"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terkoyak
Sinar matahari pagi menyelinap di balik celah gorden sutra, menciptakan garis-garis emas di atas ranjang king-size. Alana terbangun dengan perasaan hangat yang asing. Namun, sedetik kemudian, kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia menyadari kepalanya tidak lagi beralaskan bantal sofa yang keras, melainkan dada bidang yang kokoh. Lengan kekar Arkan melingkar protektif di pinggangnya, sementara jemari Alana sendiri masih mencengkeram kaus hitam pria itu.
Jantung Alana berdegup kencang—bukan karena takut, melainkan karena rasa malu yang membakar pipinya. Ia mencoba bergerak perlahan, berharap bisa menyelinap kembali ke sofa sebelum sang "Monster Es" terbangun. Namun, baru saja ia menggeser tubuhnya beberapa milimeter, dekapan di pinggangnya justru semakin mengencang.
"Mau ke mana?" suara bariton Arkan yang serak khas orang baru bangun tidur terdengar tepat di atas kepalanya.
Alana membeku. "Aku... aku hanya ingin kembali ke sofa. Maaf, semalam aku—"
Arkan membuka matanya. Tidak ada kedinginan di sana selama beberapa detik pertama, hanya tatapan intens yang membuat Alana merasa telanjang di bawah pengawasannya. Arkan melepaskan dekapannya, lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
"Sofa itu tidak akan lari. Dan jangan meminta maaf karena ketakutan pada badai. Itu manusiawi," ucap Arkan, kembali ke nada datarnya yang biasa. Ia melirik jam di dinding. "Cepat mandi. Pengawal kakek akan mengantarmu ke butik lain pagi ini. Kamu harus memilih gaun untuk makan malam keluarga besar besok malam."
Alana menghela napas, berusaha menormalkan detak jantungnya. "Makan malam keluarga? Bukankah itu terlalu cepat?"
"Kakekku ingin memastikan bahwa 'Alana' yang kubawa bukan sekadar pajangan. Kamu akan diinterogasi, dan jika kamu melakukan satu kesalahan kecil saja dalam etiket, kontrak kita bisa berakhir buruk bagi ibumu."
Alana segera bangkit, tidak ingin berdebat lebih jauh. Ia menghabiskan waktu di kamar mandi untuk merenungi nasibnya. Di satu sisi, Arkan telah melindunginya semalam, tapi di sisi lain, pria itu kembali menjadi mesin tanpa emosi yang hanya memikirkan strategi bisnis.
Setelah bersiap, Alana dijemput oleh sopir pribadi Arkan. Namun, alih-alih langsung ke butik, mobil itu berhenti di sebuah rumah sakit swasta mewah—tempat ibunya dirawat.
"Tuan Arkan bilang Anda boleh menjenguk selama satu jam sebelum ke butik," ucap sopir itu sopan.
Alana hampir berlari menuju kamar VIP ibunya. Di sana, ibunya tampak jauh lebih baik. Wajahnya yang pucat kini mulai merona, dan peralatan medis yang melekat di tubuhnya tidak sebanyak sebelumnya.
"Alana... kamu datang lagi, Nak?" suara ibunya terdengar lemah namun hangat.
"Ibu, bagaimana perasaan Ibu?" Alana menggenggam tangan ibunya erat.
"Sudah jauh lebih baik. Dokter bilang operasinya akan dilakukan besok lusa. Terima kasih, Alana. Kakakmu, Elena... dia juga mengirim pesan singkat, katanya dia sedang sibuk mengurus proyek besar di luar negeri bersamamu."
Alana tersenyum getir. Elena bahkan masih sempat berbohong pada ibu mereka. "Iya, Bu. Elena sangat sibuk. Tapi Ibu jangan khawatirkan kami, fokuslah pada kesembuhan Ibu."
Saat Alana baru saja keluar dari kamar rawat dengan perasaan yang sedikit lebih tenang, sebuah tangan tiba-tiba menariknya ke lorong sepi di dekat tangga darurat. Alana hampir berteriak sebelum melihat siapa pelakunya.
"Elena?!" seru Alana tertahan.
Wanita di hadapannya adalah Elena, saudara kembarnya. Namun, Elena tidak terlihat seperti sekretaris sukses. Wajahnya sembap, rambutnya berantakan, dan ia mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi matanya yang merah.
"Alana, syukurlah kamu di sini! Aku butuh bantuanmu," bisik Elena panik.
"Kamu ke mana saja?! Kamu meninggalkan aku dalam masalah besar, Elena! Aku harus berpura-pura menjadi kamu, menghadapi Arkananta yang gila itu, dan sekarang aku terikat kontrak gila dengannya!"
Elena justru memegang bahu Alana dengan kuat. "Dengar, Alana. Aku tidak kabur karena senang-senang. Pria yang bersamaku... dia membawa kabur semua uang sisa yang kupunya dan meninggalkanku di Singapura. Sekarang debt collector mengejarku, dan mereka tahu aku bekerja untuk Arkananta. Jika mereka tahu aku bukan lagi di sana, mereka akan membunuhku!"
"Lalu kamu mau apa sekarang?"
"Tukar posisi kembali! Biarkan aku masuk ke penthouse itu, dan kamu bisa kembali ke apartemenmu. Arkan tidak akan tahu!"
Alana tertawa sinis, matanya berkilat penuh amarah yang terpendam. "Kamu pikir Arkan itu bodoh? Dia sudah tahu sejak hari pertama bahwa aku bukan kamu, Elena! Dia bahkan memberiku identitas baru sebagai Alana, putri bangsawan yang bangkrut, hanya untuk memuaskan kakeknya."
Wajah Elena memucat. "Dia... dia tahu? Dan dia tidak memecatmu?"
"Dia menggunakanku. Dan sekarang, aku terikat kontrak tunangan dengannya demi biaya operasi Ibu. Jika kamu muncul sekarang dan menghancurkan penyamaran ini, Ibu akan mati karena dia akan menghentikan semua biaya medisnya."
Elena terdiam, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa bersalah—atau mungkin karena takut kehilangan akses pada kemewahan Arkan. "Tapi Alana... aku hamil. Anak pria yang membawaku kabur itu."
Dunia seakan runtuh bagi Alana. "Apa?!"
"Aku tidak tahu harus ke mana lagi. Aku butuh perlindungan Arkananta."
"Tidak, Elena! Kamu tidak bisa masuk ke sana sekarang. Arkananta itu berbahaya. Jika dia tahu kamu hamil anak pria lain saat kamu seharusnya menjadi sekretarisnya, dia akan menghancurkanmu. Tetaplah bersembunyi. Aku akan mencarikanmu tempat tinggal sementara dan mengirimkan uang dari gaji kontrakku."
Sebelum Elena sempat menjawab, ponsel Alana berdering. Nama "Iblis Arkan" tertera di layar.
"Halo?" suara Alana bergetar.
"Kenapa satu jam menjenguk berubah menjadi satu jam lima belas menit? Kamu sedang di mana?" suara Arkan terdengar sangat tajam, seolah pria itu bisa melihatnya melalui dinding.
"Aku... aku baru saja selesai bicara dengan perawat. Aku akan segera ke mobil."
"Segera. Jika kamu terlambat satu menit lagi, aku akan mengurangi jatah kunjunganmu minggu depan."
Alana mematikan telepon. Ia menatap Elena dengan tajam. "Pergi dari sini sekarang. Jangan pernah muncul di depan Arkan atau orang-orangnya. Aku akan menghubungimu nanti."
Sisa hari itu dilalui Alana dengan perasaan seperti berjalan di atas paku. Di butik, ia mencoba berbagai gaun, namun pikirannya terus tertuju pada Elena dan janin di kandungannya. Bagaimana jika Arkan tahu? Bagaimana jika kebohongan ini bertumpuk hingga meledak?
Malam harinya, saat kembali ke penthouse, Arkan sudah menunggunya di meja makan dengan berbagai dokumen di depannya.
"Duduk," perintahnya tanpa menoleh.
Alana duduk dengan kaku. Arkan menggeser sebuah map berisi foto-foto orang dan biodata singkat. "Ini adalah silsilah keluarga Arkananta. Hafalkan setiap nama, jabatan mereka di perusahaan, dan apa yang mereka benci. Besok malam, satu kesalahan kecil dalam menyebutkan nama paman atau sepupuku akan membuatmu terlihat mencurigakan."
Alana menatap dokumen itu dengan lelah. "Arkan... bisakah kita bicara sebentar?"
Arkan mendongak, menyadari nada suara Alana yang berbeda. "Tentang apa? Jika ini tentang tambahan uang, katakan saja jumlahnya."
"Bukan tentang uang," Alana menjeda, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Bagaimana jika suatu saat rahasia ini terbongkar? Bagaimana jika orang-orang tahu bahwa aku benar-benar hanya orang biasa, bukan putri bangsawan yang kamu ceritakan pada kakekmu?"
Arkan meletakkan pulpennya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Alana, lalu duduk di tepian meja tepat di depan gadis itu. Ia meraih dagu Alana, memaksa matanya untuk fokus padanya.
"Rahasia hanya akan terbongkar jika salah satu dari kita mengkhianati yang lain," ucap Arkan pelan, namun nadanya sangat mengintimidasi. "Selama kamu tetap berada di sampingku dan melakukan apa yang kukatakan, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu. Tapi ingat satu hal, Alana... aku benci pengkhianatan lebih dari apa pun di dunia ini. Jika kamu berbohong padaku tentang sesuatu yang besar, aku tidak akan segan-segan mengirimmu dan keluargamu kembali ke jalanan."
Alana menelan ludah. Kata-kata itu terasa seperti belati yang menusuk jantungnya. Ia ingin memberi tahu Arkan tentang Elena yang kembali, namun ancaman pria itu membuatnya membisu. Ia takut jika ia jujur sekarang, Arkan akan menghentikan operasi ibunya yang tinggal dua hari lagi.
"Aku mengerti," bisik Alana.
"Bagus. Sekarang makanlah, lalu hafalkan dokumen itu sampai selesai. Aku tidak ingin tunanganku terlihat bodoh besok malam."
Alana mulai membaca dokumen itu di bawah pengawasan Arkan. Di setiap halaman, ia melihat betapa rumit dan berbahayanya keluarga Arkananta. Penuh dengan intrik, perebutan kekuasaan, dan dendam lama. Dan kini, ia berada tepat di tengah-tengah badai itu, dengan sebuah rahasia besar tentang Elena yang siap meledak kapan saja.
Malam itu, saat mereka kembali berbagi ranjang (atas perintah Arkan agar pelayan tidak curiga), Alana tidak bisa tidur. Ia merasakan kehadiran Arkan di sampingnya—hangat, kokoh, namun juga sangat berbahaya. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi hanya sedang menyelamatkan ibunya, tapi ia sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri dalam permainan sang CEO Dingin.
Tanpa Alana sadari, Arkan juga belum tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Ia tahu Alana menyembunyikan sesuatu darinya setelah kunjungan ke rumah sakit tadi. Pengawalnya sudah melaporkan adanya wanita misterius yang menemui Alana di tangga darurat.
Arkan menyeringai kecil dalam kegelapan. "Kita lihat seberapa jauh kamu bisa menyimpan rahasia dariku, Alana," gumamnya dalam hati. Baginya, semakin besar rahasia yang disimpan Alana, semakin besar pula kendali yang ia miliki atas gadis itu. Dan Arkan sangat menyukai kendali.