NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga diri dibalik hutang budi

Dentuman bass dari lantai dansa Sky Lounge Jakarta terasa memekakkan telinga, tapi Prayoga Aditama tetap melangkah tenang menembus kerumunan. Sebagai dokter internis kesayangan di RS Sentral Medika, ia terbiasa dengan ketenangan di ruang gawat darurat. Namun malam ini, ketenangannya adalah topeng bagi amarah yang mendidih.

Ia berhenti di depan pintu VIP 03. Tangannya mengepal. Di dalam sana ada Dinda Dewi, putri tunggal Dokter Reza, pemilik rumah sakit tempatnya bekerja, sekaligus pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri sejak ayahnya meninggal saat Yoga masih berusia sepuluh tahun.

Yoga membuka pintu tanpa mengetuk.

Di Dalam Ruangan VIP Pemandangan di dalam ruangan itu terasa seperti hantaman benda tumpul ke dada Yoga. Di bawah remang lampu neon ungu, Dinda sedang duduk di pangkuan seorang pria keturunan Jepang. Mereka tertawa, dan sedetik kemudian, Dinda memiringkan wajahnya untuk menerima ciuman panas dari pria itu.

"Jadi begini cara kamu menghargai janji Papa kamu, Din?"

Suara Yoga rendah, dingin, tapi sanggup menembus hiruk pikuk musik.

Dinda tersentak hebat, hampir terjatuh dari pangkuan pria itu. Wajahnya yang cantik seketika pucat pasi. "Mas Yoga?! Kok... kamu bisa di sini?"

Pria Jepang itu menatap Yoga dengan pandangan meremehkan. "Who is this guy, Dinda? A bodyguard?"

****

Yoga melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Dinda, mengabaikan pria di sampingnya.

"Aku ke sini karena Dokter Reza minta aku jemput kamu. Beliau khawatir putrinya yang 'katanya' baru pulang dari Jepang ini kelelahan karena jet lag," Yoga tersenyum sinis. "Ternyata kamu lebih dari sekadar bugar, ya?"

"Mas, dengerin aku dulu..." Dinda mencoba berdiri, melangkah mendekat sambil memegang lengan Yoga. Suaranya mulai gemetar. "Ini nggak kayak yang kamu pikir. Kenji itu cuma teman aku di Tokyo, kita cuma lagi... having fun karena udah lama nggak ketemu."

" Having fun sampai harus duduk di pangkuan dan ciuman?" Yoga menepis tangan Dinda dengan halus namun tegas.

"Din, aku mau menikahi kamu bukan karena aku nggak punya pilihan wanita lain. Aku mau karena aku menghormati janji Dokter Reza pada almarhum Papa aku."

Yoga menghela napas, menatap Dinda dengan tatapan kecewa yang paling dalam.

"Papa aku meninggal saat aku umur sepuluh tahun. Dokter Reza yang membesarkan aku, sekolahin aku, sampai aku jadi dokter internis seperti sekarang. Aku berutang budi sama beliau, dan pernikahan ini adalah satu-satunya cara aku membalas kebaikan beliau. Tapi malam ini, kamu bikin aku sadar satu hal..."

"Apa, Mas?" bisik Dinda dengan air mata mulai mengalir.

"Utang budi nggak seharusnya dibayar dengan harga diri," tegas Yoga. "Kamu mahasiswa semester tiga di Jepang, harusnya logika kamu sudah jalan. Kamu bukan cuma mengkhianati aku, tapi kamu mempermalukan Papa kamu sendiri."

Yoga berbalik, siap meninggalkan ruangan yang terasa kotor itu.

"Mas Yoga, tunggu! Mas mau lapor ke Papa?" teriak Dinda panik.

Yoga berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa berbalik sepenuhnya. "Aku nggak perlu lapor. Dokter Reza orang pintar, dia pasti tahu kenapa malam ini calon menantunya pulang dengan tangan kosong dan hati yang sudah mati."

Langkah Yoga terasa berat namun pasti saat ia meninggalkan ruangan pengap itu. Setiap dentuman musik yang tertinggal di belakangnya seolah mengejek kesetiaan yang ia jaga selama ini. Di parkiran basement yang sunyi, Yoga segera masuk ke dalam mobil SUV hitamnya.

Namun, tepat sebelum ia mengunci pintu, Dinda berhasil menyelinap masuk ke kursi penumpang dengan napas tersenggal.

"Mas, tunggu! Kita jangan ke rumah Papa dulu, please!" rengek Dinda dengan wajah semrawut.

Yoga tak bergeming. Tanpa sepatah kata pun, ia menyalakan mesin. Deru mobilnya terdengar garang, seolah mewakili amarah yang ia pendam di balik wajah datarnya. Ia melajukan mobil membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang menuju kawasan Menteng, tempat kediaman megah Dokter Reza berada.

****

Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu mencekam. Hanya ada suara deru AC dan isak tangis Dinda yang tertahan.

"Mas, kamu kok diem aja sih? Marah ya marah aja, maki-maki aku, jangan diem kayak gini!" Dinda mulai histeris, tangannya mencoba meraih lengan Yoga yang sedang memegang kemudi.

Yoga tetap fokus pada jalanan di depannya. Matanya menatap lurus, dingin seperti es. "Aku nggak mau buang energi buat debat di mobil, Din. Simpan suara kamu buat jelasin semuanya ke Om Reza."

"Mas, kamu tahu kan Papa punya penyakit jantung? Kalau kamu kasih tahu ini sekarang, Papa bisa kolaps! Kamu mau tanggung jawab?" Dinda mencoba menggunakan kartu terakhirnya: rasa iba Yoga.

Yoga menginjak rem mendadak di lampu merah, membuat tubuh Dinda sedikit terpental ke depan. Ia menoleh perlahan, menatap Dinda dengan tatapan yang membuat nyali gadis itu menciut.

"Jangan bawa-bawa kondisi Om Reza buat nutupin kesalahan kamu, Din. Kamu yang bikin masalah ini, kamu yang harusnya mikirin jantung Papa kamu sebelum mutusin buat ciuman sama cowok lain di klub," suara Yoga rendah namun menusuk. "Dan satu lagi... aku ini dokter internisnya. Aku tahu persis kondisi beliau. Justru karena aku sayang sama beliau, aku nggak mau beliau terus-terusan dibohongi sama putri tunggalnya sendiri."

"Mas, aku khilaf... Kenji itu cuma masa lalu aku di Jepang," isak Dinda lagi.

"Masa lalu yang kamu bawa ke Jakarta di saat kamu masih pakai cincin tunangan dari aku?" Yoga tersenyum pahit, lalu kembali melajukan mobilnya saat lampu berubah hijau. "Gila ya, Din. Aku selama ini hormat banget sama kamu karena kamu anak Om Reza. Aku jaga jarak, aku sabar nunggu kamu selesai kuliah, tapi ternyata kamu malah asyik main di belakang."

Mobil akhirnya memasuki gerbang besar sebuah rumah mewah dengan pilar-pilar tinggi. Penjaga gerbang segera membukakan pintu, mengenali mobil calon menantu sang tuan rumah.

Yoga mematikan mesin. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosinya sebelum menghadapi pria yang telah berjasa dalam hidupnya.

"Turun," perintah Yoga singkat.

"Mas Yoga, please... sekali ini aja..."

"Turun, Dinda Dewi. Om Reza sudah nunggu di dalam. Jangan bikin beliau nunggu lebih lama lagi untuk tahu siapa sebenarnya putri kebanggaannya ini."

Yoga keluar dari mobil, membanting pintu dengan keras, meninggalkan Dinda yang mematung ketakutan. Malam ini, bukan hanya pernikahan yang akan berakhir, tapi sebuah rahasia besar akan terbongkar di bawah atap rumah megah itu.

Pintu jati besar itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Yoga yang melangkah masuk dengan rahang mengeras, diikuti Dinda yang tertunduk lesu di belakangnya dengan mata sembab.

Di ruang tengah yang hangat, Dokter Reza dan istrinya, Kanaya Dewi, sedang bersantai di sofa velvet mereka. Aroma teh melati dan kue kering memenuhi ruangan, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan badai yang dibawa Yoga.

"Lho, Yoga? Dinda? Kalian kok pulangnya barengan?" tanya Dokter Reza sambil meletakkan cangkir tehnya. Senyum hangat merekah di wajah pria tua itu. "Katanya Dinda lagi istirahat di apartemen karena jet lag, kok bisa sama kamu, Yo?"

Kanaya Dewi ikut tersenyum, namun senyumnya memudar saat melihat riasan wajah putrinya yang berantakan. "Dinda, kamu kenapa sayang? Kok nangis?"

Yoga menarik napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya agar tetap tenang sebagai seorang profesional. Ia berdiri tegak di depan pria yang sudah menjadi mentor sekaligus figur ayahnya itu.

"Mohon maaf saya mengganggu waktu istirahat Om dan Tante malam-malam begini," suara Yoga terdengar berat namun sangat sopan.

"Ada apa, Yo? Duduk dulu, nggak enak bicara berdiri begitu," sahut Dokter Reza, mulai merasakan ada yang tidak beres.

"Saya rasa saya tidak bisa duduk, Om," Yoga menoleh sekilas ke arah Dinda yang masih membisu. "Saya baru saja kembali dari sebuah klub malam di kawasan Jakarta Selatan. Saya ke sana karena ingin memastikan laporan dari teman sejawat saya."

Kening Dokter Reza berkerut. "Klub malam? Maksud kamu apa?"

Yoga menatap lurus ke mata Dokter Reza, tatapan yang penuh dengan rasa hormat sekaligus luka yang dalam. "Saya melihat Dinda di sana, Om. Di sebuah ruangan VIP. Dia tidak sedang istirahat. Dia sedang bersama seorang pria keturunan Jepang."

Yoga menjeda kalimatnya sejenak, memberikan beban pada setiap kata yang akan keluar selanjutnya.

"Saya memergoki Dinda sedang duduk di pangkuan pria itu dan... mereka sedang berciuman layaknya sepasang kekasih. Bukan sebagai teman, bukan juga karena pengaruh alkohol semata. Mereka melakukannya dengan sangat sadar."

Prang!

Cangkir teh di tangan Kanaya Dewi beradu keras dengan nampan. Wajahnya pucat pasi. Sementara itu, Dokter Reza terdiam mematung, seolah oksigen di ruangan itu baru saja diisap habis.

"Yoga... kamu jangan bercanda. Dinda itu sekolah di Jepang buat masa depan kalian," suara Dokter Reza bergetar, ia menoleh ke arah putrinya. "Dinda! Jawab Papa! Apa yang dibilang Yoga itu nggak bener, kan?"

Dinda hanya bisa terisak, ia jatuh bersimpuh di lantai di depan ayahnya. "Maafin Dinda, Pa... Dinda khilaf... Dinda kesepian di sana..."

Mendengar pengakuan itu, Dokter Reza memegang dadanya, wajahnya memerah menahan amarah sekaligus rasa sakit yang luar biasa.

Yoga kembali bicara, "Om, saya sangat menghormati janji Om kepada almarhum Papa saya. Saya sudah mencoba menjadi calon imam yang baik bagi Dinda. Tapi malam ini, saya sadar bahwa kepercayaan tidak bisa dipaksakan jika dasarnya sudah hancur."

"Yoga, tunggu dulu, Nak..." Kanaya mencoba menengahi dengan suara gemetar.

"Maaf, Tante. Tapi sebagai dokter, saya tahu kapan sebuah luka sudah membusuk dan harus diamputasi," Yoga menatap Dokter Reza dengan pilu. "Om, dengan segala hormat, malam ini saya kembalikan Dinda kepada Om. Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Harga diri saya sebagai laki-laki tidak bisa saya tawar lagi, bahkan untuk sebuah utang budi sekalipun."

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!