Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26.Kebenaran terungkap.
Pagi di Desa Ying datang dengan kabut tipis yang menggantung rendah di antara atap-atap rumah kayu.
Embun masih menempel di daun talas di pekarangan, dan suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan. Udara segar pegunungan mengalir perlahan di jalan tanah yang lengang.
Kereta kecil milik tabib berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Li.
Dua orang pembantu tabib desa turun lebih dulu, lalu membantu seorang pria tinggi dengan bahu lebar turun pelan dari kereta.
Jenderal Li.
Wajahnya masih pucat, tubuhnya lebih kurus dari biasanya, tapi sorot matanya sudah kembali tajam. Bekas sakit panjang yang menggerogotinya selama berminggu-minggu itu akhirnya surut.
Ia mengangkat wajah, menatap rumahnya.
Rumah yang ia tinggalkan dalam keadaan setengah sadar.
Rumah yang selama ini hanya ia lihat dalam bayangan saat terbaring di ranjang tabib.
Dan rumah tempat putrinya seharusnya menyambutnya.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Akhirnya…” gumamnya pelan.
Ia melangkah masuk.
Gerbang kayu berderit ringan saat dibuka.
Halaman rumah tampak rapi. Pohon plum di sudut taman sudah mulai berbunga. Meja batu di tengah taman masih berada di tempatnya.
Tapi ada sesuatu yang terasa… berbeda.
Senyap.
Terlalu senyap.
Langkahnya terhenti ketika seseorang muncul dari arah dapur.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang ia kenal.
Bibi Jian.
Saudara istrinya dari Desa Ning.
Jenderal Li mengernyit pelan.
“Jian?” suaranya berat. “Sejak kapan kau di sini?”
Bibi Jian terkejut bukan main melihatnya berdiri di halaman.
Wajahnya langsung pucat.
“A… aku datang beberapa minggu lalu untuk membantu Kakak membersihkan rumah kalian,” jawabnya cepat, terlalu cepat.
Jenderal Li menatapnya beberapa detik lebih lama.
Ada kegugupan di mata wanita itu yang tidak biasa.
Belum sempat ia bertanya lagi, istrinya keluar tergesa dari dalam rumah.
“Suamiku!” serunya, wajahnya jelas kaget melihatnya sudah berdiri tegak.
Ia bergegas menghampiri, membantu memapahnya seolah Jenderal Li masih selemah dulu.
Padahal langkah Jenderal Li sudah stabil.
Ia memegang tangan istrinya pelan, tapi matanya tetap pada Bibi Jian.
“Kenapa Jian ada di sini?”
Istrinya tersenyum kaku. “Ia datang menjenguk saat kau sakit. Lalu tinggal membantu pekerjaan rumah.”
Jenderal Li mengangguk pelan.
Masuk akal.
Tapi ada satu hal yang mengganjal.
Ia mengedarkan pandangan.
“Di mana Yun Lan?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Polos.
Alami.
Dan membuat udara di halaman itu seperti membeku.
Bibi Jian langsung menunduk.
Istrinya terdiam.
Hanya satu detik.
Tapi bagi seorang jenderal yang terbiasa membaca situasi medan perang, satu detik itu terlalu lama.
Tatapan Jenderal Li berubah.
“Di mana putriku?”
Istrinya tersenyum lagi. Dipaksakan.
“Yun Lan… pergi ke desa sebelah membantu keluarga jauh.”
“Desa sebelah mana?”
“Desa… uh…”
Jenderal Li menarik tangannya dari genggaman istrinya.
Sorot matanya mengeras.
“Kau berbohong.”
Suasana langsung menegang.
Bibi Jian mundur satu langkah.
Istrinya mencoba tersenyum lagi, tapi suaranya mulai goyah. “Aku tidak—”
“Jian tidak pernah tinggal di sini tanpa alasan,” potong Jenderal Li tajam. “Dan Yun Lan tidak akan pergi jauh saat aku sakit tanpa pamit padaku.”
Napasnya mulai berat.
“Di mana putriku?”
Istrinya menelan ludah.
Kebohongan yang selama ini ia simpan rapat, runtuh hanya oleh satu pertanyaan polos suaminya.
“Dia… tidak di sini,” katanya pelan.
Jenderal Li menatapnya tajam. “Itu sudah jelas. Di mana dia?”
Sunyi.
Angin pagi lewat pelan di halaman.
Bibi Jian menutup mulutnya sendiri, matanya berkaca-kaca.
Istrinya akhirnya menunduk.
“Dia pergi,” bisiknya.
“Pergi ke mana?”
“Ke… Perbatasan Timur.”
Tubuh Jenderal Li menegang.
“Apa?”
Ia melangkah mundur satu langkah, wajahnya berubah keras.
“Bagaimana mungkin? Yun Lan seorang gadis!”
Ia berbalik, hendak menuju gerbang.
“Aku akan menyusulnya sekarang juga!”
Istrinya buru-buru menahannya.
“Tidak!”
Jenderal Li menoleh tajam. “Kau membiarkannya pergi ke kamp militer?! Kau sudah gila?!”
“Dengarkan aku dulu!” teriak istrinya, suaranya bergetar.
“Tidak ada yang perlu didengar! Ia putriku! Ia bukan prajurit!”
Istrinya menatapnya dengan mata merah.
“Justru karena ia putrimu!”
Kalimat itu membuat Jenderal Li terdiam.
Istrinya menarik napas dalam.
“Kau pikir Yun Lan lemah?”
Jenderal Li mengerutkan kening.
Istrinya menggenggam tangannya, menariknya ke tengah halaman.
Menunjuk ke arah pohon besar di samping rumah.
Pohon tua yang selama ini berdiri kokoh di sana.
Kini… tumbang.
Akar-akarnya terangkat dari tanah.
Batangnya patah bersih.
Jenderal Li menatapnya bingung.
“Bagaimana pohon ini bisa seperti ini?” tanyanya.
Istrinya menggeleng pelan.
“Yun Lan.”
Jenderal Li terdiam.
Istrinya lalu menunjuk ke meja batu di taman.
Meja tebal yang biasa dipakai minum teh.
Kini terbelah dua.
Bukan retak.
Tapi terbelah.
Seperti dipukul sesuatu dengan kekuatan besar.
“Yun Lan.”
Napas Jenderal Li tercekat.
Istrinya menatapnya dengan mata basah.
“Putrimu bukan wanita lemah.”
“Dia membuktikan padaku kekuatan yang disembunyikan nya,awalnya aku tidak menyadarinya tapi setelah aku melihat sendiri putri kita bukan wanita lemah.”
Jenderal Li tidak berbicara.
Hanya menatap dua benda itu bergantian.
Pohon.
Meja batu.
Ia tahu seberapa keras meja itu.
Bahkan prajurit terlatih perlu palu besi untuk meretakkannya.
“Dia pergi bukan karena nekat,” lanjut istrinya pelan. “Dia pergi karena ingin melindungi keluarganya dan negeri Qi.”
“Dan kau membiarkannya?!” Jenderal Li membentak.
Istrinya menggeleng keras.
“Aku terpaksa suamiku, diriku juga dalam dilema satu sisi tekad putriku yang kuat mengantikan ayahnya dan satu sisi adalah kesehatan mu yang terus memburuk.Jika kau di posisi ku kamu akan merestui putri kita pergi. ”
Jenderal Li terdiam.
“Sudah lama ia pergi. Dan tidak ada kabar hukuman dari istana.”
“Jika Yun Lan tertangkap, jika identitasnya terbuka, istana pasti sudah mengirim utusan ke sini.”
“Tidak ada.”
“Itu berarti dia aman.”
Jenderal Li mengepalkan tangan.
“Aku tetap harus menjemputnya.”
“Tidak!” istrinya kembali menahan.
“Jika kau pergi sekarang sebagai Jenderal Li, menyusul seorang ‘prajurit wanita’ di Perbatasan Timur, kau tahu apa yang terjadi?”
Jenderal Li terdiam.
Istrinya menatapnya lurus.
“Kedok Yun Lan akan terbuka.”
“Dan saat itu terjadi, bukan hanya dia yang dihukum.”
“Pengorbanan Yun lan yang sia-sia begitu saja.”
Sunyi.
Angin berdesir di halaman.
Jenderal Li berdiri kaku.
Istrinya mendekat, memegang dadanya pelan.
“Percayalah padanya.”
“Putrimu tidak pergi sebagai gadis lemah.”
“Ia pergi sebagai prajurit.”
Air mata mengalir di pipi wanita itu.
“Aku lebih takut jika kau pergi, daripada saat aku melepaskannya pergi.”
Jenderal Li menutup mata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tidak berdaya.
Bukan di medan perang.
Tapi di halaman rumahnya sendiri.
Perlahan, tangannya yang mengepal mengendur.
Napasnya berat.
“Sudah… berapa lama?”
“Beberapa bulan,” jawab istrinya pelan.
Ia menghela napas panjang.
Beberapa bulan.
Dan ia tidak tahu apa-apa.
Ia membuka mata lagi.
Menatap pohon tumbang.
Meja batu terbelah.
Bayangan putrinya kecil,tawanya dan candanya bersama dirinya, tiba-tiba muncul di benaknya.
Dan ia tidak pernah melihatnya.
Jenderal Li menunduk pelan.
Air matanya jatuh tanpa suara.
“Putriku…maafkan ayah yang tidak berguna ini.” bisiknya.