NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 - Siapa di Antara Kita?

Rumah Karina tidak pernah terasa sesempit ini.

Padahal tidak ada yang berubah.

Meja kerja masih sama.

Papan kasus masih berdiri tegak dengan foto Adelia di tengah.

Huruf “A” masih tercetak di laporan forensik, ditulis tebal dengan tinta merah seperti luka yang belum mengering.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Keheningan.

Keheningan yang tidak lagi netral.

Keheningan yang terasa seperti seseorang sedang mendengarkan.

Karina berdiri di depan papan kasus. Tangannya terlipat. Tatapannya kosong, tapi pikirannya bergerak cepat.

Ia tidak lagi melihat pola pembunuhan.

Ia melihat pola orang.

Dan hanya ada tiga nama yang tersisa di kepalanya.

Dirinya sendiri.

Antono.

Arga.

Ia menarik napas pelan.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

Tapi kata itu tidak lagi terdengar meyakinkan.

...----------------...

Sejak Adelia meninggal, Karina memperhatikan hal-hal kecil.

Hal-hal yang sebelumnya tak penting.

Antono yang terlalu tenang saat melihat jasad Adelia.

Arga yang terlalu cepat berada di lokasi.

Kalimat-kalimat mereka yang kini ia ulang di kepalanya seperti rekaman rusak.

“Fokus pada fakta.” — Antono.

“Aku di sini.” — Arga.

Dulu, itu kalimat penguat.

Sekarang, itu bisa berarti apa saja.

Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Bagaimana jika pelaku memang ingin berada paling dekat?

Bagaimana jika huruf “A” bukan petunjuk…

melainkan pengalihan?

A untuk Adelia?

Atau A untuk Antono?

Atau A untuk Arga?

Atau…

A untuk aku?

Karina menutup mata sesaat.

Ada momen sepersekian detik di mana ia mempertanyakan dirinya sendiri.

Apakah ia pernah melakukan sesuatu yang tak ia ingat?

Apakah tekanan membuatnya kehilangan potongan waktu?

Ia membuka mata cepat-cepat.

Tidak.

Ia masih sadar.

Ia masih memegang kendali.

Dan kalau pelaku memang salah satu dari mereka bertiga…

maka satu-satunya cara untuk memastikan adalah membuat pelaku bergerak.

...----------------...

Keesokan harinya, Karina mengundang Antono dan Arga ke ruang briefing kecil.

Ruangan itu sunyi. Hanya ada satu meja dan tiga kursi.

Ia berdiri, tidak duduk.

“Saya menemukan sesuatu,” ucapnya tenang.

Itu bohong.

Tidak ada temuan baru.

Tapi wajahnya tidak menunjukkan keraguan.

Antono menatapnya tanpa ekspresi.

Arga sedikit mencondongkan tubuh, fokus.

“Kita menemukan jejak mikro serat kain di lokasi,” lanjut Karina. “Jenisnya langka. Tidak banyak orang memilikinya.”

Ia sengaja berhenti.

Memberi ruang.

Menguji reaksi.

Arga mengerutkan kening. “Serat apa?”

Antono tetap diam. Tatapannya tajam, membaca Karina balik.

Karina tersenyum tipis.

“Detailnya belum bisa saya buka. Tapi cukup untuk mempersempit lingkaran.”

Ia berjalan perlahan mengitari meja.

“Ada kemungkinan pelaku berada sangat dekat dengan kita.”

Sunyi.

Udara terasa berat.

Ia memperhatikan napas mereka.

Mikro-ekspresi.

Gerakan jari.

Tatapan mata.

Arga tampak gelisah — tapi lebih seperti khawatir.

Antono tetap tenang. Terlalu tenang.

“Kenapa kamu sampaikan ini sekarang?” tanya Antono akhirnya.

Karina menoleh pelan.

“Karena saya ingin melihat siapa yang mulai menjaga jarak.”

Kalimat itu bukan untuk dijawab.

Itu untuk ditanam.

Setelah briefing selesai, mereka keluar satu per satu.

Karina tidak bergerak.

Ia tahu.

Jika salah satu dari mereka pelaku,

malam ini…

ia akan mendapat respons.

Karena pelaku yang merasa terancam akan bereaksi.

Dan ia menunggu.

...----------------...

Malam turun lambat.

Karina sendirian di rumah.

Lampu sengaja ia matikan sebagian. Hanya menyisakan cahaya temaram di ruang kerja.

Ia ingin terlihat rapuh.

Ia ingin terlihat tidak siap.

Ia ingin terlihat… sendirian.

Pukul 22.17.

Tidak ada apa-apa.

Pukul 23.02.

Ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Ia menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat.

Tidak ada suara.

Hanya napas.

Pelan. Stabil.

Karina tidak berbicara.

Ia membiarkan kesunyian menjadi senjata.

Lalu terdengar suara.

Laki-laki.

Tenang.

“Kalau kamu yakin, kenapa kamu gemetar?”

Tubuh Karina membeku.

Ia tidak merasa gemetar.

Tapi apakah ia benar-benar tidak?

Ia berdiri perlahan.

“Kamu siapa?” tanyanya datar.

Terdengar suara kecil. Seperti tawa yang ditahan.

“Kamu sudah dekat.”

Klik.

Telepon terputus.

Jantungnya berdetak lebih keras.

Bukan karena takut.

Karena permainan telah naik tingkat.

Ia berlari ke jendela. Membuka tirai sedikit.

Tidak ada siapa pun.

Tapi ia tahu.

Seseorang melihatnya.

Dan orang itu tahu ia sedang memasang jebakan.

...----------------...

Pagi berikutnya.

Arga mengetuk pintu rumah Karina dengan wajah pucat.

“Kita harus pergi,” katanya.

“Ke mana?”

Arga menelan ludah.

“Lokasi lama. Tempat korban pertama dulu.”

Karina langsung mengambil jaketnya.

Sepanjang perjalanan, Arga tidak banyak bicara.

Ada sesuatu yang berbeda.

Sesampainya di sana, garis polisi sudah terpasang lagi.

Tapi tidak ada jasad.

Tidak ada darah.

Hanya satu benda.

Sebuah papan kayu kecil yang dipaku di tembok.

Di atasnya, tergores dengan benda tajam:

A BUKAN UNTUK DIA

Di bawahnya…

Ada foto.

Foto Karina dan Arga.

Diambil diam-diam.

Di depan rumah Karina malam sebelumnya.

Wajah mereka terlihat jelas.

Jarak mereka dekat.

Terlalu dekat.

Tangan Karina mengepal.

Pelaku tidak hanya membalas.

Pelaku memperingatkan.

Ia tahu jebakan itu.

Ia tahu mereka dicurigai.

Dan ia kini mempersempit permainan menjadi dua orang.

Karina dan Arga.

Antono datang beberapa menit kemudian.

Ia menatap foto itu lama.

Lalu menatap Karina.

“Kamu pasang jebakan,” ucapnya pelan.

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Karina tidak menyangkal.

“Dan dia menggigit,” jawabnya.

Antono mengangguk tipis.

“Tapi sekarang dia tahu kamu mendekat.”

Karina menoleh.

“Bagus.”

Arga menatapnya.

“Kamu tidak takut dia akan menyerang lagi?”

Karina memandang huruf itu.

A BUKAN UNTUK DIA.

Ia tersenyum tipis.

“Dia sudah menyerang.”

Ia menunjuk foto mereka.

“Sekarang dia mencoba memisahkan.”

Sunyi.

Angin pagi terasa lebih dingin.

Di kejauhan, seseorang berdiri di balik mobil hitam yang terparkir jauh dari garis polisi.

Mengamati.

Tenang.

Permainan belum selesai.

Dan kini bukan hanya tentang membunuh.

Tapi tentang memecah.

Tentang membuat Karina meragukan orang yang memeluknya saat ia runtuh.

Tentang membuat Arga bertanya apakah ia sedang dijadikan alat.

Tentang membuat Antono bertanya apakah muridnya masih bisa berpikir jernih.

Karina berdiri tegak.

Jika pelaku ingin psikologis,

ia akan bermain lebih dalam.

Karena sekarang ia yakin satu hal:

Pelaku bukan hanya mengenal mereka.

Pelaku memahami mereka.

Dan yang paling berbahaya bukanlah pembunuh yang memegang pisau.

Tapi yang tahu…

di mana letak retakannya.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!