Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Tidak ada yang berubah secara kasat mata di kantor pagi itu.
Alya tetap datang lebih awal, menyalakan komputer, membuka agenda harian, dan menyeduh kopi dengan takaran yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Orang-orang tetap menyapa, bercanda ringan di lorong, membicarakan tenggat dan rapat yang tak pernah benar-benar berkurang.
Namun Alya merasakan sesuatu yang berbeda—bukan pada suasana, melainkan pada dirinya sendiri.
Ia menjadi lebih sadar.
Sadar pada cara ia duduk.
Sadar pada jarak antar meja.
Sadar pada siapa yang melihat, dan siapa yang pura-pura tidak.
Raya datang seperti biasa, mengenakan seragam dengan jaket abu-abu yang rapi, rambut disanggul sederhana. Ia menyapa orang-orang dengan anggukan singkat, lalu duduk di mejanya tanpa menoleh ke arah Alya. Tidak ada ekspresi kesal, tidak ada tatapan tajam. Justru itulah yang membuat Alya tidak nyaman.
Keheningan Raya terasa lebih berat daripada kemarahan. Tapi Alya sudah tidak memiliki energi untuk memikirkan itu.
Hari terus berjalan, hingga saat rapat internal evaluasi bulanan dimulai menjelang siang, satu per satu pemegang program mempresentasikan hasil kegiatan yang mereka jalani bulan ini.
Hingga tiba saat Alya mempresentasikan laporan kegiatan dari program yang berkolaborasi dengan Reyhan.
Program Penguatan Kapasitas Perencana Daerah Muda.
Nama Reyhan sering Alya sebut sebagai bentuk kontribusi besarnya dalam kesuksesan kegiatan tersebut. Suaranya stabil, penjelasannya runtut.
Beberapa rekan mengangguk, mencatat, ada yang berdecak kagum.
Beberapa rekan juga curi-curi pandang ke arah Raya saat nama Reyhan muncul dalam pertemuan mereka.
Hingga pembahasan tiba pada sesi tambahan yang unik tapi sangat menyentuh dan menjadi kunci suksesnya acara itu.
Sesi Refleksi Perencana.
“Ijin bertanya, jadi sesi ini semacam sesi curhat atau bagaimana mbak Alya? Karena saya lihat dampaknya cukup besar ya untuk kelangsungan acara tersebut” tanya Bu Lastri sebagai salah satu senior disana.
“Betul Bu, tapi bukan hanya curhat, kami semua disana sharing terkait kendala apa saja yang terjadi di lapangan” Alya mengambil jeda untuk bernapas dan memperhatikan respon audien yang lain, termasuk Raya yang masih menatapnya tak suka.
“Pada sesi ini kami tidak fokus pada penyelesaian, lebih di tekankan untuk melepaskan emosi yang terpendam tapi tetap terkontrol”
“Unik ya, tapi bisa di aplikasikan pada pertemuan lain juga, idenya bagus mbak Alya” puji Bu Lastri dengan bangga.
“Terimakasih Bu” Ketika Alya selesai bicara, Raya mengangkat wajahnya dari note kecil yang ada di tangannya.
“Iya, kalau komunikasinya intens, pasti hasilnya beda.” celetuknya, nadanya datar.
Suasana mendadak hening, tidak ada yang menambahkan komentar Raya, Bapak kepala Bidang tidak menanggapi apapun.
Alya mengangguk, tanpa bermaksud menanggapi, ia berusaha tenang meski tangannya terkepal di belakang.
Ada jeda beberapa detik hingga Alya melanjutkan rapat, menjawab pertanyaan lain, menyudahi sesi itu tanpa komentar tambahan.
Tapi sejak saat itu, ia memilih tidak lagi menatap Raya. Bukan karena marah melainkan karena lelah membaca sesuatu yang lebih besar dan tidak pernah diucapkan.
Rapat di akhiri semua karyawan kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
Rasa tidak nyaman karena komentar Raya masih terngiang di kepala Alya, ia masih tidak terima sebenarnya, tapi untuk memperpanjang masalah Alya tidak punya banyak energi dan waktu.
Alya memilih untu sibuk dengan beberapa agenda yang lain hingga denting ponselnya berbunyi.
Reyhan.
“Weekend ini jadi?”
Alya memejamkan matanya sejenak, ia lupa dengan janji yang ia ucapkan. Tapi jika mereka kembali bertemu bukankah kedekatan mereka akan jadi lebih nyata?
Alya memilih menekan pesan itu lama, lalu mengklik arsip, kemudian mematikan layar ponselnya.
Alya rasa jarak akan terasa lebih baik untuk kondisi mereka.
Meski Alya paham semua ini bukan salah Reyhan, bukan juga salahnya, tapi Alya hanya ingin mengambil nafas setelah apa yang terjadi kemarin.
Di tempat lain, Reyhan memandang pesannya pada Alya yang ia kirim sebelum kegiatan mengajar, tapi hingga perkuliahan selesai bahkan pesannya tidak centang biru.
Padahal Reyhan bisa lihat status Alya yang masih online.
Reyhan merasa ada yang janggal, karena biasanya Alya tidak pernah selama ini merespon pesannya, tapi Reyhan tidak ingin terlalu dini menyimpulkan sesuatu.
Untuk mengalihkan itu semua, Reyhan kembali pada kegiatannya merekap nilai siswa, juga memeriksa beberapa email masuk dari mahasiswa tingkat akhir terkait skripsi mereka.
Baik Alya maupun Reyhan memilih untuk asyik dengan kegiatan mereka daripada membiarkan pikiran liar menguasai mereka.
Di kantor Alya lebih sering diam, matanya masih terfokus pada laptop, hingga waktu pulang tiba, Pingkan dan Indri yang sudah rapi dengan tas mereka menghampiri Alya.
“Al ayo pulang, jangan kerja mulu, cari apa sih ini anak gadis, serius amat kerjanya” goda Indri dengan nada jenaka khasnya.
Seketika Alya mengecek jam di pergelangan tangannya, ia terlalu fokus.
“Eh iya mbak, hehe demi gaji ini mbak” Indri dan Pingkan tertawa kecil mendengar respon Alya.
Mereka dengan sabar menunggu Alya membereskan barangnya, mereka selalu seperti itu, pulang bersama.
Sampai di rumah Alya kembali sibuk dengan pekerjaan rumahnya, dan makan malam keluarga yang hangat membuat beban Alya sepenuhnya terangkat.
Rutinitas itu selalu dilakukan di rumah, kemudian setelahnya Aly sibuk mencuci bekas makan dan masak sembari mendengar Viko dan orang tuanya bercanda di meja makan.
Tepat pukul sembilan malam, Alya masuk kamarnya, ia termenung memandang riwayat chatnya.
Kali ini tak biasanya ada angka satu di folder arsip pesan, Alya belum berniat membalas pesan Reyhan.
Alya sadar ini tidak sopan, tapi ia juga kebingungan harus jawab apa, sementara ia ada diantara janji dan rasa takut jika semua kedekatan mereka akan berlanjut.
Meski juga ada kemungkinan bahwa kedekatan mereka hanya sampai situ saja.
Alya meletakkan ponselnya dalam posisi hidup, masih dengan angka satu di folder arsip yang sejak tadi jadi titik fokusnya.
Ia berdiri, memikirkan cara membalas pesan itu tanpa bermaksud menyinggung Reyhan.
Lama berpikir Alya kembali duduk, menyalakan ponselnya, membuka folder arsip chat, masih ada pesan Reyhan yang belum dibuka meski isinya sudah terbaca lewat pop up.
Alya sudah yakin bahwa ini harus diakhiri, ia tidak ingin Reyhan berpikir macam-macam tentang dirinya yang tidak membalas pesan singkat tepat setelah kerja sama mereka selesai.
“Nanti saya kabari lagi pak, mohon maaf sebelumnya”
Send.
Alya menutup matanya sejenak, ia tahu, jarak itu tidak diumumkan.
Tidak diputuskan secara resmi.
Tidak diberi nama.
Ia hanya tumbuh pelan-pelan, dari rasa ingin aman di ruang yang mulai terasa sempit.
Dan hari itu, Alya memilih menjauh—
bukan karena ia tidak peduli,
melainkan karena terlalu banyak mata yang memperhatikan caranya bernapas.
TBC