Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Yang Terbuka
Ruang mediasi itu kecil, netral, dan terlalu dingin. Dindingnya berwarna abu-abu muda, dihiasi hanya oleh satu lukisan abstrak garis-garis biru dan abu-abu. Sebuah meja bundar kayu dengan tiga kursi. Tak ada jendela.
Rasanya seperti ruang tunggu di antara dua dunia—bukan dunia pernikahan, tapi belum juga dunia perceraian.
Amara duduk lebih dulu. Dia mengenakan blazer biru navy dan celana hitam, pakaian zirahnya. Rambutnya diikat rapi, makeup minimalis.
Dia ingin terlihat seperti seseorang yang harus dianggap serius, bukan korban yang luka. Tangan yang tergenggam di pangkuannya mengkhianati ketegangannya.
Rafa masuk beberapa menit kemudian. Dia mengenakan kemeja putih sederhana, tanpa dasi, lengan digulung. Dia tampak lebih kurus dan tegang.
Dia mengangguk pada Amara, lalu duduk di kursi seberangnya, menjaga jarak yang persis diukur oleh lebar meja.
Mediatornya, Ibu Siska, adalah seorang perempuan paruh baya dengan ram pendek keperakan dan kacamata berlensa tipis. Dia memakai blazer linen dan senyum yang hangat namun tidak berlebihan. Suaranya jernih dan tenang.
“Terima kasih sudah datang, Bapak Rafa, Ibu Amara. Tujuan kita hari ini bukan untuk mencari siapa yang salah atau benar. Tapi untuk mendengar, dan semoga, memahami."
"Dengan pengertian yang lebih baik, keputusan apapun yang kalian ambil nanti—baik untuk melanjutkan pernikahan atau mengakhirinya—bisa diambil dengan lebih jelas dan lebih sedikit luka, terutama untuk Luna.”
Amara mengangguk, perutnya mual. Rafa hanya menatap mejanya.
Ibu Siska memulai dengan pertanyaan netral tentang harapan mereka untuk sesi ini. Amara menjawab singkat: “Kejelasan.” Rafa menghela napas: “Saya ingin dimengerti.”
Lalu, giliran Rafa untuk bercerita. Ibu Siska menanyakan kapan menurutnya masalah mulai.
Rafa menatap tangannya yang terlipat, suaranya datar pada awalnya.
“Semuanya… mulai runtuh setelah Luna lahir.”
Dia berhenti, mencari kata.
“Amara… mengalami depresi pasca melahirkan. Parah. Dia menarik diri. Tidak mau disentuh, tidak mau bicara. Hanya menangis."
"Dan saya… saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya merasa ditolak. Ditinggalkan. Saya punya bayi yang menangis dan istri yang seperti hantu di rumah.”
Amara menahan napas. Dia ingat masa itu. Kabut hitam yang menyelimutinya, rasa takut yang melumpuhkan bahwa dia adalah ibu yang buruk. Dia tidak pernah menyadari bagaimana Rafa melihatnya.
“Saya merasa gagal,” lanjut Rafa, suaranya mulai bergetar. “Jadi saya lari. Ke pekerjaan. Bekerja lebih keras, lebih lama. Pikir saya, setidaknya saya bisa memberikan kenyamanan finansial."
"Dan di rumah… Yuni ada. Dia yang merawat Luna, yang mengurus Amara, yang membuat rumah tetap berjalan. Dia… dia melihat saya. Saat saya pulang larut, dia selalu ada, menawarkan makan, bertanya tentang hari saya. Dia membuat saya merasa… masih ada. Masih dibutuhkan.”
“Jadi itu awal perselingkuhan?” tanya Ibu Siska dengan lembut.
Rafa mengangguk, malu.
“Tidak langsung. Tapi kedekatan itu tumbuh. Dan suatu malam, saat Amara tertidur lelah di kamar Luna… itu terjadi. Dan setelah itu, rasa bersalah itu… itu melumpuhkan."
"Tapi bukannya berhenti, saya malah semakin terjerumus. Karena dengan Yuni, tidak ada tuntutan. Tidak ada harapan yang tidak bisa saya penuhi. Hanya… pelarian.”
Amara merasa dadanya sesak. Mendengar kronologi pengkhianatan itu, dari mulut pelakunya sendiri, terasa seperti disayat-sayat dengan pisau tumpul.
“Dan selama bertahun-tahun,” kata Ibu Siska,
“Ibu Amara tidak curiga?”
Rafa tertawa getir. “Dia curiga. Tapi… saya menjadi ahli dalam berbohong. Dan saya memanfaatkan rasa bersalahnya.”
“Apa maksudnya?” tanya Amara, suaranya pecah untuk pertama kalinya.
Rafa menatapnya, matanya penuh penyesalan yang tulus.
“Kau ingat waktu kau bertanya kenapa Yuni selalu beli barang mahal untuk Luna, atau kenapa dia punya handphone baru? Kau bilang, ‘Jangan-jangan dia tidak jujur’."
"Dan aku… aku membaliknya. Aku bilang, ‘Jangan menuduh sembarangan, Mara. Dia membantu kita. Kau tidak bisa mengurus rumah sendiri’. Aku membuatmu merasa bersalah karena mencurigainya, sehingga kau berhenti bertanya.”
Amara terpana. Itu benar. Dia ingat percakapan itu. Dia ingat rasa malu yang dalam karena telah “mencurigai orang yang setia”. Itu adalah siksaan psikologis yang sempurna.
“Jadi Anda menyalahkan Ibu Amara atas ketidakmampuannya mengurus rumah?” tanya Ibu Siska, dengan nada yang masih netral namun tajam.
Rafa menghela napas, pertahanannya muncul.
“Lihat saja sekarang! Tanpa Yuni, rumah seperti kapal karam! Makanan tidak siap, piring menumpuk, jadwal Luna kacau! Itu buktinya, dia tidak bisa mengurus ini sendiri! Selama ini, semua keteraturan itu karena Yuni!”
Sekarang, serangan itu datang. Amara merasa wajahnya memanas. Tapi bukannya menangis, kemarahannya yang lama membeku justru mencair menjadi sebuah ketegasan yang dingin.
Ibu Siska mengangkat tangan. “Bapak Rafa, ini bukan sidang. Tapi Ibu Amara, Anda ingin menanggapi?”
Amara duduk lebih tegak.
“Saya tidak bisa mengurus rumah sendiri karena saya tidak pernah diberi kesempatan atau otoritas untuk melakukannya!” suaranya lantang, jernih.
“Selama bertahun-tahun, sistem di rumah itu dibuat oleh Anda dan Yuni! Saya hanya tamu yang tinggal di dalamnya! Posisi saya digantikan. Tugas saya diambil alih. Dan ketika saya mencoba bertanya, saya disalahkan, disebut posesif, disebut tidak bersyukur!”
Dia menatap Rafa langsung. “Anda ingin bukti bahwa saya tidak bisa? Lihatlah diri Anda sendiri! Minggu pertama tanpa Yuni, Anda yang panik! Anda yang tidak tahu di mana tas sekolah Luna! Anda yang membakar roti panggang! Kehidupan domestik itu keterampilan, Rafa."
"Bukan bakat bawaan wanita. Dan keterampilan itu bisa dipelajari, jika tanggung jawabnya dibagi, bukan diserahkan sepenuhnya pada satu orang lalu orang itu dihina karena kelelahan!”
Rafa tertegun, seperti tidak pernah memikirkan hal itu dari sudut pandang itu.
“Dan tentang depresi saya,” lanjut Amara, suaranya mulai bergetar namun dia teruskan.
“Ya, saya depresi. Saya tenggelam. Tapi di mana Anda? Anda ‘lari ke pekerjaan’. Anda tidak pernah mengajak saya ke terapis, tidak pernah bilang ‘ayo kita cari bantuan bersama’."
"Anda hanya menghilang dan meninggalkan saya sendirian dengan bayi kita dan seorang asing yang kemudian Anda jadikan selingkuhan! Anda memilih pelarian termudah, bukan memperjuangkan istri Anda!”
Rafa menunduk, wajahnya menyeringit dalam rasa sakit.
“Aku tahu. Aku pengecut.”
“Dan saya,” Amara melanjutkan, kini air mata mengalir tanpa bisa ditahan.
“Saya membiarkannya. Karena saya percaya pada cerita bahwa saya yang bermasalah. Bahwa saya istri yang tidak cukup bersyukur. Saya menyalahkan diri sendiri karena merasa hampa di rumah mewah ini."
"Saya pikir, ‘Amara, kamu punya segalanya, kenapa kamu tidak bahagia?’ Dan itu membuat saya semakin tenggelam, semakin diam, sampai… sampai saya hampir hilang sama sekali.”
Dia menarik napas panjang, berusaha tenang.
“Kecurigaan saya pada Yuni itu benar. Tapi insting saya mengatakan sesuatu yang lain: bahwa ada yang salah dengan saya. Bahwa saya tidak cukup baik. Jadi saya memendamnya. Saya membunuh suara intuisi saya sendiri karena Anda dan semua yang lain bilang saya harus bersyukur.”
Keheningan yang berat memenuhi ruangan. Hanya suara AC yang berdengung.
Ibu Siska akhirnya berbicara. “Jadi, kita punya dua pola yang saling menguatkan: Bapak melarikan diri dari konflik dan rasa bersalah dengan bekerja dan… hubungan lain."
"Ibu melarikan diri dari rasa tidak mampu dan kehampaan dengan menyalahkan diri sendiri dan membungkam suara hatinya. Dan di tengahnya, ada seorang anak yang dibesarkan oleh sistem yang dibangun di atas kebohongan ini.”
Kata-katanya menggambarkan bencana mereka dengan kejelasan yang menakutkan.
“Apakah ada cinta yang tersisa?” tanya Ibu Siska.
Amara dan Rafa saling memandang. Cinta? Kata itu terasa asing. Yang ada adalah luka yang dalam, kelelahan yang sama, dan sebuah ikatan yang hanya bernama Luna.
“Saya tidak tahu apa itu cinta lagi,” jawab Amara jujur.
“Tapi saya tahu saya tidak bisa memaafkan pengkhianatan dan kebohongan bertahun-tahun itu. Dan saya tidak bisa lagi hidup dalam bayangan istri yang tidak pernah cukup baik.”
“Saya masih… ada perasaan,” gumam Rafa.
“Tapi itu seperti perasaan untuk sebuah kenangan. Untuk orang yang dulu saya cintai. Bukan untuk… untuk orang yang sekarang duduk di sini, yang saya lukai sedemikian dalamnya. Saya tidak pantas meminta maaf.”
Sesi itu mendekati akhir. Tidak ada teriakan, tidak ada pelukan, tidak ada perubahan hati.
Yang ada adalah sebuah penggalian arkeologis yang menyakitkan atas reruntuhan hubungan mereka.
Sebelum berpisah, Ibu Siska menyarankan.
“Berdasarkan percakapan hari ini, saya rasa langkah terbaik adalah mengakhiri pernikahan ini dengan kesadaran penuh. Tapi kalian berdua perlu bekerja sama untuk satu hal: Luna. Dia perlu tahu, dengan cara yang sehat.”
Amara mengangguk. Rafa juga mengangguk.
“Kami akan memberitahunya bersama,” kata Amara.
“Dengan kata-kata yang sesuai usianya,” tambah Rafa.
Mereka keluar dari ruang mediasi bersama, tapi terpisah. Di lobi gedung, Rafa berhenti.
“Aku… aku tidak pernah mendengar kamu bicara seperti tadi,” ucapnya. “Tentang bagaimana kau merasa. Selama ini.”
“Kamu tidak pernah bertanya,” balas Amara, tanpa amarah. Hanya sebuah fakta.
“Aku tahu. Aku minta maaf. Untuk semua… untuk membuatmu merasa tidak terlihat, tidak didengar, dan tidak cukup.”
Kali ini, permintaan maafnya terdengar berbeda. Bukan untuk menghindari konsekuensi, tapi sebagai sebuah pengakuan.
“Terima kasih,” jawab Amara. Itu saja.
Di mobil masing-masing, mereka memproses sesi itu. Amara menangis, akhirnya, untuk wanita muda yang depresi dan sendirian yang dulu dia itu. Untuk tahun-tahun yang hilang. Untuk kepercayaan yang hancur.
Tapi di balik kesedihan itu, ada sebuah benih kecil kelegaan. Kebenarannya, seberapa pun pahit, telah terungkap. Dan dalam terang kebenaran yang kejam itu, dia akhirnya bisa melihat dengan jelas: dia bukanlah istri yang gagal.
Dia adalah korban dari sebuah sistem yang rusak, dan kemudian, seorang yang selamat yang telah menemukan suaranya kembali.
Langkah selanjutnya adalah yang paling menakutkan: memberitahu Luna. Tapi setelah melalui neraka mediasi hari ini, Amara merasa, untuk pertama kalinya, dia dan Rafa mungkin—hanya mungkin—bisa melakukan itu sebagai sebuah tim, bukan sebagai musuh.
Sebuah tim yang gagal total sebagai suami istri, tapi yang masih bisa belajar menjadi rekan separenting yang baik untuk putri mereka. Itu adalah awal yang kecil, rapuh, tapi nyata.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.