"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NEGOSIASI
KEESOKAN HARINYA
Aira baru saja selesai membantu pekerjaan Bi Darma di dapur. Membersihkan sayuran, ikan dan menyiapkan bumbu.
Bi Darma sendiri setelah sampai dari pasar langsung memasak nasi dan menyiapkan puding untuk cuci mulut.
Siska memastikan anak-anak mandi dan bersiap mengikuti kelas setelah sarapan bubur kacang hijau buatan Aira subuh tadi.
"Aira, siang nanti jam dua gantikan ibu ya mengajar kelas matematika. Ibu mau kedatangan tamu."
"Iya, Bu."
Siska kembali ke ruang kelas. Ia menatap pesan dari Bara yang baru masuk ke ponselnya.
[Assalamu'alaikum, Bu. Jam satu siang nanti mohon ijin ke panti untuk bicara dengan Aira.]
^^^[Wa'alaikumsalam, Ya Bara. Silahkan, tapi nanti kita bicara dulu ya sebelum kamu ketemu Aira. Semalam dia cerita banyak pada Ibu. Ibu mau kamu dengar dulu situasi yang dia alami, sebelum kamu bertemu dengannya untuk diskusi. Ibu yakin dia tidak akan bisa menyampaikannya langsung, jadi harus ibu yang sampaikan padamu. ]^^^
[Baik, Bu. Kalau begitu, saya akan datang lebih awal.]
Semalam dengan air mata berderai, Aira menceritakan yang ia alami sejak pulang dari rumah sakit.
Kata kasar ibu mertuanya, penolakan, cap tak berguna, hingga pengusiran. Belum lagi kunjungan seorang wanita ke rumah sakit yang ternyata mantan pacar Bara.
Sejak ia mengalami Amnesia, semuanya membuat ia bingung. Begitu juga dengan kekhawatirannya tentang status hubungan nya dengan Bara. Karena Aira tak merasakan cinta sama sekali pada Bara. Hanya rasa canggung dan sungkan.
Situasi ini cukup membuat Siska merasa serba salah harus bagaimana menengahi keduanya.
Sementara Aira membantu Bi Darma di dapur, Siska memulai pembelajaran pagi, pelajaran agama. Anak-anak bersiap belajar dengan antusias. Mereka membaca doa bersama dengan suara keras dan lantang.
***
Sejak sampai di kantor, Bara lebih banyak merenung. Pikirannya mengawang mengingat cerita Puspa soal kejadian kemarin pagi di rumahnya.
"Kak Aira bilang kepalanya tiba-tiba pusing, Mas. Jadi, nggak sengaja mecahin Guci kesayangan Bapak. Ibu marah sekali sampai ngatain Kak Aira bodoh. Mungkin akhirnya karena itu kak Aira pergi. "
Bara menarik nafas dalam---berat. Ia tak menyangka Aira nekat pergi sendiri dengan kondisi seperti itu ke panti.
'Mungkin karena ia terlalu kalut,' pikir Bara.
"Bara, berkas yang kemarin ku minta sudah ada kan? " tanya Pur berdiri di hadapan Bara yang tengah melamun.
"Bara, " panggil Pur lagi lebih keras.
"Eh, iya Mbak Pur ada apa Mbak? "
"Kamu kenapa? ini masih pagi loh, sudah melamun aja. Ada masalah? "
"Oh, nggak mbak. Tiba-tiba aja gitu saya. Mbak Pur minta apa tadi? "
"Berkas yang saya minta kemarin. "
"Oh iya, ini mba sudah saya cetakkan."
"Oke, terima kasih ya. Bikin kopi gih biar seger gitu."
"Iya, Mbak Pur. "
Akhirnya Bara ke pantry mengikuti saran Pur membuat secangkir kopi hitam tanpa gula.
"Mas Bara, gimana kondisi istri mas? Akhirnya kejadian kayak teman saya ya. saya jadi ikut sedih, Mas. "
"Iya, saya juga nggak menyangka yu."
Bara menghela nafas lagi.
"Masih sering tiba-tiba pusing katanya. Bahkan karena amnesianya itu dia jadi lebih sering canggung ke saya. Nggak mau tidur satu ranjang, padahal saya suaminya. Dia masih ragu soal pernikahan kami, padahal saya sudah kasih lihat foto-foto pernikahan."
"Mas coba gali batas kejadian yang dia ingat. Nggak mungkin semua dia lupa, kalau memang kayak teman saya ya mas."
"Iya, saya sudah coba ngobrolmengerti. Yang dia ingat terakhir waktu dia lulus SMA dan tinggal di panti. Dia maksa mau tinggal di sana lagi. Entah karena takut sama saya atau memang dia mau memulihkan memorinya. Saya galau jadinya."
"Di diskusikan aja mas pelan-pelan. Jangan terlalu di paksa mengingat juga, nanti malah pingsan lagi karena otaknya cepat lelah."
Bara mengangguk mengerti. Ia lalu kembali bekerja karena harus ijin keluar sebentar untuk pergi ke panti memenuhi janjinya dengan Siska.
Waktu bergulir tak terasa. Tubuh kaku tanda kelelahan. Beberapa pegawai berdiri meregangkan tubuh. Yang lain sudah mengelus-ngelus perutnya yang mulai merasa lapar. Waktunya istirahat siang.
Bara bergegas ke ruangan atasannya, meminta ijin untuk keluar kantor dan kembali lebih lama karena ada masalah soal istrinya. Untung saja, atasannya memberi pemakluman.
Bara keluar kantor setelah mengambil jaket dan helmnya sedikit berlari ke parkiran motor.
Tak lama motornya sudah melaju di aspal.
"Semoga Aira mau kembali ke rumah, " gumamnya lirih.
Hampir satu jam perjalanan ia tempuh hingga sampai di panti asuhan. Ia buru-buru memarkirkan motornya di depan pintu utama.
TOKTOKTOK
"Assalamu'alaikum, " panggilnya sambil berteriak.
"Wa'alaikumsalam, masuk Bara, " sahut Siska membukakan pintu.
"Sudah sholat? "
"Sudah, Bu. Tadi mampir di masjid sekitar. "
Bara berjalan masuk ke ruang kantor Siska sambil sesekali melihat sekitar.
"Aira dikelas temani anak-anak makan siang."
Bara duduk di kursi tamu dan melihat makanan terhidang di meja hadapannya.
"Ada acara, Bu? " tanya Bara kemudian.
" Oh, nggak. Makan siang biasa, Aira yang masak tadi bantu-bantu Bi Darma. "
Bara tersenyum, kerinduan membuncah saat mendengar cerita soal Aira.
"Ayo, Bara. Kita ngobrol sambil makan, ya."
Siska mengisi piring di tangannya lalu memberikannya pada Bara.
"Semalam, saya tak menyangka dengan apa yang dialami Aira setelah mendengar langsung dari ceritanya."
Bara tertunduk, ia letakkan piring diatas meja lalu menggenggam kedua tangannya, merasa sungkan karena sudah membuat Aira bersedih.
"Saya minta maaf, Bu tak bisa menepati janji menjaga Aira dengan baik, " ujar Bara tertunduk makin dalam.
"Bara, saya justru kasihan sama kamu. Kalian baru menikah tapi sudah mengalami situasi yang berat seperti ini. Ayo nak sambil makan aja tidak apa-apa."
Bara mengangguk sungkan, mengambil piring lalu mulai makan.
"Saya sudah minta Aira kesini setelah pembelajaran siang. Mungkin waktunya akan panjang, Bara nggak apa terlambat kembali ke kantor? "
"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah ijin dengan atasan tadi."
Siska menceritakan kembali apa yang ia dengar dari Aira semalam, semuanya, sangat detail.
Bara sesekali tersentak, sesekali tersedak. Kejadian di ruang makan kemarin yang belum sempat ia dengar. Karena ibunya menolak untuk cerita. Yang paling mengejutkan Bara, soal pengusiran ibunya pada Aira.
"Jadi karena merasa usahanya gagal dan dengan terang ibumu memintanya pergi, Aira mantap pergi begitu saja. Dia sudah tak peduli bagaimana kamu karena dia yakin kamu akan menolak."
Bara mengambil gelas di meja dan meminumnya perlahan menenangkan tenggorokan dan hatinya.
"Bara, ia merasa tak ada jaminan kejadian itu tak terulang lagi. Dia tak mau kamu terus bertengkar dengan ibumu. Dia tak mau kamu terbebani dengan sakitnya. "
Bara akhirnya berhenti makan.
TOKTOKTOK
"Bu Siska, Anak-anak sud---. "
Aira terdiam saat melihat Bara sedang duduk berhadapan dengan Siska.
Mereka bertemu mata. Bara menegakkan tubuhnya dan tersenyum menatap Aira.
"Aira masuk dulu. Biarkan saja dulu anak-anak bermain. Kita bicara sebentar ya."
Aira masuk perlahan, menutup pintu dan berdiri di samping Siska.
Kepalanya tiba-tiba berdengung, untung tangannya segera berpegangan pada kursi.
"Aira, kamu tak apa sayang? " tanya Bara berdiri dan hendak memegang tangannya.
Aira mengangguk pelan, "Tak apa. "
Situasi saat ini memunculkan lintasan memori di kepalanya.
Ingatan saat ia pertama kali bertemu dengan Bara dan diperkenalkan oleh Siska di ruangan itu. Kenangan hampir dua tahun yang lalu.
"Kamu tidak bersalaman dengan suamimu? " tanya Siska.
Meski sempat ragu, Aira akhirnya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bara.
Bayangan itu muncul kembali, bagai kepingan puzzle yang saling melengkapi.
Hati Aira tiba-tiba goyah.
'Apa benar aku mengenalnya saat di panti ini? ' batinnya.
"Aira, Ibu sudah ceritakan semua yang kamu sampaikan semalam pada Bara. Sekarang, coba diskusikan baik-baik ya."
Aira tertunduk.
"Aira, apa betul kamu mau tinggal di sini saja?" tanya Bara lembut.
Aira mengangguk.
"Mas Bara bagaimana kalau Aira pergi? "
Aira tertunduk makin dalam, ia tak berani menatap Bara.
"Aira rencananya besok ke kantor KUA, mas. Aira akan ajukan permohonan cerai. Aira akan ajukan dengan alasan tidak bisa melayani suami karena sakit. Semoga mas Bara bisa menyetujui pengajuan Aira."
Siska menghela nafas, yang ia khawatir kan terjadi juga begitu juga dengan Bara.
"Aira, kita coba cara lain ya. Kalau memang Aira merasa tinggal bersama ibu memberatkan. kita akan sewa rumah yang kecil saja cukup untuk kita berdua."
Aira menggeleng.
"Aira tak mau merepotkan mas Bara. Kalau kita cerai, nanti soal pengobatan Aira urus sendiri, mas. Mas tak perlu khawatir."
"Aira, mas tak pernah merasa repot. Justru mas merasa senang bisa menjaga Aira."
"Mas, Aira belum tentu bisa hamil dengan kondisi begini. Mas pasti berharap punya anak kan? "
"Aira.. yang sehat saja belum tentu langsung punya anak. Soal anak allah yang atur kapan waktu yang terbaik."
Aira terdiam, Bara selalu punya cara meyakinkannya.
Setelah beberapa waktu saling lempar wacana, akhirnya Siska meminta mereka berdiam diri masing-masing.
"Bara, karena kalian belum sepaham. Sebaiknya, biar Aira di sini dulu. Ini kesempatan kalian berpikir tenang dan istikharah. Minta allah kasih jalan yang terbaik untuk kalian ya. Nanti Bara ke sini lagi seminggu ke depan."
Bara akhirnya mengangguk dan pamit undur diri. Aira mencium punggung tangan Bara, meski hatinya masih rasa canggung.
Bara menatap Aira yang terus menunduk, lalu menghampirinya mencium kening istrinya itu. Aira terdiam, tak menolak dia tak mau Bara malu di hadapan Siska. Jadi ia lebih memilih menahan gemetar karena di cium.
Punggung Bara makin tak terlihat bersama suara deru motornya.
"Aira, pikirkan baik-baik ya. Jangan pernah KUA dulu sampai ada kesepakatan diantara kalian. Pertimbangkan semua tawaran Bara tadi. Itu bukti cintanya padamu tulus Aira. "
Aira menarik nafas panjang lalu mengangguk.
Siska masuk ke dalam membiarkan Aira bergelut dengan pikiran dan hatinya yang berkecamuk.