"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: PENANTIAN DI AMBANG KEMATIAN
BAB 18: PENANTIAN DI AMBANG KEMATIAN
Lorong rumah sakit itu terasa seperti lorong waktu yang tidak berujung. Alana duduk di kursi besi yang dingin, tepat di depan pintu ruang operasi yang lampu merahnya masih menyala dengan angkuh. Di tangannya, dokumen Von Heist itu terasa sangat berat, seolah membawa beban ribuan nyawa dari masa lalu.
Pakaian Alana masih kotor oleh debu dari gudang di Bogor. Rambutnya berantakan, dan noda darah Kenzo yang sudah mengering di lengan blazernya tampak seperti peta luka yang permanen.
"Alana, makanlah sedikit. Kau sudah duduk di sana selama lima jam tanpa berkedip," suara Gio, kakak bungsunya, terdengar sangat cemas. Ia menyodorkan sebotol air mineral dan roti lapis yang bahkan tidak dilirik oleh Alana.
Alana tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada pintu itu. Setiap kali pintu terbuka dan seorang perawat keluar dengan terburu-buru, jantung Alana seolah berhenti berdetak. Ia takut mendengar kalimat yang akan menghancurkan seluruh dunianya.
"Jika dia tidak bangun, Gio..." suara Alana serak, hampir hilang. "Maka tidak ada gunanya aku menjadi seorang Adiwangsa, atau Von Heist, atau apa pun itu. Aku hanya ingin menjadi Alana yang dijaganya malam itu."
Elvan, yang baru saja selesai bicara di telepon dengan tim keamanan, mendekat dengan wajah tegang. "Alana, ada pergerakan aneh di area parkir bawah tanah. Sepertinya orang-orang Bastian atau mungkin utusan dari Eropa itu mulai mengepung tempat ini. Kita tidak bisa diam saja di sini."
Alana perlahan mendongak. Matanya yang merah karena menangis mendadak berkilat dengan amarah yang dingin. Ia berdiri, merapikan blazernya yang kotor.
"Mereka ingin aku?" tanya Alana. "Bagus. Kalau mereka ingin aku, jangan biarkan mereka masuk ke lantai ini. Jangan biarkan satu suara bising pun mengganggu operasi Kenzo."
"Tapi Al, mereka bersenjata—"
"Aku tidak peduli!" bentak Alana, membuat Elvan dan Gio tersentak. "Panggil semua pengawal Adiwangsa yang tersisa. Blokir akses lift. Jika perlu, matikan seluruh sistem listrik gedung ini kecuali untuk ruang operasi. Aku tidak akan membiarkan Kenzo mati karena pengecut-pengecut itu!"
Sementara itu, di dalam ruang operasi, perjuangan hidup dan mati sedang berlangsung. Dokter bedah saraf sedang berusaha keras menghentikan pendarahan di otak Kenzo akibat benturan keras dan serpihan kaca yang masuk cukup dalam.
"Tekanan darahnya menurun drastis! Defibrillator!" seru sang dokter.
Suara mesin yang melengking panjang—beeeeeeep—terdengar. Detak jantung Kenzo sempat berhenti. Di saat yang sama, di luar ruangan, Alana merasakan dadanya sesak luar biasa, seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ia jatuh berlutut, memegangi dadanya.
"Kenzo... jangan..." isaknya di lantai rumah sakit yang dingin. "Kau janji akan menjagaku... kau tidak boleh pergi sekarang!"
Di saat kritis itu, memori masa kecil Alana yang selama ini terkunci rapat mendadak terbuka sedikit demi sedikit. Ia melihat dirinya kecil di dalam mobil yang terguling, ia melihat seorang wanita cantik—ibunya—mendorongnya keluar dari jendela sambil berteriak, "Lari, Alana! Cari keluarga Dirgantara! Mereka satu-satunya harapanmu!"
Jadi, sejak awal, keluarga mereka memang sudah terikat. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai sekutu yang dikhianati.
Tiba-tiba, pintu lift di ujung lorong terbuka dengan paksa. Tiga orang pria bersetelan jas hitam dengan wajah dingin muncul. Mereka tidak membawa senjata api secara terang-terangan, tapi aura mereka menunjukkan bahwa mereka adalah pembunuh profesional.
Maximilian, pria asing dari Eropa itu, berjalan di depan. Ia berhenti beberapa meter dari Alana yang masih bersimpuh di lantai.
"Nona Roseline," ucap Maximilian dengan nada formal yang menyebalkan. "Kekacauan ini sudah cukup jauh. Tuan Besar Von Heist tidak suka menunggu. Keberadaan Anda di sini hanya akan mendatangkan lebih banyak peluru untuk pria di dalam ruangan itu. Ikutlah dengan kami sekarang, dan kami akan mengirim tim medis terbaik dari Jerman untuk menyelamatkannya."
Alana bangkit berdiri dengan perlahan. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia menatap Maximilian dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kau mengancamku di depan pintu kematian kekasihku?" tanya Alana. Suaranya rendah, namun memiliki getaran yang sangat berbahaya.
"Ini bukan ancaman, Nona. Ini adalah negosiasi. Anda adalah aset paling berharga milik Von Heist. Pria ini..." Maximilian melirik pintu operasi, "...adalah gangguan. Jika Anda tidak ikut, kami tidak bisa menjamin keselamatan siapa pun di rumah sakit ini dalam sepuluh menit ke depan."
Elvan dan adik-adiknya segera membentuk barisan di depan Alana. Bastian mungkin pengkhianat, tapi keenam kakak yang lain siap mati untuk adik perempuan mereka.
"Langkahi dulu mayat kami sebelum kalian menyentuh adikku!" geram Elvan sambil mengepalkan tinjunya.
"Jangan, Kak," Alana melangkah maju, melewati barisan kakak-kakaknya. Ia berdiri tepat di hadapan Maximilian.
"Aku akan ikut," ucap Alana.
"Alana, apa-apaan kau?!" teriak Gio.
Alana menoleh sedikit pada kakaknya. "Jika aku tetap di sini, mereka akan menghancurkan tempat ini dan Kenzo akan mati tanpa sempat diselamatkan. Tapi, aku punya satu syarat, Maximilian."
"Sebutkan, Nona."
"Biarkan aku melihat dia satu kali saja setelah operasinya selesai. Dan aku ingin kau meninggalkan dua puluh orang penjaga terbaikmu di lantai ini untuk memastikan tidak ada satu pun orang dari pihak Raka atau Bastian yang bisa mendekat. Jika Kenzo meninggal karena kelalaianmu... aku bersumpah akan menghancurkan keluarga Von Heist dari dalam saat aku sampai di sana nanti."
Maximilian tertegun melihat keberanian Alana. Ia membungkuk hormat. "Kesepakatan diterima, Nona Roseline."
Dua jam kemudian, lampu ruang operasi akhirnya padam. Dokter keluar dengan wajah yang sangat pucat namun memberikan anggukan kecil.
"Operasinya berhasil. Masa kritisnya lewat, tapi dia harus dipindahkan ke ruang steril. Kami belum tahu kapan dia akan sadar."
Alana memejamkan mata, mengembuskan napas panjang yang penuh rasa syukur. Ia diizinkan melihat Kenzo melalui jendela kaca ruang pemulihan selama lima menit.
Ia menempelkan tangannya di kaca. "Aku pergi sebentar, Kenzo. Aku akan mengambil kekuatan yang seharusnya milikku, agar tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Tunggu aku."
Tanpa menoleh lagi, karena ia tahu jika ia menoleh ia tidak akan sanggup pergi, Alana berjalan menuju lift diikuti oleh Maximilian. Di lobi rumah sakit, ia berpapasan dengan Tuan Besar Dirgantara yang baru saja sampai.
Alana berhenti sejenak di depan pria tua itu. "Jaga dia, Tuan Besar. Saya akan pergi mencari kekuatan untuk melindungi kita semua. Dan tolong... jangan beri tahu dia ke mana saya pergi saat dia bangun nanti."
Tuan Dirgantara menatap Alana dengan pandangan yang kompleks—antara benci, syukur, dan hormat. "Siapa kau sebenarnya, Alana?"
Alana tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan luka. "Saya adalah wanita yang akan memastikan musuh-musuh putra Anda tidak akan pernah melihat matahari esok hari."
Alana masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu. Di dalam mobil, ia membuka dokumen Von Heist dan melihat sebuah peta lokasi di Jerman. Perjalanan panjangnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi Alana yang malang, ia adalah Alana yang sedang mempersiapkan pembalasan dendam terbesar dalam sejarah dua dinasti.