NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Sial

Ruang 301, Gedung IX Fakultas Ilmu Budaya, pukul 09.15.

Suasana kelas sebelum dosen datang adalah riuh rendah khas mahasiswa tingkat akhir yang sudah saling kenal.

Ada yang serius membaca buku, lebih banyak yang bergerombol mengobrol atau memandangi layar ponsel.

Ferdy duduk di bangku tengah, tas ranselnya di lantai. Adrenalin dari kejadian di parkiran tadi masih tersisa, membuat jari-jarinya agak gemetar saat ia mengeluarkan laptop.

"Loe kelihatan abu-abu, Fer. Kaya habis liat kunti," sapa Reza, teman satu angkatan, sambil mengambil tempat di sebelahnya. Reza anak komunikasi yang flamboyan, selalu tahu gossip kampus terkini.

"Bukan kunti, hampir aja jadi burger di bawah ban motor trail," jawab Ferdy dengan setengah tertawa, mencoba menertawakan trauma. Ia menceritakan kejadian di parkiran, meski menghilangkan detail sensasi dingin dan bisikan aneh itu.

"Wih, nyaris! Mungkin itu pertanda loe bakal ketemu cewek cantik hari ini. Nyawa loe diselamatin biar bisa jodoh," canda Reza sambil terkekeh.

"Jodoh apaan, skripsi aja belum kelar. Gw mau ketemu aja sama Mbak Yuli dari perpustakaan yang kemarin mau minjemin buku langka, dia udah cancel tiga kali," balas Ferdy, ikut tertawa. Obrolan pun mengalir ke topik skripsi yang mandek, dosen pembimbing yang killer, dan rencana weekend untuk hunting foto.

Di balik Ferdy, duduk di atas meja kosong di barisan belakang, Dasima mendengarkan dengan penuh perhatian. Matanya yang seperti madu memandang Ferdy dengan penuh kelembutan.

"Bercanda dengan teman. Itu bagus, Raden. Di kehidupanmu yang dulu, kau terlalu serius. Selalu terbebani oleh tahta dan kewajiban," gumam Dasima.

"Lihat, kau bisa tertawa lepas untuk hal-hal sederhana. Mungkin inilah kebahagiaan yang sebenarnya. Bukan di istana, tapi di ruang kelas yang berdebu ini."

Ketika Ferdy mengeluh tentang skripsinya yang tentang "Visual Naratif dalam Fotografi Jurnalistik Kontemporer", Dasima mengernyit.

"Jurnalistik? Fotografi? Zaman dulu, cerita disampaikan lewat prasasti atau kidung. Tapi intinya sama ya? Menceritakan kebenaran.

Kau selalu tertarik pada kebenaran, meski pahit." Dia tersenyum. "Itu yang membuatmu berbeda dari para pangeran lain. Kau tidak takut pada realita."

Dosen akhirnya masuk—seorang pria separuh baya dengan kacamata tebal dan ekspresi datar. Kelas langsung senyap.

Dasima, yang tidak tertarik pada kuliah tentang teori semiotika, memilih untuk berkeliling ruangan. Dia mengamati poster-poster di dinding, buku-buku di tas mahasiswa, hingga ekspresi bosan di wajah beberapa siswa. Semuanya baru, aneh, tapi menarik.

---

Kantin Fakultas, pukul 12.30.

Setelah kelas usai, Ferdy dan Reza meluncur ke kantin yang sudah dipadati mahasiswa lapar. Aroma gorengan, nasi padang, dan bakso menyeruak di udara lembab. Mereka akhirnya mendapat tempat di meja panjang dekat kios jus, bergabung dengan beberapa teman lain: Siska dari arkeologi dan Bowo dari sastra Jawa.

"Jadi gimana, Fer? Project foto angker batal?" tanya Siska sambil menyendok nasi goreng.

"Nggak, jalan Sabtu kemarin. Hasilnya... interesting. Gue masih edit. Tempatnya emang bener-bener beraura, di Museum Pusaka Jagakarsa," jawab Ferdy.

"Wih, jagakarsa? Katanya banyak jin penunggu yang suka ikut pulang loh," celetuk Bowo dengan mata berbinar. Dia tertarik pada hal-hal mistis.

"Ah, yang bener aja," Ferdy menepis, tapi dalam hatinya, ia teringat wangi melati yang tak kunjung hilang. "Tapi emang sih, pas di sana rasanya ada yang ngamatin."

"Bisa jadi penunggu museum tertarik sama kamera loe. Kata orang tua, makhluk halus suka sama benda yang bisa nangkap gambar, mirip sama mereka yang cuma bisa dilihat pake indra keenam," timpal Bowo serius.

Dasima, yang berdiri di belakang kursi Ferdy, mengangguk-angguk pelan. "Anak ini cukup peka. Tapi bukan kameranya yang menarik. Ini tentang jiwamu, Raden."

Obrolan berlanjut ke rencana pameran kecil-kecilan, hingga keluhan tentang biaya hidup di Jakarta yang semakin mencekik. Ferdy, merasa perutnya keroncongan, memutuskan untuk antre membeli nasi ayam penyet di kios sebelah.

"Ini dia, ritualnya anak kos: antre buat makan siang sederhana sambil hitung-hitung sisa uang di dompet," komentar Dasima dengan nada humor. Dia mengikuti Ferdy yang masuk ke antrean yang agak panjang.

Ferdy sudah dekat dengan counter, sibuk mengeluarkan dompet dari saku celana jeansnya. Dari arah berlawanan, seorang wanita muda berjalan agak cepat, matanya tertuju pada ponsel di tangan kirinya.

Di tangan kanannya, ia membawa nampan plastik berisi sepiring nasi capcay lengkap dengan kuah yang masih mengepul dan segelas es teh.

Wanita itu cantik, dengan gaya yang elegan dan mahal. Rambut hitam lurus sebahu, kulit porselen, alis rapi, dan mata sipit yang tajam. Ia memakai blouse putih lengan pendek dan celana kain high-waist warna krem. Tas tangan merek terkenal tergantung di siku. Penampilannya kontras dengan suasana kantin yang berantakan.

Dasima, yang semula memperhatikan Ferdy, tiba-tiba menoleh ke arah wanita itu. Sebuah getaran aneh—dingin, menusuk, dan sangat tidak menyenangkan—menyapu seluruh energinya.

Itu... aura yang... aku kenal.

Sebelum Dasima bisa memprosesnya, tabrakan pun terjadi.

Wanita itu, yang masih asyik melihat ponsel, tidak melihat Ferdy yang sedang mundur selangkah untuk memberi ruang pada orang di depannya. Bahu mereka bertabrakan.

"Nggak!" teriak Dasima

Terlambat.

Nampan di tangan wanita itu terpental. Piring plastik berisi capcay berkuah—dengan kubis, wortel, jamur, dan kuah kental kecap—terjungkir langsung ke depan dada Ferdy.

Kuah hangat (beruntung tidak mendidih) merembes cepat melalui kaos katun tipisnya, membasahi kulit dari dada hingga perut.

Potongan sayuran dan sedikit ayam berceceran di kaos dan celananya. Es tehnya tumpah membasahi sepatu kanannya.

"Astaga! Maaf! Maaf sekali!" wanita itu berseru, matanya yang sipit terbuka lebar penuh kengerian. Ponselnya nyaris jatuh.

Ferdy menghela napas panjang, menahan amarah dan rasa kesal yang meluap. Dia melihat ke bawah, menyaksikan kaos favoritnya—kaos abu-abu polos yang nyaman—sekarang bernoda coklat kekuningan dan berminyak. "Ish...!"

"Saya benar-benar minta maaf! Saya tidak lihat... Saya... Ini salah saya," wanita itu terus meminta maaf, wajahnya memerah. Dia buru-buru mengambil tisu dari tasnya dan berusaha mengusap-usap dada Ferdy, tapi kemudian sadar dan mengulurkan tisu itu padanya. "Ini... silakan."

Ferdy menerima tisu dengan wajah masih masam. "Nggak apa-apa. Tapi... ya ampun, ini kaos baru aja gue cuci." Rasa kesal lebih dominan. Artinya, ia harus pulang ke kosan di Lenteng Agung—naik motor dalam keadaan baju kotor dan lengket—untuk ganti baju.

Padahal siang ini ia rencananya mau ke perpustakaan lalu meeting kecil dengan tim project foto.

"Saya ganti, saya bayar dry clean-nya. Atau... saya belikan yang baru. Benar-benar, ini kesalahan saya," ujar wanita itu, suaranya terdengar tulus dan penuh penyesalan.

"Nama saya Kirana. Kirana Putri."

Kirana.

Saat nama itu diucapkan, dua reaksi berbeda terjadi.

Ferdy hanya mengangguk, masih fokus pada bajunya yang kotor. "Gue Ferdy. Ya, nggak usah dibeliin. Tapi kalau mau bayarin dry clean, gue terima sih," katanya jujur.

Uang dry clean bisa untuk beli dua kopi, pikirnya.

Tapi bagi Dasima, dunia seolah runtuh.

KIRANA.

Nama itu menggema di dalam kesadarannya seperti gong perunggu yang dipukul keras. Getaran yang tadi ia rasakan kini menjadi badai energi yang penuh kebencian, kepedihan, dan ketakutan.

Semua ingatan yang ia coba pendam—wajah Kirana yang tersenyum puas sambil menuangkan racun, tatapan matanya yang dingin, tawanya yang menyakitkan saat Dasima menghunus pisau ke dadanya sendiri—semuanya meluap dengan dahsyat.

Wujud Dasima berubah. Energinya yang biasanya lembut dan berwarna keemasan samar, tiba-tiba menjadi gelap, bergelora, dan penuh duri-duri energi tak kasatmata.

Rambutnya yang hitam seolah berkibar dalam medan energi yang mencekam. Matanya, yang biasanya seperti madu, sekarang menyala dengan cahaya keemasan yang intens dan berbahaya.

"KAU!" teriak Dasima, suaranya hanya berupa gelombang energi murni yang memecah kesunyian alam non-fisik. Tak satu pun manusia di kantin yang mendengar, tapi beberapa makhluk halus level rendah yang kebetulan ada di pojok kantin langsung menjauh ketakutan.

"Kau berani muncul lagi?! Di depannya?!" Dasima melayang mendekati Kirana dengan kecepatan penuh amarah. Tangannya yang berupa energi mencoba mencakar wajah wanita itu, tapi hanya melewatinya tanpa efek fisik. Hukum alam masih berlaku.

Tapi aura kebencian Dasima begitu kuat hingga suhu di sekitar Kirana dan Ferdy tiba-tiba turun drastis.

Kirana, yang sedang mengulurkan kartu nama (ternyata dia mahasiswa pascasarjana manajemen di kampus sebelah), tiba-tiba menggigil. "Duh, kok jadi dingin sekali ya di sini?" katanya, memeluk tubuhnya.

Ferdy juga merasakannya. Dingin yang menusuk tulang, persis seperti di parkiran tadi, tapi kali ini disertai dengan perasaan tertekan yang aneh, seperti ada yang memandanginya dengan kebencian yang mendalam. Ia melihat sekeliling, tak ada apa-apa. Tapi hatinya berdebar kencang tanpa alasan yang jelas.

Dasima tidak berhenti. Dia berputar-putar di sekitar Kirana, mencoba segala cara untuk menyentuh, mengganggu, mengusir. "Pergi dari sini! Jangan dekat-dekat dia! Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi! Tidak untuk kedua kalinya!"

Tapi usahanya sia-sia. Kirana tetap berdiri di sana, hanya terlihat seperti wanita cantik yang sedang bersalah dan kedinginan.

"Begini, Ferdy ya? Ini kartu nama saya. Tolong, beri tahu saya berapa biaya dry clean-nya. Atau... saya bisa belikan kaos pengganti. Saya benar-benar merasa bersalah," kata Kirana, masih menggigil, tapi tetap sopan.

Ferdy, meski kesal dan merasa aneh dengan udara dingin ini, melihat ketulusan di mata Kirana "Ya udah. Nanti gue chat aja. Tapi gue harus pulang dulu nih. Ganti baju."

"Maaf sekali lagi," Kirana membungkuk sedikit. "Saya tunggu chat-nya ya." Dia kemudian berbalik dan pergi dengan langkah cepat, mungkin karena dingin atau malu.

Dasima berusaha mengejar Kirana, tapi setelah beberapa langkah, dia berhenti.

Prioritasnya adalah Ferdy. Dia harus memastikan Raden-nya aman. Dengan berat hati, dia kembali ke sisi Ferdy, energinya masih bergolak.

"Kau tidak tahu, Raden. Kau tidak tahu siapa dia! Itu Kirana! Pembunuhmu! Racun di anggur itu!" Dasima berbicara putus asa, menyaksikan Ferdy yang mengumpulkan tasnya dengan wajah kesal.

"Gue cabut dulu, ya. Baju gue kayak korban perang nuklir," kata Ferdy pada Reza dan yang lain.

"Waduh, dijagain sama cewek cantik, Fer. Mungkin ini jodoh yang Reza bilang tadi!" canda Siska.

"Jodoh bawa musibah kali," gerutu Ferdy sambil berjalan keluar kantin, berusaha tidak membuat capcaynya makin berceceran.

Perjalanan pulang dengan motor dalam keadaan baju basah, berminyak, dan berbau bawang adalah pengalaman yang tidak menyenangkan.

Tapi yang lebih tidak menyenangkan bagi Ferdy adalah perasaan aneh yang menyertai sejak tabrakan tadi. Bukan hanya karena bajunya kotor. Tapi ada perasaan was-was, gelisah, dan... bahaya. Seperti ada yang memperingatkannya dari dalam.

Dan wangi melati yang biasanya menenangkan, kali ini terasa campur aduk dengan sesuatu yang lain—sesuatu yang tajam dan pahit, seperti bunga yang layu.

Di jok belakang, Dasima duduk dengan energi yang masih terguncang. Matanya tidak pernah lepas dari jalan ke depan, waspada terhadap segala ancaman. Pikirannya bergejolak.

Dia di sini. Kirana ada di dunia ini lagi. Apakah ini kebetulan? Atau takdir yang mengulangi polanya? Apakah dia juga mengingat? Apakah dia juga mencari Raden?

Takut yang lebih dalam menyelimutinya. Atau... jangan-jangan ini bukan Kirana yang sama. Hanya nama yang kebetulan sama? Tapi aura yang ia rasakan tadi... ada kesamaan yang mengerikan. Kekosongan di balik senyuman itu. Kecerdasan yang dingin.

"Apapun itu," bisik Dasima pada angin yang menerpa wajahnya saat motor melaju, "aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu lagi, Raden. Kali ini, aku akan benar-benar menjaga. Aku ada di sini. Dan aku melihat segalanya."

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!