiri di samping tempat tidur Elena di paviliun. Elena masih terbius, namun wajahnya tampak lebih tenang. Bayi kecil di inkubator itu menggeliat pelan, seolah merasakan kehadiran Alana.
"Aku akan kembali," bisik Alana pada bayi itu. "Aku akan membawa kembali kebenaran tentang ayahmu."
Arkan muncul di ambang pintu, mengenakan mantel hitam panjang. "Pesawat sudah siap."
Saat mereka melangkah menuju helipad di belakang mansion, Alana menoleh ke arah gedung utama. Ia melihat bayangan Kakek di jendela perpustakaan, berdiri diam seperti monumen kuno yang tak kenal ampun. Alana tahu, perjalanan ke Jenewa bukan hanya soal mengambil dokumen. Itu adalah perjalanan menuju titik balik hidup mereka.
Jika mereka berhasil, mereka akan memiliki senjata untuk melawan. Jika gagal, mereka akan dianggap sebagai puing-puing lain yang tenggelam di dasar danau, sama seperti Adrian sepuluh tahun yang lalu.
"Pegangan yang erat, Alana," ujar Arkan saat helikopter mulai naik ke udara. "Mulai saat ini, tidak ada lagi kontrak. Hanya ada kita melawan dunia."
Alana menggenggam tangan Arkan, dan kali ini, ia tidak melepaskannya. Ia siap menghadapi apa pun yang ada di Jenewa, bahkan jika itu berarti ia harus kehilangan identitasnya selamanya.